Keputusan

1902 Kata
Setelah kejadian di tepi kolam kemaren, hubungan Syana dan Gibran pun mulai membaik. Tidak ada kecanggungan lagi antara mereka. Mulai bisa terbuka satu sama lain. Kini keduanya tengah asik menikmati2 cup es krim yang mereka beli di kedai dekat taman kota. Sesekali Gibran mencuri pandang ke arah Syana yang tengah menikmati es krim coklat favorite nya. ‘Nggak nyangka, setelah 12 tahun kita pisah. Akhirnya kita bisa kembali bertemu dengan kondisi yang cukup baik. Gue harap loe terima perjodohan kita agar gue bisa selalu menjaga loe.’ Batin Gibran tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah cantik Syana. “Oh iya, Bran. Critain dong tentang kamu waktu di London.” Ucap Syana mengalihkan pandangan ke arah cowok tampan di sampingnya membuat pandangan mereka bertemu. “Crita apa ? Gak ada yang menarik buat di critain.” Ucap Gibran. “Ya mungkin, tentang sekolah kamu disana atau tentang pacar kamu mungkin. Gak mungkin dong cowok sekeren kamu gak punya pacar.” Ucap Syana. “Pacar. Hmmz..” sahut Gibran. Menoleh ke arah Syana yang kembali fokus ke es krimnya. Gibran menyunggingkan senyum smirk nya. “Ok. Denger ya. Tapi jangan nyesel karena udah tanya tentang pacar gue.” Ucap Gibran. Syana menoleh dengan kening berkerut. “Dulu, tepatnya beberapa bulan yang lalu gue pernah pernah dekat sama cewek. Sebenarnya sih bukan gue yang deketin dia. Tapi dia yang ngotot buat deketin gue. Karena gue orang yang baik hati dan tidak sombong. Jadi ya gue ok in aja. Akhirnya kita memutuskan untuk pacaran. Dan 1 bulan yang lalu dia tahu kalo gue dijodohin dan dia gak terima. Dia marah dan akhirnya memutuskan hubungan gitu aja.” Jelas Gibran yang sukses membuat mood Syana terjun bebas. ‘Jadi pernah punya pacar? Bener-bener nyesel udah tanya-tanya soal pacar dia.’ Batin Syana sambil mengaduk-aduk es krim yang tinggal separo itu. Tak ada niat untuk melanjutkan makannya. Gibran yang menyadari perubahan sikap Syana mulai tumbuh ide jahilnya. Dia mencolek es krimnya dan mengoleskan ke pipi Syana membuat si empu kaget. “Aaa.. Gibran !!” teriak Syana. “Hahaha...” tawa Gibran pecah saat berhasil mengerjai Syana. Syana yang tak terima akhirnya membalas mengoleskan es krim ke pipi Gibran. Dan mereka pun saling mengotori satu sama lain di selingi canda tawa. Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang sedari tadi mengawasi mereka dengan sorot amarah dan tangan terkepal kuat. Menit berlalu mereka duduk di kursi panjang di tengah taman, dengan nafas ngos-ngosan karena aksi kejar-kejaran tadi. Gibran tersenyum menatap tawa lepas Syana. Beralih menatap jam di tanggannya yang menunjukkan pukul 5 sore. “Udah sore nih, pulang yuk.” Ajak Gibran. Di angguki Syana. Dan mereka pun berjalan beriringan meninggalkan taman. ####### Kini Syana tengah bersiap-siap untuk menghadiri makan malam di rumah Gibran bersama keluarganya. Dia tampak anggun dan cantik menggunakan dres berwarna hitam kombinasi putih di bagian lengannya. Rambut panjangnya di biarkan terurai dan di beri aksen pita kecil untuk mempermanis penampilannya. Ting.. Ponsel di atas meja berkedip, menandakan ada pesan masuk. Segera Syana mengambil dan membaca pesan tersebut. Ternyata itu pesan dari Jacky. Jacky : [Na, bisa temenin aku ke toko buku langganan kita nggak ? ada yang harus aku beli nih. Tapi mager kalo nggak ada temennya] Diam, bingung mau jawab apa. [Maaf, aku nggak bisa. Aku di ajak ayah ke rumah temannya] sent. Jacky : [Oh. Yaudah kalo gitu gak papa kok] “Huufftt...” mengambil nafas panjang. Meski merasa tak enak yang penting dia sudah menjawab jujur. Memasukkan ponsel ke tas kecilnya dan berjalan keluar kamar menuju keluarganya yang tengah menunggu di ruang tengah untuk berangkat ke rumah Gibran. Sekitar 15 menit kemudian mereka sampai di depan rumah megah 2 lantai bercat putih gading dengan taman luas di depannya. Di depan pintu sudah berdiri tuan rumah yang menunggu tamu spesialnya, dengan senyum hangat. “Assalamualaikum.”Ucap Heri. “Waalaikumsalam.” Jawab Riko seraya berjabat tangan. Sama hal nya dengan Suci dan Rahma. “Masya Allah.. cantik banget kamu nak.” Ucap Suci saat melihat penampilan Syana malam ini. Membuat Syana merona, malu. “Oh iya ? Rizal kok gak ikut ?” tanya Riko. “Dia lagi ada jadwal latihan basket. Katanya sebentar lagi ada turnamen.” Jawab Heri. “Oh.. yaudah yuk masuk. Kita makan malam dulu setelah itu kita bicarakan tentang kelanjutan perjodohan Gibran dan Syana.” Sahut Riko seraya mempersilahkan tamu mereka untuk masuk. Setelah makan malam. Kini mereka semua berkumpul di ruang tengah. Syana yang duduk di antara kedua orang tuanya. Dan Gibran duduk di samping mamanya. Sementara adik Syana (Rafa) kini tengah berada di kamar Gibran untuk bermain PS. Karena memang pembicaraan kali ini cukup serius dan Rafa mulai bosen. “Langsung saja ya.? Bagaiman keputusan Syana tentang perjodohan ini?” tanya Riko dengan menatap calon mantunya tersebut. Syana yang ditanya hanya bisa menunduk malu. Membuat semua orang tersenyum. “Iya om. Syana terima.” Jawab Syana. “Alhamdulillah.” Semua orang pun kini tersenyum bahagia tanpa terkecuali. Gibran yang sedari tadi diam dengan pikiran was-wasnya pun kini tampak tersenyum senang. Akhirnya perjuangannya selama ini berbuah manis. Orang yang dia sayang sebentar lagi akan menjadi miliknya. Ya, milik dia seorang. Dan nggak akan pernah membiarkan siapa pun mengambil bahkan menyakitinya. “Kalau begitu tinggal kapan kita melangsungkan peresmian hubungan mereka. Aku nggak sabar jadiin Syana menantuku.” Ucap Suci senang. Membuat seisi ruangan tertawa bahagia. “Bagaimana kalau minggu depan tepat di hari ulang tahun Syana.” Usul Gibran. “Waah .. ada yang nggak sabar ini. “ Goda Riko pada anaknya. Membuat Gibran salah tingkah. Akhirnya mereka memutuskan untuk mengadakan pertunangan di hari ulang tahun Syana minggu depan. Semua acara akan di handle oleh orang tua masing-masing jadi si calon pengantin ini hanya butuh menyiapkan mental. Karena pembahasan selanjutnya tak memerlukan kehadiran Syana dan Gibran. Akhirnya mereka berdua izin untuk pergi jalan-jalan saja. Dan kini mereka tengah sampai di mall. Setelah kurang lebih setengah jam mengelilingi mall Gibran dan Syana memutuskan untuk singgah di kedai coffe. “Na, Loe trima perjodohan ini bukan karena terpaksa kan ?” tanya Gibran membuka pembicaraan. “Menurutmu ?” Goda Syana senyum jahil. “Kalo sampe loe trima ini dengan terpaksa, gue bakal bikin loe benar-benar menyesal.” Ancam Gibran dengan sorot mata tajam. “Aduuuhh... takuutt.” Ucap Syana diselingi tawanya. “Aku gak ada paksaan kok. Lagian seperti ucapanmu malam itu. Kalo aku juga berhak bahagia.” Jelas Syana dengan menatap mata Gibran tulus. Membuat Gibran yang tadinya sempat sedikit kecewa kini dia tersenyum bahagia. “Jadi, kata lain loe bahagia bisa nikah sama gue, hmm?” Goda Gibran. Syana yang sadar tengah keceplosan kini hanya bisa mengalihkan pandangannya. Maluu... tapi disisi lain dia bahagia. “Hahaha... Loe lucu banget sih kalo malu gitu. Kaya Kartun kelinci bulet yang sering di nongol di beranda sss gue.” Ucap Gibran seraya mengacak rambut Syana. Membuat pipi Syana benar-benar memerah sekarang. Beberapa pengunjung cafe tersebut tampak baper dengan keromantisan mereka berdua. Tapi, tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang menatapnya dengan penuh amarah dan tangan terkepal kuat hingga menampakkan kuku-kuku putihnya. Karena sudah tak tahan diakhirnya dia menghampiri sepasang anak adam tersebut. “Oohh... jadi ini yang katanya sibuk di ajak sama bokap.” Ucapnya saat sampai di meja Syana. Syana yang familiar dengan suara itu pun menoleh, matanya membola saat tatapannya bertemu dengan mata tajam Jacky. “Jacky?” lirih Syana. “Kenapa ? kaget karena ketahuan selingkuh?,” sungut Jacky dengan nada sedikit naik. “Bukan gitu, Ky. Kamu salah faham?” Ucap Syana seraya berdiri meraih tangan Jacky. Tapi langsung di tepis oleh Jacky. “Salah paham ? Bagian mana yang salah? Gue lihat dengan mata kepala gue sendiri loe sama dia bemesraan dari tadi.” Ucap Jacky emosi. “Loe bisa kalem nggak sih sama perempuan?” Sahut Gibran yang mulai jengkel dengan sikap Jacky. “Apa loe !. ini urusan sama j****g ini.” Ucap Jacky yang benar-benar emosi tanpa sadar mengucapkan k********r ke Syana. Syana melotot kaget mendengar perkataan Jacky yang begitu kasar. Seumur hidupnya tidak pernah mendapat kata-k********r sedikit pun. Tapi kini pertama kalinya dia mendengar kata itu dari orang yang statusnya masih ‘pacar’. Tak terasa Syana menangis dalam diam. Menahan kekecewaan yang begitu besar dalam hatinya. Bugh... 1 kepalan sukses mendarat di rahang Jacky membuat darah segar mengalir di sudut bibirnya. Tapi tak mampu meredam emosi yang sudah mencapai ubun-ubun itu. “Jacky !” panggil seseorang dari arah bekarang membuat Jacky menoleh. Sarah dengan langkah cepat menghampiri Jacky, ya Sarah sempat melihat ada keributan dan ternyata Jacky yang berantem dan di pukul sama seseorang saat dia baru masuk ke cafe itu. “Sayang. Kamu nggak papa?” Tanya Sarah khawatir dengan kondisi Jacky yang tidak baik. “Sayang?” ucap Syana kaget. Sarah yang memang sangat menghawatirkan Jacky benar-benar nggak menyadari keberadaan Syana disitu. Matanya membola sempurna, sungguh diluar dugaan. “Syana?” Lirih Sarah. “Apa maksud kamu bilang ‘sayang’ ke Jacky, Sar.?” Tanya Syana. “I-ituu. . buk—“. “Bukan urusan loe dia manggil apa ke gue.” Potong Jacky. “Kalian pacaran ?” tanya Syana. “Engg—“ “Iya.. kenapa nggak trima?” ucap Jacky memotong jawaban Sarah. “Ckk... tadi marah-marah nuduh Syana selingkuh. Ehh sekarang ketahuan siapa yang brengsek.” Sinis Gibran yang sedari diam. Kembali berdiri dengan tatapan meremehkan ke arah Sarah dan Jacky bergantian. “B***t loe.” Ucap Jacky dan melayangkan kepalannya ke arah Gibran tapi langsung di cekal oleh Sarah. Ya, Sarah sempet kaget saat tahu yang memukul Jacky tadi adalah Gibran, cowok yang 1 bulan yang lalu membuatnya patah hati dan memutuskan untuk mendapatkan kebahagiaan dari pacar sahabatnya sendiri. “Udah, Ky. Ayo kita pulang.” Ajak Sarah menarik tangan Jacky keluar dari Caffe tersebut. “Urusan kita belum selesai.” Ucap Jacky sebelum dia pergi. “Gue tunggu kelanjutannya.” Jawab Gibran sinis. Gibran mengalihkan pandangannya ke Syana yang tengah duduk sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Sungguh tak pernah terpikirkan oleh Syana kita hari ini akan menjadi hari terburuk dalam hidupnya. Mendapatkan hinaan dari pacar di tambah menerima kenyataan jika pacarnya juga menjalin hubungan dengan sahabatnya sendiri. Gibran yang memahami emosi Syana segera mengajak Syana pergi dari tempat itu. Kini mereka sudah di dalam mobil bersiap untuk pulang. Menoleh, terlihat Syana yang masih diam dengan air mata terus mengalir di kedua pipinya. Tak tega, Gibran mendekat menyuruh Syana menyandarkan kepala ke bahu Gibran. Menurut, dan tangis Syana kembali pecah. Perlahan, Gibran menggenggam tangan Syana dan sebelah tangannya mengelus rambut Syana dengan penuh kasih sayang. Memberi kekuatan dan menunjukkan bahwa dia sangat menyayangi Syana. Menit berlalu tangis Syana mulai reda, hanya isakan kecil yang sesekali terdengar. Gibran menoleh, menatap Syana yang telah tertidur karena kecapekan nangis. Bahkan air matanya masih membekas. Perlahan Gibran membenarkan posisi duduk Syana agar lebih nyaman. Menyelipkan rambut Syana ke belakang telinganya dan mengusap sisa air mata itu. ‘Gue janji, ini akan jadi airmata terakhir yang loe keluarin karena kesedihan.’ Batin Gibran kemudian mengecup kening Syana lama. Cinta memang tak harus memiliki, tapi disaat kita melihat orang yang kita cintai di perlakukan dengan tidak baik. Maka hal pertama yang bakal kita lakukan adalah meraih tangannya, menemaninya bangkit, dan tak akan pernah memberi kesempatan untuk orang yang telah menyakitinya mendekatinya lagi. Menatap jam di tangannya, pukul 21.15. Gibran bergegas mengantarkan Syana pulang. Karena sebelum mereka berangkat orang tua berpesan agar tak pulang lebih dari jam 10 malam.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN