Nina yang sudah pulang ke rumah setelah diantar Arka, langsung masuk ke dalam kamar dan membuka laptop. Ibunya sudah berangkat ke restoran sementara sang adik sudah berangkat sekolah, hari ini dia sengaja minta izin untuk tidak masuk sekolah karena harus menyelesaikan naskah.
"Mama tahu, Nina juga bekerja. Nina hanya butuh waktu satu hari untuk menyelesaikan naskah." Kata Nina setelah berusaha merayu Retno.
Retno tidak berdaya dan mengizinkan anaknya tidak masuk sekolah.
Sekarang rumah dalam keadaan sepi dan Nina sudah menyelesaikan beberapa proyeknya bersama Jaka.
"Kamu sudah mendata semuanya?" tanya Nina yang berkomunikasi dengan Jaka lewat w******p.
"Ya, aku juga sudah mencuri arsip mereka. Tadinya aku khawatir, mereka menjebak kita. Ternyata memang nenek peyot itu yang tidak tahu apa-apa."
"Anak buahnya pasti kelabakan, sebentar lagi mereka akan mendapatkan kontrak ratusan milyar. Tapi jika rancangan milik klien mereka bocor, otomatis pihak klien akan marah dan menuntut penjelasan ke Tsoejipto group."
"Para orang tua benar-benar mengabaikan teknologi zaman sekarang, aku sudah menghilangkan jejak- jadi kamu tidak perlu khawatir."
"Meskipun ketahuan, aku yang melakukannya. Si tua bangka itu tidak akan bisa berkutik di depan keluargaku, mama saja yang terlalu baik hati, tidak mau menuntut kerugian yang mereka buat." Nina melihat deretan angka dan grafik, melihat perkembangan saham salah satu anak perusahaan keluarga Tsoejipto yang diandalkan, akan menurun dratis. Menyenangkan juga.
"Mereka perusahaan besar, harusnya antisipasi dari jauh mengenai hal ini." Jaka mendecak kesal karena mendapatkan datanya sangat mudah. "Mereka mengeluarkan uang milyaran untuk menjaga data perusahaan, tapi malah bisa diretas dengan mudah."
Nina tertawa ironis. "Mereka memang perusahaan besar, tapi banyak pekerjanya yang bekerja tidak sesuai dengan standart. Contohnya saja ayah kandung Arka yang pemabuk, penjudi dan suka main dengan wanita malah dijadikan pewaris hanya karena dua anak tersisa tidak bisa dijadikan pewaris karena memberontak."
"Ah, aku mengerti sekarang. Yah, meskipun nanti akan lupa. Ngomong-ngomong, aku belum memberikan hadiah atas pernikahan kamu."
"Tidak perlu memberikan hadiah, ucapan selamat sudah cukup."
"Aku akan menjadi pria tidak tahu terima kasih jika tidak bisa memberikan hadiah untuk sahabat sendiri," kata Jaka.
Tak lama Nina mendapat notifikasi di handphone, kedua matanya terbelalak ketika membaca isinya. "Ini serius? Bagaimana bisa kamu mendapatkan kontrak untukku?"
"Website di luar memiliki pembaca loyal, aku sudah mengajukan naskah kamu dan mereka menerimanya lalu ada uang juga yang nanti ditransfer setelah kamu menyelesaikan beberapa kata di dalam kontrak."
"Novel mana yang kamu ajukan?" tanya Nina penasaran. Penyelesaian bab, dia bisa mendapatkan uang seribu dollar.
"Novel erotis mengenai siluman serigala dan manusia." Tawa Jaka.
Nina memutar bola mata.
--------------------------
"BAGAIMANA BISA KALIAN MENGATASI HAL INI?!" teriak nenek Arka sambil melempar dokumen di atas meja rapat dengan emosi. "Mereka menuntut kita karena kebocoran data ke pesaing, dan akhirnya pesaing mengumumkan proyek ini terlebih dahulu, ditambah dengan komposisi yang lebih canggih!"
Yang dibicarakan sekarang adalah handphone merek korea yang akan bekerja sama dengan Tsoejipto Group untuk merakit komponen dan mendistribusikannya, ternyata data itu bocor ke perusahaan pesaing Korea itu, mereka rugi puluhan trilyun sementara Tsoejipto group kehilangan uang ratusan milyar, tidak menutup kemungkinan perusahaan Korea itu akan menuntut group mereka.
"Tante, jangan khawatir. Jika tante menambahkan suntikan dana untuk kami, kami akan melakukan upaya besar untuk mengamankan data."
Nenek Arka menatap tajam keponakannya. "Apakah kamu tidak bisa berpikir jernih lagi? Data sudah dicuri dan apa yang harus kita lakukan? Kenapa kamu sangat bodoh? Tidak bisa menangani semuanya dengan benar?"
"Tante, saya sudah memberikan surat peringatan kepada mereka yang sudah mencuri data kita melalui pengumuman di web."
Nenek Arka berdiri dan melotot marah ke keponakannya. "APA?!"
Sementara Nina dan Jaka tertawa geli ketika membaca pengumuman dari web perusahaan.
If you can, don't attack.
"Apakah mereka badut sirkus? Mereka menjadi petinggi di perusahaan besar?" tanya Jaka sambil tertawa.
Nina akhirnya paham kapasitas orang-orang yang melakukan korupsi dan kolusi atau bisa juga suap, ternyata mereka berotak badut. Orang-orang yang melindunginya pun sama.
"Mereka ingin kaya instan tanpa memiliki kemampuan, seharusnya kita tidak perlu terkejut. Tapi tetap saja kita harus tertawa melihat balasan mereka." Tawa Nina, lalu bertanya ke Jaka. "Apakah tidak ada serangan balik dari mereka?"
"Tidak ada." Jawab Jaka singkat.
Sementara di ruang rapat, nenek Arka bersandar di kursi empuk kesayangan sambil memijat keningnya.
"Tante, kami tidak bisa bertindak jika tidak diberikan tambahan anggaran."
"Berapa anggarannya?"
"Dua puluh triliun." Keponakan nenek Arka buru-buru menjelaskan, sebelum diomeli neneknya. "Untuk kebutuhan transformasi digital, termasuk penataan spektrum jaringan internet 5G."
Accounting tidak setuju dengan permintaan keponakan nenek Arka. "Tahun depan, anggaran kita tidak bisa sebanyak itu, mengingat kita akan menghadapi tuntutan kerugian dari perusahaan Korea ini."
Nenek Arka bertanya pada keponakannya. "Tidak bisa mengurangi anggaran? Uang sebanyak itu terlalu berlebihan untuk menjaga dokumen. Kenapa sih di zaman sekarang harus memakai komputer untuk arsip? Jadinya dicuri dengan mudah."
"Tante, jangan emosi. Kami sudah melakukan perhitungan, tapi memang untuk mendapatkan harga minimal dan perlindungan pas, harus mengeluarkan dana segitu. Bayangkan tante, uang segitu hanya seujung kuku, jika bisa menyelamatkan data proyek lainnya."
Nenek Arka menatap sangsi keponakannya. "Lalu, apa yang kamu lakukan sekarang dengan kerugian kita? Sekarang kamu malah mengirimkan pesan konyol lewat web perusahaan!"
"Aku pikir, itu jalan terbaik. Jika mereka membenci kita, tidak perlu melakukan hal itu, apalagi mencuri data penting kita. Kita harus bertarung secara fair, adil." Kata keponakan nenek Arka.
Semua orang di dalam ruang rapat, bengong begitu mendengar penjelasan bodoh dia. Mereka semua tahu bagaimana liciknya dunia bisnis, Soetjipto group tidak luput dari hal itu, tapi menyuruh penjahat lain bertobat sementara dirinya adalah penjahat- apakah itu masuk akal?"
Nenek Arka tidak mau mendengar penjelasan bodoh lagi, lalu memberikan keputusan kepada tangan kanannya. "Cari orang yang paham mengenai hal ini dan juga telusuri pelakunya, aku ingin pelaku itu mendapat hukuman keras!"
"Jika kita sudah menemukannya, apakah anda akan menuntutnya?" tanya tangan kanan nenek Arka.
"Tentu saja, pelakunya pasti lawan bisnis kita dan menyusup ke tempat kita. Selidiki juga bagian internal dan orang-orang kita yang terlibat dalam proyek." Jawab nenek Arka lalu mengalihkan tatapannya ke direktur rancangan. "Bekerja sama dengan tangan kananku, untuk mencari pelakunya."
"Baik, nyonya."
Accounting bertanya kepada nenek Arka. "Bagaimana dengan kompensasi yang mereka minta?"
"Kita sudah mengeluarkan dana yang cukup banyak, bahkan kehilangan kontrak kerja sama. Nominalnya ratusan milyar, apalagi yang harus kita berikan kepada mereka?"
"Mereka juga rugi dan nominalnya lebih besar dari kita, bahkan sudah ada surat perjanjian sebelum tanda tangan kontrak. Kita akan diam saja?"
"Aku lebih suka kita mengabaikan hal ini. Jika mereka ingin menuntut lebih jauh, tinggal menemui seseorang yang bisa menghalangi hak izin penjualan mereka di Indonesia." Nenek Arka berdiri dengan susah payah, lalu menatap tegas para bawahannya. "Aku tidak ingin kasus ini terulang kembali."
Semua orang berdiri dan menjawab bersamaan. "Baik, nyonya."