Syndey terkejut mendengar ucapan Celeste padanya. Dia termenung seraya berjongkok, mensejajarkan diri dengan anak itu. “Celeste, Mama tidak bermaksud melukai perasaan kamu.” Sydney berusaha memeluk anaknya, namun sayangnya, Celeste menepisnya dengan mudah. Astaga, ayolah, masalah kemarin saja belum usai, dan sekarang Sydney harus kembali menghadapi masalah yang sama?
“Papa!”
Jantung Sydney seolah berhenti saat mendengar ucapan Celeste. Dia membalikkan badannya dan dia berharap semoga Sebastian tidak ada di sana dan mengetahui anaknya menangis karena ‘ulah’ Sydney. Sialnya, Dewi Fortuna sedang tidak berpihak padanya sekarang—karena—lihatlah, beberapa meter di depan Sydney, Bash berdiri dengan sebelah tangan memeluk Celeste dan tatapan matanya menghunus tajam pada Sydney. Sial!
“Papa, I need to tell you something,” bisik Celeste yang masih bisa didengar oleh Sydney. Tamatlah riwayatnya sekarang. Setelah bertengkar karena masalah Joyce dan kini mereka harus kembali bertengkar—sepertinya—karena masalah Leo dan Lorens.
“Nanti, ya, Celeste.” Bash memaksakan senyuman pada anaknya. “Sekarang, lebih baik kita pulang, okay?”
Celeste mengerucutkan bibirnya. Sedikit kesal karena Ayahnya menundanya untuk mengadu soal sikap Mamanya. Celeste menghentakkan kaki kecilnya dengan kesal ketika berjalan menuju mobil Ayahnya yang terparkir tidak jauh dari sana.
“Ayo.”
Sydney yang sedari tadi menundukkan keplanya karena tidak berani untuk bertatapan dengan Bash, akhirnya mendongak saat mendengar ajakan Bash. “Hm?” Sydney terdiam seperti orang bodoh di tempatnya.
Bash menghela napas dan berdecak pelan. “Ayo pulang,” ajaknya sekali lagi yang membuat Sydney terkejut. Bash sama sekali tidak menunggu respon dari Sydney dan segera meninggalkannya setelah mengajak wanita itu pulang.
Sydney mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum tersadar. Dia tidak ingin membuat Bash semakin marah karena menunggunya terlalu lama, akhirnya Sydney segera beranjak untuk mengambil tas yang ada di meja kantornya dan kembali ke mobil Bash.
Bash maupun Celeste sama sekali tidak menyapanya atau mengatakan sepatah katapun saat Sydney kembali.
Sepertinya, lagi-lagi Sydney harus mengalah dalam permasalahan ini. Permasalahan di antara mereka sebenarnya bukan hal yang perlu dibesar-besarkan—setidaknya jika mereka sama-sama tidak egois.
***
Sydney mengira Bash akan membawanya pulang ke rumah orangtuanya. Alih-alih begitu, Bash membawanya bersama dengan Celeste kembali ke apartemennya. Tempat yang memang sudah begitu sering dikunjungi olehnya—Sydney sudah menganggapnya sebagai rumah keduanya.
Bash dan Celeste masih saja mendiamkannya bahkan ketika mereka sudah sampai di apartemen Bash. Celeste langsung masuk ke kamarnya diikuti oleh Bash, meninggalkan Sydney di kecanggungan tak berarti.
Sydney tidak tahu sudah berapa lama dia berdiam diri di sofa tersebut, hingga akhirnya Bash mendatanginya. “We need to talk,” ucap pria tersebut. Sydney mengangguk kecil, membiarkan Bash duduk di sebelahnya walaupun dengan jarak yang cukup jauh di antara mereka.
“Sepertinya, aku yang harus terlebih dahulu memberitahu sesuatu padamu,” ujar Sydney. Dia menolak untuk menoleh pada Bash. Saat ini, Sydney sama sekali tidak memiliki keberanian untuk bertatapan dengan Bash.
“Well, I’m waiting for it.”
“Ini soal Leo, Ayah dari muridku yang bernama Lorens. Dia yang membuat kamu marah tempo hari, dan sepertinya... dia juga akan melakukan hal yang sama padamu kali ini. Aku tidak bermaksud untuk tidak menghargai perasaan kamu, Bash. Aku hanya ingin membantunya—Leo sekarang sudah bercerai dengan Ibu dari Lorens, dan Ibunya sama sekali tidak ingin menemui mereka berdua lagi. Leo menginginkan aku untuk—”
“Menjadi Ibu pengganti Lorens?” Bash memotong ucapan Sydney dengan nada sarkas dan mata yang memincing tajam ke arahnya.
Sydney melotot dan langsung menggeleng kuat. “Tidak! Astaga, Bash, bagaimana bisa kamu berpikir seperti itu?!” Bash menjawabnya hanya dengan mengangkat kedua bahunya tidak peduli.
Sydney menghela napasnya. “Dia ingin aku untuk memberitahu Lorens soal keadaannya sekarang. Mungkin dia menunjuk aku karena dia tahu Lorens hanya bisa dekat denganku saja. Saat itu, Celeste datang dan tidak terima dengan sikapku pada anak itu.”
Sydney kembali menundukkan pandangannya. Kini, mungkin Bash akan kembali marah padanya.
Terdengar helaan napas dari Bash dan itu semakin membuat Sydney gugup. “Aku juga minta maaf, Sydney.”
Mendengar kata ‘maaf’ yang jarang sekali dilontarkan oleh Bash, membuat Sydney kembali mendongakkan kepalanya, menatap Bash heran. Tunggu, pria ini tidak marah? Sungguh?
“Apa?” Sydney membeo.
Bash kembali menghela napasnya. Sepertinya dia kesal karena harus mengulang hal yang sama lagi dan lagi. “Aku minta maaf karena marah padamu soal pria itu—aku berlebihan. Dan, aku juga minta maaf soal Joyce. Seharusnya aku membela kamu saat kamu merasa terpojok.” Bash menatap Sydney tepat di bola matanya. “Aku sungguh minta maaf, Sydney,” ucapnya. Bash mengatakannya dengan tulus. Sydney bisa tahu itu, tapi, bagaimana mungkin? Selama berhubungan dengan Bash, Sydney bisa menghitung berapa kali pria ini meminta maaf padanya—alias, sangat jarang.
“Bash...” Kali ini, Sydney memberanikan diri untuk mendekati Bash. Astaga, lebih baik Sydney menerima amarah Bash daripada dia yang meminta maaf dan membuat pertahanan Sydney lemah seketika. Bukankah dia sudah mengatakan seberapa lemahnya dia ketika berhadapan dengan Bash?
“Aku tidak bisa berpisah denganmu untuk bahkan satu menit ke depan, Sydney. Akhir-akhir ini hariku sangat buruk karena pertengkaran kita.”
Sydney tersenyum kecil. “I’m sorry, Bash. Aku belum bisa menjadi yang terbaik.”
Entah kenapa setiap berada di samping Bash, Sydney selalu merasa kurang. Seolah dirinya tidak pantas berada di samping pria itu, seolah dia tidak cukup baik untuk Bash maupun Celeste. Sydney sering kali meragukan dirinya sendiri, walaupun sebenarnya hal itu tidak baik untuk dilakukan.
Tapi untuk saat ini, let’s pretend everything is fine. Totally fine.
***
“Sydney,” panggil Ibunya ketika Sydney berada di kamarnya malam itu dan sedang mengerjakan berkas untuk rapat besok dengan para guru. Dia menghabiskan waktunya terlalu lama di apartemen Bash dan lupa bahwa besok ada jadwal penting untuknya.
Sydney menoleh pada Tavie yang berada di ambang pintu. “Iya, Mama?”
“Waktunya makan malam.” Tavie tersenyum. Sydney menoleh ke arah jam di dinding dan mendesah lelah. Dia selalu lupa waktu jika sudah mengerjakan sesuatu. Akhirnya, menunda apa yang sedang dia kerjakan dan menyusul Ibunya yang sudah ada di ruang makan.
“Ayah tidak bisa ikut dengan kita karena ada pekerjaan di kantornya,” jelas Tavie ketika Sydney sudah duduk di hadapan meja makan. Sydney menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
“Bagaimana harimu?”
Sydney tersenyum. Dia selalu tersentuh dengan perhatian Ibunya yang tidak memudar—sejak dulu, Tavie sering kali menanyakan kabar anaknya tiap kali mereka makan malam bersama. “Not bad,” ucap Sydney sebelum memasukkan satu suapan sendok ke mulutnya.
“Kamu jarang sekali bercerita pada Mama akhir-akhr ini,” ujar Tavie.
Sydney tertawa kecil. “Mama, aku sudah besar. Aku bukan anak kecil Mama yang akan selalu menceritakan apa yang aku lewati hari ini pada Mama.”
Tavie menghela napas. “Untuk Mama, kamu tetap anak kecil, Sydney. Mama ingin selalu mendengar cerita kamu hari ini,” jawab Tavie.
Sydney sempat terdiam. Firasatnya mengatakan bahwa Ibunya merasakan ada yang aneh padanya.
***