LIMA BELAS

1034 Kata
Arka yang sedang asyik menangani klien via email, mendapat ketukan pintu. Dia menjawab tanpa mengangkat kepala. "Arka, kamu sudah dengar berita hari ini belum?" "Berita apa?" "Tsoejipto Group mengalami kerugian karena ada data yang bocor." Arka mengerutkan kening tidak mengerti. "Hah?" Bukannya Arka tidak paham dengan apa yang dikatakan rekan kerjanya, tapi dia tidak paham bagaimana group sebesar itu kecolongan? "Tadinya ada perusahaan dari Korea yang ingin kerja sama dengan membuat handphone di Indonesia, group itu menjamin pabrik pembuatan sekaligus ada salah satu prototype buatan pabrik itu tapi masalahnya sebelum pihak group menunjukan prototype yang berhasil setelah di uji coba, blue printnya malah bocor ke pesaing dan mereka mengumumkan terlebih dahulu." Arka mengangkat salah satu alisnya. "Bagaimana bisa bocor?" "Data mereka taruh di komputer lalu diretas hacker, sekarang lagi ramai jadi pembicaraan karena pihak perusahaan malah melontarkan kalimat konyol." Arka segera mencari di handphonenya dan ketemu. "Gila ya, padahal grup itu salah satu terbesar di Indonesia. Tidak, bisa saja peringkat satu." Arka menyisir rambutnya ke belakang. "Mereka tidak berani menyebut grup terbesar di Indonesia ataupun asia tenggara karena terhalang pajak, mereka lebih suka mengeluarkan uang untuk menyuap orang daripada membayar pajak." "Hati-hati, nanti ada yang menuntut kamu." Arka mengangkat kedua bahu dengan santai. "Faktanya memang begitu." "Mau fakta sejelas apapun, menjaga lisan jauh lebih baik." Arka mengibaskan tangannya. "Ya, ya." Rekan kerja Arka menggelengkan kepala lalu meninggalkan Arka sendirian di ruang kerjanya. Setelah rekannya pergi, Arka melihat saham di komputernya. Benar, saham keluarga dari pihak ayah menurun drastis karena kabar itu. Arka mengetuk jari di atas meja dan mulai menganalisa. Nenek bisa saja mulai semakin agresif menekan aku untuk menikahi kerabat Fumoshi itu, kerugian mereka tidak main-main apalagi jika harus menghadapi tuntutan dari perusahaan Korea yang besar itu. Nenek pasti tidak punya pilihan lain, mengingat beberapa kerabat lainnya tidak berguna. Arka menghela napas panjang lalu menghubungi istrinya. Nina harus diberitahu soal ini, dia bukan anak bodoh. Di jam istirahat, Nina melihat pesan yang sudah dikirim Arka. Jaka memperhatikan Nina sedang serius dengan handphone miliknya. "Ada apa?" Nina menyerahkan handphonenya ke Jaka, terlalu malas untuk menjelaskan. Jaka yang menerima dan membacanya, mengerutkan kening. "Kamu tahu soal ini?" "Apa?" "Ini adalah ulah kita, kita yang membuat mereka bangkrut. Kalau benar seperti yang dikatakan suami kamu, bisa saja kalian berdua berpisah." "Itu berarti dia bukan jodohku." Nina mengangkat kedua bahunya dengan santai. "Aku tidak mau memikirkan hal berat." Jaka menarik tangan Nina. "Kita masih SMA, kita sudah memikirkan sejak lama soal ini dan sekarang waktunya tapi kamu malah menikah dengan anak orang itu?" Nina menarik tangannya. "Ibu Arka selalu membantu mamaku, aku tidak bisa menolak. Kita tetap di rencana awal untuk balas dendam, kamu tidak perlu khawatir." "Aku tidak khawatir tentang kita, tapi aku khawatir tentang kamu." Nina baru menyadari, percakapan mereka berdua terlalu ambigu untuk di dengar orang lain, apalagi mereka bertengkar di depan kantin sekolah. Jaka yang menyadari mereka berdua menjadi tontonan orang-orang, menarik Nina untuk duduk di kursi kantin dan mulai memesan makanan, mereka berdua diam-diam sepakat tidak membahasnya di permukaan. ---------- Nenek Arka bersandar di kursi kerja kesayangannya lalu memejamkan mata. Coba dia ingat kembali, darimana semua ini berasal. Apakah sekarang semua kerabatnya menjadi tidak berguna? Hanya menjaga informasi saja sudah bocor kemana-mana. Kakek Arka duduk di sofa empuk sambil memegang tongkat jalan kesayangannya. "Karina datang hari ini?" "Ya." "Hendra, istrinya dan Ditya tahu hal ini?" "Tidak." "Kepala kamu sakit?" "Aku mulai memikirkan dimana letak kesalahan kita mendidik generasi muda? Kenapa justru yang aku harapkan malah tumbuh di luar keluarga kita?" "Harta bisa membutakan segalanya dan kita baru menyadari itu sekarang, tidak perlu menyesal. Cukup perbaiki saja masa depan." Nenek Arka tertawa muram. TOK! TOK! "Masuk!" perintah kakek Arka. Seorang sekretaris pria muda berusia awal tiga puluh masuk dengan sopan dan memberikan laporan. "Nyonya, nona muda Karina sudah datang." Nenek Arka bangkit dari kursi dengan wajah tidak sabar. "Suruh dia masuk!" Sekretaris itu mempersilahkan Karina masuk. "Nona, silahkan." Karina masuk dengan wajah gugup. "Hallo, selamat siang. Saya yang mengirimkan lamaran via email." Kakek Arka mengerutkan kening dengan bingung lalu menatap istrinya. Nenek Arka menyambut Karina. "Oh, my dear. Kamu cantik sekali, wajahnya mirip Hendra versi muda dan perempuan." "Anda mengenal ayah kandung saya?" Nenek Arka mendudukan Karina di sofa lalu dirinya duduk di samping sang suami. "Ne- maksudnya aku sudah melihat nilai sekolah kamu yang gemilang, pintar sekali. Aku jadi teringat dengan cucu yang suka membangkang." Karina tersenyum canggung. "Terima kasih." "Jadi, kamu hanya bekerja di sini selama satu tahun?" Karina mengangguk. "Apakah orang tua kamu setuju?" "Mereka setuju saya melakukan kerja part time asal memberikan nama perusahaannya." "Kamu sudah memberikan nama perusahaannya?" tanya nenek Arka. Karina menggeleng polos. "Belum, kalau saya diterima, saya akan beritahu kedua orang tua." "Kamu diterima!" Nenek Arka mengambil keputusan cepat. Kakek Arka terkejut sambil mengelus dadanya. "Kamu diterima, aku akan memberikan surat rekomendasi dan alamatnya. Berikan itu ke orang tua kamu tapi jangan beritahu yang sebenarnya." Karina mengangguk bingung. "Oke, kalau begitu. Besok kamu bisa mulai bekerja, jadi bersiaplah." Nenek Arka berdiri lalu berjalan ke mejanya dan menekan bel. "Jika ada yang kamu perlukan, kamu bisa bertanya kepada sekretarisku." Karina berdiri dengan bingung lalu mengikuti sekretaris. Ketika pintu ditutup, kakek Arka mengajukan protes. "Kali ini apalagi rencana kamu?" "Tidak ada, aku hanya kasihan kepada cucuku yang dididik keras." "Kamu mati-matian mengejar Arka dan sekarang kamu menyambut Karina? Apakah kamu ingin menjadikan mereka saingan?" "Kamu tidak suka wanita yang memimpin?" "Aku tidak keberatan, tapi-" "Aku juga tidak keberatan, apa salahnya membantu cucu kita. Bayangkan- Hendra sangat ingin anak-anaknya menjadi dokter hewan tapi ternyata Karina tidak ingin, kamu bisa baca resume-nya. Dia ingin menjadi dokter manusia." "Aku sudah membacanya." "Arka pintar dalam ekonomi lalu Karina pintar dalam kesehatan, menurut kamu bagaimana jika mereka bekerja sama?" "Tapi anak itu sudah mendaftar beasiswa di salah satu anak perusahaan kita." "Aku tahu tapi-" "Kita lihat dulu, masih terlalu dini untuk menilai mereka. Kamu urus masalah yang sekarang." "Satu-satunya cara yang aku bisa adalah menikahkan Arka dengan kerabat Fumoshi sehingga kita bisa meminjam uang kepada mereka. Arka sangat cerdik dalam menangani keuangan, mereka pasti suka dengan cucu kita." "Dia sudah menikah." "Apa salahnya? Arka hanya menikah di bawah tangan karena istrinya di bawah umur, wanita manapun tidak mungkin ingin kehilangan pria banyak uang."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN