Tin.. tin..
Satpam rumah Syana bergegas membuka gerbang saat terdengar bunyi klakson. Setelah mobil yang di tumpangi Gibran masuk pak Sarto kembali menutupnya dan berlari mendekat.
“Pak, tolong bukain pintu dan suruh bibi buatin teh hangat ya.” Pinta Gibran sambil berlari ke kursi penumpang, sebab Syana demam karena terlalu syok dan kecapean nangis. Mengecek suhu tubuh Syana sebentar dan menggendongnya ke dalam rumah.
“Astagfirulloh... Non Syana kenapa den ?” tanya bi Sari khawatir.
“Dia demam bi. Tolong buatin teh hangat ya dan bawa ke kamarnya.” Ucap Gibran kemudian berlalu ke kamar Syana. Meletakkan tubuh Syana perlahan dan merapikan rambut yang menutupi wajahnya. Dan menyelimutinya hingga perut.
‘Gue harap setelah ini, loe sadar tidak semua orang yang loe bahagiain akan membalas hal sama ke elo.’ Batin Gibran.
Tok.. tok.. tok..
“Masuk.”
Bi Sari membuka pintu kamar dan masuk dengan membawa teh hangat pesanan Gibran.
“Ini den teh nya.” Ucap bi Sari menaruh gelas di nakas dekat ranjang.
“Makasih ya bi.” Ucap Gibran.
“Sama-sama den, bibi keluar dulu ya. Kalau butuh apa-apa panggil bibi.” Ucap Sari
“Iya bi.”
Menit berlalu Gibran masih enggan meninggalkan Syana yang belum sadar. Mengelus tangan Syana dengan sayang, dan sesekali menciumnya. Hingga terdengar suara langkah mendekat.
Ceklek..
“Syana..!” ucap Rahma sedikit berlari mendekati ranjang.
Ya, tadi mereka sempat menelpon Syana tapi tak di angkat. Dan saat sampai dirumah bibi Sari mengatakan kalau Syana pulang keadaan pingsan dan sekarang di kamar ditemani Gibran. Mendengar itu Rahma dan Heri langsung berlari menuju kamar.
“Apa yang terjadi, Bran.?” Tanya Heri pada Gibran saat sampai di kamar Syana.
“Maaf om. Tadi .....” Akhirnya Gibran menceritakan semuanya pada orang tua Syana. Mulai dari hubungan Syana dengan Jacky hingga kejadian di mall yang membuat Syana sampai sperti ini.
“Jacky dan Sarah itu bukannya sahabatnya Syana dari SMP .?” tanya Heri pada Rahma.
“Iya yah, tapi kenapa mereka setega ini pada Syana.” Jawab Rahma.
Semua orang tau tentang persahabatan mereka, selama ini mereka berempat selalu menghabiskan waktu bersama layaknya sahabat pada umumnya. Jacky juga selalu baik dimata keluarga Syana. Sopan, murah senyum, bahkan selalu jagain Syana dengan baik. Tapi dengan kejadian ini semua penilaian itu langsung berubah 180°.
“Eeggghh..”
Terdengar leguhan Syana, membuat semua orang yang ada dikamar itu mengalihkan pandangan mereka.
“Sayang. Kamu nggak papa .?” tanya Rahma khawatir dengan membantu Syana untuk duduk bersandar.
“Kakak nggak papa kok bun. Cuma pusing dikit.” Ucap Syana mencoba tersenyum agar kedua orang tuanya tidak khawatir.
“Minum tehnya dulu. Biar lebih enakan badan kamu.” Ucap Rahma dengan menyodorkan teh hangat ke Syana. Hanya meminumnya setengah dan mengembalikannya ke nakas.
“Om, tante. Berhubung Syana sudah sadar, Gibran pamit pulang ya, sudah malam.” Pamit Gibran sopan.
“Iya nak, terima kasih sudah menjaga Syana dengan baik.” Ucap Rahma tulus.
“Iya sama-sama tante. Sudah menjadi kewajiban saya sebagai calon suaminya Syana.” Jawab Gibran tersenyum manis ke arah Syana membuat pipi Syana merona, memilih mengalihkan pandangannya karena malu.
“Na, gue pamit ya. Loe istirahat aja malam ini, jangan pikirin perkataan mereka yang bisa membuat hati loe sakit. Besok kalo loe sudah sehat gue jemput.” Ucap Gibran di sertai senyum manisnya.
“Iya, makasih ya.” Jawab Syana.
Kini Syana dikamar seorang diri, karena kedua orang tuanya sudah kembali kekamar mereka untuk istirahat.
Sejenak dia teringat perkataan Jacky saat di mall tadi membuat tak sadar dia meneteskan air mata, namun segera dia hapus. Syana ingat perkataan Gibran beberapa hari yang lalu. Kalau dia juga berhak bahagia tanpa harus selalu mementingkan kebahagiaan orang lain. Apalagi orang itu sudah menyakitimu dengan penghianatan.
Karena tak ingin kembali teringat kejadian yang membuatnya bersedih. Syana memilih segera memejamkan mata dan tidur.
**
Keesokan harinya, Syana memutuskan untuk tetap berangkat sekolah. Bersiap dengan seragamnya dan turun untuk sarapan dengan keluarganya.
“Pagi ayah, pagi bunda.” Sapa Syana pada orang tuanya yang sudah siap di meja makan.
“Pagi kak.”
“Jadi masuk hari ini.” Tanya Heri sambil memulai sarapannya.
“Iya ayah.” Jawab Syana.
Menit berlalu mereka sarapan dengan tenang. Heri yang ada meeting pagi memutuskan untuk berangkat lebih dulu. Dan di antar Rahma ke depan rumah, sedangkan yang lain masih menyelesaikan sarapan nya.
Tin.. tin..
Suara klakson mobil terdengar dari depan rumah. Syanna yang sudah selesai, mendorong kursinya kebelakang dan menyambar tas nya di kursi samping.
“Kamu jadi berangkat pakek motor lagi bang. Nggak bareng kakak sama Gibran aja.” Tanya Syana pada adiknya.
“Nggak, gue bawa motor sendiri aja. Takut ganggu orang pacaran.” Ucap Rizal tanpa menatap sang kakak.
“Apaan sih.” Sewot Syana sambil melempar daun slada ke arah Rizal. Membuat tawa Rizal dan Raffa pecah melihat kakak mereka salah tingkah.
“Ciiee pipinya merah ciiee..” ledek Raffa sambil menunjuk pipi Syana yang merona.
“Resee...!” Ucap Syana dan berlalu meninggalkan kedua adik nya yang sedang tertawa karena berhasil menggoda Syana. Berjalan menuju depan dan melihat Gibran tengah berbicara dengan kedua orang tuanya.
“Tuh anak nya udah siap, ingat pesan-pesan om tadi ya.?” Ucap Heri pada Gibran saat melihat Syana berjalan mendekat.
“Insyaallah om. Saya akan berusaha yang terbaik.” Jawab Gibran tegas
“Trima kasih. Kalo begitu om berangkat dulu.” Ucap Heri menepuk pelan bahu Gibran.
“Syana ayah berangkat dulu, kalian hati-hati di jalan. Kalau ada apa-apa segera hubungi ayah.” Pesan Heri sebelum masuk mobil dan berangkat ke kantor. Disusul Syana dan Gibran yang berangkat kesekolah dengan mobil Gibran.
Sesampainya di sekolah Syana dan Gibran belajar seperti biasanya. Hanya sesekali Syana merasakan kepalanya sedikit sakit. Dan itupun tak luput dari pandangan Gibran. Hingga saat bel istirahat Gibran meminta Syana untuk beristirahat saja di UKS. Tapi Syana menolak sebab tak terbiasa istirahat di tempat yang bukan kamarnya.
“Yaudah. Nanti kalau ada apa-apa langsung hubungi aku.” Ucap Gibran.
“Iya.” Jawab Syana sebelum memutuskan untuk ke kantin dengan Esti.
Sesampainya dikantin, Syana memilih menunggu di meja dan Esti yang memesan makanan. Setelah memesan Esti kembali duduk, tak sengaja dia melihat Sarah yang berjalan melewati meja mereka.
“Sar.!” Panggil Esti. Sarah menoleh dan matanya bertemu dengan Syana membuat suasana menjadi canggung tapi dia berusaha bersikap biasa aja.
“Ya.” Jawab Sarah.
“Beberapa hari kok gak masuk? Loe sakit.?” Tanya Esti.
“hmz... i-iya.. biasa lah awal bulan. Sering nyeri kalo awal PMS.” Alasan Sarah.
“Oh... “
“Sorry ya.. gue duluan ada tugas belum selesai.” Ucap Sarah buru-buru pergi dari sana. Membuat Esti mengerutkan kening.
‘kenapa sih mereka’. Batin Esti, karena Syana pun daritadi hanya diam, biasanya mereka berdua slalu akrab dan tak pernah secanggung ini. Penasaran, akhirnya Esti berniat untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada kedua sahabtnya. Ya, dia akan mencari tahu dari Gibran. Karena Akhir-akhir ini hanya Gibran yang bisa mengembalikan mood Syana setelah kekecewaannya ke Jacky.
Mereka saling diam dalam pikiran masing-masing. Hingga pesanan mereka datang dan memakannya tanpa ada pembahasan lagi.
Di tempat lain, Sarah berniat menemui Gibran di rooftop karena sebelum ke kantin dia sempat melihat Gibran dan Vino jalan ke arah atap. Dan benar sesampainya di atap, Sarah melihat Gibran sedang ngobrol dengan Vino. Ragu, tapi dia harus tetap menemui Gibran.
“Ehemm.. Gibran boleh bicara sebentar nggak .?” Tanya Sarah grogi karena Gibran terkenal dingin sama perempuan kecuali Syana. Gibran yang namanya disebut pun menoleh, menatap Sarah dengan sorot dingin. Vino yang merasa tidak berhak mendengarkan obrolan mereka pun memilih pindah tempat duduk yang agak jauh.
