Bagian 7

1103 Kata
Sekalipun Ibunya sudah mengatakan bahwa dia bisa menceritakan apapun padanya, Sydney tetap menolak untuk berterus terang soal sikap Bash tadi. Sydney tidak naif untuk mengetahui bahwa orangtuanya masih sulit menerima Bash sebagai tunangan Sydney. Dia tidak ingin memperburuk keadaan di antara mereka. "Aku...hanya sedih dan sedikit  kacau." Tavie masih setia memeluknya dan bahkan mengusap-usap rambut anaknya. "Apa karena Bash?" Setiap kali Ibunya melihat Sydney menangis, dia selalu saja bertanya apa itu ulah Bash atau bukan, dan hal tersebut semakin membuat Sydney ragu menceritakan semuanya. "Bukan, Mama." Sydney berbohong. Menurutnya, tindakan ini yang terbaik untuk sekarang. "Lalu? Mama selalu khawatir jika kamu sedih seperti ini, Sydney. Jika ada sesuatu atau seseorang yang mengganggu kamu, Mama ingin kamu menceritakannya pada Mama." Umur Sydney sudah dua puluh lima tahun, namun karena dia adalah anak tunggal dan harapan bagi orangtuanya, mereka kerap kali memanjakan Sydney seolah Sydney adalah gadis kemarin sore. "Bukan, Ma, ini karena masalah kerjaan. Mama tidak perlu khawatir." Tavie berdecak. "Bagaimana Mama tidak khawatir melihat putri kesayangan Mama nangis begitu saja setelah pulang kerja." Tavie memaksakan senyuman pada anaknya. "Sydney, please let me know if you through something hard in your every single day, okay?" Sydney mengangguk. "Pasti." Wanita itu kembali menikmati pelukan Ibunya dan memejamkan matanya sejenak. "Mama." "Iya, Sayang?" "Bisakah aku istirahat dulu?" Sydney benar-benar ingin sendiri dan meluapkan kekesalannya, dia ingin kembali menangis dan Ibunya tentu saja tidak boleh tahu. Tavie terlihat enggan, namun akhirnya dia mengangguk karena berpikir anaknya mungkin membutuhkan waktu sendiri terlebih dahulu. "Tell me if you need something, Sydney." Sydney mengangguk. Senyumannya menghilang begitu saja saat Ibunya pergi dari kamarnya. Dia kembali meringkuk dan memejamkan matanya, melupakan rasa sakitnya karena Bash, seperti biasanya. * Ponsel Sydney berdering terus menerus dan membuat tidurnya terganggu. Sydney menghela napas dan mengambil ponsel yang ada di nakasnya. Nama Bash tertera di panggilan tersebut, membuat Sydney sedikit terpaku dan gugup saat akan mengangkatnya. "Halo?" tanyanya ketika dia menggeser tombol hijau di layarnya. "Sydney, bisa kamu kembali ke sini?" Jantung Sydney terpicu. Walaupun tidur bisa membuatnya sedikit lupa akan perdebatan kecil mereka yang berhasil menyakiti hatinya, tetap saja bertemu Bash sekarang bukanlah hak yang bagus. Namun, Sydney juga tahu dia tidak bisa menghindari Bash begitu saja. "Okay, aku akan ke sana." Sydney tidak tahu bagaimana reaksi Bash saat bertemu dirinya kembali, tapi setidaknya dia tidak menghindar dari pria itu. Butuh hampir empat puluh lima menit hingga akhirnya Sydney berada di depan pintu apartemen Bash setelah sebelumnya dia sempat berdebat dengan Tavie. Ibunya sedikit enggan membiarkan dia pergi ke rumah tunangannya, mungkin karena feeling Ibunya terlalu kuat pada anaknya sendiri. Sekarang, di sini-lah Sydney berada, di depan pintu apartemen Bash dan sedikit ragu ingin masuk atau tidak. "Ayolah, ini bukan pertama kalinya kamu seperti ini." Perdebatan di hubungan mereka bisa dibilang sering, Sydney sudah 'berpengalaman' dengan Bash. Dengan keberanian dalam hatinya, akhirnya Sydney membuka pintu apartemen itu dan langsung bisa melihat Bash di ruang keluarga dan sedang duduk di sofa. "Bash," panggil Sydney dengan nada yang pelan. Bash menoleh padanya. Matanya terlihat dingin, namun ujung bibirnya terangkat sedikit. "Hai, kemarilah." Pria itu menepuk tempat di sampingnya. Sydney melangkahkan kakinya menuju tempat yang dimaksud Bash. Dia sedikit ragu dan gerakannya sangat canggung saat duduk di samping tunangannya itu. Keheningan di antara mereka semakin membuat Sydney tidak nyaman. Ragu dia melirik pria di sampingnya yang sepertinya tidak berniat untuk membuka pembicaraan dengannya. "Bash." "Hm?" "Di mana Celeste?" Bagus. Obrolan pertama soal Celeste akan sedikit melunturkan kecanggungan ini. "Tidur." Dalam hati, Sydney berdecak. Sungguh menyebalkan! Akhirnya, Sydney menyerah untuk membuka obrolan dengan Bash. Dia membiarkan keheningan memekakkan telinga mereka "Sydney." Sydney menoleh pada Bash dan terkejut karena saat itu, Bash langsung mencium bibirnya begitu saja. Hanya kecupan ringan, namun berhasil membuat jantungnya bertalu-talu. "Bash," panggil Sydney ketika pria itu melepaskan dirinya. "Hm?" Sydney hanya menatap pria itu, enggan untuk bertanya lebih lanjut soal apa yang baru saja pria itu lakukan. Sepersekian detik, Bash tersenyum. "Aku minta maaf," ucapnya. Dia menggeser tubuhnya dan memeluk Sydney erat. "Aku mengacau tadi siang, aku minta maaf, Sydney." Sydney terdiam. Dia membenci dirinya sendiri yang sangat lemah karena satu kata maaf dari Bash sudah meruntuhkan benteng perlawanannya pada pria itu. Sydney bahkan bisa bersikap kembali seperti biasanya hanya dengan pelukan pria itu, tanpa ada satu kata maaf pun. Sydney membalas pelukan tunangannya. Astaga, dia sangat mencintai pria ini, bagimana mungkin Sydney bisa menghiraukannya dalam jangka waktu yang lama? "It's alright, Bash. Aku juga minta maaf karena tidak jujur padamu." Sydney merasakan pelukan Bash semakin erat. "Aku hanya takut, Sydney. Aku takut kamu pergi dariku. Aku sudah pernah kehilangan orang yang aku cintai, dan aku tidak mau hal itu terjadi lagi, khususnya pada kita." Sydney sedikit meregangkan pelukan Bash hanya untuk melihat wajah pria itu. Sydney menangkup salah satu sisi wajah Bash. "Bash, aku tidak akan pergi kemana pun, kamu adalah rumahku selama ini. Bagaimana bisa aku tega meninggalkan kamu?" Sydney selalu bisa merasakan cinta yang begitu dalam saat bersama Bash. Dia tidak peduli sekalipun Bash tidak mencintainya sedalam dia mencintai pria itu, yang terpenting Sydney bisa membuktikan rasa yang dia miliki. "Kamu milikku, kamu tahu itu, 'kan, Sydney?" Sydney mengangguk. Dia tersenyum ketika Bash kembali mendekatkan wajahnya lagi. "Jika kamu ingin bertemu pria lain, lebih baik hubungi aku dulu, okay?" Mungkin menurut orang lain, sikap Bash sangat berlebihan dan menyebalkan. Namun, menurut Sydney yang tahu apa yang membuat Bash seperti itu, tindakan Bash sangat bisa ia terima. "Tentu saja." Sydney berjanji pada dirinya sendiri untuk meminimalisir perdebatan di antara mereka. Bash melayangkan banyak kecupan di wajahnya hingga Sydney tertawa geli. "Apa Celeste marah padakku?" tanya Sydney tiba-tiba. Bash menghentikan godaannya pada tunangannya. Dia menggeleng. "Anak itu tidak suka jika kamu berhubungan dengan pria lain. Dia marah pada pria itu, bukan pada kamu. Sepertinya dia sangat mengerti perasaan cemburu Ayahnya." Sydney tersenyum menanggapi ucapan Bash. "Kamu harus siap, sisa hidup kamu akan ditemani dua manusia yang akan meng-klaim kamu sebagai milik kami." Sydney tertawa kali ini. "Dua? Hanya dua?" Bash tersenyum miring. Dia mengecup pipi Sydney. "Atau lebih," ucapnya dengan nada suara yang sangat rendah. Pria itu bisa sangat menyebalkan bagi Sydney. Bisa juga sangat romantis hingga Sydney bisa menyerahkan semuanya hanya pada pria itu seorang, Sydney tahu, dia sangat jatuh cinta. Bahkan Bash bisa menjadi pria yang sangat liar seperti yang akan dia lakukan kali ini. "Ada Celeste, Bash." Sydney menegurnya. Pria itu mengangkat kedua bahunya tidak peduli. Sydney di hadapannya terlihat malu-malu tapi mau dan membuatnya gemas sendiri. "Dia tidur, dan kamu tahu sendiri jika dia sudah tidur siang, maka itu akan memakan waktu dua jam." Bash tertawa kecil tepat di samping telinga Sydney. "I'll make this one quicker." "Bash!!!" ***  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN