Murid Baru

1862 Kata
“Gibran? Loe Gibran kan, anak nya om Riko sama tante Suci ?” Tanya orang itu memastikan ingatannya. “Iya, gue Gibran. Kalo nggak salah loe Vino anaknya om Deni ?” tanya Gibran. “Iya gue Vino. Kok loe ada disini ? bukannya loe di London.?” Tanya Vino sambil menatap heran ke arah Gibran yang memakai atribut sekolah. Pasalnya baru 1bulan yang lalu mereka ketemu waktu Vino berkunjung ke tempat orangtua nya di London. Ya, papanya Vino itu orang kepercayaannya keluarga Syakeer. Yang saat ini di tugaskan untuk menghandle perusahaan yang ada di London. Vino sendiri tinggal bersama sang nenek di Jakarta. “Gue pindah kesini.” Jawab Gibran enteng. “Oh, eh sorry ya gue buru-buru musti ke ruang guru, mau ngumpulin nih tugas.” Sahut Vino, Ya itulah kerjaan Vino sebagai ketua kelas. Setiap hari bolak-balik ke kantor guru, kalo nggak ngumpulin tugas ya ngumpulin hukuman. “Okey, silahkan. Gue juga mau ke ruang kepala sekolah.” Sambung Gibran. “Yaudah barengan aja, ruangnya kan sebelahan.” Tawar Vino yang mulai melangkahkan kakinya. “Ok.” Sementara itu, Syana dengan wajah cemberut melangkah tergesa-gesa menuju kelasnya, hingga tak sadar jika ada sepasang mata yang mengawasinya sejak tadi dengan sorot mata yang menahan emosi. Sreeettt... Syana yang kaget karena tangannya di tarik tiba-tiba pun limbung dan hampir jatuh. Keningnya berkerut saat tau yang menariknya itu Jacky. “Berangkat sama siapa kamu tadi? Kenapa gak chat aku? Kan bisa aku jemput.” Tanya Jacky dengan sorot mata tajamnya. “hemm... a-akuu .. aku berangkat sama sepupu aku.” Jawab Syana gugup. “Sepupu.? Sepupu yang mana ? bukannya sepupu kamu ada di Bekasi.” Tegas Jacky. “Sepupu jauh, dia baru pulang dari luar negri trus pindah kesini.” Jawab Syana dengan nada di buat setenang mungkin. Ya, Jacky memang tahu jika Syana berangkat sekolah bareng cowok. Karena sebelum berangkat dia sempet mau jemput Syana, tapi pas nyampe di depan gerbang rumah Syana. Syana keluar bareng cowok dan cowok itu membukakan pintu mobil buat Syana. Yang membuat Jacky emosi karena Syana tidak menghubunginya dari kemarin. Di tambah dia sempat melihat kedekatan Syana dengan Gibran saat di mobil meskipun tidak terlalu jelas. “Kamu gak bohong kan? Kamu gak selingkuhin aku kan Na?.” Tanya Jacky memastikan dengan mata yang tak beralih dari wajah cantik itu. Membuat Syana mendongak membalas tatapan Jacky. ‘selingkuh? Kamu yang selingkuhin aku Jack. Ngapain kamu berdua an dengan Sarah kemarin di tempat seperti itu?’ batin Syana. Mengingat kejadian kemaren saat dia mengikuti Jacky dan Sarah. “Aku nggak bohong kok.” Jawab Syana “Sorry, aku harus kekelas. Sebentar lagi bel masuk.” Ucap Syana dan berlalu dari hadapan Jacky. ‘aku sayang sama kamu Na, aku gak mau kehilangan kamu. Maaf, aku sudah menghianati kamu dengan menjalin hubungan dengan Sarah’ batin Jacky menatap kepergian Syana.. Setelah Syana menghilang dari pandangannya, Jacky melangkah menuju kelasnya. Ya Jacky beda kelas dengan Syana. Syana dan Esti masuk di kelas IPA sedangkan Jacky dan Sarah masuk kelas IPS. Persahabatan mereka terjalin sejak SMP. Meskipun beda kelas tiap hari mereka akan berkumpul saat diluar jam pelajaran. Tet.. tet.. tet.. Bel masuk berbunyi nyaring di seluruh penjuru sekolah. Menandakan jam pelajaran pertama segera di mulai. “Eh, Vin. tugas kemaren udah loe kerjain kan ?” tanya Roni. “Tugas apaan ?” jawab Vino sambil menghempaskan bokongnya di bangku samping Roni. “Loe lupa ? kemaren loe di kasih hukuman sama bu Rini suruh nulis istigfar 300x karna loe ketauan tidur di kelas. Dan nanti istirahat di suruh ngumpulin dimejanya.” Jelas Roni dengan santainya membuat kedua mata Vino melotot. “a****g.. gue lupa. Matilah akuuuu....” seru Vino lebay. Menenggelamkan kepala di lipatan tangannya. “Bebeb Esti, bantuin abang dong.” Ucap Vino memelas. “Ogah. Kerjain sendiri. Makanya sekolah itu buat belajar bukan tidur.” Jawab Esti sewot. “Kok jahat ya, ntar kalo abang di tambah hukumannya gimana ? gak kasian apa.” Ucap Vino yang mulai berjalan mendekati Esti. Esti yang sadar langsung menodongkan pulpen yang dia pegang ke arah Vino, Membuat Vino langsung angkat tangan dan nyengir. “piiiss... belum juga di bantuin udah di todong gitu.” Gerutu Vino sambil melangkah mundur kembali ke bangkunya, membuat teman-temannya terkikik geli. Kelas yang tadinya ramai karena tingkah Vino dan Esti kini hening saat guru galak itu masuk. “Pagi anak-anak”. Ucap Bu Rini sambil melangkah masuk kelas menuju mejanya. “Pagi bu.” Jawab murid serempak. Menatap seluruh murid yang ada di kelas itu, matanya berhenti pada satu titik. Ya, siapa lagi kalo bukan Vino si pembuat onar. “Vino!!, kumpulkan tugas kamu.” Ucap bu Rini tegas. Membuat Vino gelagapan karena belum mengerjakannya sama sekali. “Eh, ibu hari ini cantik banget loh, kelihatan tambah muda lagi.” Rayu Vino. Berharap sang guru galak itu lupa dengan hukumannya. “Nggak usah modus, kumpulkan tugasmu atau ibu tambah 5x lipat.” Tegas bu Rini. “Astaga buu.. sadis bener.” Keluh Vino di iringi tawa teman-temannya, hingga ketukan pintu dan kedatangan pak Yanto sang kepala sekolah membuat tawa sekelas itu berhenti seketika. Tak beda jauh dengan bu Rini, pak Yanto itu pun tak kalah galaknya. Tak tanggung-tanggung dalam urusan hukum menghukum. Berjalan kedepan kelas, berbicara kepada bu Rini dengan sesekali menatap keluar kelas. Bu Rini mengangguk kemudian pak Yanto berjalan keluar dari kelas. Sebelum sampai di pintu, mata tajam pak Yanto beralih menatap keseluruh ruangan kelas membuat semua murid menunduk takut. “Baiklah, ada kabar gembira untuk kalian. Hari ini kalian akan kedatangan teman baru.” Ucap bu Rini dan beralih menatap keluar kelas. “Kamu, Silahkan masuk.” Sambungnya. Dengan santai Gibran melangkah masuk ke kelas dan berdiri di samping bu Rini. ‘astagaaa... pangeranku’ ‘gila, kinclong banget tuh muka’ ‘calon imamku’ ‘udah punya pacar belum ya?’ ‘ganteeeng’ ‘wah, saingan berat nih’ Itulah beberapa sambutan dari teman-teman sekelas baru nya. Namun tak di gubris oleh Gibran. Tatapannya hanya fokus ke satu titik. Di meja tengah baris kedua dari depan. Tatapan mata mereka bersirobak sesaat, karena Syana memilih menunduk. “Silahkan kenalkan diri kamu.” Ucap bu Rini. Dan di angguki oleh Gibran. “Selamat pagi, kenalkan saya Gibran pindahan dari London. Semoga bisa berteman dengan baik.” Ucap Gibran. ‘status dong’ ‘udah punya pacar belum’ ‘fix aku padamu Gibran’ “Sudah-sudah, Gibran silahkan kamu duduk di kursi kosong belakang Syana.” Ucap bu Rini. Gibran mengangguk dan berjalan menuju bangkunya, saat melewati bangku Syana tatapan mereka bertemu, Gibran mengedipkan sebelah matanya dan di balas senyum tipis Syana. Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang mengamati hal itu. “Sekarang, buka buku kalian. Kerjakan soal bab 5 dan 6. Hari ini para guru ada rapat. Setelah bel silahkan pulang.” Ucap bu Rini di balas sorakan gembira seisi kelas. “Selamat pagi.” Sambung bu Rini dan berlalu keluar kelas. Kelas pun kembali riyuh, ada yang mengerjakan tugas, ada yang ngegosip, tidur, dan sebagainya. Tak terkecuali Vino yang memang gak bisa diem, selalu menggoda Esti meskipun selalu berujung pertengkaran unfaedah. Beda dengan Syana dan Gibran yang hanya diem dengan pikiran mereka masing-masing. “Eh Bran, loe sekarang tinggal dimana?” tanya Vino duduk di sebelah Gibran. “Perumahan Melati.” Jawab Gibran. “Waah. Deket dong.” Sahut Esti. “Kapan-kapan boleh dong main.” Canda Esti membuat kedua mata Vino melotot tak terima. “Bebeb Estiku sayang, gak baik main kerumah cowok yang baru dikenal. Mending kerumahku aja. Sekalian aku kenalin sama papa mama.” Goda Vino sambil mengedipkan sebelah mata. “Ogah.” Ketus Esti. Membuat Syana terkikik geli. Gibran yang sedari tadi memperhatikan pun di buat terpesona oleh senyum manis gadis didepannya itu. Senyum yang selama ini hanya ada di angan-angan. Kini tampak jelas di depan mata. Tanpa sadar bibir nya ikut melengkung ke atas. “Oh iya hampir aja gue lupa. Loe tadi berangkat sekolah sama Gibran ya ? soalnya gak sengaja gue lihat kalian keluar dari mobil yang sama ?” Cecar Esti dengan menatap Gibran dan Syana gantian. “oh.. hemm.. it-ituu” ucap Syana ragu-ragu. “Iya.” Potong Gibran santai membuat Syana menatapnya dengan tajam. Tapi Gibran tampak cuek. Toh, jawaban dia bener. “Emang kalian udah saling kenal sebelumnya?” sambung Vino si tukang kepo. “Kenal. Bahkan sebelum dia lahir.” Jawab Gibran. Sambil menunjuk Syana yang mulai tak nyaman sama jawaban Gibran. Takut dia keceplosan. “Kita sepupuan, iya sepupuan.” Ucap Syana nyengir mematahkan jawaban Gibran. Membuat Gibran menatapnya tajam, namun sesaat karena langsung terpesona dengan senyum manis Syana. “Oh.. sepupu.. kirain pacar.” Ucap Vino. “Gue gak punya pacar, gue punyanya calon istri.” Ucap Gibran tegas, membuat Syana kaget. “Istri ?” ucap Vino dan Esti kaget. Membuat beberapa temannya memandang mereka bingung. “hn..” jawab Gibran, memilih mengambil ponsel masuk ke aplikasi hijau dan membalas chat teman-temannya yang di London, tanpa memperdulikan pertanyaan kedua teman super kepo nya. Tanpa mereka sadari bel pun berbunyi dan kini semua nya berhambur keluar kelas. Ada yang langsung pulang, ngobrol, pacaran, main basket, dan lain lain. Kini tinggal Gibran dan Syana yang masih mengemasi buku, sedangkan Esti sudah keluar duluan karena di tarik Vino untuk menemaninya keruang guru. “Yuk pulang.” Ajak Gibran pada Syana. “Dia pulang sama gue.”sahut Jacky dari belakang, membuat mereka berbalik. Jacky pun langsung menggenggam tangan Syana. Syana yang masih kebayang kejadian akhir-akhir ini antara Jacky dan Sarah merasa tak nyaman dan berusaha melepaskan tangannya, tapi Jacky justru mempererat genggamannya membuat Syana meringis. Gibran yang menyadari hal itu langsung memisahkan kedua tangan tersebut dengan kasar. “Loe gak lihat? Dia aja gak nyaman sama loe.” Ucap Gibran. “Bukan urusan loe, emang loe siapa nya dia ? bokap nya ?” ketus Jacky. Gibran yang ditanya seperti itu beralih menatap Syana, Syana mengangguk menandakan supaya Gibran mengaku sebagai sepupunya seperti permintaannya tadi pagi, membuat Gibran menghela nafas panjang. Berat, ingin rasanya mengakui kalo dia calon tunangan Syana. Apalagi melihat kelakuan Jacky yang kasar. “Gue sepupunya Syana.” Jawab Gibran pasrah. “Ckk, oh jadi elo yang jemput Syana tadi pagi ? mulai besok gak perlu antar jemput Syana. Karena gue yang bakal antar jemput dia.” Tegas Jacky. “Siapa loe ngatur-ngatur gue.?” Ucap Gibran mulai emosi. “Gue pacarnya Syana.” Jawab Jacky bangga. “Baru pacar kan bukan suami.” Sahut Gibran meremehkan. “Udah stop, kalian apa-apaan sih ? kayak anak kecil tau nggak.” Lerai Syana. Membuat tangan yang hampir adu jotos itupun mulai rilex. “Gibran, sorry ya. Kamu pulang duluan aja. Aku pulang bareng sama Jacky.” Ucap Syana membuat Jacky senyum penuh kemenangan. Gibran menatap Syana tak percaya, di balas anggukan Syana dan senyum manisnya. Menandakan dia akan baik-baik saja. Syana dan Jacky berlalu meninggalkan Gibran yang masih menatap keduanya dengan sorot tajam. Entah apa yang terjadi sebenarnya, tapi Gibran merasakan ada kejanggalan pada hubungan Syana dan Jacky. Sorot mata Syana menandakan kalau dia mulai tak nyaman dengan Jacky. Dan Jacky pun seperti menyembunyikan sesuatu dari Syana. ‘gue gak akan biarin siapapun itu menyakiti loe.’ Batin Gibran kemudian melangkah pergi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN