Bagian 8

1107 Kata
Hari ini adalah hari peringatan kematian Azzury. Seperti yang selalu mereka lakukan dua tahun yang lalu, Sydney, Bash, dan juga Celeste mengunjungi tempat peristirahatan terakhir Azzury di pagi hari saat itu. "Aku ingin membeli mawar putih untuk Kak Azzury." Sydney berkata di tengah perjalanan mereka menuju tempat itu. Bash pagi ini tidak terlihat bersemangat. Entah karena cuaca pagi ini yang mendung dan mendukung untuk tetap di dalam rumah, terlebih hari ini hari Minggu, atau karena memang hari ini adalah hari di mana dia kehilangan cintanya hampir lima tahun yang lalu. "Hm. Ada toko bunga di depan sana." Bash menjawabnya dengan nada dingin. Sydney mengangguk. Dia melemparkan pandangannya dari Bash menuju Celeste yang tertidur di kursi belakang. Selama dua tahun ini, Sydney selalu melihat tatapan yang tidak biasa dari Celeste ketika mengunjungi makam Ibunya. Mungkin anak itu merasa rindu, namun dia tidak mengerti bagaimana wajah dari sosok Ibu yang ia rindukan itu. "Sydney." Sydney kembali menoleh pada Bash. "Iya?" "Pulang dari sana, orangtua Azzury ingin kita ke rumahnya." Hati Sydney langsung merasa tidak enak ketika Bash mengatakannya. Dia sudah pernah bertemu dua kali sebelumnya dengan keluarga Kak Azzury. Pertama kalu saat satu tahun yang lalu di hari yang sama seperti sekarang, dan kedua kalinya saat dia dan Bash bertunangan. Sydney sangat mengerti kenapa Bash bersikeras untuk 'meminta izin' pada orangtua Azzury sata bertunangan dengannya. Masalahnya, kedua orangtuanya itu sama sekali tidak menyukai Sydney. Walaupun tidak mengatakannya langsung, Sydney tidak bodoh untuk tidak mengetahuinya. "Okay," jawab Sydney. Dia melirik Bash yang fokus pada jalanan di depannya. Bash sedang dalam suasana hati yang tidak baik. Jika Sydney mendebatnya, mungkin mereka akan bertengkar lagi seperti seminggu yang lalu. "Di depan, Sydney." Sydney tidak sadar bahwa kini mereka sudah berada di toko bunga tersebut. Sydney tersenyum pada Bash sebelum keluar dari mobilnya. Wanita itu langsung mencari bunga yang dia inginkan. "Tolong kemas ini," ujarnya setelah memilih mawar putih tersebut. Sydney menunggu beberapa saat di dalam toko bunga itu. "Masih lama?" Dia tersentak saat Bash tiba-tiba berada di belakangnya. Sydney tersenyum dan mengangguk. "Aku minta dibuatkan buket." Bash hanya mengangguk. Dia terlihat tidak terlalu peduli. Pandangan Sydney terpaku pada bunga baby breath di sana. Dia menyentuhnya, dan ingin sekali mendapatkannya. "Kamu ingin itu juga?" Sydney kembali terkejut ketika ternyata pandangan Bash tertuju ke arah yang sama dengannya. "Nanti saja," ujar Sydney. Bash menjawabnya dengan menaikkan kedua bahunya tidak peduli. Mereka kembali ke mobil setelah membayar buket bunga yang Sydney pesan. * Mobil Bash diparkirkan cukup jauh dari area pemakaman. Mereka keluar dari mobil dan berjalan beriringan menuju tempat itu. Celeste sedari tadi diam saja. Anak cerewet itu sepertinya tahu bahwa hari ini Ayahnya berkabung, dan dia menjadi pendiam sekarang. "Celeste, kamu ingin membawakan satu bunga ini?" Celeste terlihat ragu pada awalnya, namun dia akhirnya mengangguk, membawakan salah satu bunya mawar untuk mendiang Ibunya. "Hai, Kak Azzury." Sydney menyapanya terlebih dahulu. Dia tersenyum sambil meletakkan bunga yang dia pegang. "Ini aku, Sydney. Senang bertemu dengan Kakak lagi." Dia memandangi batu nisan Azzury. "Kami baik-baik saja di sini. Celeste tumbuh menjadi anak pintar dan cantik, seperti Kakak. Aku berjanji akan menjaganya dengan baik." Celeste menoleh pada Sydney ketika menyebut namanya. Dia mendekat dan memeluk Sydney. Anak itu merasa hatinya sedikit tidak enak. Dia menyayangi Mama Sydney, namun dia juga tidak ingin melupakan Mama kandungnya. "Semoga Kakak juga baik-baik saja di sana." Sydney merasakan sudut matanya akan mengeluarkan air mata sebentar lagi. Namun, sebisa mungkin dia tahan. Sydney mengambil napas dalam-dalam. Dia selalu merasa emosional. "Sudah?" Bash bertanya dingin. Sedari tadi pria itu berdiri seolah menjaga jarak dari makam mendiang istrinya. "Apa?" tanya Sydney tidak mengerti. "Jika sudah, ayo pergi dari sini." Bash terlihat tidak nyaman. Dia berjalan lebih dulu keluar area pemakaman tanpa menunggu jawaban dari Sydney. "Papa tunggu!" Celeste segera menyusul Ayahnya setelah melepaskan pelukan dari Sydney. Sydney menghela napasnya. Walaupun sudah lima tahun, Bash sepertinya masih tidak bisa menerima kenyataan bahwa Azzury sudah meninggalkannya, bahkan setelah Sydney sudah ada di hidupnya. "Aku tidak berencana untuk menggantikannya, anyway." Sydney bergumam. Dia kembali menatap makam di depannya dengan pandangan sendu. "Well, not everything goes well, Kak. Your husband still miss you. Every single day. Mungkin dia tidak memperlihatkannya padaku, tapi aku tahu dia merindukan kamu." Di hari yang seharusnya memberikan suka cita karena kelahiran putrinya, Bash harus kehilangan setengah jiwanya saat Azzury meninggalkannya. "Terima kasih sudah memberikan hidup baru untuk Celeste, Kak Azzury. Walaupun Kakak harus pergi, aku akan memastikan mereka baik-baik saja. We're friends, right?" Sekalipun tidak pernah bertemu dengan Azzury, Sydney tetap tahu Azzury adalah wanita yang nyaris sempurna. "Sampai jumpa lagi, Kak." * "Kamu tidak perlu berlama-lama di sana." Bash berujar tiba-tiba saat mereka kembali berada di mobil dan menuju kediaman orangtua Azzury. "Maksud kamu, Bash?" "Berbicara dengan orang yang sudah tiada." Sydney menundukkan kepalanya. Tidak mau pandangannya bertubrukan dengan Bash. "Bash, she was your wide, anyway. Aku tahu kamu merindukannya setiap saat, tapi sikap kamu yang menolak seperti ini juga bukanlah hal yang baik." Bash terdiam sejenak sebelum mengeluarkan decakan pelan. "Tidak. Aku tidak mencoba untuk menolak. Aku hanya..." "Sulit menerimanya," ujar Sydney melanjutkan ucapan Bash yang menggantung. "Sama saja, Bash." Bash menghela napas. "Oke, jangan bahas ini lagi." Padahal dia yang dari awal menyinggung obrolan mereka ini, batin Sydney mendumal. * "Celeste!" Joyce, Ibu dari Azzury, merentangkan kedua tangannya untuk menyambut cucu perempuannya ketika mereka datang. Namun, Celeste tidak seantusias neneknya dan hanya berjalan pelan kepadanya. "Nenek," sapanya dengan senyuman tipis saat berada di dalam dekapan Joyce. "Kamu semakin cantik, Celeste. Persis seperti Ibumu." Senyuman Celeste menghilang dari wajahnya saat Joyce memujinya seperti itu. "Ibu," sapa Bash dan menyalami Joyce juga Artha, Ayah dari Azzury. "Sebastian, senang bertemu kamu kembali." Sydney berada di samping Bash dan dia bisa tahu bahwa hubungan tunangannya ini dengan mertuanya menjadi renggang setelah kematian Azzury, bahkan lebih renggang lagi ketika tahu Bash sudah bertunangan dengan Sydney. Kali ini, giliran Sydney yang menyapa orang tua di depannya. "Siang, Om, Tante." Sydney tersenyum kecil. Joyce langsung mendelik. Terlihat sekali dia kurang suka dengan kedatangan Sydney. "Kamu kemari?" Sydney terdiam sebentar. Dia menarik napas perlahan, ayolah, ini bukan yang pertama kali, ujarnya dalam hati. Dia kembali melemparkan senyuman manisnya. "Iya, bukankah kalian mengundang kami kemari?" Joyce berdecih. "Aku mengundang Bash dan cucuku, dan kamu tentu saja tidak termasuk." Sydney terdiam lagi. Rasanya sakit bukan main, lebih sakit lagi ketika Bash terlihat tidak membelanya dan hanya diam seolah tidak mendengar ucapan Joyce yang lantang itu. "Ayo, kita masuk saja," ucap Artha saat merasa suasana di antara mereka sudah sangat tidak enak. Sydney berjalan paling akhir dan terus menundukkan kepalanya. "Mama." Dia tersentak ketika tangan kecil milik Celeste menggenggamnya erat. "Ada aku," ujarnya dan membuat senyuman Sydney kembali mengembang. ***  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN