Devan tidak menjawab pertanyaan Eliana, bahkan berusaha menenangkan dari rasa kaget pun tidak, malah terus menatap wajahnya. Ia ingin marah dan meluapkan kecemburuan dengan segala kata-kata larangan diiring emosi yang meluap-luap agar Eliana tahu seberapa besar kecemburuannya, tapi ia takut Eliana akan menjauh karena merasa ia pria galak dan temperamen. Kalaupun tidak menganggap galak dan temperamen, Eliana pasti akan bingung untuk apa luapan kecemburuan ini dan tidak akan bisa memahami apa yang ia inginkan. “Bapak dari mana?” tanya Eliana setelah agak tenang. Bukannya menjawab, Devan malah menggeser langkahnya untuk membuka pintu belakang mobil lalu duduk tanpa sepatah kata pun. “Ada apa dengan Pak Devan? Kenapa sikapnya seperti ini?” gumam Eliana heran lalu membalikkan badan sambil

