Sudah dua minggu, Zaka menginap di rumah Pak Aditya, barang-barang pribadinya, sudah ia ambil semua dari rumahnya bersama Mei. Rumah itu adalah hadiah pernikahan yang ia berikan pada Mei dan atas nama Mei. Jadi Zaka tidak ingin mengganggu gugat rumah tersebut. Biarlah seperti ini adanya. Rumah tersebut Zaka berikan untuk Mei. Zaka juga sudah mendaftarkan gugatan perceraiannya di pengadilan, hanya saja semua berproses. Pagi ini Zaka ikut sarapan bersama keluarga besarnya, Tara seperti biasa melayani Erik dengan telaten, walaupun wajahnya sedikit pucat, karena mengalami mual muntah di pagi hari. "Kalau ga enak badan, tiduran aja Mah," ucap Erik yang melihat Tara sangat pucat. "Ga papa, Pih. Masih bisa," sahutnya lemah sambil mulai menyendokkan nasi ke dalam mulut. Namun ... Ueek! Uueek!

