BAGIAN-03

1326 Kata
Setelah mengantar Bintan pulang, El mendapat pesan dari teman-temannya kalau malam ini mereka sedang mengadakan party di salah satu club ternama di kota itu. Tentu saja El tidak menolak. Bagiamana mungkin El menolak ajakan yang membawanya pergi ke dunianya. Dunia party dan clubbing. Minuman-minuman, rokok dan wanita-wanita yang selalu membuat malamnya terasa indah. Setelah memarkirkan mobilnya, El segera turun dan masuk ke dalam club tersebut, Baru beberapa langkah dia masuk ke dalam club itu, perempuan dengan pakaian mininya menghampiri El. Siapa lagi kalau bukan Daniella. Perempuan yang selalu menemaninya clubbing dan selalu menjadi sasarannya saat nafsunya sudah tidak bisa dia tahan lagi. Perempuan seperti Daniella adalah perempuan yang di cari-cari oleh laki-laki sejenis dengan El, perempuan bebas sentuh kapan aja. Suara dentuman musik terdengar begitu nyaringnya. Beberapa orang sibuk menari-nari di dance floor, ada yang sedang bermesraan di sudut, dan ada yang sekedar duduk sembari menikmati minuman beralkohol itu. Dan El lebih memilih duduk sembari menikmati minumannya, dengan Daniella yang sedang duduk di pangkuannya sembari bermanja-manja dengan tubuh laki-laki itu. Tidak segan-segan Daniella mencium El dan sebaliknya, El juga tidak segan-segan untuk mencium wanita itu. Tidak ada sedikitpun beban di hidup El. Bahkan saat dia sudah masuk ke dalam dunianya ini, nama Bintan selalu pudar. Tak sedikitpun nama Bintan terlintas di pikirannya. Dunianya ini jauh lebih menarik daripada kekasihnya itu. "Loe mau nambah lagi?" ucap Daniella sedikit berteriak karena suara musik sangat mendominasi ruangan ini. El hanya mengangguk, dan Daneilla segera menambahkan minuman di gelas El. Daniella menarik El ke dance floor club itu. El dan Daniella bergerak mengikuti irama musik yang sangat cocok untuk party seperti sekarang. Tubuh seksi Daniella seakan menghantui El. Dengan bebasnya dia menyentuh tubuh perempuan itu sembari sesekali menghembuskan asap rokok tepat di wajah Daniella. Jika Bintan membenci asap rokok, Daniella justru menikmatinya. Daniella juga tipe cewek perokok aktif. "Thank You," bisik El tepat di depan telinga Daniella. Laki-laki itu semakin mendekat ke wajah Daniella, dan kemudian bibirnya berakhir di bibir tipis dan merah milik Daniella. Tangan El dengan leluasa menyentuh bagian apapun yang ada di tubuh gadis itu. Bahkan El tidak akan ragu kalau malam ini dia akan menyalurkan nafsunya bersama dengan Daniella. Perempuan itu terlalu menggoda untuk El. Sebelum hal itu terjadi, tiba-tiba saja ada seseorang yang menarik El menjauh dari perempuan itu. Ya, dia Aldo. Teman yang bisa di katakan lebih mengenal El luar dan dalam di banding teman-teman El lainnya. "Apaan sih, Loe?!" El melepaskan tangan Aldo kasar, "Loe ganggu gue!" "Loe yang apaan?!" balas Aldo dengan suaranya yang keras dan sedikit membentak, "Mungkin kalau gue gak narik loe tadi, udah terjadi hal-hal yang gak pantas tau gak!" El tertawa meremehkan. Entah apa yang lucu dari perkataan itu, Aldo juga jadi bingung sendiri, "Gak usah munafik loe! Tempat ini, tempat buat kita bebas melakukan apapun! Emang siapa yang ngelarang?" Aldo berhasil menggelengkan kepalaya tidak habis pikir dengan sahabatnya yang satu ini. Sebandal apapun dia, tapi setidaknya dia tidak seberengsek El, "Loe lupa kalau loe punya Bintan? Loe gila tau gak, El! Gue bahkan gak tau gimana ekspresi pacar loe itu, kalau dia tau kelakuan pacarnya di sini kayak apa!" "Loe kok jadi sok benar gini sih, Do?" El maju satu langkah untuk menantang Aldo, "Loe iri sama gue? Loe iri karena gue bisa dapati cewek-cewek seksi di sini? Loe iri karna gak bisa ngelakuin seperti apa yang gue lakuin?" Kini Aldo yang tertawa meremehkan El, "Gue iri sama loe?" ucapnya, "Gak sedikitpun! Gue hanya kasihan ngelihat Bintan yang punya pacar b******k kayak loe!" Setelah itu Aldo meninggalkan El. Dia sudah tidak peduli lagi dengan keadaan El yang mabok, dan bagiamana caranya laki-laki itu pulang. El sudah benar-benar menguji kesabaran Aldo yang mungkin sebentar lagi akan habis. Setidaknya Aldo sudah menasehati sahabatnya itu. Dan apapun yang terjadi nanti, itu bukan lagi urusannya. ****** Elnathan Putra Wijaya. Anak tunggal dan pewaris semua harta milik pengusaha sukses dan terkenal, Ryan Arnold Wijaya dan istrinya Meyrin Kartika. Laki-laki yang dapat di katakan memiliki segalanya di umurnya yang terbilang cukup muda. Dia sudah di buati rumah oleh kedua orang tuanya. Dia memiliki apartemen mewah yang tak tanggung-tanggung harganya. Dia memiliki mobil yang juga tidak bisa di hitung dengan jari harganya. Dia bisa memiliki apapun yang dia suka. Dan dia juga bisa melakukan apapun yang dia cintai. Clubbing adalah duniannya. Bahkan hampir setiap malam El datang ketempat itu. Apapun yang dia suka bisa dia lakukan di sana. Minum minuman beralkhol, merokok dengan bebasnya dan bermain-main dengan perempuan-perempuan seksi. Cukup pas jika dia di nobatkan sebagai laki-laki bad boy. Karena El semalam minum terlalu banyak hingga dia mabok, pagi ini sangat sulit baginya untuk membuka kedua matanya. Kepalanya terasa sangat pusing dan ingin rasanya dia muntah jika dia bergerak sedikitpun. Tapi apapun yang terjadi, dia harus pergi ke sekolah. Dia harus mengumpulkan kehadiran sebanyak-banyaknya, berhubung karena dia sudah kelas tiga SMA yang sebentar lagi akan di perhitungkan kelulusannya. Hanya butuh waktu dua puluh menit untuk El menyiapkan semuanya. Setelah itu dia bergegas turun ke bawah menghampiri kedua orang tuanya yang sedang menikmati sarapan mereka pagi ini. El tidak terbiasa sarapan. Jadi dia memilih untuk langsung pergi ke sekolah tanpa berpamitan terlebih dahulu. Berpamitanpun tidak ada gunanya, karena kedua orang tuanya sedang sibuk mengurusi pekerjaan mereka walau di meja makan sekalipun. Setelah menghabiskan kurang lebih setengah jam di perjalanan, akhirnya El sampai di sekolah sepuluh menit sebelum bel berbunyi. Dia mengedarkan pandangannya mencari teman-temannya yang tidak terlihat sedari tadi. Matanya justru menangkap sosok wanita yang sedang berjalan cepat dengan berbagai macam barang-barang di genggamannya. Bintan. Wanita itu sedang sibuk mengejar waktu untuk mengumpulkan tugas-tugasnya ke ruangan guru. Tapi karena terlalu terburu-buru, gadis itu tersandung dan akhirnya terjatuh. Semua barang-barangnya jatuh berserakan. El dengan cepat menghampiri Bintan dan membantu perempuan itu. Kening El berkerut saat melihat benda-benda yang Bintan bawa, "Loe ngapain bawa alat lukis?" tanya El heran. Berpacaran tiga tahun dengan Bintan, tidak membuat laki-laki itu mengetahui semua tentang perempuan itu. Dan Bintan kecewa dengan hal itu. "Makasih." Bintan mengambil alih barang-barangnya, tanpa menjawab pertanyaan dari El. Melihat Bintan yang tidak menjawab pertanyaan, membuat El kesal sendiri. Dia mencekal pergelangan tangan Bintan saat wanita itu hendak pergi meninggalkannya. "Gue tanya, kenapa loe bawa alat-alat lukis kayak gini?!" Bintan sungguh menguji kesabaran cowok itu. Bintan menghela nafasnya, "Ada yang salah emang? Gak aneh kan kalau gue bawa alat-alat lukis?" "Loe masuk kelas seni?" tanya El sembari menatap Bintan dengan tatapan yang sulit untuk di artikan. Tatapan tidak suka, mungkin? "Kenapa emang? Salah kalau gue masuk kelas seni?" "Kenapa loe gak pernah bilang sama gue?!" Karena loe gak pingin tahu semua tentang gue, El! Gue bukan yang pertama buat loe! Dan semua yang gue lakuin itu sama sekali gak berarti buat loe! "Harus?" El diam sejenak. Tatapannya kini berubah menjadi tatapan mematikan. Dan jika kalian tanya apakah Bintan takut? Jawabannya biasa aja. Karena memang itu sudah jadi hal yang biasa. Di bentak, di marahi sesukai hati, itu sudah menjadi santapannya. "Jangan buat gue marah, Bintan!" ucap El penuh penekanan. Bintan membalas El dengan senyumnya, "Apa yang gue lakuin sampai buat loe marah? Loe lagi nanyak dan gue jawab. Terus apa yang salah? Jawaban gue?" "Gue gak suka loe masuk ke kelas seni!" "Tapi gue suka." jawab Bintan tenang, "Gue gak pernah ngelarang loe untuk ngelakuin hal yang loe suka El, dan gue harap loe juga gak akan ngelarang gue ngelakuin hal yang gue suka." El terdiam. Laki-laki itu masih tetap diam sampai dia menyadari kalau Bintan sudah tidak ada lagi di hadapannya. Gadis itu berlalu dengan langkahnya yang terburu-buru. "Bintan gak pernah ngelarang loe main sama cewek lain, Sob. Terus ngapain loe ngelarang - larang dia?" celutuk Galen yang tiba-tiba saja sudah ada di sampingnya. "Banyak omong loe!" balas El yang kemudian berlalu meninggalkan Galen yang sedang menggelengkan kepalanya heran. "Kenapa sih Bintan betah banget sama sih El yang jelas-jelas player. Kenapa gak sama gue aja coba? Gak ganteng emang, tapi setia." gerutunya sembari berjalan menyusul sahabatnya, El. SEKIAN DAN TERIMA KASIH. I HOPE YOU LIKE IT!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN