Seorang gadis nampak melamun di dalam kelas yang sedang ramai berisi banyak orang. Zahra sedang memikirkan kejadian langka tadi yang kakaknya itu lakukan. Tumben sekali Devan tidak mengeluarkan kata-kata pedasnya? Biasanya pemuda itu akan dengan senang hati menghina dirinya habis-habisan. Mereka sudah seperti tikus dan kucing, namun bedanya gadis ini tidak bisa melakukan apa-apa.
“Nona Zahra Adia Putri.” Panggilan tersebut membuat gadis itu seketika kembali ke dunia nyata. Dilihatnya beberapa teman di dalam kelasnya menoleh kepada gadis ini. Zahra pun memandang ketiga temannya secara bergantian. Nana pun mengisyaratkan gadis itu untuk melihat ke depan dengan arah matanya. Lantas Zahra pun menoleh, dan betapa terkejutnya dia bahwa di sana berdiri dosen menyebalkan di dalam hidupnya. Oh, sepertinya dia lupa bahwa saat ini sedang berlangsung mata kuliah dari Farhan, dosen muda yang banyak memikat banyak mahasiswi kecuali Zahra tentunya.
Zahra yang ditatap secara terang-terangan itu pun menelan ludahnya dengan susah payah. Pasti sebentar lagi Farhan akan membuatnya kesusahan lagi seperti yang sudah-sudah. Tetapi, tadi pagi dia sudah membelikan pria itu bubur, bukan? Seharusnya Farhan akan baik padanya, setidaknya untuk saat ini.
“Temui saya setelah kelas Anda selesai, Nona Zahra.”
Tamatlah sudah. Jika kata-kata riwayat itu sudah diucapkan oleh pria di sana, maka gadis ini tidak bisa berkutik apa-apa. Bahunya seketika langsung merosot. Nana pun mengelus pundak temannya itu yang kebetulan duduk di sebelahnya. Dia ingin memberi Zahra kekuatan bahwa temannya ini harus kuat ketika dihadapkan oleh dosennya.
Berbeda dengan gadis yang sibuk dengan kuliah serta dosen menyebalkannya, seorang pemuda yang memang selalu tampan serta disegani di banyak tempat itu pun nampak terlihat sibuk dengan beberapa berkas menumpuk yang papanya berikan. Mengingat sekretaris Deka sedang cuti, maka mau tidak mau Devan harus membantu pekerjaan papanya sebagian.
Kali ini pemuda itu tidak sedang berada di kantor miliknya, namun dia berada di kantor pusat milik papanya itu. Seperti yang pria paruh baya itu katakan tadi pagi bahwa dirinya harus meeting dengan beberapa perusahaan hari ini. Devan sendiri tidak masalah kalau Deka menugaskan dirinya di perusahaan pusat seperti ini. Setidaknya perlahan-lahan dia akan belajar bagaimana menjadi pebisnis sukses seperti orang tuanya yang mana akhirnya nanti semua perusahaan akan jatuh kepada pemuda ini.
Karena saat ini dia sedang berperan membantu Deka, maka pemuda itu menempati ruangan papanya itu yang nampak luas serta bersih dan rapi. Dia sudah sering ke sini, dan bisa dia bandingkan bahwa ruangan Deka lebih besar dari pada dirinya. Pemuda ini masih menunggu waktu yang tepat untuk mendesain ulang ruang kantor miliknya. Setidaknya dia butuh tempat yang nyaman untuk bekerja.
“Permisi, Pak, ada seseorang yang ingin bertemu dengan Pak Deka,” ucap sekretaris Devan yang memang kebetulan pemuda itu ajak sebagai asistennya ketika di kantor sang papa. Pemuda itu pun mengernyit bingung, bukankah papanya sudah meng-handle semua klien?
“Apa kamu tidak bilang kalau Pak Deka sedang tidak ada di tempat?” tanya pemuda itu dengan tegas.
“Sudah, Pak, tetapi dia tetap ingin bertemu dengan beliau,” jawab sang sekretaris. Devan pun berdecak kesal. Seharusnya tugasnya di sini hanya menyelesaikan berkas-berkas ini saja, tidak untuk bertemu seseorang.
“Suruh masuk,” putus pemuda itu dengan nada kesalnya. Kemudian dia pun menutup berkas yang menumpuk tadi. Pemuda ini berpikir bahwa papanya mungkin tidak mengecek berkas ini dari awal sejak cutinya Septian. Papanya itu benar-benar memanfaatkan keadaan sekali. Kemudian terdengar pintu terbuka yang membuat pemuda itu menoleh. Dilihatnya seorang wanita dengan gaya angkuhnya masuk ke dalam ruangan ini, bahkan wanita itu sama sekali tidak terintimidasi oleh tatapan dingin Devan.
Kemudian wanita itu tepat berhenti di depan Devan berdiri yang dipisahkan oleh meja besar milik Deka. “Silakan duduk,” ucap Devan yang mana diikuti oleh dirinya juga yang duduk. “Sebelumnya sekretaris saya sudah mengatakan jika Pak Deka sedang tidak berada di tempat, kira-kira kepentingan apa sehingga Anda—”
“Saya ingin mengajukan komplain,” potong wanita itu dengan nada tingginya. Devan pun masih mempertahankan ekspresi wajahnya yang turun temurun Deka turunkan kepada pemuda itu.
“Komplain apa yang ingin Anda ajukan?”
“Ini mengenai kerjasama perusahaan ini yang jelas-jelas merugikan perusahaan saya,” ungkap wanita itu dengan lantang. “Kalau Anda tidak percaya, silakan cek dokumen itu,” lanjut wanita ini lagi sambil memperlihatkan dokumen yang dibawanya. Dengan sigap Devan pun membaca berkas itu dengan teliti. Dia tidak habis pikir dengan papanya yang tega memberikannya kerja tambahan seperti ini.
“Untuk hal ini saya akan segera membicarakan dengan Pak Deka langsung dan sekarang saya belum bisa memberikan informasi yang pasti siapa yang salah dalam hal ini,” putus Devan mencoba memilih jalan aman karena walau bagaimana pun dia harus memberitahukan hal ini kepada Deka.
“Anda menuduh saya yang salah?” tanya wanita ini dengan nada tidak enaknya. Devan pun menarik napasnya dalam. Memang jika berhubungan dengan perempuan, maka dia bukan ahlinya.
“Bukan begitu Ibu. Saya di sini hanya menggantikan Pak Deka untuk sementara. Beliau sendiri sedang ada kepentingan di luar. Tentunya saya tidak tau pasti kapan beliau akan kembali. Untuk itu saya minta waktu untuk membicarakan hal ini dengan Pak Deka. Saya bisa menjamin kepada Ibu bahwa hal ini akan cepat tertangani,” kata Devan yang membuat wanita itu berpikir sejenak kemudian dia berdiri dari tempat duduknya.
“Baiklah, terima kasih atas waktunya. Saya akan menunggu info lebih lanjut dari Pak Deka. Dan saya akan selalu ingat wajah Anda sebagai jaminan kalau masalah ini akan cepat selesai,” kata wanita itu yang kemudian pamit pergi. Devan pun menyandarkan punggungnya di kursi empuk milik papanya itu. Hari masih pagi untuk dirinya disembur oleh para wanita.
***
“Sekarang alasan apa lagi yang akan kamu katakan, Zahra?” tanya Farhan yang menatap mahawisiswinya itu dengan terang-terangan dan mengintimidasi. Zahra benar-benar memenuhi panggilan dosennya itu untuk datang, dan sudah seperti hari-hari yang lalu, dia pun jadi mati kutu sendiri.
“Anu, Pak, itu ... saya sebenarnya tadi ... saya sebenarnya tadi nahan sakit perut, Pak! Pas Bapak panggil, saya itu kaget,” ungkap gadis itu mengada-ngada yang tentunya tidak Farhan langsung percayai.
“Kamu pikir saya percaya?” tanya Farhan lagi.
“Come on, Pak. Masalah sepele kenapa harus dibesar-besarin,” gerutu gadis itu tanpa tahu konsekuensi dari segala gerutuannya itu.
“Nona Zahra, apa kamu lupa bahwa saya sangat tidak suka mahasiswa yang tidak fokus saat mata kuliah berjalan apalagi itu di saat jam saya?” tanya Farhan yang membuat bahu gadis itu merosot. “Terlebih lagi itu dilakukan oleh kamu, mahasiswi yang suka membantah perkataan saya, bahkan dengan berani berbuat ulah ketika saya mengajar,” lanjut pria itu yang membuat Zahra memandangnya tak percaya. Dosennya ini sungguh berlebihan sekali, bahkan ini hanya kesalahan kecil.
“Maaf, Pak, besok-besok saya tidak akan begini lagi,” balasnya mencoba mengalah dari pada nilainya yang menjadi taruhannya.
“Permintaan maaf akan saya terima dengan satu syarat,” kata Farhan membuat gadis itu langsung menatap dosennya itu dengan pandangan waspada. Baru kali ini dia diberi syarat hanya untuk meminta maaf. Memang benar-benar dosen yang aneh.
“Apa syaratnya? Kalau aneh-aneh, saya nggak mau, loh, Pak,” jawab Zahra.
“Tidak aneh. Kamu cukup menemani saya malam ini untuk datang ke sebuah undangan.”
“APA?!”
“Saya minta kamu untuk temani saya malam ini,” ulang Farhan.
“APA?!”
“Sekali lagi kamu tanya, nilai kamu yang akan saya potong,” ancam pria itu membuat gadis ini seketika terdiam.
“Bapak sukanya ngancam pakai nilai terus. Maksudnya apa Bapak minta saya untuk temani nanti malam. Mohon maaf saja, ya, Pak, saya masih punya harga diri. Kalau memang Bapak mau potong nilai atau mau keluarkan saya tidak apa-apa. Dengan senang hati saya akan keluar dari kampus ini,” kata Zahra dengan tegas. Enak saja dosennya ini berani-beraninya merendahkan harga dirinya.
“Kamu terlalu pemarah sekali, Zahra. Padahal saya hanya minta kamu untuk temani saya ke pesta, bukan ke hotel. Tolong beritahu di mana letak saya tidak menghargai kamu?”
“Ya ... itu sama saja. Saya nggak mau. Apa kata teman-teman kampus kalau sampai tau saya keluar sama Bapak? Bisa jadi gosip hangat nanti,” sanggahnya. Zahra masih ingin hidup tenang di kampus ini.
“Memangnya akan ada gosip apa? Kamu keluar dengan om-om, begitu? Harus selalu kamu ingat kalau umur kita nggak beda jauh dan hanya selisih lima tahun saja. Kalau disandingkan pun kita akan terlihat seperti umur yang sama. Ya meskipun tampang saya akan terlihat lebih muda dari pada kamu,” jelas Farhan dengan mulut tak berakhlaknya itu membuat gadis ini menganga tidak percaya dengan yang dikatakan oleh dosennya.