ENAM BELAS

1109 Kata
Nina yang berjalan keluar dari gerbang sekolah, mengerutkan kening ketika melihat Arka sudah menunggunya di dalam mobil. Nina balik badan sambil menarik Jaka. Arka menekan klakson mobil tidak berhenti, meskipun mengganggu sekitar. Jaka menarik tangannya. "Pergi sana! Dia sudah nunggu kamu dari tadi sepertinya, jangan kabur." Nina cemberut lalu balik badan dan masuk ke dalam mobil. Mobil melaju kencang ketika Nina selesai memakai sabuk pengaman. "Mau kemana?" "Menghilangkan stress." "Stress apaan?" Arka tidak menjawab. "Ini namanya mau bunuh diri!" Jerit Nina. Arka rem mendadak. Nina memegang erat sabuk pengamannya. Untung saja Arka melewati jalur perumahan sepi. Nina menatap lurus jendela mobil, tanpa menatap Arka. "Ada apa? Apakah kamu mendapat masalah?" Arka terdiam, masih memikirkan masalah yang akan dihadapinya. Bicara dengan NIna mungkin juga percuma karena dia masih kecil. "Apakah kamu menganggapku tidak tahu apa pun?" tanya Nina. Arka mengalihkan tatapannya ke Nina. "Bagaimana kamu tahu?" Nina tidak menjawab, dia menatap lurus Arka. "Jangan ke sana." "Apa?" "Aku sudah bilang kepadamu, jangan ikut nenek." "Bagaimana jika dia melakukan banyak cara dengan menyentuh ibuku?" "Apakah kamu bisa percaya padaku?" Arka bingung ketika melihat tatapan terluka Nina. "Apakah aku terlihat akan melukai kamu?" "Kamu egois, sudah memaksakan diri supaya kita menikah dan sekarang kamu goyah?" "Nenek akan melakukan banyak cara untuk mendapatkan apa yang dia inginkan, bahkan dia bisa membuang darah dagingnya sendiri demi bisa menikah dengan kakekku." Nina memutus tatapan mereka berdua dengan kesal. "Ternyata aku memang masih kekanakan." Arka menepuk kepala Nina yang langsung ditepis pemilik kepala. "Jangan pernah menyentuhku, sebelum aku menyukainya." Tatapan Arka berubah rumit. "Sebencikah itu kamu pada nenekku?" "Sebenci kamu pada mereka." Jawab Nina. Arka tidak tahu takaran kebencian Nina tapi dia tahu takaran kebenciannya pada sang nenek. "Dia bisa menghancurkan hubungan ayah dan anak, berarti dia juga bisa menghancurkan hubungan suami dan istri." Arka paham mengenai hal itu lalu menarik tangan Nina untuk mencium punggung tangannya. "Mari kesampingkan masalah itu." Nina langsung merinding tapi tidak bisa menarik tangannya karena digenggam erat Arka. "Saat kamu membuat novel, apa yang dilakukan tokoh utama pria saat emosi di depan tokoh utama wanita?" "Diam atau marah." "Dan apa yang dilakukan tokoh utama wanita untuk menenangkan tokoh utama pria?" "Memeluknya?" Nina tidak yakin dengan jawabannya. Masing-masing tokoh pria di novelnya memiliki sifat yang berbeda. "Lalu bagaimana jika kita berada di situasi mereka?" "Apa?" Tubuh Arka maju sehingga wajah mereka saling berhadapan. "Aku ingin marah sekarang tapi aku tidak bisa mengalami kerugian banyak, saat ini yang kupunya hanyalah seorang istri." Nina melirik tangannya yang sudah diarahkan Arka ke bagian tonjolan di tengah kaki pria itu, dia menelan saliva dengan gugup. "Ka, aku bisa mengadukan hal ini ke polisi atas kasus pelecehan." "Aku punya foto copy surat menikah kita dan foto pernikahan di handphone, apa yang aku takutkan?" tanya Arka dengan nada m***m. "Kalau diperhatikan lebih dekat, ternyata istriku cantik juga." Nina belajar dari novel, pria yang ingin kebutuhan nafsunya terpenuhi pasti merayu lawan jenis supaya bisa jatuh ke dalam pelukannya. "Curang." "Hm?" "Kamu sangat tampan." Cemberut Nina. Arka tersenyum lalu mencium bibir NIna dengan lembut. Nina bisa merasakan tindik di lidah Arka dan merasa tergoda, tangannya meremas lembut 'milik' Arka. Kedua napas mereka saling memburu, sama-sama tidak ingin melepas ciuman mereka. Arka mengangkat Nina hingga duduk di atas pangkuannya dengan susah payah, Nina kerja sama. Seorang anak SMA bersama pria dewasa melakukan hal m***m di dalam mobil saat siang bolong, pasti tidak akan ada yang percaya. Nina tidak butuh kata cinta untuk menambah pengalamannya sementara Arka tidak terlalu suka mengumbar kalimat cinta setelah dikhianati. "Nanti ada yang memergoki kita?" tanya Nina sambil menahan tangan Arka yang hendak melepas seragam sekolahnya. "Mereka akan mengira kamu p*****l dan aku menjual tubuh." Arka tidak peduli. "Kita sudah menikah, dan tempat ini jarang dilewati orang." "Bagaimana jika ada satpam?" tanya Nina sambil menurunkan tangan Arka yang hendak membuka kaos dalamnya. Arka mengerutkan kening. "Kenapa kamu memakai kaos dalam?" "Gila ya kamu, pakai bra saja bisa tembus dari seragam." Arka mendorong pelan Nina dan memperhatikan seragam yang sedikit tembus. "Hm, benar juga." "Ka, kita pulang saja." Nina menurunkan kaosnya kembali saat Arka berhasil menaikannya. "Jujur saja, ini bisa dibilang pelecehan dan hubungan tidak sehat jika dilihat orang dewasa." "Kamu ingin menceramahiku sekarang?" Nina tidak bisa menjawab. "Aku suami kamu, istri harus menurut perintah suami." Arka terkejut melihat d**a besar Nina. Kedua matanya melebar m***m. Meskipun Nina belum melakukan praktik nyata hubungan suami-istri, dia paham maksud mata Arka dan langsung menutupnya dengan kedua tangan karena malu, wajahnya memerah seperti tomat. Arka kesal ketika pandangannya mulai menggelap. "Siapa yang menutup mataku? Hallo! Ini pemandangan bagus yang tidak bisa dilewatkan begitu saja, lihat saja dedek di bawah sudah naik. semua mantan pacarku saja tidak punya d**a sebesar ini." Nina menjadi malu. "Berhenti bicara!" "Ah, sekarang aku mengerti maksud perkataan senior. Ketika memiliki pacar jelek semua, pasti akan mendapatkan istri cantik. Sayangnya mantanku cantik semua hanya saja mereka tidak memiliki d**a besar, ternyata istriku bisa menutupi kekurangannya dengan d**a besar." Cengir Arka dengan m***m. "Dasar m***m!" Nina menjadi marah dan mendorong kepala Arka hingga kena di kursi. "Jadi aku ini jelek?" "Tidak, hanya kurang dirawat saja. Aku maklum karena kamu masih belum paham skin care." Nina menatap marah Arka. Arka menggosok hidungnya yang gatal. "Nin." "Hm?" "Sepertinya nafsuku semakin naik." Nina hendak melepas tangannya lalu ditahan Arka dengan satu tangan. "Tetap seperti ini." perintahnya lalu membuka kemejanya sendiri. Nina terkejut, dia bisa melihat tubuh berbentuk Arka. "Tu- tunggu." Berbanding terbalik dengan Nina, Arka tidak memakai kaos dalam. Arka menarik tubuh Nina hingga tubuh mereka saling menempel, hanya dibatasi dengan bra. "m***m, hanya seperti ini saja kamu sudah-" "Tidak masalah, aku melakukannya dengan istri sendiri." Arka sangat menyukai sensasi permainan ini lalu menaikan bra Nina sehingga bagian depan tubuh saling menempel sesama kulit. Napas Nina mulai memburu, dia tidak tahu permainan apa yang akan dibuat Arka. Rok seragam Nina juga sudah naik ke pinggangnya. Arka mengeluarkan kejantanannya dan memasukan ke dalam celana Nina. "Ka!" Nina menjadi panik. "Aku tidak akan masuk." Kedua tangan Nina yang masih menutup mata Arka, sedikit membantu prosesnya sampai bagian bawah menempel ke bagian batang Arka. Mereka berdua tidak bergerak dan hanya saling menempel. Arka tidak berani bergerak karena tidak mau menyakiti Nina sementara kepala Nina menjadi kosong. Hanya sensasi seperti ini saja sudah membuat nafsu mereka memuncak dan tak lama terpuaskan. Sementara Jaka yang sudah sampai di rumah, langsung melihat layar komputer di dalam kamar dan memperhatikan file-file yang berhasil dicuri, tidak ada yang berarti, hanya masalah bisnis. Sepertinya nenek tua itu tidak percaya pada teknologi, ada keuntungannya juga. Jaka membaca file-file itu dengan bosan. Dia tidak tertarik masalah bisnis tapi setidaknya ada kelemahan yang bisa dicarinya dalam bisnis itu sehingga bisa mencari celah kesalahan mereka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN