Bagian 13

1065 Kata
"Mama..." Tavie sama sekali tidak melirik ke arah Sydney ketika bertanya begitu. Seolah dirinya sudah tahu bahwa perkataannya itu akan memulai perdebatan yang tak kunjung usai antara dirinya dan anak tunggalnya ini. Tavie duduk di hadapan Sydney, dan tersenyum manis. "Mama hanya bertanya." Kini, dia beranikan diri untuk menatap Sydney. "Menjadi tunangan Bash dan juga Ibu Celeste, tentu tidak mudah." Sydney menghela napas. Dia kehilangan selera makannya seketika itu juga. Memang bukan hal yang mudah, tapi rasanya Sydney tidak bisa menerimanya begitu saja ketika seseorang memperjelas posisinya dalam hubungannya. "Apa Bash pernah memperlakukan kamu dengan buruk?" Tavie, yang memusatkan perhatiannya pada anaknya, terlihat memberikan tatapan khawatirnya pada Sydney. Sydney sempat terdiam. Jika dia menjawab 'tidak', hati kecilnya menolak. Bash memang baik padanya, namun terkadang memang ada beberapa momen yang membuat Sydney mempertanyakan Bash dan hubungan mereka. Namun, bagaimanapun, Sydney tetap mencintai Bash. Rasanya Sydney tidak bisa membayangkan hidupnya sekarang tanpa Bash. "Tidak, Mama." Maka, Sydney memilih untuk menjawab 'tidak', mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa semuanya memang baik-baik saja. Tidak ada hubungan yang akan lurus tanpa perkelahian, dan perkelahian adalah hal yang wajar. Bahkan Mama dan Ayahnya sering kali 'berdebat', jadi, itu hal yang wajar, bukan? Tavie menatap anaknya intens. "Kamu mengatakannya dengan tidak yakin." Sydney berdecak pelan. "Apa yang ingin Mama katakan sebenarnya?" Tavie mengangkat kedua bahunya. Kini, dia kembali fokus pada makanannya, sambil berkata, "Tidak, hanya saja Mama sering kali mendapati perilaku kamu tiba-tiba berubah. Kamu jarang sekali bercerita pada Mama. Padahal dulu, sebelum bersama Bash, kamu sering sekali menceritakan semuanya." Sydney menundukkan kepalanya. Sepertinya untuk kali ini dia tidak akan mengelak lagi. "Well, memang tidak mudah, Mama. Banyak hal baru yang harus aku ketahui dari peranku sekarang. Aku tahu Mama khawatir, aku tidak menceritakannya karena takut jadi beban pikiran untuk Mama. Tapi, everything's going to be well. Aku akan baik-baik saja." Sydney mendongak. Dia menatap Mamanya. "Aku mencintai Bash, tidak akan terjadi hal yang buruk karena itu, bukan?" Sydney terkekeh kecil. Iya, tidak akan terjadi apa-apa, bukan? Tavie sama sekali tidak tertawa ketika melihat wajah jenaka Sydney. Dia tahu tawa anaknya itu menyembunyikan sesuatu. "Tapi, mencintai seseorang buakn berarti kamu harus mengesampingkan emosi kamu. Mama tahu kamu memberikan semuanya untuk Bash dan Celeste, tapi...Mama takut kamu kehilangan dirimu sendiri." Sydney sempat terdiam sejenak. Tidak, astaga, tidak mungkin. Dia tidak akan seperti itu. Dia menggeleng pelan. "Tidak akan. Bisa kita lanjutkan makan malam kita lagi?" Mereka kembali diam. Masing-masing dari Tavie dan Sydney bungkam dengan pikiran yang berkecamuk. "Anneliese pergi ke London." Sydney kembali menatap Ibunya dan mengeryit. "London? Untuk apa?" "Bertemu dengan Matteo Aarav." Sydney tertawa mendengarnya. "Astaga, dia masih menyukai pria yang menjadi mantan pacar Ibunya sendiri?" Tavie tersenyum. "She does." Sepupunya, Anneliese, putri dari Zee dan Regan Wijaya, sangat menyukai mantan pacar Zee Wijaya yang bernama Matteo Aarav, mereka mengira itu hanyalah perasaan anak kecil yang tidak tahu menahu. Namun ternyata Anneliese masih menyukai Matteo bahkan sampai sekarang. "Kamu ingin pergi ke sana juga?" "London, maksud Mama?" Sydney membeo. "Iya. Kamu terlalu sering bekerja dan jarang sekali berlibur. Mama bisa memberitahu Anne jika kamu mau." Sydney mendesah lelah. Entah kapan terakhir kali dia berlibur sendiri. Mungkin sekitar dua tahun lalu. Sebelum dia menjalin hubungan dengan Bash. "Aku akan meminta izin Bash dulu." Tavie berdecak. "Ayolah, Sydney, go whenever you want. Tidak perlu memikirkan Bash. Mama dan Ayah kamu yang akan memberitahunya nanti." Sydney tersenyum kecil. "Dia tunanganku, Mama. Tentu saja aku harus meminta izinnya dulu. Lagipula, siapa yang akan menjaga Celeste jika aku--" "Berhenti mementingkan Celeste atau orang lain, Sydney! Mama muak dengan itu." Sydney terkejut bukan main ketika Ibunya menaikkan satu oktaf suaranya. "Mama?" Tavie menghembuskan napasnya kasar. "Just...be you." Anaknya, kini sudah kehilangan dirinya sendiri. Tavie bisa tahu itu tanpa harus lagi bertanya pada siapapun. Sebastian Kainer sungguh mengubah anaknya. * "Selamat malam, Sebastian." Bash tersenyum canggung ketika Ibu dari tunangannya itu menyapanya. Dia melirik Sydney yang bercanda ria dengan anaknya dan sama sekali tidak melihat kegugupannya. Diundang makan malam bersama dengan orangtua Sydney adalah hal yang tidak begitu disukai Bash. Bukan bermaksud tidak sopan, hanya saja perilaku kedua Tavie dan Zendra kurang bersahabat padanya. Tavie, yang mengetahui apa yang dirasakan Bash, memilih untuk diam saja. Dia memang sengaja mengajak Bash makan malam bersama dengan maksud untuk memberitahu secara tidak langsung bahwa Sydney tidak bisa dikontrol olehnya. Maksud Tavie, tiga hari lalu dia dan putrinya itu berbicara soal London, dan Sydney menolak keesokan harinya karena tidak enak dengan Bash. Tavie tidak terima, jadi berbekal dengan tekad untuk mendeklarasikan bahwa Sydney bukan sesuatu yang bisa dimiliki oleh Bash sepenuhnya, dia akan membuat Bash mengerti malam ini. "Saya dengar, kamu sedang mengikuti proyek di luar kota, Bash?" Bash berpaling pada Zendra. Dia menganggukkan kepalanya. "Benar, Pak Zendra. Proyek pembangunan resort." "Kapan dimulainya?" tanya Zendra lagi. "Mungkin, secepat mungkin. Bisa jadi minggu ini. Tim kami sudah memenangkan tender, proposal juga sudah disetujui." Tavie tersenyum kecil. "Jadi, apakah nanti kamu akan sering ke luar kota?" Dia ikut dalam pembicaraan suaminya dan Sebastian. "Sepertinya begitu. Tapi, saya tidak akan meninggalkan Sydney dan Celeste begitu saja." Tavie sama sekali tidak mau menanggapi ucapan Bash. Dia menoleh pada putrinya yang menatapnya heran. "Kebetulan sekali! Sydney, bukankah Anne mengundang kamu ke London? Selagi Bash pergi ke luar kota, kamu juga bisa liburan ke negara lain. Hanya untuk sekadar menyegarkan pikiran. Bash tentu tidak akan keberatan, bukan?" Tavie tersenyum. "Apa?" Bash melongo. Dia melirik lagi pada tunangannya. Meminta kejelasan dari apa yang dikatakan Ibunya. "London, Sydney?" Tunangannya itu sama sekali tidak mengatakan apapun soal London. Sydney terlihat gugup. "Mama...aku sudah bilang aku tidak pergi." "Tapi, Anne ingin kamu berada di sana. Lagipula, Bash juga akan pergi, bukan?" "Lalu siapa yang akan menjaga Celeste?" "Ada Mama dan Ayah kamu. Apa kamu tidak percaya pada orangtua kamu sendiri?" Sydney terdiam. Dia menoleh pada Bash, di mana sedari tadi dia mencoba untuk menghindar dari tatapan pria itu. "Bash--" "Tidak apa. Jika kamu ingin pergi, pergi saja." Tavie tertawa kecil. "Anakku tidak perlu selalu izin padamu, bukan, Bash? She still can live her life as she wants to." Bash tahu, Tavie menyindirnya. "Iya, tentu saja." Bash melirik Sydney yang juga masih menatapnya. "Dia bisa pergi kemanapun." Jangan ditanya apa yang dirasakan Sydney sekarang. Astaga, baru saja beberapa hari yang lalu mereka berbaikan dan berjanji untuk mengurangi perdebatan di antara mereka, karena mereka sadar mereka terlalu sering bertengkar akhir-akhir ini. Sialnya, sepertinya hal itu tidak akan terealisasikan sekarang. "Bash..." Sydney dalam masalah! *
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN