Sydney makan siang dengan guru-guru lainnya di kantin khusus untuk para guru. Selagi keempat rekannya berbincang-bincang dengan ramai, Sydney terdiam di tempatnya, melahap makanannya dengan tidak semangat, dan sama sekali tidak tertarik untuk bergabung dengan obrolan mereka. Pertengkarannya dengan Bash berhasil mengganggunya selama dua hari ini. Dia sama sekali belum menghubungi pria itu dan sepertinya Bash juga tidak mau menghubunginya lebih dulu.
"Bu Savarra, bagaimana persiapan pernikahannya?" Salah satu guru senior di taman kanak-kanak itu yang bernama Feny, bertanya penasaran pada Savarra, rekan Sydney yang juga akan melangsungkan pernikahan sebentar lagi.
Savarra tersenyum malu-malu. Dia menghela napas sejenak. "Sudah hampir selesai, doakan saja semoga semuanya lancar."
Feny, dan dua orang lainnya mengangguk. Mengamini doa Savarra. "Bu Sydney juga sudah bertunangan, jadi kapan kalian memutuskan untuk menikah?" Kali ini Savarra bertanya pada Sydney. Sayangnya, wanita itu sama sekali tidak mendengar dan dia hanya melamun menatap makanannya.
Keempat rekannya terpaku. "Bu Syndey?"
Feny mencolek bahu Sydney dan membuatnya tersentak. "Iya?" Sydney mendapati rekan-rekannya sedang menatapnya heran.
"Bu Sydney baik-baik saja?"
Sydney merutuki dirinya sendiri karena melamun di tengah-tengah mereka. "Hm...iya, saya hanya sedang tidak fokus. Maaf, kenapa?"
Savarra tersenyum. "Saya tadi bertanya--"
Suara pintu kantin diketuk dan membuat Savarra tidak jadi melanjutkan perkataannya. Mereka berempat menoleh hampir bersamaan ke arah pintu. "Ada tamu yang ingin menemui Bu Sydney."
Sydney mengeryitkan dahinya. Cukup heran karena jarang sekali ada orang yang ingin bertemu dengannya secara pribadi, kecuali Leo, Ayah dari Lorens yang saat itu ingin membicarakan sesuatu dengannya.
"Saya permisi sebentar," ucap Sydney berpamitan pada rekan-rekannya. Ketiga rekannya mengangguk dan mempersilakan Sydney pergi.
Sydney melangkahkan kakinya menuju ruang guru dan saat dia masuk, ternyata Leo, pria yang membuat Bash cemburu seperti kebakaran jenggot, duduk di hadapan meja kerjanya.
Sydney ragu untuk menghampirinya, namun terlambat untuknya melarikan diri karena Leo sudah melihatnya.
"Bu Sydney," sapanya sambil tersenyum pada Sydney.
Sydney menghela napas diam-diam. Baiklah, tidak bagus juga jika dia menghindari Leo hanya karena masalah pribadinya. Sydney membalas senyuman Leo dan menghampirinya. "Apa ada sesuatu, Pak Leo?"
Leo tersenyum tidak enak. "Leo saja," ucapnya. Sydney sedikit ragu untuk menurutinya, namun dia mengangguk. Hanya sapaan, dan bukan hal yang besar untuk diperdebatkan.
"Jadi, ada apa?" tanya Sydney penasaran. Dia duduk bersebrangan dengan pria yang sepertinya seumuran dengan Bash.
Leo berdehem sebentar. "Saya dan Ibu dari Lorens sudah bercerai."
Sydney terkejut mendengarnya. Namun, dia lebih terkejut lagi menyadari fakta bahwa pria itu memercayakannya untuk memberitahu dia soal perceraiannya. "Saya ikut sedih mendengarnya."
Leo tersenyum, lagi. "Tapi, saya tidak tahu bagaimana memberitahunya pada Lorens. Hak asuh Lorens juga jatuh ke tangan saya, Ibunya sungguh tidak mau berurusan dengan kami lagi. Saya kesulitan untuk memberitahu semuanya pada anak saya." Bola mata mereka bertemu saat Leo mendongakkan kepalanya. "Bisa Bu Sydney tolong saya untuk memberitahu Lorens soal ini? Dia tidak akan bertemu dengan Ibunya lagi dan saya khawatir dengannya."
Sydney bimbang. Dia sendiri tidak tahu bagaimana memberitahu anak berusia lima tahun soal perceraian orangtuanya. Namun, lagi-lagi melihat keadaan Leo yang kelihatan kacau membuatnya tidak tega jika dia harus menolaknya.
"Akan saya coba, tapi saya tidak bisa janji. Saya juga takut ucapan saya malah melukai hati Lorens."
Leo langsung mengangguk. Dengan impulsif dia menggenggam tangan Sydney begitu saja. "Terima kasih," ucapnya. Sepersekian detik kemudian, dia menyadari tindakannya yang sedikit kurang ajar dan akhirnya melepaskan pegangan tangannya. "Maaf," ujarnya.
Sydney hanya membalasnya dengan senyuman serba salah.
*
Sydney menyapa satu per satu muridnya yang sudah dijemput oleh orangtuanya masing-masing. Dia memasang senyuman manis di wajahnya walaupun hatinya tidak tenang sekarang. Di satu sisi, dia berencana untuk mengajak Lorens sebentar dan mencoba untuk membicarakan soal orangtuanya. Di lain sisi, dia mencari-cari Celeste yang tidak juga keluar kelas. Astaga, apakah anak itu juga marah padanya?
"Bu Sydney," sapa Lorens dengan senyuman kecilnya. Sydney langsung tersenyum.
"Hai, Lorens." Dia tidak mengatakan 'sampai jumpa' seperti pada anak-anak lainnya. Dia mengambil tangan kecil Lorens dan membawanya menjauh dari kelas. Sydney membawanya ke taman di sekolah itu.
"Lorens sudah akan pulang?"
Anak itu terdiam. Dia menggeleng pelan. "Ayah belum pulang jam segini. Mama juga tidak ada." Sydney tersenyum tidak enak menyadari Lorens sudah mengerti kondisi orangtuanya.
"Lorens, Ibu ingin memberitahu sesuatu padamu."
Lorens menatapnya dengan bola mata indahnya. "Apa, Bu Guru?"
"Mama dan Ayah kamu, sangat menyayangi kamu. Apapun yang terjadi di kemudian hari, tolong ingat bahwa mereka akan selalu menyayangi kamu. Saat ini, mungkin Mama tidak akan sering berada di rumah, she has something to deal with. Dia tetap menyayangi kamu, ingat itu, Lorens. Okay?"
Anak itu mengeryitkan dahinya. Seolah tidak setuju dengan perkataan Sydney. "Tapi, Mama sering marah dan sering meninggalkan aku."
"Dia tetap sayang sama kamu, Lorens. Untuk saat ini, kamu punya Ayah kamu. Dia juga akan selalu menjadi tempat kamu bersandar." Sydney tersenyum. Dalam hati, dia sedikit ragu apakah yang dikatakannya ini benar atau tidak. Namun, setidaknya dia bisa menanamkan dalam diri anak ini bahwa orangtuanya menyayanginya.
"Apa Mama akan pergi jauh, Bu Guru?"
Sial. Sydney tidak mempersiapkan dirinya untuk pertanyaan semacam itu. "Tidak. Sejauh apapun Mama pergi, kamu akan tetap menjadi anak Mama kamu, dan dia sangat sayang sama kamu. Bagaimana mungkin dia tidak sayang pada anak manis seperti kamu, Lorens? Benar, bukan?" ujar Sydney sambil mencubit pelan pipi Lorens.
Lorens tertawa. "Baiklah, Bu Guru."
Bagus. Tidak sesusah yang dia kira. Sydney mengangguk dan mengusap rambut Lorens pelan. "Anak baik."
Cukup lama mereka berbincang ringan, hingag teriakan menjelengking anak perempuan menginterupsi mereka.
"Mama!!!"
Sydney menoleh ke lain arah, mendapati Celeste berlari ke arahnya dengan raut muka tidak bersahabat. "Celeste?" Astaga, kemana saja anak itu?
Sydney mengira Celeste akan berhambur ke pelukannya, namun dia salah besar ketika ternyata Celeste berlari mendorong Lorens untuk menjauh dari Sydney.
"Celeste Kainer!" Tidak sengaja Sydney membentak Celeste. Dia terkejut ketika Lorens tersungkur di tanah karena tidak siap dengan dorongan Celeste. Anak laki-laki itu segera bersembunyi di belakang punggung Sydney. Terlalu takut menghadapi Celeste.
"Kenapa kamu bersama Mama aku?!"
Sydney menghela napas. Lagi-lagi dia harus terbiasa dengan rasa cemburu dari Celeste yang kadang tidak suka jika dia terlalu dekat dengan teman-temannya.
"Celeste, bersikaplah dengan baik. Lorens hanya--"
"Dia Mama aku! Kamu nggak boleh bareng sama Mama!"
Sydney segera memisahkan Celeste yang akan kembali menyerang Lorens. "Celeste, jangan begini."
"Aku nggak suka sama Mama! Mama nakal!" Jangan ditanya bagaimana perasaan Sydney saat mendengar hal itu. Sakit bukan main.
"Aku tidak mau Mama bersama anak lain! Mama punya aku!"
"Celeste, kita pulang sekarang, okay?"
"Tidak mau!" Tangan Celeste terus memukul-mukul Sydney. Untungnya tidak lama setelah itu, Leo datang menjemput Lorens. Awalnya dia ingin bertanya ada apa dengan kedua anak itu, tapi melihat Sydney yang kewalahan dengan Celeste dan mungkin tidak akan menjawab pertanyaannya, akhirnya dia memilih bungkam dan membawa anaknya sendiri.
"Celeste," tegur Sydney pada anak itu. Berharap Celeste bisa mendengarnya sekarang.
"Aku benci Mama."
***