BAGIAN-04

1760 Kata
Bintan menghela nafasnya lega saat semua tugas-tugas keseniannya sudah dia kumpulkan. Dia meletakkan bokongnya di salah satu kursi di aula sembari memejamkan matanya sejenak. Dia mengingat kembali perdebatan kecilnya dengan El, tadi. Wanita itu kepikiran dengan sikap El yang tidak menyukai dirinya bergelut di bidang seni. Adakah yang salah? Pertanyaan itu yang sedari muncul di benaknya. Lagi-lagi Bintan menghembuskan nafasnya lelah. Dia memutuskan untuk tidak masuk ke jam pelajaran pertama karena memang moodnya untuk belajar fisika pagi ini hilang begitu saja. Bukan hanya pagi ini, tapi pagi-pagi setelah ini atau sebelum ini. Kedua matanya fokus ke salah satu grand piano putih yang ada di tengah-tengah panggung aula itu. Piano itu cukup menarik perhatian Bintan, hingga dia berjalan mendekati piano itu. Sampai dia duduk di kursi piano tersebut, tidak ada yang dia perbuat selain diam menatap tuts-tuts putih itu. Dia diam bukan karena dia tidak tahu bagaimana cara bermainnya. Tapi ada sedikit keraguan di hatinya. Entah ragu dalam hal apa, dia sendiri juga tidak mengetahuinya. Namun di detik berikutnya, jari-jari tangan Bintan menari-nari di atas tuts itu sehingga menghasilkan melodi indah dari sebuah lagu favoritenya. True Colors milik Anna Kendrick dan Justin Timberlake. Bintan ikut bernyanyi sembari menghayati lagu itu. Setelah dia selesai, secarik senyuman muncul di sudut bibir wanita itu. Dia baru sadar kalau dia sudah sangat lama tidak bermain alat musik bermelodi itu. Untung saja dia masih ingat teknik-tekniknya. Andai saja orang tuanya tidak memaksakan kehendak mereka untuk menjadikan Bintan seorang dokter, saat ini juga dia akan menggeluti musik dan meraih suksesnya dengan musik. Tiba-tiba saja dia teringat El. Beberapa bulan yang lalu dia tidak sengaja melihat El yang sedang serius memainkan piano di dalam aula ini juga. Wajah laki-laki itu kelihatan sangat sedih dan kalau Bintan tidak salah lihat, El tengah menangis. "Gue cari-cari dari tadi, eh taunya loe di sini." Bintan sedikit terkejut mendengar orang yang tiba-tiba saja berbicara. Dia menoleh dan mendapati Karin yang tengah mendekat ke arahnya. "Ngapain sih loe di sini? Habis main piano?" tanya Karin penasaran.. Bintan mengedikkan bahunya, "Loe kok bisa di sini? Gak masuk kelas?" bukannya menjawab, Bintan balik bertanya. Karin berjalan dan menggeret salah satu kursi ke samping Bintan. Perempuan itu kemudian meletakkan bokongnya di sana dan menatap Bintan dengan tatapan yang entah apa artinya. "Loe kenapa, Rin? Ada masalah?" "Gak ada." jawab Karin. "Lah terus kenapa muka loe kayak gitu?" Karin menggelengkan kepalanya, "Gak kenapa-napa. Bawel banget sih loe, Ah!" Bintan mengernyit bingung. Dia yakin sebenarnya ada yang ingin di sampaikan Karin kepadanya. Tapi ya sudahlah, Bintan juga bukab tipe orang yang kepingin tahuannya tinggi. Bintan bangkit berdiri sembari melirik ke arah arlojinya, "Udah yuk cabut. Udah mau Bell. Gue lapar mau makan." Bintan berjalan mendahului Karin yang sekarang tengah menghembuskan nafasnya frustasi. ****** Mendengar suara Bell berbunyi, El dan teman-temannya langsung berjalan menuju kantin. Tawa mereka terdengar di sepanjang jalan karena hal-hal lucu yang yang mereka ceritakan tentang berbagai hal. Banyak kaum hawa yang tiba-tiba saja berhenti melakukan aktivitas mereka saat lima cowok most wanted di sekolah jalan melewati mereka. Lebih tepatnya mereka mengagumi El yang gantengnya luar biasa. Apa lagi saat laki-laki itu tertwa. Semua wanita bisa-bisa pingsan di tempat. Seperti biasa, mereka berlima duduk di bangku kebangsaan mereka yang tidak ada satu orangpun yang berani menempatinya. Lagi-lagi suasana kantin berubah menjadi riuh ketika lima laki-laki itu datang. "Berasa artis gua." celutuk Galen sembari menyisir rambutnya ke belakang dengan jari-jari tangannya. Bergaya sok cool. "Idihhh? Loe mah gak di perhitungkan!" balas Revan menentang omongan Galen, "Yang ada mereka semua terpesona ngelihat tampang gue yang gak kalah saing sama Justin Bieber." Satu sedotan melayang tepat di wajah Revan, "Ngaca loe! Muka sebelas dua belas sama kuda nil aja bangga!" ingin rasanya Sandi muntah di wajah temannya itu saat ini juga. Aldo dan El hanya bilang menggeleng pasrah mempunyai teman-teman yang gak waras seperti mereka, "Nasib gue punya teman yang gak waras kayak loe bertiga." ujar El. "Gak papa gak waras, yang penting GANTENG!" jawab Galen percaya diri. Saat mereka sedang asik-asiknya bercanda, tiba-tiba saja tiga cewek yang sangat mereka kenal datang menghampiri mereka. Ya, Bintan, Bella dan Karin. Bukan Bintan yang inginkan ini, tapi Karin. "Haiii!!" sapa Karin dengan suara khasnya. Suara yang masih sangat mirip dengan anak-anak itu justru hal yang menarik dari wanita itu. "Kamu ngapain ke sini, Rin?" tanya Aldo bingung. Karena biasanya Karin jarang mau menghampiri Aldo di kantin. Karin menyengir kuda, "Kita gabung boleh, Ya? Gak ada bangku lagi soalnya." mohon Karin. Bintan dan Bella benci saat ini. Terutama Bintan. Pandangannya sedari tadi hanya tertuju ke tempat lain tanpa berniat memandang lima laki-laki itu, termasuk El. "Boleh lah! Dengan senang hati." sambung Revan sembari menyediakan tempat untuk ketiga wanita itu. Karin tersenyum bahagia dan langsung duduk di samping Aldo. Sedangkan Bella duduk di samping Galen, dan Bintan terpaksa duduk di samping Bella yang langsung berhadapan dengan kekasihnya, El. Akward. Suasana mendadak jadi hening sama seperti di kuburan. Suasana itu lebih tepatnya hening karena di meja yang sama ada dua kekasih yang semua orang tau bagaimana hubungannya. Ya, Bintan dan El sedari tadi hanya diam. Kalau El sedang sibuk dalam diamnnya, Bintan justru sibuk dengan ponselnya. Detik ini tidak ada yang lebih menarik dari ponselnya. "Hehem!" Sandi bersuara untuk mencairkan suasana, "Kok jadi aneh gini ya suasana meja gue?" "Ha? Meja loe? Yakin sanggup beli satu meja ini?" respond Galen, "Utang aja belom lunas." sambungnya. "Eh, mulut loe di jaga! Sejak kepaan gue punya utang," ucap Sandi yang pura-pura lupa mengenai utangnya kepada Galen. "Utang loe beli martabak, Anying!" "Lah? Itu mah udah lunas." "Pala loe botak!" Hanya ada suara Galen dan Sandi di sana. Yang lain hanya diam sembari menggeleng-gelenglan kepala heran dan malu punya teman sinting kayak mereka. Kalau Karin sedang bercanda dengan Aldo, beda halnya dengan Bintan dan El yang masih diam-diaman. Mereka diam bukan karena masalah tadi pagi, tapi memang mereka bukanlah pasangan yang terbilang dekat. Dan itu karena El. "Udahan romantisnya, Do! Ingat sih Bella jomblo." celutuk Revan yang sejujurnya iri dengan Aldo yang sudah mempunyai pacar sedangkan dirinya belum sama sekali. Bella yang merasa namanya di sebut-sebut, tak terima, "Woii, selow dong, Loe! Biarin gue jomblo, yang penting BAHAGIA!" Bella memebesarkan suaranya di kata terakhir sembari melirik Bintan. Karena sebenarnya kata-kata itu dia ucapkan untuk menyindir Bintan. Bintan yang kebetulan peka hanya membalasnya dengan sikap yang tidak peduli. Sudah biasa baginya kala Bella berkata-kata menyindir hubungannya. "Wihhh! Gue like kalau kayak gini!" Galen bertepun tangan berlebihan mendengar ucapan Bella, "Baru loe cewek yang gue jumpai, kalau jomblo itu bahagia." sambungnya. "Emang kalau gue pacaran, bisa menjamin gue bahagia, Ha?" tanyanya, "Boro-boro bahagia, ntar kerjaan gue nangis setiap saat." "Nahhh!!!" gue lebih setuju lagi kalau itu," ucap Galen lagi meladeni ucapan Bella. Sebenarnya dia tau kalau Bella bermaksud untuk menyindir Bintan, "Dan kalau loe pacaran sama gue, gue jamin loe bahagia hidup dan mati." Setelah mengatakan kata-kata yang terdengar sangat alay itu, Galen langsung di lempar dengan benda-benda apapun yang ada di sana oleh teman-temannya. "Najong, Anjirrr!" ucap Sandi yang benar-benar jijik mendengar ucapan Galen. "Mendingan gue pacaran sama kakek-kakek dari pada pacaran sama laki-laki yang jenisnya kayak loe," ujar Bella. "HAI SEMUA!!!" Tawa mereka tiba-tiba saja terhenti saat mendengar sapaan itu. Bukan sapaannya, tapi orangnya. Tiba-tiba semua lirikan menuju ke arah Bintan. Ya, Daniella dan teman-temannya tiba-tiba saja datang tanpa beban sedikitpun. Perempuan itu langsung duduk di samping El dan langsung bermanja-manja di lengan laki-laki itu. Tidak ada yang bersuara. Mereka semua yang ada di sana hanya diam sembari was-was, apa yang akan terjadi setelah ini. Bintan yang langsung berhadapan dengan Daniella dan El, sejujurnya ingin sekali marah sekaligus menangis, mengingat El sama sekali tidak menolak tindakan Daniella itu. Apakah wajar seorang laki-laki bermesraan dengan wanita lain di depan pacarnya sendiri? Bintan mencoba untuk menguatkan dirinya. Dia memejamkan matanya.sejenak sebelum berusaha untuk bersuara. "Gu---" "Eh, ada loe, Tan? Udah jarang tau gue ngelihat loe." Daniella berucap seolah semuanya sedang baik-baik saja saat ini. Bukannya segan atau apa, dia malah lebih bermanja-manja dengan El. Bintan menarik nafasnya dalam-dalam. Dia gak boleh lemah, "Gue lagi banyak tugas." jawab Bintan asal, "Kayaknya gue harus balik ke kelas deh. Gue duluan, Ya?" ucap Bintan sembari bersiap-siap untuk pergi. Namun tangannya langsung di tahan oleh Daniella, "Cepat amat. Sini aja dulu, Kali. Baru juga gue datang." "Gue banyak tugas." balas Bintan. "Ya elah. Tugas mah bisa kapan-kapan di buat. Ya gak, Yang?" Bintan lagi-lagi memejamkan matanya. Hatinya benar-benar sakit mendengar sebutan Daniella untuk El. Apakah El gak menghargainya saat ini? Semua yang ada di meja itu juga terkejut saat Daniella memanggil El.dengan sebutan 'Yang'. Mereka prihatin melihat Bintan yang benar-benar gak di hargai. "Gue gak bisa." tolak Bintan, "Next time mungkin bisa. Gue ke kelas dulu, Ya?" Bintan berbalik dan air matanya menetes saat itu juga. Sakit. Itu adalah hal yang paling menyakitkan baginya. Bagaimana rasanya jika kamu sama sekali gak di hargai sebagai pacar?? Tepat saat Bintan keluar dari kantin, tangannya di cekal oleh seseorang. Mata Bintan melirik ke tangan itu, dan saat itu dia tau siapa orang yang mencekal tangannya. Dengan cepat Bintan menghapus air matanya dan berbalik, "Apa?" dan saat itu Bintan tidak terlihat seperti orang yang baru saja menangis. Wajahnya terlihat baik-baik saja. "Ada yang ketinggalan?" tanya Bintan lagi karena dia melihat El yang masih diam sembari menatapnya. "Loe apaan, Sih?!" Kening Bintan berkerut. Jujur dia tidak mengerti, "Maksudnya?" "Ngapain loe pergi?" "Kenapa? Bukannya gue tadi udah bilang kalau gue masih banyak tugas?" "Terus gue percaya?" Bintan terdiam. Dia membuang tatapannya ke lain arah. Menatap El hanya akan menghadirkan luka dan air mata. "Gue gak nuntut loe untuk percaya. Karena percuma aja nuntut kepercayaan dari orang yang gak pernah ngerti apa itu kepercayaan." ujar Bintan di detik berikutnya. El melangkah mendekat, "Loe nyindir.gue?!" dari nada bicara El, Bintan yakin kalau laki-laki itu sudah mulai emosi. Bintan menatap El teduh. Karena hanya ini yang bisa dia lakukan, "Loe merasa tersindir?" tanya Bintan balik, "Loe buat gue menyadari satu hal, El." jeda, "Mengalah jauh lebih baik dari segalanya." ujarnya. "Apa maksud, Loe?" Bintan tersenyum, "Gak ada maksud apa-apa." jeda, "Loe udah di tunggui tuh sama Daniella di sana. And, good luck buat loe." ujar Bintan sembari mengelus pipi El. Bintan berbalik dan berjalan menjauhi El. Dia tidak menangis sama sekali. Sepertinya air mata sudah bosan keluar karena alasan yang sama setiap harinya. Mungkin saat ini gue masih bisa sabar, El. Tapi siapa yang tahu sampai mana batas kesabaran manusia? Gue hanya bisa berharap kalau gue gak punya batasan itu agar gue bisa tetap bersikap seperti ini di depan loe, dan di depan semuanya. SEKIAN DAN TERIMAKSIH. I HOPE YOU LIKE IT!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN