“Tadi siang Ibu memberitahu bahwa tetanggaku, Bu Zia kecelakaan dan dia sekarang kritis. Aku ingin langsung menjenguknya ke rumah sakit karena Ibu juga sedang di sana menemani Bu Zia.” “Ya sudah, kita pulang sekarang!” Devan langsung beranjak dari duduknya dengan gerak cepat karena merasa sedang dalam kondisi darurat meskipun ia tidak terlalu kenal bahkan lupa dengan tetangga Eliana yang bernama Zia. “Cepat ambil tasmu!” perintahnya begitu ada di depan Eliana. “Bu—bukan kita, Pak, ta―tapi hanya aku saja yang pulang.” Eliana mendadak gugup saat berhadapan dengan Devan. “Kamu mau pulang sendiri?” tanya Devan memastikan. “I—iya, Pak.” “Kenapa? Aku tidak masalah jika harus menemanimu ke rumah sakit. Ikut menunggu pun tidak apa-apa. Bahkan jika kamu harus menginap, aku akan menyewa satu ka

