Chapter 22

1177 Kata

22 Pemakaman baru saja selesai berlangsung, air mata Gil tak henti mengalir ia memeluk nisan mamanya, sekali lagi ia menyesal mengapa tak menangkap isyarat mata mamanya yang seolah lelah dengan semuanya. Satu hal yang sangat disesali oleh Gil mengapa mamanya tak memilih terbuka pada dirinya atau Alex yang lebih dicintai, mengapa memilih mengiris nadinya hingga terlalu banyak darah yang keluar dan selesai sudah semua cerita. "Gil, kita pulang." Suara lirih Alex menyadarkan lamunan dan menghentikan sejenak tangis Gil. Ia usap bahu adiknya dan membantunya agar bangkit. Membantu mengibaskan tanah yang melekat di celana adiknya. Gil menatap sekali lagi nisan mamanya, mengusap hidungnya lalu menatap sekitarnya, masih ada Ayunda, selain Alex, juga papanya dan agak jauh ada Zeva di belakang, sem

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN