Bagian 10

1088 Kata
Sydney berjalan menuju quarespace. Tempat terbaik menurutnya saat dia ingin menyendiri dan menangis tanpa satu orang pun tahu. Quarespace sebenarnya adalah tempat yang menyediakan ruangan untuk belajar bagi orang-orang yang butuh fokus lebih. Namun, quarespace juga bisa diperuntukkan untuk orang-orang yang ingin menyendiri, seperti Sydney sekarang. Sydney mem-booking satu bilik ruangan untuknya. "Finally," desahnya lega ketika berhasil berada di ruangan itu. Ruangan kedap suara ini sangat menenangkan bagi Sydney apalagi ketika sekarang dia ingin menangis sesenggukan. Sydney mengangkat kedua kakinya dan memeluknya. Astaga, dia siap untuk menumpahkan air matanya lagi setelah mengingat hal-hal kejam yang baru saja ia terima. Sydney bisa mengerti kenapa Joyce tidak suka dengan kehadiran dirinya. Joyce berpikir Sydney mengambil alih semua peran anaknya yang sudah tiada. Walaupun alasannya itu terbilang berlebihan, tapi demi Tuhan, Sydney bisa tahu perasaan Joyce. Dia hanya tidak bisa mengerti kenapa Joyce berani melemparkan kata-kata kejam itu padanya. Terkadang Sydney ingin melenyap dari hubungannya dan Bash. Dia terlalu mencintai Bash hingga dia bisa menerima semua resiko dari hubungannya, tapi terkadang Sydney juga lelah dengan ini semua. Tak berapa lama, bilik ruangannya tiba-tiba terbuka dan membuat Sydney terperanjat. Dia menoleh ke arah pintu geser dan menatap heran seorang pria di ambang pintu. Pria itu menggunakan mantel hitam, celana hitam, kemeja hitam, kacamata dan topi yang sama warnanya. Astaga, pria ini seperti penjahat! Sydney langsung mengeryitkan dahinya dan berganti posisi menjadi siaga. Apalagi ketika pria itu dengan tidak tahu diri masuk dan menutup bilik ruangan itu. "Hei?!" teriak Sydney tidak terima. Berani-beraninya pria tidak tahu diri ini mengganggu waktunya. Astaga, bahkan dia tidak tahu siapa pria aneh di hadapannya itu. Pria itu sama sekali tidak melepas kacamatanya, namun Sydney bisa tahu kini dia menatap Sydney heran. "Apa?" tanyanya polos tanpa dosa. Seolah tindakannya yang kini mengganggu Sydney bukanlah kesalahan baginya. "Kamu memasuki ruanganku!" Sydney berkata kesal. Untung saja ruangan ini kedap suara, alhasil orang-orang di luar ruangan tidak mendengar teriakannya. Pria itu mengangkat kedua bahunya tidak peduli, dengan santai dia menyandarkan dirinya ke tembok di belakangnya dan melipat kedua tangannya santai. "Setahuku, ruangan ini disewakan dan sudah pasti ini bukanlah ruanganmu." Pria itu tersenyum miring. Sydney menahan dirinya untuk tidak mengatakan kata-kata kasar. Dia tidak tahu siapa pria ini, namun semenyebalkan apapun dia, Sydney tidak akan melontarkan kata-kata tidak pantas padanya. Dirinya masih mejunjung tinggi kesantunan. "Dengar, Tuan, ruangan ini disewakan dan aku membayarnya! So basically, this is my place for now. And you, have no right to be here. Please, just go away." Sydney mendesah kesal. Dia melupakan sejenak permasalahannya dengan Joyce yang membuatnya menangis seperti ini hanya karena pria aneh tersebut. Pria itu menghela napas, lagi. Dia bertingkah seolah Sydney-lah yang mengganggunya. "Aku ingin berada di sini, dan tenang saja, aku tidak akan mengganggu kamu. Kamu bisa..." Pria itu menunjuk-nunjuknya dengan gerakan memutar. "...melanjutkan apapun kegiatan kamu itu." Sydney menganga. Kurang ajar! "Dan membiarkan kamu memerhatikan aku layaknya penguntit? No, thanks." Sydney tersenyum miring. Dia mengikuti posisi pria itu, bersandar di tembok yang ada di belakang dan mencoba untuk mengintimidasi pria tersebut. Sama seperti apa yang dilakukan pria itu padanya. "Dengar, aku tidak akan melakukan ini jika tidak berada di keadaan mendesak, okay? Dan sepertinya kamu menganggap aku orang jahat, well I'm not." Pria itu kemudian bergerak gusar dan sedikit menggeser duduknya ke arah pintu. Dia membuka pintu ruangan itu sedikit dan mengintip. Cukup lama hingga akhirnya dia kembali pada posisinya semula. Semua gerak-gerik yang dia lakukan, tidak luput dari pengawasan Sydney. "Dasar orang aneh," ucap Sydney dengan gumaman yang sialnya terdengar oleh pria itu. "Anak kecil, kamu tidak tahu apa-apa soal yang aku alami sekarang. Dan jika kamu tahu siapa aku sebenarnya, kamu akan menyesal dengan apa yang kamu katakan tadi." Pria itu terlihat marah. Dia memalingkan wajahnya dari Sydney dan kembali menghela napas, seolah dadanya begitu sesak dan dia sangat lelah sekarang. Sydney langsung mengeryitkan dahinya. Tidak terima ketika dia disebut 'anak kecil'. "Hei, dengar ya! Aku bukan anak kecil! Dan seharusnya kamu meminta maaf karena ucapan kamu tadi! Dan apa kamu bilang? Aku akan menyesal? No way! Aku tidak tertarik untuk mengetahui siapa kamu sebenarnya," ucap Sydney sambil menunjuk pria itu. Persetan dengan sopan santun, pria di depannya sama sekali tidak sopan padanya dan Sydney akan memperlakukannya juga seperti itu. Lagi-lagi, dia mendesah kesal. Sepertinya yang bisa dilakukan pria asing ini di hadapan Sydney hanyalah mendesah dan menghela napas. "Fine, we are strangers, kita tidak akan bertemu lagi." Sydney mengangguk tanpa ragu. "I'm anything but interested in you, sama sekali tidak ada rasa penasaran soal kamu!" Sydney mengambil tas yang dibawanya tadi dan pergi dari ruangan itu sebelum dia menjadi tambah gila. Bertengkar dengan orang asing adalah sesuatu yang baru untuknya, dan Sydney tidak akan mengulanginya lagi. "So do I, memangnya kenapa aku harus tertarik pada wanita aneh yang aku temui di tempat asing ini? I do anything but interested in you, as well." * Sydney pergi ke apartemen Bash. Iya, bukankah Sydney sudah mengatakan bahwa semenyakitkan dan separah apapun pertengkaran mereka, dia akan selalu kembali pada Bash? Tidak mungkin juga Sydney menghiraukan tunangan juga anaknya begitu saja. Syukurlah karena kejadian bertemu dengan pria asing tersebut, Sydney menjadi lupa pada pertengkarannya tadi. "Sydney?" Sydney baru saja melepas sepatunya dan menoleh hanya untuk melihat Bash menatapnya heran. Seolah Sydney tidak seharusnya berada di apartemen pria itu. "Apa?" tanya Sydney pada pria itu. "Sudah puas kamu melarikan diri?" Sydney mengeryitkan dahinya. Tunggu, Sydney mengira Bash akan memeluknya dan meminta maaf atas kejadian tadi, namun ternyata dia salah besar. Dibandingkan memeluknya, Bash malah mengajaknya kembali berdebat. "Maksud kamu?" "Kamu pergi tanpa kabar begitu saja. Apa kamu tidak tahu bagaimana khawatirnya aku?! You were not even answered my calls!" Benar. Sydney sengaja mematikan ponselnya agar dia tidak diganggu tadi. Sydney menghela napas. "Aku butuh waktu untuk menenangkan diri. Apa kamu masih tidak mengerti, Bash? Aku dipojokkan oleh mantan mertua kamu sendiri! Dan kamu bahkan sama sekali tidak membela aku!" "Terus saja seperti itu. Kamu selalu melarikan diri ketika kita ada masalah, alih-alih menyelesaikannya bersama." "Menyelesaikan bagaimana, Bash?! Kamu selalu memilih untuk berdebat dibanding menyelesaikannya. Karena itu pula aku selalu 'melarikan' diri!" "Dan kamu akan terus seperti itu?! Sebagai pasangan seharusnya kita bisa menyelesaikan ini semua dengan cepat! Azzury dan aku--" "Berhenti membandingkan aku dengan Azzury, Sialan! Aku bukan Azzury, Bash!" Pertama kalinya Sydney menghardik tunangannya dan dia sama sekali tidak merasa bersalah. "Apa tidak cukup aku dipojokkan dengan Tante Joyce? Apa kamu juga akan menyuruh aku menjadi Kaka Azzury, Bash?" Bash diam. Dia hanya menatap Sydney datar. "Lebih baik kamu pergi, Sydney. Benar katamu, kamu sangat baik dalam melarikan diri." *
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN