bc

HASRAT BODYGUARD

book_age18+
2.9K
IKUTI
17.8K
BACA
revenge
counterattack
kickass heroine
inspirational
ambitious
enimies to lovers
cruel
bodyguard
stubborn
like
intro-logo
Uraian

Diego Lanzo, bodyguard terkenal akan paras tampan juga kepribadiannya yang misterius. Ia kerap berbicara sekedarnya saja. Ketangkasan dan kemampuan luar biasa yang ia miliki, menjadikan Diego sebagai pengawal utama di kediaman keluarga Constanzo, keluarga mafia terkenal di Italia.

Sampai pada akhirnya, Diego dipercaya menjaga Flavia Constanzo, putri dari bosnya. Sifat Flavia yang sulit diatur dan berbuat sesuka hati membuat Diego sedikit kewalahan dalam mengawasinya. Siapa sangka, jika kebersamaan yang terjadi menumbuhkan getar asmara di antara mereka.

Namun, Elio melarang keras Diego untuk menjalin hubungan dengan putrinya karena alasan yang kuat. Bukan hanya kasta, tapi tabir dua puluh tahun lalu yang belum tersingkap.

chap-preview
Pratinjau gratis
SANG PENGAWAL
Seorang pria dewasa tampak berjalan terburu-buru mendekati rekannya yang terlihat duduk berjarak dua puluh meter darinya. "Diego!" Panggil pria itu kemudian. "Kenapa? Duduklah dulu. Kau seperti orang yang terkena penyakit sesak napas." "Ini lebih penting dari napasku. Kau disuruh oleh tuan Elio untuk datang ke ruangan pribadinya." Pria berkulit putih bernama Lucas itu memberitahu. Diego yang tengah duduk bersantai di kursi mini bar itu mengangguk. "Aku akan segera ke sana." "Ya sudah. Cepatlah ke sana." Setelah menyampaikan pesan majikannya, Lucas gegas pergi, menyelesaikan pekerjaan lain. Meninggalkan Diego yang masih duduk di tempat yang sama. Diego mengembuskan napas. Menenggak sisa red wine yang beberapa menit lalu ia tuang ke gelas transparan. Beranjak berdiri, memenuhi perintah sang big boss. Pintu yang menjulang tinggi dengan dijaga dua orang pengawal di bagian sisi kanan dan kiri masih betah tertutup. Diego mengetuk pintu itu beberapa kali. Tak lama, terdengar perintah dari dalam yang menyuruhnya untuk masuk. Diego membuka pintu itu, berjalan ke dalam tanpa memedulikan tatapan aneh ke dua pengawal yang masih setia berjaga di tempatnya. Diego menganggap hal itu sebagai bentuk kewajaran. Karena hanya orang-orang terpilih yang bisa masuk ke ruangan pribadi Elio. Derap kaki Diego yang menggema di ruangan mewah itu memaksa Elio untuk memutar kursi yang sejak tadi ia duduki untuk melihat kedatangan pengawal kebanggaannya. Walaupun usia Diego masih terlampau muda, tapi kemampuannya tak bisa diragukan. Beberapa misi kerap ia selesaikan dengan baik tanpa ada kata gagal. Seolah kegagalan tak mampu menyentuh pemuda yang memiliki pundak kokoh, ditambah dengan garis wajah tegas itu. "Anda memanggil saya, Tuan?" Diego bertanya. Ke dua tangan ia arahkan ke belakang. Tatapannya lurus ke depan. Tepat ke arah Elio yang tengah menghisap rokok di sela jarinya. Elio mengangguk pelan. "Ada yang ingin aku sampaikan padamu. Duduklah." "Saya?" Diego menunjuk dirinya sendiri. Masih tak percaya dengan apa yang barusan ia dengar. Duduk di samping Elio? "Diego Lanzo, itu namamu kalau belum berubah." Tanpa menjawab, Diego kembali berjalan mendekati Elio, lalu duduk di sampingnya. Jika bukan karena perintah, mungkin ini adalah suatu tindakan yang sangat lancang karena berani duduk di samping penguasa seperti Elio Constanzo. "Dua hari lagi, putriku akan tiba dari Los Angeles. Namanya Flavia Constanzo." Elio memberikan informasi. Diego menoleh, tapi tetap diam. Ia juga bingung hendak menyahut apa. Karena pria berhidung mancung itu juga belum mengerti, apa maksud Elio memberitahukan berita tersebut padanya. "Sejauh ini, hanya kau pengawal terbaik yang aku punya. Jadi, aku akan memberikan tugas ini padamu." Elio yakin, pilihannya tak meleset. Diego adalah orang yang tepat. Kali ini, Diego memberanikan diri untuk bertanya. "Tugas apa, Tuan?" "Menjadi pengawal putriku," jawab Elio disertai senyum lebar. Diego menatap tak percaya. Kenapa harus dirinya? Menjaga seorang wanita bukanlah keinginan Diego. Karena menurutnya, wanita adalah makhluk Tuhan yang paling rumit. Jika boleh memilih, lebih baik Diego menjaga kawanan Hyena ketimbang wanita. "Haruskah saya, Tuan?" Diego mencoba untuk protes secara halus. Elio mendengkus sebal. Ia benci penolakan. "Kau mau membantah?" "Tidak. Saya hanya bertanya. Kenapa harus saya?" Cepat Diego meralat sebelum timah panas menembus jantungnya. "Karena aku percaya padamu. Jadi, jangan kecewakan aku. Kau mengerti?" Tegas Elio memperingati. "Mengerti, Tuan." Diego mengangguk terpaksa. "Bagus!" Elio menepuk pundak Diego disertai senyuman lebar. Puas karena keinginannya bisa terpenuhi tanpa penolakan. Walaupun terkesan seperti memaksa. Wajah Diego berubah kusut setelah kakinya melangkah keluar dari ruangan pribadi Elio. Tugas yang tadi ia dapatkan dari Elio sudah sama halnya seperti mimpi buruk. "Hei, Diego! Kenapa tuan Elio memanggilmu ke ruangan pribadinya?" tanya salah seorang penjaga yang berdiri di sisi kanan pintu. Sejak tadi pria itu menunggu dengan rasa penasaran yang teramat sangat. Diego menghentikan langkahnya, menoleh pada pria itu dengan tatapan membunuh. Dia tipikal pria yang tak suka jika urusan pribadinya diusik oleh orang lain. "Apa itu penting bagimu?" "Aku hanya bertanya. Kau tinggal menjawab," ketus pria itu dengan wajah tak suka. "Biasanya, orang yang terlalu banyak mencampuri urusan orang lain sulit berumur panjang." Diego melanjutkan langkahnya, tanpa memedulikan tatapan tak bersahabat lawan bicaranya. "Sombong sekali," dengkus pria berkepala botak itu. "Dia pengawal kesayangan tuan Elio. Wajar jika besar kepala," celetuk rekannya yang di sisi kiri. "Huh! Dia akan bernasib sial karena keangkuhannya itu." "Sudahlah. Jangan dipikirkan. Anggap angin lalu." Mereka berdua kembali berjaga dengan posisi siap sempurna. Karena jika Elio melihat mereka tak serius dalam tugasnya, maka nyawa harus siap untuk dipertaruhkan untuk membayar kelalaian itu. Diego bersandar pada tembok koridor yang menuju ke gudang senjata. Ia menengadahkan kepalanya dengan rokok yang terselip pada jari. Kepulan asap putih mengepul ke udara. Tepukan pada pundak membuat Diego kaget. Ia hendak mengumpat, tapi urung setelah melihat siapa pelakunya. Lucas tertawa cekikikan. "Ada apa denganmu? Kau sudah sama seperti manusia yang tak punya semangat hidup," ledeknya. Diego masih diam. Enggan sebenarnya berbicara. "Semenjak keluar dari ruangan pribadi tuan Elio, kau berubah murung. Apa ada masalah?" timpal Lucas lagi. Ia tak mau menyerah, sampai Diego mau buka mulut dan mengatakan semuanya. "Aku disuruh menjaga putrinya. Konyol sekali, bukan? Ck! Seperti tak ada pengawal lain saja," keluh Diego. "Tunggu. Maksudmu, kau akan menjaga nona Flavia?" tanya Lucas begitu fanatik. Diego melihat ke arah Lucas. "Kau kenal dengannya?" "Aku kenal dengannya. Tapi nona Flavia tidak kenal denganku," jawab Lucas terkekeh. Diego berdecak kesal. Lucas tipikal orang yang jarang serius. Dia terlalu banyak bercanda. Berbanding terbalik dengan Diego. "Kau jangan risau. Aku yakin, setelah ini kau pasti akan sangat bersyukur karena mengemban tugas ini." "Kenapa kau begitu yakin?" "Karena nona Flavia gadis yang cantik. Sebentar. Aku akan menunjukkan satu hal padamu." Buru-buru Lucas mengeluarkan ponselnya dari saku celana. Jarinya berselancar ke layar benda pipih itu dan mencari sosial media seseorang. Ketemu! "Kau lihatlah. Dia sangat cantik, Diego." Lucas menunjukkan beberapa potret Flavia pada sahabatnya yang dingin seperti balok es. Diego memutar bola mata malas. Enggan berkomentar. Ia kembali menghisap rokok yang tersisa setengah bagian. "Kenapa reaksimu buruk sekali terhadap seorang wanita? Kau masih pria normal, 'kan?" Lucas bergidik ngeri. Takut bila sahabatnya itu melenceng dari jalur. Rahang Diego mengeras. Rokok yang tadi ia hisap, dijatuhkan ke tanah lalu diinjak. Tatapannya kini fokus pada Lucas yang berubah panik. "Kau mau mati dengan cara apa, Lucas? Ditembak dengan posisi digantung atau aku kuliti hidup-hidup," kecam Diego yang wajahnya masih mengetat.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Keyra, Gadis Kecil Kesayangan Om Dirga

read
213.5K
bc

Suamiku Bocah SMA

read
2.6M
bc

Satu Atap Tanpa Cinta

read
28.8K
bc

Tentang Cinta Kita

read
231.3K
bc

Pernikahan Rahasia sang CEO: Menyerah pada Cinta yang Menggila

read
1.0K
bc

Sentuh Aku, Daddy!

read
174.9K
bc

Demo Dulu, Jatuh Cinta Kemudian

read
12.0K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook