PART 3

1160 Kata
Zahra masih dalam mode merajuknya. Gadis itu enggan untuk turun ke bawah dan makan bersama dengan keluarganya. Bukannya dia tidak menghargai kedua orang tuanya, dia hanya tak suka ketika berada di tempat yang sama dengan pemuda yang tadi siang membuatnya marah dan kesal. Bahkan dia sangat malu kepada teman-temannya. Sayangnya pemuda itu terlalu dingin dan tak peduli dengan sekitar. Vanya pun nampak khawatir karena tidak melihat sosok putrinya turun. Deka pun sangat tahu dan hapal jika kedua anaknya selalu tidak akur. Dan dia juga bisa menebak bahwa awal dari semua ini adalah sang putra. Nyatanya Deka sendiri tak tahu akan berapa lama lagi putranya itu sadar bahwa peran Zahra di dalam hidupnya sangat berpengaruh besar. Deka sendiri tak akan tahu bagaimana jadinya jika tidak ada Zahra di keluarga mereka. Tak mempedulikan kedua pria yang nampak cuek di meja makan, Vanya pun segera menuju ke kamar putrinya yang terletak di lantai dua. Melihat sang istri yang beranjak dari duduknya, Deka pun membiarkan wanita itu. Hingga setelah sang istri sudah tak terlihat, dia menatap putranya dengan tajam. Yang ditatap pun hanya diam dan enggan untuk mengeluarkan suaranya. Dia mencoba fokus dengan makan malamnya saat ini. “Apa lagi yang kamu perbuat?” tanya Deka yang tentunya ditujukan kepada Devan seorang mengingat hanya ada mereka di sini. Lantas yang ditanya pun menoleh. Kini dua muka datar dan dingin saling memandang. Bak seperti cermin yang mana keduanya sama dan tak berbeda. Memang buah jatuh tak pernah jauh dari pohonnya. Benar kata Vanya bahwa Devan sangat mewarisi sifat Deka secara mutlak. Mendengar tuduhan dari papanya membuat pemuda itu tersenyum kecut. Sebegitu sayangkah kedua orang tuanya kepada gadis itu hingga melupakan bahwa dirinyalah yang merupakan anak kandung di sini. Pemuda itu malah seperti menjadi anak tiri di keluarganya sendiri. Dan sekali Devan membenarkan keputusannya untuk membenci gadis itu seumur hidupnya. Vanya masih berusaha membujuk putrinya. Untung saja Zahra tidak mengunci pintu kamar. Gadis itu malah menenggelamkan dirinya ke dalam selimut, membuatnya nampak seperti kepompong. “Zahra ... kita makan, yuk. Kamu dari siang tadi, loh, di dalam kamar terus. Apa kamu tidak lapar?” tanya Vanya. Gadis itu menggeleng. Dia masih tidak terima dengan perlakuan kasar dari kakak tirinya itu. “Apa kamu tidak merasa bosan di dalam kamar terus?” tanya Vanya lagi yang masih mencoba membuat sang putri keluar dari tempat persembunyiannya ini. “Nggak, Ma,” jawab gadis itu mantab. Mendengar penolakan dari putrinya membuat Vanya sedih. Apalagi ini adalah perbuat putranya hingga membuat Vanya hampir tiap hari seperti. Meskipun tidak setiap hari, namun Zahra seringkali bersikap seperti ini. Dan itu karena segala perlakuan Devan yang ditujukan kepadanya. “Kamu diapain lagi sama anak nakal itu? Bilang sama Mama. Biar Mama hukum Devan untuk kamu,” ucap Vanya. Seketika tubuh gadis itu menegang dan dia segera menyingkirkan selimut yang meliliti tubuhnya. Dengan sigap dia memegang tangan mamanya agar wanita itu tidak melakukan hal yang dia ucapkan barusan. “Jangan, Ma!” cegah gadis itu membuat Vanya terkejut mendapati respon putrinya. Dilihatnya keadaan gadis itu kurang baik. Bahkan pakaian yang dia kenakan masih sama seperti tadi pagi. “Kamu belum mandi, Zahra?” tuntut Vanya. Dia sangat tidak suka jika kedua anaknya tidak menjaga kebersihan. Mendengar nada menuntut dari mamanya itu membuat Zahra mati kutu. Gerakan menggaruk kepala membuat apa yang Vanya simpulkan barusan benar adanya. Wanita itu pun menghembuskan napasnya pelan. Mencoba untuk mengurangi kemarahannya. Entah mungkin beberapa tahun lagi dia akan sangat terlihat tua dari pada umurnya mengingat di rumah ini dihadapkan oleh dua anak yang selalu membuatnya berpikir terus menerus. “Sekarang kamu bangun, mandi, dan turun ke bawah,” perintah wanita itu mutlak. “Tapi, Ma, aku–” “Tidak ada tapi-tapian. Turun. Kita makan malam,” kata Vanya tegas. Melihat ketegasan pada diri sang mama membuat nyali gadis ini menjadi ciut. Setelahnya, Vanya pun keluar dari kamar putrinya. Dan dia tersenyum senang karena berhasil membuat satu anaknya menurut kepadanya. Sekarang hanya tinggal satu orang, yakni Devan. Dia sendiri tak yakin bisa mengendalikan putranya itu atau tidak. Berbeda ketika di dalam kamar, di meja makan malah tercipta ketegangan antara papa dan anak. Tak mendapat jawaban dari sang putra membuat Deka menggeram kesal. Putranya ini benar-benar menguji kesabarannya. Pria ini sempat berpikir apa yang telah dia perbuat dulu sehingga memiliki anak seperti Devan. “Devan, Papa masih menunggu jawaban kamu. Jangan buat Papa semakin bertambah marah,” ucap Deka sekali lagi. Pemuda yang nampak terganggu atas pertanyaan dari papanya itu pun meletakkan peralatan makannya di piring. “Devan nggak lakuin apa-apa, Pa,” jawab pemuda itu pada akhirnya. Tentu saja Deka tidak puas dengan jawaban yang diutarakan oleh putranya ini. “Papa butuh jawaban jujur,” balas Deka membuat putranya tersenyum kecut dan tanpa diketahui bahwa salah satu tangan dari pemuda ini mengepal kuat. Seberapa jauh lagi kedua orang tuanya akan terus berpihak kepada gadis itu. Devan akan terus menunggu. “Papa butuh jawaban seperti apa lagi? Papa minta aku mengakui hal yang tak pernah aku lakukan? Begitukah?” tuntut pemuda itu balik. Vanya yang baru saja kembali dari kamar putrinya pun merasakan aura ketegangan yang kuat di meja makan. Pastinya Deka kembali menginterogasi putranya ini. “Zahra sedang mandi. Nanti dia turun untuk makan. Kita bisa melanjutkan makan lebih dulu,” ucap Vanya memecahkan ketegangan itu. Deka dan Devan pun enggan untuk mengeluarkan suaranya. Dan Vanya hanya pasrah serta selalu berdoa agar keluarga tetap berada di jalan yang benar. Dia tidak ingin keluarga ini terpecah hanya karena sebuah rasa kebencian. Ketiga orang ini pun melanjutkan makan mereka. Zahra baru saja selesai membersihkan dirinya. Gadis itu mengoleskan sedikit bedak di wajah serta liptint yang sering dia pakai. Sekali lagi dia menghembuskan napasnya lelah. Apakah hidupnya akan terus menerus seperti ini? Selalu ada kebencian di mata pemuda itu. Bahkan Zahra sudah memberikan semua cinta dan kasih sayangnya kepada keluarga yang telah membesarkannya ini. Tidakkah Devan tahu bahwa seberapa tersiksanya Zahra dengan hubungan mereka? Terkadang gadis ini iri kepada Nana yang sangat dimanja oleh kakak laki-lakinya meskipun kakak dari sahabatnya itu sudah menikah. Berbanding terbalik sekali dengan dirinya. Dengan pelan dia menutup pintu kamar untuk turun ke bawah memenuhi perintah Vanya tadi. Sayang seribu sayang dia selalu terjebak di tangga ini. Entah mengapa Deka dan Vanya menempatkan kamar miliknya bersebelahan dengan pemuda itu. Lihatlah sekarang, mereka kembali bertemu di anak tangga. Dan seperti memori yang tak pernah hilang, Zahra mengingat apa saja yang pemuda itu katakan di sini. Apa saja kata-kata menyakitkan yang pemuda itu keluarkan. Dan sekarang dia sedang menunggu apa lagi kata-kata kebencian yang akan pemuda itu berikan kepadanya. Devan sendiri baru saja selesai makan dan dia memang enggan untuk berada lebih lama lagi bersama Deka dan Vanya yang mana selalu menekannya untuk selalu tak berbuat buruk kepada gadis yang merusak keluarganya ini. Zahra pun gugup, dia menunggu Devan lebih dulu melewatinya. “Tunggu,” perintah pemuda itu membuat langkah Zahra yang awalnya senang karena tak ada perkataan pedas dari kakaknya ini seketika hilang. “Gue tau lo akan ngadu ke mereka. Sayangnya, seberapa banyak lo ngadu ke mereka, sebanyak itulah rasa benci gue ada. Dan itu akan terus berlanjut sampai lo mati sekali pun,” ucap Devan tak berperasaan. Zahra pun memandang kakaknya itu seakan tak percaya dengan hal yang baru saja pemuda itu katakan. Sebegitu besarkah pemuda itu membencinya?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN