Bagian 9

1086 Kata
"Nenek buatkan udang asam manis untuk kamu, Celeste. Mama kamu dulu sangat menyukai makanan ini, semoga kamu juga menyukainya." Joyce tersenyum kecil pada cucunya yang duduk manis di hadapan meja makan. Seperti tahun lalu, kedua orangtua Kak Azzury akan mengajak mereka makan bersama setiap hari peringatan kematiannya, dan menurut Sydney, hal itu bukanlah hal yang menyenangkan karena kedua orangtua Azzury, terutama Ibunya, akan membandingkannya dengan anaknya sendiri. Sydney sedari tadi menundukkan pandangannya. Dia bisa merasakan tatapan tidak suka dari Joyce. Seberapapun lembutnya nada suara Joyce pada Celeste, Sydney bisa tahu bahwa Joyce mengeluarkan aura tidak suka padanya. "Kenapa tidak dimakan, Celeste?" Sydney sama sekali tidak menyadari Celeste menatapnya sedari tadi hingga akhirnya dia melemparkan pandangan pada anak itu dan bola matanga bertubrukan dengan bola mata indah Celeste. "Ada apa?" tanga Sydney dengan lembut, hampir seperti berbisik. "Apa Mama akan memakannya?" Sydney mengeryitkan dahinya. "Maksud kamu?" "Mama alergi udang." Celeste bergumam, namun bisa didengar oleh Sydney. Sydney tersentuh. Dia tidak menyangka anak berumur lima tahun ini bisa mengerti dirinya. "Tidak apa, Celeste. Kamu ingin makan dengan Mama?" Sydney berusaha untuk memasang mimik muka ceria agar Celeste tidak tahu bahwa sekarang dia sedang tidak nyaman dalam situasi ini, dan juga dia berharap agar alerginya tidak datang setelah dia memakan udang tersebut. Celeste terlihat ragu, namun akhirnya dia mengangguk juga. Sydney sendiri menanggapinya dengan antusias dan mulai makan bersama anaknya. Mencoba untuk menghiraukan Joyce yang masih menatapnya tajam. "Sydney," panggil Joyce yang menarik perhatian wanita muda itu. "Iya, Tante?" "Apa kamu sering melakukan ini?" tanyanya dengan sinis. Lirikannya bergantian tertuju pada Sydney dan Celeste. "Melakukan apa, Tante?" "Memanjakan Celeste." Kali ini, Sydney kelepasan menunjukkan rasa tidak sukanya pada ucapan Joyce. Joyce mendelik dan menghela napas. Sepertinya dia sama sekali tidak peduli jika Celeste mendengar perkatannya nanti. "Jangan biasakan untuk menyuapi dia, dia sudah besar. Jika Azzury masih ada, tentu dia tidak akan menyuapi Celeste seperti kamu. Dia pasti ingin anaknya mandiri. Seharusnya kamu juga seperti itu, kamu tidak boleh mengiyakan semua yang dia mau." Joyce berdecih. Semantara itu, Sydney keheranan sendiri di tempatnya sekarang. "Tante, aku sama sekali tidak bermaksud membuatnya manja--" "Alasan." Joyce memutar bola matanya malas. "Aku tahu mungkin kamu berpikir bahwa dia adalah anak kamu, tapi ingatlah bahwa itu cucuku, anak dari anakku. Seharusnya kamu membicarakan dulu soal parenting kamu itu padaku." Sydney mulai kehabisan kewarasannya jika terus meladeni Joyce. Dia memilih diam dan melanjutkan kegiatannya menyuapi Celeste. "Bash, kamu tidak makan?" Joyce kini berpindah pada Bash. Entah apa yang ingin dia katakan lagi, yang pasti, dia mungkin akan kembali memojokkan Sydney. Bash terhenyak. Sedari tadi dia tidak memerhatikan perdebatan Joyce dan tunangannya, pikirannya melayang entah kemana. "Oh, iya, Ibu." Joyce tersenyum miring. "Seharusnya juga, Sydney, kamu menyiapkan makanan untuk Bash. Azzury dulu selalu memastikan piring Bash penuh terlebih dahulu sebelum dia mulai makan. Apa kamu bahkan tidak tahu bagaimana cara melayani pria kamu sendiri? Astaga, what a shame." Joyce berkata sangat nyinyir. Ujung bibirnya terangkat dikit dan membuat ekspresinya sangat menyebalkan di mata Sydney. "Bash, seharusnya kamu pertimbangkan dulu sebelum mantap bertunangan dengannya. Jika melayani kamu di meja makan saja dia masih kebingungan sekarang, apalagi nanti?" Joyce kembali mendelik pada Sydney. Bash sama sekali tidak menjawab satu patah katapun dari Joyce. Dia berpikir alangkah baiknya jika dia memilih diam sekarang daripada disangka membala salah satu dari mereka. Joyce dan Sydney adalah orang penting di kehidupannya, tidak mungkin dia membela satu dari mereka. Dentingan sendok yang seolah dijatuhkan dengan sengaja ke piring di bawahnya terdengar memekakkan di tengah ruang makan yang hening setelah Joyce sama sekali tidak bersuara. Semuanya tertuju pada Sydney yang masih menundukkan kepalanya, namun mencoba sekuat hati menahan tangis. "Apa Tante sudah cukup memojokkan aku di depan mereka?" Kali ini Sydney memberanikan diri mendongakkan kepalanya dan menatap Joyce tepat di bola matanya. "Apa Tante puas sudah mempermalukan aku?" Joyce mengeryitkan dahinya. Dia menatap Sydney seolah Sydney adalah mahluk aneh yang tiba-tiba datang ke rumahnya. "C'mon, kamu berlebihan--" "Tante yang berlebihan!" Sydney menaikkan satu oktaf suaranya. "Celeste adalah anakku! Dia mengenal aku sebagai Mamanya dan aku berhasil menggantikan figur Ibu yang hilang darinya! Aku memang tidak berniat menggantikan Kak Azzury, tapi perkataan Tante tadi membuat aku ingin bertindak egois dan merampas dua orang ini dari Tante! Hubunganku dan Bash tidak perlu melibatkan Tante, bukan?" Sydney berdecih. Dia mendongak dan mengusap air matanya sekilas. Sial, dia membenci dirinya sendiri yang tidak bisa menahan tangisnya dalam keadaan seperti ini. "Tante berusaha membandingkan aku dengan Kak Azzury hanya agar aku meninggalkan Bash dan Celeste?" Joyce terdiam. Sama sekali tidak mau menjawab pertanyaan retoris dari Sydney. "Percayalah, mereka tidak bisa tanpa aku." Sydney mengambil tasnya dan melangkahkan kakinya dengan langkah lebar-lebar meninggalkan rumah itu. "Sydney!" * "Kamu keterlaluan." Artha menghela napasnya. Dia mengambil gelas berisi air putih di samping piringnya dan meminumnya pelan. "Aku tahu kamu tidak menyukainya sejak awal, tapi kamu tidak perlu memaki dia sebegitu kasarnya tadi." Joyce menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi di belakangnya. "Terlalu menyakitkan untuk melihat dia bersama Bash dan Celeste. Dia seolah....berusaha menghilangkan jejak Azzury.' Artha berdecak. "Joy, Azzury memang sudah tidak ada, dan ini saatnya kita untuk membuka lembaran baru. Kita perlu menerima bahwa Bash tidak mungkin selamanya terjebak dalam memorinya dengan Azzury, dia juga butuh pendamping hidup, apalagi dengan kehadiran Celeste." "Kamu setuju dengan hubungan mereka, Artha?" tanya Joyce dengan nada tidak suja. "Well, tidak ada alasan untukku tidak setuju. Dia ada benarnya, Celeste mendapatkan figur Ibu darinya. Bisa kamu bayangkan bagaimana nasib Celeste tanpa dia?" Joyce mengangkat kedua bahunya tidak peduli. "Ada kita, Artha." Artha kembali berdecak. "Kamu butuh waktu untuk mengembalikan kewarasan kamu, Joy." Artha bangkit dan meninggalkan Joyce sendiri di tempatnya. Joyce terdiam. Perlahan menghela napas berat. "Tidak mudah mengikhlaskan kepergian anak kebanggaanku begitu saja, Artha." * "Sydney, stop!!!" Bash menahan pergelangan tangan Sydney. Mereka sudah berada di samping mobil Bash, namun Sydney sama sekali tidak ingin pulang bersama mereka. "Sydney, jangan seperti ini!" Sydney masih terisak. Dia menatap Bash dengan tatapan terluka. "Lepaskan, Bash, aku ingin sendiri. Aku mohon." "Kita selesaikan ini, Sydney. Aku di sini untuk menenangkan kamu." "I don't want to! Aku tidak ingin bertemu kamu atau siapapun! So please, I need time." "I gave you time, Sydney." Sydney menggeleng. Dia masih mencoba untuk melepaskan pergelangan tangannya. "Bash... Please, sekali ini saja kamu membiarkan aku untuk pergi." Bash terdiam. Tatapannya berubah dingin dan cekalan tangannya langsung mengendur. "Then go." Sydney tahu Bash marah sekarang, tapi dia mencoba untuk tidak peduli sekarang. Dia bisa gila jika dia tidak menenangkan dirinya sekarang. Perkataan Joyce cukup menohok dan membuatnya benci dirinya sendiri, Bash, dan bahkan Celeste. ***  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN