12. Delima

1196 Kata
“Memang yang namanya Fajar itu susah di dekati?” tanya Dafa penasaran. “Susah banget Mas, tampang oke punya, penghasilan apa lagi, tapi coolnya itu loh kebangetan!” “Pernah ya Mas, dia itu sebagai dosen pengganti aduh juteknya minta ampun, setiap kita minta dijelaskan lagi moodnya langsung ambyar kita di kasih nilai empat dan dianggap tidak menyelesaikan tugas, katanya kalau belajar harus fokus dengan pelajaran, ya mau bagaimana yang ngajarnya ganteng bingit jadi fokusnya ya ke orangnya lah!” jelas Mahasiswi itu semangat. “Memang semprul anak zaman sekarang gurunya yang dipelototi, bukannya pelajarannya, aduh!” ucap Dafa dalam hati. “Sudah pergi sana jangan ganggu saya, untung sudah selesai makan, kalau nggak mubazir kalau sudah nggak mood,” ucap Tari ketus. Namun tiba-tiba Tari bersendawa di depan Fajar dan membuat Fajar menjadi tambah jijik dan ingin muntah juga di hadapan Tari. Tari yang merasa diperolok karena Fajar hampir mau muntah, dengan sigap Tari menarik tangan Fajar untuk pergi dari hadapannya agar tidak muntah di depannya.. Namun lagi-lagi kaki Tari terkait dengan kaki meja sehingga Tari jatuh di pelukan Fajar. Fajar pun refleks memegang tangan dan menahan beban tubuh Tari sehingga membuat mereka saling menatap untuk sekian kalinya. Di saat itulah Ammar yang berlari ke arah kantin dan tiba di sana dengan napas tersengal-sengal melihat pemandangan itu. Wajahnya langsung merah padam seperti kepiting rebus di cocol saus lombok, kedua tangan dikepal sekuat mungkin, rahang pun seketika mengeras dan mulutnya komat-komit seperti membaca mantra. “Tari!” “Apa maksud semua ini, jadi di belakangku kamu main seperti ini, dengan mudah nya kamu berpelukan sama orang lain!” ucap Ammar marah. “Bang Ammar, kamu ada di sini juga?” tanya Tari terkejut melihat pacarnya ada di kampus itu juga. “Iya, aku diundang oleh salah satu mahasiswi di sini, dan kamu kenapa masih berpelukan dengan dia?” tanya Ammar saat Fajar belum melepaskan Tari dari pelukannya. Seketika Fajar mendorong Tari dan hampir terjatuh namun langsung disanggah oleh Ammar dari belakang. “Augh!” “Dengar ya Bang ini tidak seperti yang kamu bayangkan, tadi Tari tersandung dan jatuh tepat di hadapannya, ini hanya salah paham, Bang!” jelas Tari kepada Ammar. “Hey kamu, berani-beraninya kamu menggoda pacar saya?” hardik Ammar dengan emosi. “What! Ini pacar kamu pantesan yang satu selengekan dan yang satu tomboi klop banget kalian!” sindir Fajar. “Maaf ya Bro, saya nggak selevel dengan cewek jadi-jadian, dia nya saja yang suka nempel kaya prangko!” lanjutnya lagi. “Apa kamu bilang, bukannya kamu yang ngintil melulu, saya kan duluan ada di sini, kalau nggak suka ya pergi saja dari sini susah amat!” jawab Tari tak mau kalah. “Sudah-sudah, sekarang intinya kamu salah Tari, kamu sudah berani pegang-pegangan di tempat umum bersama orang lain, kalau nggak ada aku pasti kamu!" “Terus kamu maunya apa Bang?” tanya Tari marah. “Sepertinya hubungan kita nggak bisa lanjut, kita sangat berbeda, kamu sibuk dengan kerajaanmu dan aku sibuk dengan kerajaanku juga, kita nggak sinkron satu sama lain.” “Kamu memang cantik, bahkan terlalu sempurna buat ku, bahkan aku tidak bisa menyaingi kamu dalam segala urusan, kamu lebih unggul dalam segala hal, aku nggak bisa Tari maafkan aku.” “Aku terlalu cemburu melihatmu dengan pria lain tetapi karierku lebih menjanjikan, aku mau maju menitik karierku sebagai vokalis Band, pikiranku nggak mau bercabang!” “Maafkan aku Tari, aku lebih memilih karierku daripada cinta.” “Cinta bisa aku dapatkan lagi tetapi peluang yang sudah ada di depan mata tidak terjadi dua kali.” “Setelah aku manggung ada yang menawari kami untuk masuk dapur rekaman, jadi aku harus fokus dulu.” “Jadi intinya kita break aja dulu bagaimana, kalau kamu tidak mau putus dariku, paling tidak selama setahun lah, sekalian masing-masing dari kita introspeksi diri,” jelas Ammar panjang lebar. Tari yang mendengar penjelasan Ammar membuat darahnya mendidih, tidak terima dengan perlakuan Ammar yang berbicara seperti itu di depan sebagian orang yang menontonnya membuat Tari malu. “Dan kamu Bang, kenapa dari tadi malam dan sampai sekarang kamu susah betul di hubungi, kamu ngapain saja, SMS kek, telepon balik kek, apa kek, nggak peka banget jadi cowok!” ucap Tari kembali marah dengan Ammar. “Loh kamu kok menyalahi aku, aku kan sibuk buat lirik sampai begadang tengah malam, lalu ketiduran terus lupa deh menghubungi kamu!” kilah Ammar. Tari menarik napas dalam-dalam sembari mencerna omongan Ammar tadi dan dia pun memutuskan untuk tidak melanjutkan hubungannya dengan Ammar. “Benar katamu Bang, aku tidak seperti yang kamu mau, aku tidak bisa seperti cewek yang lain duduk manis mendengarkan pacarnya menyanyi, bahkan aku tidak bisa bersikap lemah lembut seperti wanita lain.” “Lebih baik kita putus saja Bang!” jawab Tari santai. “Loh kamu minta putus sih kita break saja, bagaimana?” tanya Ammar yang tidak mau putus dari Tari. “Loh kamu sendiri kan yang ceramah panjang lebar sampai-sampai semua orang yang di kantin ini tahu tentang hubungan kita, nah sekarang mereka harus tahu kalau mulai besok ini dan sekarang juga kita putus titik nggak pakai koma!” sungut Tari membuat Ammar terdiam kaku. Begitu juga Fajar yang dari tadi hanya memperhatikan kedua insan itu saling mengemukakan pendapatnya masing-masing. Ada ketertarikan Fajar tentang kehidupan Tari yang berbeda dari kebanyakan wanita yang sering dia temuinya. Sifatnya yang tegas, dan tidak manja membuat Fajar kagum dengan sosok Tari, ditambah penampilan yang modis dan tentu saja cantik. Fajar pun diam-diam pergi menjauh dari tempat itu, dia tidak ingin terlibat lebih jauh dari masalah mereka. “Din tolong cari tahu siapa Mentari Khairunnafiza itu, saya sangat penasaran tentang kehidupannya!” ucap Fajar dengan tegas. “Loh Tuan kan sudah tahu kalau dia bekerja sebagai reporter tempatnya kakak Tuan di Jakarta, kenapa nggak tanya beliau langsung?” tanya balik Udin asistennya. “Bisa juga, berarti mulai besok kamu tidak usah bekerja lagi dengan saya, bagaimana?” jawab Fajar membuat Udin keringat dingin mendengar ucapannya. “Jangan Tuan muda kasihanilah saya, kalau dipecat anak dan istri saya makan apa?” jawab Udin mengiba. “Nah itu tahu, makanya apa yang saya suruh jangan banyak komentar tinggal bilang oke, laksanakan, gampangkan!” jawabannya lagi. “Oke, laksanakan Tuan!” jawab Udin seketika dengan gemetar. “Kita berangkat sekarang Tuan?” “Nggak tahun depan, ya sekarang!” ucap Fajar ketus. “Iya maaf Tuan!” jawab Udin pelan. Fajar pun pergi dari kampus itu, entah mengapa kedua asistennya sangat bingung saat melihat Tuan muda ini ingin mengetahui lebih dalam lagi tentang kehidupan gadis itu, biasanya terhadap gadis yang dia temui kebanyakan lebih agresif dari nya, tetapi berbeda dengan Tari yang bersikap acuh. “Apa aku kurang ganteng ya menurutnya, masa sih gadis itu nggak klepek-klepek melihat wajah yang paripurna begini, bisa jatuh dong harga diriku di depannya, atau aku bilang saja ke Mami kalau aku mau nikah sama dia!” “Ah, ngomong apa aku ini, menikah dengan dia yang benar saja." Ah di lema banget, hari ini aku akan di jodohkan dengan anaknya teman Mami itu, bagaimana ini, aku masih penasaran dengan gadis itu, apa yang harus aku lakukan?” ucap Fajar seketika yang hampir terdengar oleh kedua asistennya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN