Sarah

1445 Kata
Sarah Alisha, anak tunggal pasangan Robi Hermawan dan Rita Aurelia. Menjadi anak broken home semenjak kelas 3 SMP karena kedua orang tua yang memilih bercerai sebab Robi, ayahnya, ketahuan selingkuh dengan sekretaris pribadinya. Membuat Sarah yang dulu seorang gadis periang menjadi gadis penutup dan sering melamun. Hingga suatu hari dia menemukan kebahagiaan dari para sahabatnya yaitu Syana, Esti dan Jacky. Menjalin persahabatan sejak masih di bangku SMP membuat hati Sarah mulai merasakan kenyamanan dan rasa lebih terhadap Jacky. Apalagi Jacky yang selalu memberi perhatian dan selalu ada untuk Sarah semenjak kedua orang tuanya bercerai, membuat rasa itu semakin tumbuh subur. Hingga suatu hari Jacky meminta pendapat Sarah kalau dia ingin menembak Syana, membuat hati Sarah hancur seketika. Cinta yang selalu dia jaga dan berharap suatu hari bisa menjadi kekasih Jacky kini hancur karena Jacky mencintai sahabatnya sendiri. Dengan sakit hati dan kekecewaan yang begitu besar, Sarah memutuskan untuk berkunjung ke rumah neneknya yang ada di London, untuk menenangkan hati dan melupakan cintanya pada Jacky. Satu minggu di London, Sarah tak sengaja bertemu dengan Gibran saat dia belanja di minimarket. Sarah pun jatuh cinta pada pandangan pertama, membuat Sarah selalu berusaha agar bisa dekat terus dengan Gibran. Bahkan selalu bilang kalau dia mau menjadi pacarnya Gibran meskipun Gibran menolak. “Gibran, please . kasih aku kesempatan sekali aja.” Pinta Sarah untuk yang kesekian kalinya. “Sorry, Gue nggak bisa.” Tolak Gibran. “Kasih aku waktu 2 bulan, kalau hati kamu tetap nggak bisa trima aku. Aku akan mundur.” Pasrah Sarah. Sebenarnya Gibran juga kasian pada Sarah, tapi dia nggak bisa memberi harapan palsu. Hatinya sudah terkunci. Dan hanya boleh ada satu nama dalam hatinya. “Okey. Tapi jangan paksa aku jika sikapku tak berubah.” Jawab Gibran. Membuat mata Sarah berbinar bahagia. Dan akhirnya mereka berganti status menjadi sepasang kekasih meskipun hanya Sarah yang menganggap hubungan itu. Hingga kenyataan pahit menampar Sarah dan membuatnya sadar jika cintanya kembali bertepuk sebelah tangan. Tepat di bulan kedua Sarah mengetahui fakta tentang perjodohan Gibran dengan cucu sahabat kakeknya saat tak sengaja mendengar percakapan Gibran dan orang tuanya waktu dia berkunjung ke rumah Gibran untuk merayakan 2 bulan hubungan mereka. “Sesuai isi wasiat itu, di saat usiamu sudah 18 tahun kamu akan di jodohkan dengan cucu sahabat kakek.” Ucap Riko. “Kenapa harus Gibran sih pah?.” Tanya Gibran. “Karena kamu cucu satu-satunya keluarga kita. Dan yang dijodohkan denganmu juga cucu perempuan satu-satunya.” Jelas Riko. “Terserah papa aja kalau begitu. Aku terima perjodohan ini karena itu wasiat kakek.” Pasrah Gibran. Sungguh ingin sekali dia menolak, tapi dia pernah berjanji pada kakeknya kalau dia akan menuruti perkataan orang tuanya selagi dia mampu. Apalagi perintah sang papa berkaitan erat dengan sang kakek. Tapi apa dia bisa ? sedangkan hatinya penuh dengan satu nama. “Tenang aja sayang, kamu nggak akan pernah menyesal dengan perjodohan ini.” Ucap Suci lembut kepada anaknya. “Maksud mama?.” Tanya Gibran penasaran. Dan hanya di balas senyuman kedua orang tuanya. Setelah mendengar percakapan Gibran dan kedua orang tuanya, Sarah meminta Gibran untuk bertemu. “Gibran, nggak kerasa ya hubungan kita sudah berjalan 2 bulan. Aku seneng banget, aku sayang banget sama kamu.” Ucap Sarah bahagia dengan menggenggam tangan Gibran. “Hmm.” Jawab Gibran. “Apa kamu sudah bisa membuka hati kamu buat aku?.” Tanya Sarah berharap dan hanya di balas gelengan Gibran. “Kenapa ? Kenapa terlalu sulit buat buka hati kamu buat aku ? Apa karena kamu belum bisa move on dari masa lalu ? atau karena perjodohan konyol yang di buat orang tua mu atas wasiat kakek mu?.” Ucap Sarah frustasi karena sudah berbagai cara dia lakukan untuk mengambil hati Gibran beserta orang tuanya tapi hasilnya nihil. Mendengar perkataan Sarah yang menyangkut orangtua nya membuat Gibran menatapnya tajam penuh amarah. Sarah yang menyadari perkataannya yang keterlaluan segera meraih tangan Gibran dan meminta maaf. “A-a-aku minta maaf, Bran. A-aku nggak bermaksud bicara kasar tentang orang tuamu. Maafin aku.” Sesal Sarah. “Dari awal gue udah bilang. Gue nggak bisa buka hati gue buat orang lain. Dan gue trima perjodohan itu karena itu benar-benar wasiat kakek gue.” Tekan Gibran. “Iya aku minta maaf. Please maafin aku. Please !.” mohon Sarah. “Gue harap ini pertemuan terakhir kita.” Ucap Gibran dingin sambil melepas genggaman Sarah dan melangkah pergi. “Gibran. !!” panggil Sarah namun tak di gubris Gibran. Membuat Sarah semakin frustasi. “Aaaaàa.....” teriak Sarah. Beberapa hari Sarah mengurung diri di kamar. Enggan beraktivitas bahkan makan pun harus di antar ke kamar, membuat sang nenek khawatir. “Sarah, kamu kenapa sayang? Kamu ada masalah, kamu bisa cerita sama nenek.” Ucap sang nenek sambil mengelus rambut panjang cucunya. “Sarah nggak papa kok nek, Sarah kangen sama mama papa. Besok Sarah izin pulang ke Indonesia ya.” Jawab Sarah sambil tersenyum. “Ooh... Yaudah. Besok biar di anter Johan ke bandaranya. Sekarang kamu istirahat ya.” Ucap sang nenek lembut. “Iya nek.” ** Kini Sarah sudah kembali ke Indonesia dan beraktivitas seperti biasanya. Meskipun ragu jika dia akan sakit hati saat bertemu dengan Syana dan Jacky tapi dia tak punya pilihan lain. Hingga suatu hari Jacky datang menemuinya dan Curhat tentang hubungannya dengan Syana yang tak sesuai harapannya. “Gue ragu sama perasaan Syana ke gue. Selama pacaran dia susah diajak jalan. Bisa berduaan Cuma pas antar jemput dia. Itupun harus gue paksa biar dia mau.” Keluh Jacky. “Emang dari dulu Syana seperti itu kan.?” Jawab Sarah santai meski hatinya nyeri. “Iya gue tahu. Tapi setidaknya lebih hangat kek sama pacar. Eeh.. ini malah makin dingin.” “Trus mau loe gimana?” “Gue pengen punya cewek yang bisa diajak jalan, seneng-seneng, bisa berbagi kebahagiaan gitu.” “Hmmmz..” Jacky menghela nafas panjang. Dia sayang sama Syana tapi Syana seperti enggan membalas rasanya. Sudah berbagai cara Jacky lakukan untuk meluluhkan hati Syana tapi hasilnya nihil. Hingga beberapa menit mereka saling diam, Jacky memutuskan untuk mengatakan niat sebenarnya kepada Sarah. “Sar, Loe mau nggak bantu gue.?” Tanya Jacky dengan menatap Sarah dalam. Sarah yang ditatap sedalam itu pun hanya bisa diam membeku. Dan sejak itu mereka berdua menjalin hubungan di belakang Syana. Tanpa merasa bersalah, tanpa takut merusak persahabatan yang mereka jaga sejak dulu. Mereka menjalani hubungan yang tak terkontrol bahkan hingga saling berbagi kenikmatan sesaat. Beberapa hari Sarah tak bisa masuk sekolah karena mengeluh sakit. Disaat masuk, dia dikejutkan dengan keberadaan Gibran di sekolahnya dan di kabarkan sebagai sepupu Syana. Hingga dia bertekad untuk mendekati Gibran lagi dan mencari tahu kenapa Gibran kembali ke Indonesia setelah tahu tentang perjodohannya. Karena seaungguhnya hati Sarah masih berharap ke Gibran. *** Di tempat lain, Jacky yang kemaren sempat berkelahi dengan Gibran dan mengatakan kata-k********r terhadap Syana hanya bisa menyesali perbuatannya. Merenung dan merokok tanpa mau meninggalkan kamarnya. Pagi-pagi sekali Sarah mengunjungi rumah Jacky, ya meskipun di rumah Jacky ada pembantu tapi besar kemungkinan Jacky enggan makan dan mengurus diri saat sedang ada masalah. “Ky, sarapan dulu yuk. Tadi aku masakin nasi goreng kesukaan kamu.” Ucap Sarah sambil memegang bahu Jacky. Jacky hanya menoleh sekejap dan kembali merokok. “Ky, udah dong. Aku ikut sakit lihat kamu kayak gini. Kamu harus bisa move on dari Syana. Kan kamu sendiri yang bilang kalau kamu nggak suka dengan sikap Syana yang selalu dingin sama kamu.” Ucap Sarah. Jacky membuang rokoknya yang masih separo itu dan menyuruh Sarah mendekat. Memeluknya erat menyalurkan sakit hatinya. Menit kemudian bibir mereka bertemu, saling mengecup, melumat dan mengecap. Hingga Sarah mendorong d**a Jacky karena kehabisan oksigen. “Makasih ya, loe slalu bisa memahami gue.” Ucap Jacky dengan membelai rambut Sarah, membuat Sarah kembali memeluknya. “aku akan slalu ada buat kamu.” Ucap Sarah. “Sekarang sarapan dulu yuk.” Ajak Sarah. “Oke.” Jawab Jacky dan bergandengan tangan menuju meja makan. Ya, Jacky di rumah hanya dengan ART nya. Karena kedua orang tua Jacky selalu sibuk bekerja bahkan mereka pulang ke rumah hanya sebulan sekali. Itupun hanya itungan jam, bahkan Jacky jarang bertemu saat mereka pulang. Yang mereka pikirkan hanyalah uang dan uang. Membuat kehidupan Jacky jadi tak terkontrol. Alkohol, s**s, balapan sudah menjadi makanannya sehari-hari. Jacky mulai mengurangi kebiasaan buruknya saat menjalin hubungan dengan Syana, lebih sering melakukan hal-hal positiv dan itu terbukti dengan nilai Jacky yang terus mengalami kenaikan. membuat semua orang merasa salut dengan hubungan mereka yang membawa sisi positiv pada Jacky . Hingga sampai disaat Jacky memutuskan untuk putus dengan Syana dan memilih menjalin hubungan dengan Sarah membuat hari-harinya kembali tak terkontrol. Semua kebiasaan buruk yang sudah lama dia tinggalkan kini kembali dia jadikan rutinitas.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN