Mulai sadar

1384 Kata
Pukul 18.30 WIB. Selesai menyantap makan malam, Seluruh keluarga kini berkumpul di ruang tengah, Syana yang tak bisa jauh-jauh dri buku pun kini menonton tv dsambil baca buku. Entah mana yang jadi fokusnya. “Oh iya kak, gimana keputusan kamu tentang perjodohan kemaren ? ayah sama bunda berharap kamu menerimanya.” Ucap Heri kepada putri sulungnya. Syana yang tadi fokus dengan buku di tangannya kini menatap kedua orang tuanya. Sebenarnya dia ingin menjawab ‘mau’ tapi bagaimana dengan hubungannya dengan Jacky. Siapa sih yang nolak jika dijodohkan dengan cinta pertamanya. Yang sudah dia kenal sejak kecil. Bahkan dia selalu berdoa supaya bisa berjodoh dengan Gibran. Dan sekarang, doa-doa nya terkabulkan. Tapi..... aaahh pusyiing.. “Besok, om Riko dan tante Suci mengundang kita untuk makan malam di rumahnya. Ayah harap kakak sudah punya jawabannya.” Sambung Heri sebab Syana tak kunjung menjawab. “hmm.. iya ayah.” Jawab Syana. Menit berlalu, mereka asik bercengkrama. Keharmonisan keluarga ini selalu menjadi prioritas, dan dijaga dengan baik. Salah satunya meluangkan waktu untuk saling berbincang, karena kunci keharmonisan keluarga itu dari seringnya kita berkomunikasi. Karena terlaalu asik, mereka tak sadar kalau sudah waktunya sholat Isya’. Menjalankan ibadah wajib untuk bekal di akhirat kelak. Mereka menunaikannya berjamaah di mushola rumah. Selesai sholat, Syana meminta izin untuk kembali kekamarnya. Merebahkan tubuhnya ke ranjang. Pikirannya mulai terbang ke kejadian tadi siang. Saat dia menanyakan keadaan kakek Jacky sampai tentang Sarah yang hari ini tak masuk sekolah. Flasback On, “Oh iya ky, Gimana keadaan kakek kamu?” tanya Syana saat mereka berjalan menuju parkiran sekolah. “oh.. i-ituu.. kakek.. kakek udah mendingan kok.” Jawab Jacky gugup. Dan Syana menyadari itu. “Alhamdulillah.” Jawab Syana tulus. ‘Sorry, Na.’ Batin Jacky. Sadar kalau sudah menghianati sang kekasih yang sudah dia kejar 3tahun ini. “Oh iya, aku kokgak lihat Sarah ya hari ini, apa dia gak masuk ?” tanya Syana lagi. Membuat Jacky tambah gugup, tak berani menatap mata Syana. “ehemm.. nggak masuk dia. Nggak tau kenapa.” Jawab Jacky yang mencoba mengalihkan pembicaraan dengan menyodorkan helm ke Syana. Karena tadi pagi Sarah memang menghubunginya kalau dia gak bisa masuk sekolah akibat perbuatannya kemaren. Membuat Jacky makin merasa bersalah pada Syana. Tanpa menunggu lagi, Jacky melajukan motor nya meninggalkan sekolah. Sesekali dia menatap Syana lewat kaca spion. Sungguh bahagia saat bisa mendapat kesempatan menjadi kekasih Syana. Gadis yang memang dia incar sejak dulu. Mereka memang bersahabat sejak SMP. Tapi saat masuk ke SMA rasa lebih itu hadir tanpa berani mengungkapkannya. Baru 6 bulan terakhir dia memberanikan diri untuk menyatakan perasaannya. Jacky juga tau jika Syana masih menunggu seseorang dari masalalunya, tapi dia meminta kesempatan untuk bisa masuk ke hati Syana meskipun itu sulit. Sampai akhirnya Jacky mulai merasa hubungannya hambar karena sedikitpun Syana tak pernah membuka hatinya untuk Jacky. Pacaran ala mereka hanya lewat chat dan telpon biasa aja. Ngedate pun jarang. Bisa keluar bareng Cuma kalo antar jemput Syana ke sekolah. Alasannya, karena Syana merasa tak nyaman jika keluar bareng cowok. Meskipun itu pacar. Tak terasa kini mereka sudah sampai di depan rumah Syana. Syana segera turun dan mengembalikan helm ke Jacky. “Oh iya, Na. Ntar malem jalan yuk. Ada cafe baru di sebelah toko buku langganan kita.” Ajak Jacky. “hmmz.. sorry, Ky. Kayaknya aku gak bisa deh. Lagi gak enak badan.” Jawab Syana. Memang kepalanya agak pusing dan perutnya sedikit perih. Mungkin karena sudah waktunya tamu bulanannya datang. Jawaban Syana membuat Jacky menghela nafas panjang, sangat sulit untuk bisa menghabiskan waktu bersama. Tapi dia terus mencoba untuk memahami itu. Drt.. drt.. drt.. Hp Jacky bergetar, merogohnya disaku jaket dan melihhat siapa yang menelponnya. Matanya melotot saat tau siapa yang telpon. Menatap Syana sejenak dan memilih untuk mereject. “Kok gak di angkat ?” Tanya Syana. “Oh.. ituu.. hmm.. gak penting kok.” Jawab Jacky gugup. “Yaudah, kalo gitu aku duluan ya.” Sambung Jacky. “Ok, thanks ya.” Jawab Syana tersenyum manis. “Ok.” Flasback Off. Tok tok tok.. “Kakak, turun yuk. Ada Gibran di bawah.” Kata Bunda Rahma di balik pintu. Kening Syana berkerut. ‘Gibran?’ batinnya. “Iya bunda.” Jawabnya seraya bangun dari tidurnya dan berjalan ke depan cermin merapikan rambutnya. Kemudian keluar kamar turun bersama sang bunda. Ya, memang disofa tengah ada Gibran yang sedang ngobrol dengan Rizal. “Tuh orangnya. Gue tinggal ya kak. Mau berangkat latihan basket. Kapan-kapan kita main bareng.” Ucap Rizal saat melihat sang kakak datang. Membuat Gibran menoleh kebelakang, benar Syana datang. “Jadi berangkat bang ?” tanya Rahma pada Rizal yang sudah siap pergi latihan basket. “Iya bun, udah di tunggu sama anak-anak.” Ucap Rizal sambil mencium tangan sang bunda. “Hati-hati ya.” Ucap Rahma sambil tersenyum. “Iya bun. Assalamualaikum.” “Waalaikumsalam.” Setelah Rizal berangkat, kini tinggal bunda Rahma, Syana, dan Gibran. Mengobrol sebentar kemudian bunda Rahma pamit untuk membuatkan kopi serta menemani pak Heri di ruang kerja. Meninggalkan sepasang anak adam yang saling cinta tapi enggan mengungkapkan itu. Kini Gibran dan Syana sedang duduk di kursi panjang samping kolam. Ditemani 2 cangkir coklat panas dan brownis buatan mama Suci yang di bawakan Gibran. Membuat suasana yang tadinya canggung mulai rilex. “Na, besok loe jadi di jemput cowok loe ?” tanya Gibran menatap Syana yang dari tadi diam. “Nggak tau.” Jawab Syana cuek. Mulai merasa males jika membahas tentang Jacky. Gibran yang menyadari perubahan raut wajah Syana pun menyunggingkan senyumnya. “Gue tahu kok, apa yang loe rasain sekarang.” Ucap Gibran santai sambil mencomot 1 potong brownis di sampingnya. Memakannya perlahan sambil menunggu reaksi Syana. Syana menoleh dengan kening berkerut, penasaran apa yang di maksud Gibran. Beberapa detik kemudian, Gibran mengambil ponsel di saku hoddienya. Mengusap layar pipih itu kemudian menyerahkan ke Syana. Syana menerimanya, kedua matanya melotot saat tau isi vidio yang di tunjukkan Gibran. Ya, di vidio itu terlihat Jacky keluar dari hotel dengan seorang perempuan yang dia yakini itu Sarah. Hotel yang sama saat Syana sengaja mengikuti mereka waktu itu. ‘Darimana Gibran tahu soal ini.’ Batin Syana menatap Gibran. “Gue tahu semuanya tentang loe, Na. Gue tahu tanpa loe cerita. Gue hafal semua tentang loe, dan loe gak bisa nyembunyiin apapun dari gue.” Ucap Gibran santai tapi tatapan menusuk ke mata Syana. ‘Yang gue nggak tau Cuma 1, Na. Apa perasaan loe ke gue sama seperti perasaan gue ke loe.’ Batin Gibran tanpa mengalihkan pandangannya. Bingung harus bagaimana, Syana memilih diam berjalan ke pinggir kolam, duduk di tepi kolam dan memasukkan kedua kakinya ke air. Gibran pun mengikutinya. Duduk di samping Syana dengan jarak 1 jengkal. “Jujur, aku bingung dengan semua ini. Aku menjalin hubungan dengan Jacky sudah 6 bulan. Tapi entah kenapa aku nggak bisa membuka hatiku buat dia. Apapun yang dia lakukan sama sekali nggak mampu buat hati aku luluh. Terkadang aku merasa bersalah sudah memberinya harapan palsu. Aku takut suatu saat aku mendaapatkan karma atas semua yang aku lakukan. Apalagi dengan kejadian akhir-akhir ini.” Curhat Syana panjang tanpa sadar dia menyandarkan kepala nya di bahu Gibran, dan itu sukses bikin Gibran senam jantung. ‘astaga.. ini kenapa jantung gue jadi disco sih.. nggak sinkron banget sama keadaan’ batin Gibran mencoba menetralkan detak jantungnya. Beberapa menit kemudian. Gibran mulai bisa rilex. Menarik nafas panjang. Agar tak terlalu terlihat gugup. “Kalo memang loe gak nyaman dengan hubungan loe, kenapa loe gak putusin dia aja. Toh loe udah punya alasannya.” Jawab Gibran santai. Berharap Syana mengiyakan dan menerima perjodohannya. “Aku takut nyakitin dia.” Jawab Syana lirih. “Dan loe lebih suka disakitin dan dihianatin kayak gini ?” jujur Gibran tak habis pikir dengan jalan pikiran Syana. Dari dulu selalu mementingkan kebahagiaan orang lain di banding kebahagiaannya sendiri. Syana menegakkan tubuhnya menatap langit yang di hiasi bintang. Bingung mau jawab gimana lagi. Kembali menatap Gibran yang sama tengah menatapnya. “Loe berhak bahagia, Na. Bukan hanya membahagiakan orang lain.” Ucap Gibran tulus membawa Syana dalam pelukannya. Syana diam, merasakan kenyamanan dalam pelukan cowok yang berhasil masuk kehatinya sejak dulu. Perlahan dia pun membalas pelukan Gibran. Hingga beberapa menit kemudian mereka saling diam menikmati indahnya malam. “Jadi gimana keputusan loe ?” Tanya Gibran sambil mengendurkan pelukannya. Syane mendongak dan tersenyum saat matanya bertemu dengan Gibran. “Akuu..”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN