TIGA BELAS

1139 Kata
Nina terbangun dan melihat Arka masih tidur pulas, hari ini dia sudah minta izin ke mamanya untuk tidak masuk sekolah. Dia sudah menikah sekarang, pria di hadapannya adalah seorang suami tapi dia tahu tidak akan bisa mengandalkan hidup ke pria ini. Arka membuka mata perlahan karena merasakan sesuatu di pipinya. "Mhm?" Nina menatap dingin Arka. "Sudah bangun?" Arka menatap sebentar lalu menarik Nina masuk ke dalam pelukannya. "Jam berapa ini? Tidur lagi saja." Nina mendorong Arka. "Kamu tidak kerja?" "Kerja dan tidak kerja sama saja, aku tidak akan jatuh miskin." Arka bangun dan langsung masuk ke kamar mandi. Nina menatap rumit Arka lalu tiba-tiba mengikutinya dari belakang dan masuk ke dalam kamar mandir. Arka yang sedang membuka piyama tidur, terkejut. "Hei!" "Jangan mengambil alih perusahaan." "Hah?" "Mereka membunuh banyak orang, jangan diambil." "Apa maksud-" "Kamu tahu alasan kenapa nenek kamu tidak pernah bisa menyentuh mama dan aku?" "Yah, karena ayah kandung kamu pergi dari rumah dan hidup bersama wanita lain, meninggalkan kalian bertiga." Nina tersenyum sedih lalu meninggalkan kamar mandi. Arka merasa ada yang aneh lalu mengejar Nina sebelum keluar kamar. "Ada apa? Ada sesuatu yang aku tidak tahu?" Nina menatap tangan Arka yang memegang lengan tangannya. "Tidak sekarang." "Apa?" "Aku tidak bisa mengatakannya karena ini masih rahasia, tapi kamu akan mengetahuinya jika kamu bertanya kepada nenek." "Aku tidak paham, apa yang sudah dilakukan keluarga ayahku? Bukankah ibu kita berdua bersahabat baik?" "Ya. Cepat mandi sana, habis ini aku mandi." Nina mendorong mundur Arka sampai ke kamar mandi. Setengah jam kemudian. Nina dan Arka turun dari lantai dua dan melihat Mika sudah menyiapkan berbagai macam makanan di atas meja dengan bantuan pelayan di rumah. Nina melirik kaki Mika yang pincang lalu ke Arka yang berdiri di sampingnya. "Arka, Nina. Selamat pagi." Sapa Ayu dengan riang lalu duduk di kursi dan melihat meja makan yang berlimpah makanan. "Apakah kamu menyiapkan ini semua, Mika?" Arya yang baru datang, bergegas membantu istrinya menata meja makan sementara Arka membantu Nina duduk. Ayu menatap kasihan Mika. "Mika, duduklah. Di rumah kamu bisa santai tanpa memikirkan apapun, ibu juga tidak terlalu memberatkan kamu melakukan ini." Mika duduk dengan bantuan suami. "Tapi tetap saja tidak enak bangun siang tanpa membantu rumah, tugas istri adalah mengurus suami dan juga keluarganya." Nina mengambil makanan untuk bagiannya sendiri. Mika yang melihat itu, menegurnya. "Nina, Arka bisa kamu ambilkan makanan dulu sebelum kamu. Biar bagaimanapun, dia harus berangkat kerja." Nina menaikkan salah satu alis lalu menoleh ke Arka. "Kamu punya tangan, bukan?" Arka menatap bingung Nina lalu mengangkat kedua tangannya ke udara. "Ada." "Kalau begitu, bisa ambil sendiri makanannya 'kan? Atau suamiku ini kelelahan karena semalam beraktifitas berat?" tanya Nina lalu mengambilkan nasi goreng yang banyak untuk Arka. "Sepertinya memang suamiku, butuh perawatan banyak untuk stamina yang besar." Ayu dan Arya berdehem malu sementara Mika bengong mendengar serangan dari Nina. Arka menghentikan Nina. "Aku bisa ambil sendiri, istriku pasti kelelahan semalam." Nina tersenyum lebar lalu meletakkan sendok di atas piring Arka dan mulai mengambil lauk untuk dirinya sendiri. Mika tersenyum kecil. "Arka, istri kamu lucu ya. Yah, mungkin karena anak kecil jadinya kurang paham merawat suami." Nina menjawab dengan santai. "Aku memang tidak bisa merawat suami karena kami baru menikah dan dia lebih tua dariku, tapi aku berpengalaman di tempat tidur." Arka tersedak makanan. Ayu tertawa geli. "Astaga, Nina. Jangan bilang begitu, tidak baik." Nina menatap manja ibu mertuanya. "Tapi inikan di depan keluarga, kakak ipar juga kepo dengan hubungan kami." Dia mengalihkan tatapannya ke Mika. "Kakak ipar tidak perlu khawatir, suamiku tidak galak kok, hanya garang di tempat tidur." Arya menahan tawa. Arka melotot ke Nina sementara Nina tidak peduli dan melahap makanannya. Mika mengatasi emosinya lalu tertawa canggung. "Sepertinya adik ipar lebih paham masalah ini daripada kami. Arka, kamu pasti bahagia punya istri sepertinya." Arka menjawab dengan santai. "Tentu saja." Mika berdehem dan sepertinya tidak mau mengakui kekalahan. "Tapi melayani suami tidak hanya di tempat tidur, perut pun juga harus dipuaskan. Benar bukan ibu?" Ayu mengangguk. "Ya." Nina memiringkan kepalanya dengan santai. "Mamaku bisa masak, untuk apa repot-repot aku yang masak?" "Tapi tidak baik mengandalkan orang yang lebih tua, kita harus mandiri dan bisa mengurus semuanya sendirian." Nina tidak suka dengan ide konyol itu. "Maksudnya, aku harus mengurus suami saja di rumah, tanpa bekerja mendapatkan uang?" "Bukan begitu. Sebagai istri, kita harusnya bisa membagi waktu dan kalau bisa lebih baik fokus mengurus suami, mendapatkan uang hanya selingan saja. Nina, jika kamu lulus sekolah. Pasti bisa mengerti apa yang aku katakan." "Seolah aku tidak punya otak sekarang hanya karena masih sekolah?" tanya Nina dengan kasar. "Kakak ipar tumbuh di keluarga harmonis dan tidak perlu memikirkan uang, tapi bagaimana dengan keluargaku dulu yang ditinggalkan kepala keluarga hanya demi wanita lain?" Mika menggigit bibir bawahnya dengan canggung. "Itu- aku tidak bermaksud menyinggung hal lain tapi-" "Masing-masing orang memiliki masalah sendiri, tidak bisa disamaratakan dengan masalah orang lain. Sejak kecil, aku sudah belajar mandiri untuk mencari uang, aku tidak mau di masa depan ketika Arka selingkuh, aku mengandalkan hidupku kepadanya." Arka menepuk kepala Nina. "Aku tidak akan selingkuh." Nina menepis tangan Arka. "Ada mantan yang masih mengharapkan kamu, Ka. Aku bukan indigo yang bisa melihat masa depan apa yang aku lalui nanti." Arka menghela napas panjang. "Aku punya banyak mantan, kamu bisa menyebutnya sekarang di sini, istriku. Mantan mana yang sampai membuat istri tercintaku mengamuk seperti ini." Mika menjadi panik. "Nina, maaf membuat kamu tersinggung. Aku tidak bermaksud menyakiti hati kamu. Maaf." Nina menatap lurus Mika. "Kakak ipar, tidak perlu perkataan maaf untuk hal yang kakak tidak ketahui letak kesalahannya di mana." Arya meletakkan sendok dan garpu. "Mika, katanya kaki kamu sakit. Pergilah ke kamar dan bawa makanan kamu." Mika ingin menolak tapi ketakutan melihat sorot mata suaminya, dia mengalah dan pergi ke kamar dengan bantuan pelayan. Setelah suara pintu kamar ditutup terdengar. Arya minta maaf ke Nina. "Kita semua memiliki masa lalu tidak menyenangkan, karena itu tolong jangan diungkit kembali, Nina. Aku minta maaf jika istriku terlalu ikut campur dengan rumah tangga kalian. Aku merasa malu." Ibu Arka dan Arya yang duduk di kursi di kepala meja, menggenggam tangan kedua putranya di masing-masing sisi. "Kalian berdua jangan bertengkar lagi, kalian adalah adik dan kakak. Nina juga tahan emosi ya, meskipun Nina masih sekolah, bukan berarti bisa bebas mengatakan hal seperti itu. Biar Arya yang menegur istrinya." Nina tersenyum dan berkata ke Arya. "Kakak, Nina juga minta maaf jika menyakiti hati kakak. Tapi Nina tidak akan minta maaf ke istri kakak mengingat dia berusaha ikut campur ke dalam rumah tangga aku. Lain lagi jika ada orang bodoh yang ingin kembali ke masa lalu indah." Arka memutar bola mata lalu menepuk kepala Nina. "Jika aku ketahuan selingkuh, kamu bisa menuntut aku." Nina menjawab dengan santai. "Kita hanya menikah di bawah tangan, jadi tidak ada perlindungan hukum untukku. Setidaknya aku sudah menyiapkan hati." Arka, Arya dan ibu mereka tanpa sadar sudah melupakan point itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN