"Azzury tidak pernah bertemu dengan lelaki lain tanpa izinku dulu, Sydney. Dia sangat menghargai aku dan rasa tidak suka aku jika istriku, atau wanita milikku, menemui pria lain. Dan sekarang, kamu membuat aku marah." Bash terlihat tidak peduli dengan Celeste yang masih berada di belakang dan bisa mendengar perdebatan mereka dengan jelas.
Sydney menundukkan pandangannya. Astaga, dia sama sekali tidak bisa melawan tatapan mata Bash. "Bash, kami hanya membicarakan soal Lorens, tidak lebih. Bagaimana bisa aku izin dulu padamu ketika dia meminta untuk berbicara tiba-tiba?" Kali ini, Sydney merasa tidak duka dipojokkan seperti ini oleh Bash karena bagaimanapun, dia merasa ini bukan salahnya. Seharusnya Bash mengerti posisinya. "Sudah menjadi tanggungjawabku untuk mendengar keluh kesah dari orangtua murid-muridku. Aku tidak mungkin menolaknya."
"Kalau begitu, temuilah dia sesukamu dan dengarkan apa ceritanya. Sepertinya dia akan merasa nyaman, Sydney. Jangan pedulikan aku dan Celeste."
Tidak sengaja Sydney mengeluarkan decakan yang membuat Bash mendelik tajam ke arahnya. Sydney di tempatnya berusaha meredam emosi dan suasana panas di antara mereka, sementara Bash sepertinya ingin sekali menyiram bensin di tengah api emosi yang berkobar.
"Bukan itu maksudku, Bash. Astaga, bisakah kita tidak membicarakan ini lagi? Aku hanya mengobrol dengannya sebentar dan itupun bukan masalah pribadinya, okay? Bisakah kamu memaafkanku, Bash?"
Bash terdiam. Sydney mungkin menganggapnya berlebihan, tapi Bash tidak bisa menahan diri untuk tidak posesif pada tunangannya. Sydney miliknya, selamanya akan menjadi miliknya. Bash sudah pernah kehilangan seseorang yang menjadi miliknya dan rasa takut itu menghantuinya bahkan hingga kini. Bash hanya takut kehilangan Sydney.
Namun, tentu saja pria itu tidak akan berkata terus terang. "Aku tidak suka jika kamu bertemu pria lain, Sydney. Apalagi mengobrol dengannya dan hanya berdua. Aku hanya ingin kamu tetap bersamaku." Bash tidak berusaha untuk mengakhiri ini walaupun Sydney sudah menghela napas berkali-kali.
"Dan aku juga berharap kamu mengerti pekerjaanku, Bash. Aku tidak bermaksud macam-macam. Mengobrol dengan Leo bukan berarti aku akan meninggalkan kamu!" Sydney merasa matanya kembali memanas dan siap menumpahkan air matanya.
"Mama, don't yelled at Papa!" Celeste memberenggut kesal. Bukan pertama kali dia juga menyaksikan perdebatan Ayah dan Sydney, namun ini pertama kalinya dia kesal bukan main pada Mama-nya karena sudah berteriak pada Papa.
Sydney menoleh pada Celeste. Ada rasa kesal karena anaknya ini menuduhnya yang tidak-tidak. Tapi, tentu saja Sydney tidak kuasa untuk marah padanya. "Aku ingin pulang."
Bash dan Celeste masih terdiam.
"Kita sedang berada di perjalanan pulang, Sydney. Tapi Celeste ingin--" Bash tidak kuasa mendiamkan tunangannya terlalu lama.
"Maksudku, pulang. Ke rumahku, Sebastian."
Bash tidak suka jika Sydney memanggilnya dengan nama panjangnya. "Hm." Hanya itu yang ia jawab.
*
Sesampainya di rumahnya, Sydney tidak mengatakan sepatah apapun dan langsung keluar begitu saja dari mobil. Dia cukup kecewa pada Bash, dan dia juga kesal pada Celeste. Keputusan terbaik untuk saat ini adalah menjauh untuk hari ini saja.
"Sydney--"
Sydney sudah menutup pintu mobil Bash ketika pria itu akan menahannya.
Sebisa mungkin Sydney menahan tangisannya ketika dia melihat Ibunya, Tavie Wijaya, dan Tante Zee, Mama dari Anneliese yang merupakan sepupunya, sedang berkumpul di ruang tamu.
"Hai, Sydney, kamu pulang." Tavie terlihat terkejut melihat kedatangan anaknya di jam makan siang ini, karena biasanya Sydney memilih untuk pulang ke rumah tunangannya.
"Hai, Mama." Sydney harus terlihat bahagia di depan kedua orangtuanya. Dia tidak pernah membiarkan mereka melihat dirinya sedih, Sydney tidak mau mereka berpikir yang tidak-tidak. "Aku...ada sesuatu yang harus aku kerjakan." Tanpa menunggu respon dari Mama atau Tantenya, Sydney berjalan menuju tangga ke kamarnya yang ada di lantai dua.
Di dalam sana, Sydney mengunci dirinya dan menangis terisak pedih. Rasanya ini semua terlalu berlebihan. Entah karena dia terlalu melibatkan emosinya dalam perdebatan tadi atau memang Bash sudah kelewatan, yang pasti, Sydney menyadari, jika dia sangat mencintai Bash dan Bash juga memberikan hal yang sama, tidak mungkin dia lebih sering menangis ketimbang bahagia ketika bersama pria itu. "Kenapa ini sangat menyakitkan?" gumamnya dengan isakan yang tidak kunjung reda.
"Kenapa dia tidak mau mengerti aku?"
Sydneh tahu ini salah, tapi dia mulai mempertanyakan soal cinta yang ada di antara dirinya dan Bash.
*
Tavie meletakkan cangkir tehnya di meja yang ada di antara dirinya dan Zee. "Anakku terlihat berbeda." Tavie dan Zee terbilang cukup dekat, sehingga mereka terkadang menceritakan persoalan keluarga mereka.
Zee mengeryitkan dahinya. "Kenapa, Tav? Aku lihat dia baik-baik saja."
Tavie menghela napas. "Aku tahu, tapi terkadang aku melihat seolah dia terlalu berusaha keras untuk mencoba baik-baik saja. She's my one and only daughter, Zee. Kebahagiaannya adalah kebahagiaan aku juga. Begitupun kesedihannya. Aku merasa dia sedikit berubah ketika memilih untuk bertunangan dengan Bash." Tavie terlihat murung ketika mengatakan nama pria itu, Zee bisa melihatnya dengan jelas.
"Tav, mereka sudah bertunangan, yang berarti mereka sangat serius dengan apa yang mereka jalani sekarang. Kita sebagai orangtua hanya bisa mendoakan yang terbaik." Zee tersenyum. Dia mengerti bagaimana kekhawatiran sepupu iparnya ini.
"Apa menurut kamu Bash yang terbaik untuknya?"
Zee mengangkat kedua bahunya. "Aku tidak begitu mengenalnya, Tav. Tapi, jika anak kamu percaya padanya, tentu saja dia berpikir Bash yang terbaik."
Tavie kembali menghela napas. Dia mendongak untuk menatap pintu kamar anaknya yang ada di atas. "Aku rasa...dia sebaliknya."
*
Sydney terhenyak ketika mendengar suara pintu kamarnya yang berusaha dibuka dari luar. Dia kini berada di dalam selimut dan berusaha menenangkan dirinya. Sydney yakin mukanya kacau dan matanya sedang sembab sekarang, bukan pilihan bagus jika dia bertemu dengan Ibunya atau siapapun saat ini.
"Sydney!"
Itu suara Ibunya, Sydney berdecak karena tidak tahu harus bagaimana. Akhirnya dia memilih untuk menyampirkan selimut di sekitar bahunya, mengusap-usap wajahnya agar jejak air matanya menghilang, setidaknya dia akan membuat Ibunya berpikir dia habis tertidur.
"Iya, Ma?"
Sydney membuka pintunya. "Ada apa?" tanyanya pada Tavie.
"Kamu habis menangis?" Sydney merutuki kepekaan Ibunya yang selalu memerhatikannya detail sejak kecil, sehingga hampir mustahil baginya untuk membohongi Tavie.
"Tidak," ucapnya masih saja berusaha untuk berbohong.
"Sydney, apa yang terjadi? Kamu pulang dan begitu saja masuk ke kamar kamu. Apa kamu baik-baik saja?" Sydney diam saja mendengar rentetan pertanyaan dari Ibunya. Kemudian, dia melihat Tavie menggelengkan kepalanya kecil. "Kamu jelas tidak sedang baik-baik saja. Ada apa, Anakku?"
Sydney juga benci dirinya yang tidak bisa mengendalikan emosinya sekarang. Biasanya, dia bisa menahan tangis dan bersikap biasa saja di depan orang lain ketika dia sedang ada masalah dengan Bash. Sementara sekarang, dia sama sekali tidak bisa.
"Ma..." Satu isakan keluar dari bibir kecilnya.
"Oh dear...." Tavie segera membawa Sydney ke dalam pelukannya. Dia tidak tahu kenapa perasaannya merujuk pada Bash. Bahwa semua ini salah Bash.
"Sayang, kamu bisa menceritakan semuanya pada Mama."
***