“Gibran, gimana kabar kamu ?” Tanya Sarah setelah Vino menjauh seraya mendudukkan pantatnya di samping Gibran.
“Baik.” Jawab Gibran.
“Kamu kapan kembali kesini ?.” Tanya Sarah karena setelah beberapa hari tidak masuk sekolah dia kaget saat melihat Gibran di sekolah yang sama dengannya. Padahal 1bulan yang lalu mereka masih bertemu di London, dan nggak ada tanda-tanda mau balik ke Indonesia.
“2 minggu yang lalu.” Jawab Gibran tanpa menatap Syana.
“Hemm.. Apa karena cewek yang di jodohkan dengan kamu itu orang Indonesia ?.” Tanya Sarah ragu.
Sebelum Gibran menjawab pertanyaan Sarah yang terakhir, Suara nyaring Vino membuyarkan kecanggungan di antara mereka.
“APA ? SYANA PINGSAN ?” pekik Vino. Membuat Gibran menoleh dan menghampirinya dengan wajah khawatir.
“Kenapa, Vin?” tanya Gibran.
“Esti bilang, Syana pingsan di kantin.” Ucap Vino.
Gibran panik dan tanpa menunggu lagi Gibran langsung berlari di susul Vino meninggalkan Sarah yang bingung dengan sikap Gibran ke Syana yang jauh beda saat dengannya.
Dengan rasa khawatirnya Gibran berlari menuju kantin dan benar disana tengah ada keributan. Gibran menerobos masuk kekerumunan tersebut dan menemukan Syana tak sadarkan diri di pangkuan Esti.
“Na, Syana. Loe kenapa ?” ucap Gibran mengambil alih kepala Syana ke pangkuannya dan menepuk pelan pipinya.
“Tadi dia sempat bilang kalau kepalanya pusing, saat mau gue antar UKS dia malah pingsan.” Ucap Esti ikut khawatir karena baru kali ini Syana mengeluh sakit sampai pingsan.
Mendengar penjelasan Esti, Gibran langsung menggendong Syana menuju UKS di ikuti Esti. Merebahkan tubuh Syana perlahan. Menatap Gadis yang sangat dia sayangi, meraih minyak yang disodorkan Esti dan mengoleskannya ke area hidung berharap Syana segera sadar. Hingga menit berlalu Syana tak kunjung sadar membuat hati Gibran di rundung rasa khawatir. Esti memilih kembali ke kelas karena jam istirahat sudah habis.
“Gue balik ke kelas ya, Bran.” Ucap Esti dan hanya diangguki oleh Gibran.
Menit berlalu tapi Syana tak menunjukkan mau bangun. Meraih ponsel di sakunya dan mengetik pesan ke Vino agar mengizinkan dia di jam pelajaran kali ini dan membawakan tasnya ke UKS. Pesan itu langsung centang dua. Tanpa menunggu balasan dia memasukkan ponsel nya kesaku lagi. Kembali menatap gadisnya, membelai pipi putih itu dengan penuh sayang kemudian mengecup kening Syana lama sebelum dia beralih duduk di kursi samping ranjang tanpa melepas genggamannya dari tangan Syana.
“Eeggh...”
Leguhan Syana membuyarkan lamunan Gibran. Segera dia mendekat memastikan Syana benar-benar sudah sadar.
“Loe gak papa ? mana yang sakit ?.” Tanya Gibran Khawatir.
“Aku gak papa. Ini dimana ?” tanya Syana berusaha bangun sambil memegangi kepalanya yang masih sedikit pusing.
“di UKS, tadi loe pingsan di kantin.” Ucap Gibran setelah membantu Syana duduk dan membantunya bersandar di dinding.
“Apa masih gara-gara cowok b******k itu ?” tanya Gibran. Membuat Syana menatapnya dan tersenyum.
“Nggak kok. Aku udah nggak mempermasalahkan hal itu lagi. Hanya masih tak percaya aja sih dengan semua ini.” Ucap Syana jujur. Ya, dia sama sekali nggak marah tentang hubungan Jacky dan Sarah, dia Cuma kecewa kenapa mereka menjalin hubungan diam-diam bahkan bertindak sejauh itu. Apalagi Jacky sampai menuduhnya yang selingkuh dan mengatakan kata-k********r ke Syana.
“Aku udah maafin mereka kok, aku nggak pernah ada dendam sama mereka. Aku Cuma ingin persahatan kita terjalin baik kaya dulu lagi.” Sambung Syana
Tanpa mereka sadari di depan pintu ada hati yang nyeri mendengar penjelasan Syana. Merasa bersalah dengan apa yang dia lakukan selama ini. Awalnya dia izin ingin ke toilet, tapi saat melewati UKS ingat kalo Syana tadi pingsan dan ingin melihat keadaannya. Tapi dia urungkan niatnya saat mendengar perbincangan Syana dan Gibran. Hingga tepukan di pundak mengagetkannya.
“Woy, ngapain loe disini ?”