Sydney sangat mencintai Bash. Dia tidak bisa mengekspresikan rasa cintanya itu dalam kata-kata, karena rasa itu sangat besar. Sydney rela melakukan apapun untuk menjaga Bash berada di sisinya. Astaga, jika ada yang mengatakan padanya bahwa dia tergila-gila pada Bash, maka Sydney seratus persen akan setuju padanya!
Setelah Celeste tertidur dalam dekapannya—karena lagi-lagi dia tidak ingin tertidur tanpa Sydney di sampingnya—Sydney berkeliling ruang tamu di apartemen tunangannya. Dia tersenyum melihat pigura kecil di samping vas bunga yang terpajang foto pertunangan mereka dan liburan panjang yang mereka habiskan di Australia bersama Celeste.
Tangan Sydney terulur untuk mengambil pigura foto tersebut. Setelah memandanginya beberapa lama dengan mata berbinar, tidak sengaja dia menyentuh sesuatu di baliknya. Sydney mengeryit, dan ketika dia membalik pigura tersebut, terselip sebuah foto kecil yang sudah lusuh dan robek di sisi-sisinya. Rasa penasaran Sydney mendorongnya untuk mengambil foto tersebut dan melihatnya.
Rasanya tidak karuan saat dia melihat foto mendiang Ibu Celeste, yang bernama Azzury. Dia sama sekali tidak sakit hati ketika mengetahui Bash masih menyimpan foto mendiang istrinya itu, namun ia juga tidak begitu senang melihatnya juga.
“Sydney.”
Bash baru saja selesai membersihkan dirinya dan mendapati tunangannya sedang berada di ruang keluarga. Dengan hanya memakai handuk yang ia lilitkan di pinggangnya, Bash menghampiri Sydney. “Apa yang kamu lihat?” tanya Bash penasaran.
Sydney memperlihatkan foto Azzury yang terlihat sangat cantik di foto itu. Wanita itu sangat mirip dengan Celeste. “Dia sangat cantik, Bash.”
Bash menjadi salah tingkah. Dia sedikit khawatir saat Sydney mendapati foto itu. Bash menyimpannya karena hanya itu kenang-kenangan yang ia punya dengan Azzury setelah dia menghancurkan hampir semua foto milik mereka berdua saat Azzury tidak ada. Bash sangat kacau saat itu, ketika seharusnya hari kelahiran anak mereka menjadi momen paling membahagiakan, hari itu malah berubah menjadi kelabu karena Azzury menghembuskan napas terakhirnya dan membawa sebagian nyawa Bash bersamanya.
“Aku tidak bermaksud untuk—”
Sydney membalikkan badannya dan tersenyum pada Bash. “Aku sama sekali tidak cemburu, Bash.” Sebastian menundukkan pandangannya ketika Sydney mengusap sebelah pipinya. “Aku tidak mungkin marah hanya karena kamu menyimpan foto Kak Azzury, dia juga cinta kamu—yang kamu jaga hingga kamu memang tidak bisa menjaganya lagi.” Dengan mesra, Sydney mengecup pipi Bash. “Kamu bisa mencintai kami dalam hati kamu dengan bersamaan.” Sydney mengusap d**a kiri Bash dengan lembut.
Bash memajukan badannya untuk mengecup pelipis tunangannya. Sungguh, dia tidak tahu kebaikan apa yang dia lakukan di masa lalu sehingga dia bisa memiliki tunangan seperti Sydney. “Sydney, aku akan selalu mencintai kamu, sampai kapanpun.” Mereka saling mendekap, menyalurkan gelenyar hangat dari relung hati paling dalam.
Apapun yang terjadi, Sydney akan selalu bersama Bash.
***
Pagi itu, Sydney sudah siap di depan kelas untuk menyambut anak-anak muridnya datang. Senyumnya sudah mengembang lebar ketika melihat murid pertama yang datang pagi itu adalah Celeste, bahkan saat Celeste masih jauh beberapa meter di depannya, Sydney sudah merentangkan kedua tangannya. “Ibu guru!” seru Celeste berlari ke arah Sydney yang langsung berada di dekapan Sydney.
Sudah menjadi kebiasaan anak itu untuk memanggil Sydney dengan sebutan; Ibu guru jika berada di sekolah agar anak-anak yang lain tidak merasa dibedakan.
“Cantik sekali kamu pagi ini, Celes.” Sydney mencubit pelan pipi gembul Celeste yang sedikit memerah pagi ini.
“Ibu juga cantik,” balasnya dengan senyuman lebar yang menampilkan deretan giginya.
Sydney tertawa kecil. “Ayo, masuk kelas dulu, ya,” titahnya dengan lembut dan dibalas anggukan antusias dari Celeste. Sydney memerhatikan anak itu hingga memastikan Celeste benar-benar duduk manis di tempatnya.
Sydney melemparan pandangannya pada Bash yang menunggu di dekat sekolah. Pria itu melambaikan tangannya dan tersenyum pada Sydney sebelum masuk ke mobilnya untuk bekerja.
“Bu Sydney.”
Sydney menundukkan pandangannya saat melihat salah satu murid laki-lakinya yang seumuran dengan Celeste, bernama Lorens. “Pagi, Lorens,” sapanya dan mengusap rambut anak laki-laki tersebut.
Lorens sama sekali tidak membalas sapaannya dan memilih untuk menundukkan kepalanya. Sydney termasuk orang yang memiliki tingkat kepekaan yang tinggi sehingga dia bisa langsung tahu bahwa muridnya ini sedang tidak baik-baik saja. “Apa terjadi sesuatu, Lorens?”
Lorens yang baru berusia lima tahun, masih sangat polos sehingga dengan mudah dia menganggukkan kepalanya. “Iya,” ujarnya dengan suara pelan.
Sydney tersenyum dan menatap Lorens dengan tatapan lembutnya. “Kamu tahu kamu bisa menceritakan semuanya padaku, ‘kan, Lorens?”
Lorens kembali mengangguk. “Aku tidak ingin sekolah hari ini.”
“Kenapa?” Dengan sabar Sydney menanyakan hal yang membuat murid laki-lakinya itu murung.
“Ibu tidak mau mengantarku ke sekolah. Aku ingin marah pada Ibu dan tidak ingin masuk hari ini,” ucap Lorens dengan nada sedih.
Sydney menatapnya dengan prihatin. “Lorens, you can go study with or withour your mother. Make her proud because you are able to study with your own motivation.” Sydney sedikit ragu bahwa Lorens akan mengerti akan kata-kata yang dia lontarkan. “Ibu akan memberikan es krim di jam istirahat untuk kamu nanti, bagaimana?”
Lorens yang sedari tadi menunduk dan mendengarkan penjelasan Sydney, langsung mendongak dengan mata berbinar ketika mendengar tawaran Sydney. Dia mengangguk-anggukan kepalanya dengan sangat antusias. “Aku mau!” Sydney tertawa kecil dan membiarkan Lorens masuk ke kelasnya.
***
Sesuai janjinya, Sydney memberikan es krim untuk Lorens di jam istirahat—tentunya diam-diam karena dia tidak ingin anak-anak lain ikut meminta es krim padanya. Bukan bermaksud pelit, hanya saja dia takut akan ada orangtua murid yang protes karena dia memberikan anak mereka es krim tanpa izin terlebih dahulu.
Di jam istirahat itu, Sydney memilih untuk menemani anak-anak muridnya bermain di taman sekolah dibandingkan menghabiskan waktunya di ruangan bersama guru-guru lain. Hal itu pula yang membuat banyak murid menyukainya—Sydney selalu berusaha dekat dengan mereka.
“Bu Sydney,” panggil seseorang yang membuat Sydney terkejut dan menolehkan kepalanya ke belakang. Dia melihat salah satu orangtua murid tersenyum padanya. Jika dia tidak salah mengira, pria di hadapannya ini adalah Ayah dari Lorens.
“Iya?” Sydney segera bangkit dari duduknya dan membalas senyuman pria itu.
“Bisa saya bicara sebentar dengan Anda?”
Tentu saja Sydney tidak bisa menolak. Akhirnya, dia membawa Ayah dari Lorens itu ke salah satu tempat di kantin yang sepi saat itu. “Silakan duduk, Pak.” Sydney berujar dengan sopan.
Pria itu mengangguk dan menuruti apa yang dititah Sydney. “Maaf jika saya mengganggu waktu Anda.” Pria itu tersenyum canggung. Dia mengulurkan tangannya. “Saya Leo, ayah dari Lorens.”
Sydney mengangguk dan membalas untuk menjabat tangan pria itu. “Senang bertemu dengan Anda.”
Keheningan melanda atmosfer di antara mereka untuk beberapa saat. Sydney kebingungan sendiri pada pria di hadapannya yang tidak juga membuka suara. “Apa yang ingin Anda bicarakan?” Sesopan mungkin Sydney bertanya hal itu karena dia tidak bisa menghabiskan waktunya dalam keadaan canggung dengan pria di hadapannya ini.
“Ini tentang Lorens. Saya ingin membicarakan Lorens.”
***