Deru mesin samar terdengar saat pesawat hampir lepas landas. Glass melirik ke arah jendela, di balik kacamata hitam yang nampak memperkeren penampilannya itu, dia menyembunyikan banyak pertanyaan juga kegelisahan. Ingin rasanya segera menginjakkan kaki ke negara di mana orang- orang yang dikenalnya tinggal. Namun, hati kecil Glass merasa takut. Ia takut jika ibu yang membesarkannya telah tiada, dia juga takut jika gadis yang sangat ingin dia buat sakit hati ternyata sudah menemukan bahagianya. “Tidak Glass! bukankah kamu ingin membuatnya mengemis cinta padamu? Mau dia sudah atau belum memiliki suami, ingat tujuanmu adalah membuatnya bertekuk lutut,” gumam Glass. Ia sandarkan punggung setelah pesawat berhasil mengudara. Glass baru akan memejamkan mata saat Alex yang duduk tepat disebelahn

