PART 6

1847 Kata
Seperti perintah Farhan saat di kampus tadi, gadis bernama Zahra itu nampaknya sudah siap dengan dress berwarna hitam miliknya. Dia sengaja memakai warna hitam untuk menunjukkan kesedihannya. Warna hitam identik dengan hal yang tidak begitu baik, jadi dia sengaja melakukan itu semua agar dosen menyebalkannya itu paham. Tadi dia juga sudah meminta ijin kepada orang tuanya bahwa malam ini akan pergi ke sebuah acara dan dia tidak mengatakan bahwa dia akan pergi dengan dosennya. Pastinya jika dia mengatakan hal itu, Deka dan Vanya akan menginterogasi dirinya habis-habisan. Karena Farhan juga, dia harus berbohong kepada mereka dan mengatakan akan pergi bersama Nana. Dan dengan sedikit bantuan dari Nana juga, dia meminta gadis itu untuk menjemputnya. Dan kebohongan dia lakukan juga kepada Farhan dengan meminta pria itu untuk menjemputnya di halte dekat komplek rumahnya dengan alasan orang tuanya sangat tidak suka jika dia keluar bersama laki-laki. Untung saja Farhan percaya dengan bualannya itu. “Ma, Pa, aku berangkat duluan, ya. Nana sepertinya sudah nunggu di depan,” ucap Zahra yang sudah sempurna dengan baju dan make up tipisnya. Deka dan Vanya yang saat itu kebetulan sedang bersantai pun menoleh kepada anak gadis mereka. “Ya sudah hati-hati dan jangan pulang terlarut malam,” balas Deka lebih dulu. “Iya, Pa.” Gadis itu pun berjalan menuju ke pintu keluar. Oh iya, dia melupakan sosok Devan yang sejak tadi tidak dia lihat. Mungkin pemuda itu sedang sibuk dengan teman-temannya. Teman? Zahra tahu pasti jika setelah lulus kuliah, temannya hanya itu-itu saja. Dan gadis ini cukup mengenal siapa teman-teman kakaknya itu. Mobil Nana sudah berada di depan rumah, Zahra pun segera menghampiri temannya itu dan duduk tepat di samping kemudi. “Gila lo, Ra. Gue baru tau seorang Zahra punya sisi lain seperti ini. Bukannya lo paling anti bohong sama Om dan Tante?” celetuk Nana sambil menjalankan mobil miliknya. Zahra yang diserang tiba-tiba seperti itu pun nampak menggigit bibir bawahnya. Dia tahu bahwa ini adalah kali pertama dia berbohong pergi keluar. Itu semua dia lakukan demi nilai mata kuliahnya. Jika dia melaporkan Farhan sepertinya tidak akan ada gunanya juga. Mereka tidak akan mengusut suatu masalah hanya karena satu orang mahasiswi saja dan bisa jadi Zahra akan menjadi bahan ejekan satu kampus jika berani membuat nama dosennya itu buruk. Hidup memang kejam. “Gue nggak punya pilihan lain. Memang dia itu dosen gila. Gue kesel lama-lama, Na,” kelu gadis itu dengan tampang memelasnya. Nana yang selalu mendengar curhatan kekesalan dari Zahra mengenai dosen mereka pun selalu tertawa. Terkadang dia berpikir kenapa temannya ini seberuntung itu bisa dekat dengan dosen paling tampan di kampus. Dan anehnya lagi Zahra malah menolak mentah-mentah dosennya itu. Apakah gadis ini tidak sadar bahwa segala hal yang dosennya lakukan itu adalah untuk mengambil perhatian dirinya? Sungguh polos sekali temannya ini. “Gue ucapin terima kasih, ya, Na, karena sudah bantu gue. Oh iya, jangan bilang-bilang ke Cindy dan Lara soalnya gue bakalan malu banget sama mereka,” ucap Zahra lagi dengan tampang memelas. “Kenapa lo harus malu? Mungkin mereka akan syok gara-gara lo diajak sama dosen paling tampan di kampus. Oh iya, hati-hati di sana lo ketemu sama anak-anak kampus, Ra. Gue nggak mau besok dengar gosip yang nggak-nggak tentang lo, ya,” peringat Nana yang membuat temannya itu refleks menoleh kepadanya. Oh iya, sepertinya gadis ini melupakan fakta itu bahwa di kampus ada banyak mahasiswa dan bukan tidak mungkin ada di antara mereka saat di pesta nanti. “Mati gue!,” pekik gadis ini yang semakin mengundang gelak tawa Nana. “Urusan mati, nanti saja, Ra. Sekarang tugas gue udah selesai,” kata Nana diringi dengan mobilnya yang berhenti tepat di dekat halte. Sepertinya halte cukup ramai malam ini, dan Zahra tidak khawatir untuk sendirian. “Sekali lagi gue ucapin makasih, Na,” ucap Zahra lagi yang membuat telinga Nana panas ketika gadis itu berkali-kali mengucapkan kalimat itu. “Sama-sama, Ra. Sekali lagi lo bilang makasih, gue nggak akan lagi bantu lo,” ancam Nana membuat Zahra mengeluarkan cengirannya. Zahra pun berjalan menuju ke bangku halte, sedangkan Nana sudah pergi menggunakan mobil miliknya. Sekarang dia harus menunggu kedatangan orang yang telah membuatnya berani berbohong kepada Deka dan Vanya. Sekitar sepuluh menit kemudian, sebuah mobil hitam berhenti tepat di dekat halte, kemudian dari balik kemudi turunlah seorang pria lengkap dengan jas miliknya menghampiri tempat Zahra berada. Gadis itu menganga melihat baju mereka yang nampak serasi malam ini. Dan sialnya lagi dosennya itu tidak nampak lebih tua darinya, lebih tepatnya mereka terlihat seperti seumuran. Sepertinya benar kata pria itu tadi di kampus bahwa tidak akan ada yang curiga bahwa mereka adalah dosen dan mahasiswi. “Bisa kita berangkat sekarang?” Suara Farhan memecah keheningan Zahra. Gadis itu pun mengangguk dan mengikuti langkah dosennya itu yang menuju ke mobil. Dia baru pertama kali memasuki mobil orang lain selain teman-temannya, orang tuanya, dan Devan. Tentunya taksi online tidak termasuk juga di dalamnya. Sepertinya dosennya ini menyukai sekali dengan kerapian, buktinya mobil itu nampak sempurna di mata Zahra. Dan jangan lupakan bau harum juga. “Pak, jangan malam-malam ya pulangnya. Orang tua saya sudah bilang jangan sampai larut malam,” ucap Zahra yang mengingat ucapan Deka tadi. Lagi pula dia tidak begitu suka dengan pesta apalagi jika harus terjebak bersama dosennya ini. “Hmmm.” Tumben sekali dosennya itu irit bicara. Zahra pun nampak acuh, sedangkan Farhan mencoba fokus dengan jalanan. Sebenarnya dia enggan untuk datang, namun orang tuanya sudah memintanya untuk datang ke pesta yang menurutnya tidak begitu penting. Hanya peresmian restoran mewah yang merupakan salah satu partner kerja orang tuanya. Perjalanan menuju ke sana memang memakan waktu yang cukup lama. Tidak ingin berlama-lama, Farhan pun segera membawa gadis itu masuk ke restoran itu. Zahra pun cukup takjub dengan restoran yang benar-benar mewah ini. Pasti yang masuk ke sini adalah orang berduit semua. Namun, gadis itu memilih diam dan mengikuti langkah kaki dosennya itu. “Kamu jangan lelet jalannya, nanti kalau kamu hilang saya yang bingung,” ujar Farhan yang membuat gadis itu meloto. Memang pria itu pikir dirinya seorang bocah yang tidak tahu arah. “Sudah. Diam, jangan banyak protes,” lanjut Farhan kemudian saat dia menggandeng tangan gadis itu. Zahra yang akan menunjukkan protesnya pun seketika terdiam. Pria itu membawa gadis ini untuk menyalami beberapa orang yang dia kenal. Untung Zahra tidak memakai sepatu berhak tinggi. Dia malam ini sengaja memakai flat shoes agar tidak terlalu lelah ketika harus berdiri terlalu lama. “Kamu Farhan, bukan?” tanya seorang pria paruh baya di mana ada seorang wanita yang Zahra perkirakan adalah istri dari pria itu. Sepertinya orang kaya, dilihat dari baju dan tas yang dipakai oleh mereka. Pada dasarnya Zahra anti sekali untuk datang ke pesta-pesta seperti ini di mana orang yang datang hanya ingin menunjukkan seberapa kaya mereka. Pantas saja sang mama seringkali menolak ketika diajak papanya untuk ke pesta dan berakhir dengan Devan yang harus datang. Terkadang juga Deka memintanya untuk ikut dengan sang kakak, namun Zahra menolak dengan beralasan bahwa dia sibuk dengan tugas kuliah, padahal dia hanya ingin menghindari Devan. “Benar, Om,” jawab dosennya itu. “Wah, sudah lama sekali saya tidak melihat kamu. Putri saya beberapa kali menanyakan kamu. Sepertinya dia tertarik dengan kamu, Nak,” kata pria paruh baya itu lagi. Farhan pun tersenyum hangat. Orang tuanya memang sering mencoba mendekatkan anak dari teman bisnis mereka salah satunya putri dari pria ini. Namun, Farhan menolak itu semua karena dia memang tidak tertarik dengan wanita-wanita itu. “Maaf, Om. Sayang sekali saat ini ada hati yang sudah harus saya jaga,” jawab Farhan kemudian. “Sepertinya kamu sudah mendapatkan pasangan, ya, Farhan. Dia wanita yang cantik,” ujar istri dari pria paruh baya tadi sambil memperhatikan Zahra secara saksama. Gadis itu pun mencoba mencerna keadaan. Ah, sepertinya dosennya ini menggunakan dirinya sebagai alat untuk terbebas dari para wanita. Sial! “Maaf, Om dan Tante, saya itu sebenarnya—” “Zahra.” Gadis itu menoleh sektika ketika namanya disebut. Di sana berdiri seorang pemuda yang dia kenal sebagai salah teman kakaknya saat di kampus dulu. Namanya Jerry, pemuda yang sama tingginya dengan Devan, namun memiliki sifat yang bisa dibilang absurd, menyebalkan, dan sedikit playboy. “Kak Jerry,” sapa Zahra yang kemudian beralih kepada pemuda itu. Farhan pun undur diri kepada pria paruh baya yang sempat mengobrol dengannya itu. “Kamu ada di sini juga?” tanya pemuda itu, “bukannya kata Devan, kamu nggak mau ke sini?” tambahnya lagi yang seketika mengernyit bingung ketika dirinya dikaitkan dengan kakaknya itu. Farhan sejuah ini hanya berdiri diam di samping mahasiswinya itu, dan memerhatikan interaksi keduanya. “Terus ... dia siapa? Pacar kamu?” tanya Jerry sambil menunjuk sosok Farhan yang ada di sana. Mendengar perkataan pemuda itu membuat Zahra buru-buru menggelengkan kepalanya. “Bukan, Kak. Dia—” “Jer!” Suara berat yang ada di belakang tubuh gadis itu membuat mereka refleks menoleh. Bola mata Zahra pun semakin membola sempurna. Dia tidak menyangka akan bertemu Devan di sini. Dan sepertinya ini bukanlah hal bagus mengingat tadi dia mengatakan kepada Deka dan Vanya akan pergi bersama Nana. “Hei, Bro,” sapa Jerry diiringi dengan keberadaan Devan yang berdiri tepat di depan adiknya itu dengan pandangan dingin nan datar. Zahra pun menjadi ciut dan dia memilih untuk fokus kepada sepatu miliknya di bawah sana. Dia harus menyiapkan hati untuk mendengar u*****n dari pemuda ini nanti. “Lo bilang Zahra nggak mau ke sini, buktinya gue ketemu dia di sini,” kata Jerry kepada temannya itu yang membuat Devan seketika memandang gadis itu dengan tatapan sinis. Farhan sendiri tidak mengenal dengan dua pemuda yang sepertinya kenal betul dengan mahasiswinya ini. “Dan dia sama pacarnya, Bro,” bisik Jerry tepat di telinga Devan yang seketika membuat pemuda itu memandang Farhan yang berdiri di sana. Devan ingat betul bahwa laki-laki yang berdiri di sana adalah salah satu dosen yang beberapa hari lalu pernah dia lihat bersama Zahra. Oh, ternyata benar dugaannya bahwa gadis ini memiliki hubungan lebih dengan dosennya sendiri. “Kak!” sentak Zahra yang mendengar bisikan dari Jerry itu. Seketika pemuda itu terkejut, namun Devan dan Farhan nampak tenang. “Dia ini bukan pacar aku. Tolong Kak Jerry sembarangan bicara seperti itu,” lanjutnya lagi. “Ya maaf, Ra. Kalau bukan pacar, apa mungkin gebetan kamu?” ucap Jerry lagi yang membuat Zahra geram dibuatnya. Apa pemuda itu tidak tahu jika Devan sejak tadi memandangnya dengan tidak begitu bagus? “Bukan,” jawab Zahra cepat. “Bukan pacar dan bukan gebetan, terus dia siapa?” Jerry beralih menatap temannya. “Apa dia saudara lo, Van?” Sepertinya itu pertanyaan konyol. “Kak Jerry kenapa kepo banget, sih?” kesal Zahra. “Urus saja urusan Kak Jerry, jangan urusin urusanku,” sambungnya yang membuat pemuda itu tertawa. Ternyata dari dulu sifat teman Devan tidak pernah berubah. “Perkenalkan nama saya Farhan,” ujar Farhan yang mulai membuka mulutnya. Zahra pun seketika merasa pening di kepalanya. Dia berharap jangan sampai dosennya mengatakan hal yang membuat keadaan semakin runyam. “Dosen Zahra di kampus,” lanjut yang membuat gadis itu seketika ingin keluar dari tempat ini. sudahlah, nasibnya tidak akan pernah bagus.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN