Alia Mulai Beraksi

1368 Kata
"Maafkan aku sayang, bukan maksud memarahimu tadi. Aku hanya panik karena Sasya merengek di dalam telepon." Mas Alvan mencoba menyentuh tangan tapi segera kutepis. Tak sudi tangannya menyentuh tubuhku. "Mana koper kamu, Mas? Katanya tidak jadi ke luar kota?" Sejak menginjakkan kaki di kamar benda itulah yang ku cari. Namun tak kutemukan. Aku yakin dia berdusta. Memang dari awal dia tak ada tugas ke luar kota. Pasti dia sedang berada di rumah perempuan itu. Perempuan yang telah menghancurkan kehidupanku. "Itu sayang, koper ketinggalan di rumah ibu. Tadi kan mengantar ibu dulu." Aku hanya menggeleng dengan jawaban suamiku. Katanya sarjana tapi mencari alasan yang logis saja tidak bisa. Jarak antara salon dan rumah ibu mertua memerlukan waktu hampir satu jam dengan kecepatan sedang.Belum dari rumah ibu mertua ke mari. Dari sini saja kamu terlihat sedang berbohong, Mas. Ya begitulah jika orang suka berbohong. Selamanya akan terus berbohong hingga pada akhirnya kebohongan itu terkuak dengan sendirinya. "Kamu nyetir dengar kecepatan tinggi ya, Mas?" "Itu... Anu ...." Mas Alvan semakin kebingungan untuk menjawab apa. "Makannya jangan suka bohong. Kan jadi bingung sendiri!" batinku. Lama Mas Alvan terdiam, berusaha menutupi semua kesalahannya. Dulu aku selalu meminta maaf meski yang salah suamiku. Aku tak ingin ada pertengkaran di antara kami. Namun sekarang itu tak akan pernah terjadi. Justru aku ingin dia minta maaf padaku. "Tadi pagi kamu pakai kemeja kan, Mas? Kaos siapa yang kamu pakai? Seingatku, aku tak pernah membelikanmu kaos dengan model seperti itu." Mas Alvan terlihat menelan air liur dengan susah payah. Wajahnya kian tegang dengan pertanyaan yang baru saja aku ucapkan. "Ini hadiah dari teman, sayang." Jawaban yang masuk akal. Meski ku tahu kaos itu pasti di belikan teman tidurmu. Ada nyeri saat teringat Mas Alvan telah membagi hati dan tubuhnya dengan wanita lain. Wanita yang entah siapa aku tak tahu. Apa aku begitu jelek hingga kamu tega mengkhianati mahligai pernikahan kita. "Maafkan Mas, sayang." Di peluknya tubuhku dengan erat. Ingin berontak tapi tenagaku kalah kuat dengannya. Meski aku merasa jijik tapi hanya bisa pasrah menerima pelukannya. "Aku mencintaimu, maafkan aku yang belum bisa membahagiakan kamu." Kata-kata itu yang dulu mampu membuatku melayang hingga ke langit tujuh. Namun sekarang rayuanmu tak berarti untukku. Justru ada rasa muak saat mendengarnya. Mungkin luka pengkhianatan yang membuatku lebih hati-hati dalam memaknai ucapan orang, termasuk suamiku sendiri. Ku hembuskan nafas perlahan, mencoba menetralisir amarah yang memenuhi d**a. Ini bukan saat yang tepat untuk melawan. Aku harus memiliki bukti untuk menghancurkan hidup Mas Alvan. Untuk sementara akan ku nikmati sandiwara ini. *** Kukeluarkan semua isi almari. Mencari baju kantor yang masih muat di tubuh. Ku lcoba satu persatu, hampir semua pakaian kantorku tak ada yang muat. Ya jelas saja badanku sudah naik sepuluh kilogram. Dari yang hanya lima puluh kilogram kini menjadi enam puluh kilogram. Bisa bayangkan betapa gendutnya aku. Ini semua juga karena Mas Alvan yang mengatakan suka dengan badanku sekarang. Tapi nyatanya justru dia menduakan aku. Bodoh memang, kenapa aku mempercayai ucapan lelaki. Sudah jelas semua lelaki menyukai wanita bertubuh langsing bukan seperti ini. Setelah mencoba hampir semua baju akhirnya ada juga yang muat. Aku masih ingat, ini adalah baju kantor terakhir yang kubeli sebelum akhirnya memutuskan di rumah saja. Itu karena Mas Alvan yang meminta agar aku di rumah saja. Katanya agar aku cepat hamil. Kenapa juga aku menuruti omongan suami yang pada akhirnya membuatku sakit hati. Mas Alvan masih terlelap saat aku sudah siap pergi. Semalam aku pura-pura memaafkannya lalu membuatkan minuman yang sudah ku campur dengan obat tidur. Untung ide muncul di saat yang tepat. Sebelum pulang aku mampir ke apotik untuk membeli obat sakit kepala dan obat tidur. Niat hati agar aku bisa tidur terlelap. Dan ternyata ada manfaatnya juga untuk suamiku. Aku tersenyum puas melihat Mas Alvan. Permainan akan segera dimulai. Lihatlah, kejutan apa yang akan ku berikan padamu dan gundikmu itu. Sementara bersenang-senanglah dengan apa yang kamu miliki saat ini. Hingga akhirnya akan ku kembalilan kau ke tempat semula. Kulihat pantulan diri di dalam cermin. Tubuhku memang semakin melebar ke samping. Sepertinya aku harus mulai diet agar berat badanku kembali ideal. Kukembalikan pakaian yang tidak cocok ke dalam almari. Jangan sampai Mas Alvan tahu jika aku pergi kantor. Bisa hancur rencana yang sudah ku susun matang. Ku ambil tas dan kunci mobil di atas meja rias. Berjalan hati-hati keluar kamar. Pintu ku biarkan sedikit terbuka, takut saat aku menutup akan menimbulkan bunyi hingga membuat suamiku terbangun. "Bik Sum!" Kucari asisten rumah tangga ke dapur. Jam segini adalah saat wanita paruh baya itu memulai aktifitas memasak. "Ibu cari saya?" tanyanya sambil mematikan kompor. Bau aroma nila goreng menyeruak masuk ke indera penciuman. Rasa lapar hadir dengan sendirinya. Ah, tapi aku tak boleh sarapan di sini. Takut Mas Alvan bangun dan menghalangiku pergi ke kantor. "Bik, kalau bapak tanya saya mau ke rumah mama." Bik Sum menatapku dari ujung kaki hingga kepala. Dia seperti bingung dengan penampilanku yang terkesan formal. "Ada acara dengan Mama bik, mau bertemu teman Mama." Bik Sum menganggukkan kepala, mengerti dengan intruksi yang ku berikan. Jalan masih terbilang sepi saat aku melewatinya. Maklum jarum jam masih menunjukkan angka enam. Sengaja aku ingin datang lebih pagi agar bisa memantau siapa saja yang datang terlambat. Aku yakin Mas Alvan tak pernah memperhatikan itu karena dia selalu berangkat pukul delapan dari rumah. Sangat jauh berbeda dengan kebiasaanku yang selalu berangkat pagi. Mobil kuparkirkan di tempat biasa. Hanya sebagian karyawan yang sudah datang. Setiap mata menatapku dengan pandangan tanda tanya kepadaku. Mungkin mereka bingung kenapa aku datang sepagi ini. Atau lebih tepatnya mereka heran karena aku kambali ke kantor. Kantor dan pabrik terletak di tempat yang sama. Kantor berada di sisi timur dengan pabriknya sendiri terletak di bagian barat dari ujung depan hingga belakang. Papa memang sengaja membangun seperti ini agar lebih mudah mengawasinya. Memang sudah ada cabang pabrik mebel di kota ini. Namun tetap tempat ini yang terbesar. Melangkah dengan percaya diri menuju ruangan. Setiap mata yang berpapasan denganku seolah tak percaya. Satu tahun tidak mengurus kantor membuat semua karyawan terkejut saat melihatku. Kantor masih sama seperti saat terakhir kali ku injakkan kaki di sini. Aku memang tak pernah ke kantor setelah di rumah. Ya, karena Mas Alvan selalu melarang ku. Salahku yang percaya saja dengan Mas Alvan. Duduk di kursi kesayanganku. Ada rasa rindu yang selama ini terpendam. Dan kini sudah bisa terobati dengan aku kembali bekerja di kantor. Tok... Tok... Tok... "Masuk!" Seorang karyawan wanita yang memakai celana hitam dengan blezer warna senada berdiri di hadapanku. "Ibu memanggil saya?" tanya Mia, sekertarisku. "Berikan saya laporan keuangan satu tahun ini." "Untuk apa ya, bu?" Aku menaikkan ujung alis mendengar jawabannya. Untuk apa? Apa aku tak boleh memeriksa laporan keuangan perusahaanku sendiri? Aneh. Ini sangat mencurigakan. "Saya harus menjelaskan untuk apa laporan perusahaan saya sendiri?" Mei semakin salah tingkah dengan jawabanku. Dan aku mulai mencium bau tak beres dengan sekertariaku itu. "Ba-baik, bu!" ucapnya gugup. Tak berselang lama Mia datang dengan membawa laporan keuangan selama satu tahun ini. Aku segera membuka setiap keuangan dari bulan ke bulan. Aku terkejut bukan main saat melihat penarikan uang sebesar lima puluh juta setiap bulannya. Bahkan bulan Oktober kemarin ada penarikan sebesar seratus juta. Untuk apa uang sebesar itu? Jangan-jangan ada karyawan yang mengelapkan uang kantor. Atau bisa jadi itu ulah suamiku. Mungkin ini alasan dia melarangku untuk pergi ke kantor. Aku harus menyelidiki semua ini. Jangan sampai uang perusahaan dihambur-hamburkan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. Akan ku tanyakan laporan ini pada manager keuangan. Ku ambil telepon lalu menghubungi Mia, dengan cepat ia sudah berada di dalam ruanganku. "Ada yang bisa saya bantu, bu?" ucapnya dengan wajah gugup. Aku yakin ada yang ia sembunyikan dariku, tapi apa? "Tolong panggilkan Pak Dahlan kemari." "Ba-baik, bu!" Aku menunggu dengan perasaan gundah gulana. Banyak pertanyaan yang akan ku keluarkan. Kenapa perusahaan jadi berantakan semenjak ku tinggalkan. Perusahaan akan bangkrut jika banyak mengeluarkan dana tanpa keterangan seperti itu Ya Tuhan, begitu banyak masalah yang kini menimpaku? Apa salahku sebenarnya hingga Engkau berikan cobaan seperti ini? Kreeek Suara pintu di buka dari luar. Itu pasti Pak Dahlan, manager keuangan. Segera ku putar kursi hingga bisa berhadapan dengan beliau. Mata membulat sempurna saat melihat siapa yang ada di hadapanku. Dengan wajah merah padam ia menatap ke arahku. Tapi sayang aku sama sekali tidak takut untuk itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN