Bagian 3

1163 Kata
Sebastian Kanier merupakan staff dari perusahaan Zendra Wijaya, Ayah dari Sydney Wijaya, yang juga merupakan tunangan dari Sydney. Mereka sudah menjalin hubungan lebih dari dua tahun dan sudah memasuki jenjang serius dalam hubungan mereka. Banyak yang menyayangkan kenapa Sydney lebih memilih bersama Sebastian dibandingkan pria lain yang katanya lebih setara dengannya. Apalagi dengan status Sebastian yang hanya sebagai Ayah tunggal, membuat orang lain semakin menyangka hubungan mereka tidak-lah normal. Sebastian masih sangat ingat pertemuan pertama mereka, yaitu ketika Sydney datang ke kantor Ayahnya hanya untuk memberikan makan siang Ayahnya yang disiapkan oleh Ibunya. Sydney sangat lugu, manis, dan lemah lembut—parasnya yang manis sangat menarik hati Sebastian. Bahkan ketika dia tahu bahwa status sosial mereka sangatlah jauh—walaupun sebenarnya Bash berada di perekonomian yang lebih dari masyarakat awam, namun itu tidak cukup jika menyangkut soal keluarga Wijaya. “Bash.” Bash membuang puntung rokoknya ketika Sydney menghampiri dirinya yang sengaja keluar dari hingar-bingar pesta ulang tahun tunangannya sendiri. Bash menghela napas dan menatap Sydney yang menghampirinya. “Hm?” tanyanya. Raut wajahnya sama sekali tidak terlihat senang melihat kedatangan tunangannya ketika dia ingin menenangkan dirinya sendiri. “Maaf,” ucap Sydney. Tatapannya sendu dan dia berharap Bash bisa melihatnya dan sedikit memaafkan Sydney karena hal itu. Setiap kali ada orang yang berbicara tidak-tidak soal Bash, Sydney selalu merasa bahwa itu salahnya. Bash tersenyum miring—satu-satunya ekspresi Bash yang tidak disukai Sydney adalah senyumannya itu; terkesan sangat merendahkan dan membuat Sydney semakin merasa bersalah. “Kamu selalu meminta maaf, itu bukan salah kamu, Sydney.” Sydney menggeleng. Dia memaksakan keberaniannya untuk memegang lengan Bash lalu memeluknya setelah mendekatkan dirinya untuk lebih dekat dengan Bash. Sydney sadar tempat mereka berdiri sekarang sangatlah sepi dan karena itu pula dia berani menyandarkan kepalanya di pundak Bash. “Tidak. Seharusnya aku bisa membuat mereka diam dan tidak membicarakan—” “Kamu tidak bisa mengendalikan apa yang ingin dibicarakan orang-orang tentang kita, Sydney. Memang salahku saja yang tidak tahu diri sejak dua tahun lalu karena berani mendekati kamu.” Sydney mendongak dan menatap Bash tidak suka. Dia sangat membenci ketika Bash merendahkan dirinya sendiri dengan mengatakan bahwa status sosial mereka berbeda dan itu berdampak pada bagaimana semua orang di sekitar mereka berkomentar soal hubungan mereka. “Tidak, Bash. Astaga, sudah berapa lama kita membicarakan hal yang sama? Berhenti mengatakan bahwa hubungan kita ini salah,” ucap Sydney yang kali ini lebih tegas berucap dibandingkan sebelumnya. Bash menjauhkan dirinya, membuat genggaman Sydney lepas darinya. “Karena itulah yang terjadi, Sydney—” “Tapi aku mencintai kamu, Bash.” Sungguh, tidak ada yang Sydney inginkan di dunia ini selain mencintai Bash—iya, dia sangat mencintai pria itu dan bahkan dia rela mengorbankan apapun untuk Bash. Bash terdiam sejenak dan yang ia lakukan hanyalah menatap wajah tunangannya. “So do I,” ujarnya setelah jeda beberapa detik. Sementara itu, Sydney selalu merasakan hatinya. berdesir begitu saja tiap kali Bash mengatakan itu. Sydney mengulas senyumannya. “And that’s the only thing matters here.” Sydney berjinjit hanya untuk mencium pipi Bash. Hal itu membuat Bash malu; dia selalu seperti ini setiap kali Sydney lebih dulu menggodanya. Bagi Sydney, sejak berhubungan dengan Bash, mereka sudah beribu-ribu kali membahas hal ini, yang mana belum menemukan kesimpulan, dan yang bisa mereka lakukan hanyalah memastikan bahwa semuanya memang akan baik-baik saja. “Jangan marah lagi, okay?” Bash memutar bola matanya dan mendengus. “Tidak, aku hanya sedikit emosi tadi; aku akan terbiasa karena ini bukan pertama kalinya kita seperti ini, bukan?” Sydney tersenyum kecil dan mengangguk. *** “Aku tunggu di mobil,” ujar Bash berbisik pada Sydney dengan Celeste berada di gendongannya dan sedang tertidur. Sydney menoleh pada Bash dan mengangguk sebelum berbalik arah untuk menemui kedua orangtuanya. “Hai, Sweetheart,” sapa Ayahnya dan mengulurkan tangannya, yang dibalas oleh Zee dengan menggenggam tangan Zendra. “Do you enjoy your party?” tanya Tavie, yang duduk di sebelah Zendra, berhadapan dengannya. Sydney mengangguk. “Thank you.” Sebagai anak tunggal, tentu saja orangtuanya selalu memberikan apa yang diinginkan oleh Sydney. Bagi mereka, kebahagiaan Sydney adalah yang utama. “Tapi, aku harus meninggalkan pesta ini dulu.” Ucapannya membuat kedua orangtuanya mengeryitkan dahi. “Kenapa, Sydney?” “Aku harus mengantarkan Celeste dengan Bash.” Tavie yang pertama kali menampilkan wajah tidak suka. “Kenapa? Ini pesta kamu dan kamu harus menikmatinya, Sydney. Kenapa kamu harus repot-repot mengantarkannya?” “Mama, Mama tahu Celeste kadang susah tertidur dan dia membutuhkan aku tiap kali kesulitan tidur,” ucap Sydney dengan senyuman kecil di wajahnya. Dia tahu terkadang orangtuanya tidak suka jika dia terlalu mengabdikan hidupnya pada Bash, tapi Sydney tahu posisinya sebagai tunangan dan calon Ibu dari Celeste, dia akan melakukan apapun untuk mereka berdua. Zendra menghela napas. “Hati-hati, call me jika kamu ingin pulang, Ayah akan segera menyuruh sopir untuk menjemput kamu.” Sydney mengangguk. “Thank you, Ayah, Mama.” Sydney segera beranjak dan berlari kecil keluar untuk menyusul Bash. Setelah putrinya pergi, Tavie menghela napas dan menoleh pada suaminya. “Dia berlebihan, Zendra, I think he manipulates our daughter.” Sekalipun Tavie dan Zendra menyetujui pertunangan mereka, masih ada beberapa hal yang mengganjal di hatinya, apalagi ketika melihat perubahan sikap Sydney yang kentara; putri kesayangan mereka itu seolah hanya mementingkan Bash saja. Zendra menggenggam tangan istrinya, mengusap-usap punggung tangannya dengan ibu jarinya dan mengecupnya. “Sayang, mungkin memang Celeste membutuhkan Ibunya.” “She’s not her mother.” Tavie memotong ucapan suaminya dengan nada sedikit tinggi. “Maksudku, bukan bermaksud untuk membeda-bedakan, tapi....aku kurang suka dengan Bash, Zendra. I know you feel the same way as I do.” Zendra mengangguk. “Tapi, Tavie, putri kita itu sudah besar dan aku yakin dia sudah tahu apa yang menurutnya benar dan salah. Sama seperti saat kita mengizinkannya untuk terjun ke dunia pendidikan dan menjadi guru taman kanak-kanak, instead of being the heir of my company. Kita serahkan semua keputusan padanya, Tav, kita hanya perlu melihat apakah keputusannya membuat dia bahagia atau tidak.” “Jadi, menurut kamu dia bahagia dengan Sebastian?” Zendra masih mengulas senyuman lembutnya, yang selalu membuat hati Tavie tenang tiap kali melihatnya. “Suka atau tidak suka, iya, Tav. Putri kita mencintai dia dan bahagia dengannya.” Tavie mencebikkan bibir bawahnya. “Aku hanya khawatir, Zendra. Apalagi jika ingat bahwa hanya dia yang kita punya, hidupku seolah selalu berada di ambang kekhawatiran.” Zendra tertawa kecil. Dia bisa menjaga sikapnya di depan istrinya dan bersikap bahwa semuanya baik-baik saja, walaupun dalam hati dia sama tidak tenangnya. “She is going to be alright, I promise you.” Zendra mengusap kening Tavie yang berkerut. Tentu saja Zendra sangat mengerti kenapa Tavie bisa sangat overprotektif pada putri mereka. Setelah sempat kehilangan kandungannya hampir tiga kali sebelum dan setelah memiliki Sydney hingga akhirnya Tavie tidak bisa memberikan Zendra anak lain selain Sydney, putri mereka itu menjadi harapan dan permata mereka. ***  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN