“Saya dan istri saya memang tidak seharmonis pasangan lainnya. Dulu saya sempat ingin bercerai dengannya, namun saya urungkan karena memikirkan nasib Lorens nanti. Hanya saja, istri saya tidak pernah mencoba untuk memperbaiki semuanya. Sikapnya berimbas pada Lorens. Saya mengkhawatirkan putra saya.” Sydney mendengarkan dengan seksama apa yang diutarakan oleh Ayah Lorens. Dia masih tidak mengerti kenapa pria itu memercayakannya untuk mendengarkan apa yang dialaminya dengan istrinya, namun Sydney akan berusaha menjadi pendengar yang baik.
“Apa itu yang membuat Lorens tidak ingin sekolah?” tanya Sydney dengan hati-hati karena takut menyinggung perasaan pria di hadapannya ini.
Leo mengangguk tanpa ragu. “Iya. Dia hanya ingin Ibunya selalu menemaninya dan mengantarnya ke sekolah, sayangnya istri saya tidak mau.”
Sydney mengangguk. Jujur, terkadang dia tidak bisa membayangkan bagaimana rasa sakitnya harus ditolak oleh orangtua sendiri, karena dia berasal dari keluarga yang nyaris sempurna. Ayah dan Ibunya selalu berada di sisinya bagaimanapun kondisinya. “Poor Lorens. Saya ikut sedih mendengarnya.”
Leo tersenyum kecil. Dia sendiri sempat melihat bagaimana interaksi Ibu guru Lorens yang ada di hadapannya ini dan dia sedikit tersentuh hatinya. “Saya sempat kaget saat anak saya bisa dibujuk oleh Anda. Saya terpukau dengan kemampuan Anda menghadapi setiap anak-anak.”
Sydney tidak bisa menyembunyikan semburat merah di pipinya. Menjadi seorang guru mengharuskannya bersikap mengerti tentang apa yang dihadapi oleh murid-muridnya, dan dipuji seperti itu tak ayal membuatnya senang. “Saya menjalankan tugas saya—panggilan hati saya, Pak. Saya senang jika itu bisa membantu.”
Leo memutuskan kontak matanya dari Sydney. Rasanya dia tidak sanggup jika harus berpandangan terlalu lama pada guru dari anaknya itu. “Jadi, bisakah saya meminta tolong pada Anda?”
Alis Sydney terangkat yang berarti dia sangat tertarik pada obrolan Leo. “Jika saya mampu, saya akan membantu apapun itu.”
“Saya ingin Lorens merasa diperhatikan oleh Anda—maksud saya bukan men-spesialkan anak saya, hanya saja, saya ingin dia mendapat perhatian Anda yang tidak bisa didapatkan dari Ibunya sendiri.” Leo terlihat malu mengatakannya, namun Syndey bisa mengerti hal itu. Dia menganggukkan kepalanya.
Oh my... batin Sydney kembali merasa iba pada anak itu.
“Terima kasih, Bu Sydney.”
Sydney kembali menganguk. “Terima kasih kembali.” Ketika Leo berdiri, Sydney mengikutinya dan menjabat tangan pria itu sebelum teriakan dari seorang anak perempuan yang sangat dia kenal menginterupsi mereka.
“Ibu guru!” seru Celeste yang membuat Sydney menoleh. Dia bisa menangkap pandangan anak itu yang menatap genggaman tangan Sydney dengan Leo dan Celeste terlihat tidak menyukai apa yang menarik perhatiannya.
“Celeste, ada apa?” Sydney melepaskan jabatan tangannya dari Leo. Dia segera ebrjongkok untuk mensejajarkan diri dengan Celeste. “Celes, apa ada yang ingin kamu katakan pada Ibu guru?” tanya Sydney dengan lembut.
Celeste memfokuskan pandangannya pada Leo. Sementara itu, Sydney langsung tahu bahwa ada sesuatu yang mengganggu Celeste dan sepertinya itu merujuk pada Leo. Untungnya, Leo menyadari bahwa anak kecil yang ada di ruangan itu menatapnya dengan tidak suka. “Bu Sydney, saya permisi dulu. Terima kasih atas waktu Anda.” Leo tersenyum, menundukkan kepalanya sekilas lalu pergi dari sana.
Sydney membalasnya dengan ramah dan setelahnya, dia kembali menatap Celeste. “Celeste, kamu ingin memberitahu Ibu guru kenapa kamu cemberut?” Syndey mencubit pipi Celeste dengan gemas.
“Siapa dia, Mama?” Celeste masih mencebikkan bibirnya ketika bertanya dengan alis berkerut dan raut muka yang tidak bersahabat.
Sydney masih memasang senyum indahnya. Sepertinya dia sangat paham apa yang dimaksud oleh anaknya. “Itu Ayah Lorens. Dia hanya ingin berbicara dengan Mama sebagai guru Lorens, Celeste.”
Celeste terdiam sejenak. Mata bulat dan indahnya menatap Sydney intens. “Aku tidak suka jika ada pria lain yang menemui Mama selain Papa.” Sydney bukan pertama kalinya menghadapi sikap Celeste yang sangat protektif padanya.
“Sayang, ini urusan kerja Mama, okay? Tidak hal yang salah di sini, Celeste.” Sydney mengusap rambut halus anaknya itu. “Apa kamu bisa mengerti?”
Celeste diam sejenak dan kembali membuat Sydney sedikit khawatir. “Iya, Mama.”
Sydney menghembuskan napasnya lega. “Baiklah. Sekarang, bagaimana jika kita kembali ke kelas? Sepertinya jam istirahat sudah selesai, Celeste.”
***
Sydney tergesa-gesa membereskan barang-barang yang ada di mejanya karena Celeste dan Bash sudah menunggu di mobil. Sydney berlari kecil menyusul mereka. Sesampainya di mobil, dia merasa ada hawa tidak enak—dia melirik Celeste yang duduk di belakang dan sama sekali tidak menyapanya seperti biasa. Dia kemudian menoleh pada Bash, pria itu juga terlihat tidak senang.
“Bash, hai,” sapanya seperti orang bodoh dan lugu. Sydney berusaha mengerti suasana di sekitarnya ini.
Bash hanya meliriknya tanpa berniat menjawab sapaannya. Sydney menghembuskan napasnya perlahan, berusaha untuk tidak terpancing emosinya. “Apa terjadi sesuatu?” tanyanya setelah beberapa menit mereka berkendara dalam diam. Seharusnya hari ini mereka pergi ke restoran sushi yang ingin Celeste kunjungi dari minggu lalu. Jam makan siang ini harusnya menyenangkan.
“Celeste bilang kamu bertemu dengan pria lain,” ujar Bash tiba-tiba yang membuat Sydney menoleh padanya dan menatapnya heran.
“Apa?”
Bash menghela napas kesal. “Siapa tadi namanya, Celes?” Alih-alih menjawab pertanyaan Sydney, Bash memilih untuk bertanya balik pada Celeste, anaknya.
“Ayah Lorens.” Celeste menjawabnya tanpa menatap Sydney. Anak itu masih memalingkan wajahnya ke luar jendela dan melipat kedua tangannya di depan d**a. Mungkin dia takut Sydney akan marah karena dia mengadu.
Bash tersenyum miring. “Untuk apa dia menemui kamu, Sydney?” Nada suara Bash yang sangat berbeda dibandingkan biasanya. Sydney kebingungan, dia merasa ada salah paham di sini. Dia sangat mengerti kecemburuan Bash sekarang karena ini bukan yang pertama kali Bash seperti itu.
“Dia hanya ingin menceritakan masalah anaknya padaku, Bash. Sebagai guru dari anaknya, aku merasa aku bisa membantu,” ucap Sydney memberikan pembelaan. Dia mengecilkan suaranya karena takut Celeste akan mendengarnya dengan jelas.
“Apa harus kamu? Apa guru di sekolah itu hanya ada kamu?”
Sydney mengeryitkan dahinya. “Dia memercayai aku sebagai tempatnya bercerita, Bash. Tidak mungkin aku menolaknya.”
Bash berdecih. Dia tersenyum miring dan mengglengkan kepalanya. “Alasan.”
“Bash...” Sydney sedikit merengek. Dia sama sekali tidak suka jika Bash sudah seperti ini. Rasanya dia selalu tidak percaya diri tiap kali Bash memperlakukannya seperti ini.
“Kamu tahu aku sangat tidak suka jika ada pria lain yang mencoba mendekati kamu. Apa aku kurang jelas mengatakannya, Sydney?” Bash menggertakkan giginya menahan amarah. “Apa jika Celeste tidak memberitahu aku, maka kamu akan bungkam?”
Sydney menarik napas dalam-dalam. Dia tidak boleh menangis sekarang, setidaknya tidak di hadapan Celeste. “Dia hanya ingin mengobrol sebentar karea anaknya berhasil dibujuk olehku, tidak ada maksud apapun selain itu, Bash. Aku harap kamu mengerti.” Astaga, Bash dan Celeste adalah dunia Sydney, bagaimana mungkin dia sempat berpikiran untuk meninggalkan mereka?
“Kamu tahu, Azzury tidak pernah melakukan itu ketika bersamaku, Sydney. Kamu bilang aku bisa mencintai kalian berdua—maka, aku akan mencintai kalian dengan cara yang sama.”
Syndey tahu maksud Bash walaupun pria itu sama sekali tidak memperjelasnya. Dia hanya mengangguk kecil dan menahan isakannya.
***