“Bagaimana kalau kita hangout?” usul Nana. Ketika mendengar ajakan gadis itu membuat Zahra seketika menoleh.
“Jangan bilang lo nggak bisa, Ra?” tebak Nana yang sudah sangat hapal arti tatapan temannya itu. Seketika Zahra menampilkan deretan giginya yang putih, sedangkan Cindy dan Lara hanya bisa tertawa melihat Nana yang kesal.
“Entah kenapa keluarga lo kebangetan biarin putri mereka di rumah mulu. Lo masih muda, loh, Ra. Harus banyak mengenal dunia luar,” sembur Nana.
Gadis yang disembur itu pun hanya bisa tertunduk. Bukan salahnya jika harus seperti ini. Sebenarnya Kirana dan Deka pasti tidak akan keberatakan jika keluar bersama teman-temannya. Namun, dia hanya khawatir dengan Devan yang selalu menentang segala kegiatannya bersama teman-temannya ini.
“Udahlah, Ra. Yuk, kita jalan. Gue janji nggak akan sampai malam. Sore doang, deh,” desak Nana lagi. Gadis ini tipe orang yang tak akan berhenti sebelum apa yang dia inginkan terwujud. Zahra pun menatap Cindy dan Lara bergantian. Selalu saja dia meminta persetujuan kedua temannya itu.
“Kalau gue, Ra, ikut aja soalnya orang tua gue sendiri udah batasin kapan gue pulang. Biasanya gue nggak boleh sampai malam,” jelas Cindy.
“Gue apalagi,” timpal Lara. “Mama dan Papa lagi nggak ada di rumah. Mereka lagi nginep ke rumah nenek,” lanjut Lara. Dan sepertinya Zahra tidak memiliki pilihan lain selain mengiyakan ajakan Nana. Dan sontak saja timbul pekikan bahagia dari gadis itu. Zahra sempat berpikir apakah dari ketiga temannya ini dialah yang paling sulit diajak keluar?
Dan keempat gadis ini memang benar-benar jalan-jalan. Nana membawa ketiga temannya ke sebuah tempat yang katanya baru buka. Pastinya gadis itu ingin menikmati menu yang dia sempat dengar enak. Zahra sendiri bukan pecinta kuliner, jadi dia nampak biasa begitu juga dengan Cindy dan Lara.
“Lo tau tempat ini dari siapa, Na?” tanya Cindy lebih dulu.
“Aji,” jawab gadis itu.
“Aji?” tanya Cindy. Kemudian dia mengingat-ingat nama itu di kepalanya. “Aji yang dulu pernah ada di cafe itu? Yang waktu kita masih di semester satu?” tanya Cindy yang tiba-tiba mengingat sosok pemuda itu.
Nana pun mengangguk membenarkan perkataan Cindy. “Gila! Lo masih berhubungan sama dia?” pekik Cindy seakan tak percaya dengan temannya ini. Perlu diketahui bahwa Nana dan Aji dulu pernah dekat. Nana pun sampai baper dibuatnya, namun sayang cintanya bertepuk sebelah tangan karena pemuda itu memiliki gadis incarannya sendiri dan dia menganggap Nana tidak lebih dari teman. Sempat patah hati, namun gadis ini kembali bangkit. Mengingat bagaimana sedihnya Nana saat itu membuat ketiga temannya tak percaya jika gadis ini masih menjalin komunikasi dengan Aji.
“Ya gimana, ya,” balas Nana gugup dan terdengar ambigu. Ketiga temannya ini pun memusatkan perhatian mereka kepada gadis yang sejak tadi kekeh untuk membawa mereka ke sini. Pastinya bukan hanya menu baru dan baru buka juga. Pasti ada alasan lain di balik semua ini. “Dia ngehubungi gue lagi,” ungkap Nana yang membuat ketiga temannya mendapat jawaban lebih dari ini. “Udah dari dua minggu yang lalu gue komunikasi lagi sama dia. Dan dia terus hubungi gue tiap hari. Kita cerita banyak dan gue baru tahu kalau dia udah putus sama pacarnya itu.”
“Dan lo mau aja gitu dideketin lagi sama dia? Gila! Bodoh banget temen gue,” sembur Lara yang memang terdengar blak-blakan.
“Bukan gitu, Ra. Gue cuma bingung sama hati gue,” balas Nana.
“Nggak perlu ada yang dibingungin, Na. Dia udah bikin lo sedih dan nangis terus nggak ada kabar karena udah punya pacar. Dan sekarang dengan seenaknya dia balik lagi? Hebat banget tuh cowok,” cecar Lara. Nana pun tak merasa sakit hati dengan yang dikatakan temannya karena dia memang tahu betul bagaimana sifat Lara.
“Udah, Ra. Nggak usah emosi gitu,” lerai Zahra yang tak ingin keadaan semakin panas.
“Oke, gue diem,” putus Lara sewot.
“Sorry, guys,” ujar Nana. “Sebenarnya ini tempat juga punyanya Aji,” ungkapnya lagi yang membuat ketiga temannya terkejut. Oke, jadi ini adalah alasan di balik Nana yang keke mengajak mereka keluar. Sekarang mereka paham.
“Udah gue duga,” sindir Lara. “Kalau udah bucin, mah, memang susah,” lanjutnya.
“Lo belum tau aja rasanya, Ra, suka banget sama orang sampai lupa kesalahan-kesalahan apa yang dia buat,” timpal Nana yang kembali menyerang temannya itu.
“Sorry. Gue nggak doyan sama hubungan kayak begitu,” jawab Lara yang memang cuek. Nana pun memilih diam dan tak ingin berdebat lagi dengan temnnya ini. Mereka pun akhirnya mencoba menikmati makanan di sini. Mengobrol ringan seperti yang ketegangan yang barusan terjadi hanyalah angin lalu.
“Hallo, Girls.”
Obrolan keempat gadis ini pun terhenti seketika ketika mendengar sapaan dari seorang pemuda. Dilihatnya pemuda itu sedang memakai celemek dan masker. Entah siapa yang jelas mereka tidak mengenali pemuda itu. Raut wajah bingung pun terpancar dari keempat gadis ini. “Oh maaf! Ini gue Aji,” ungkap pemuda itu sambil menurunkan masker yang dipakainya. Seketika keempatnya pun terkejut terutama Nana karena selama komunikasi lagi dengan Aji, dia belum pernah bertemu pemuda itu dan ini adalah pertama kalinya.
“Elo? Gue kira siapa,” jawab Lara lebih dulu. Dia sepertinya masih belum bisa memaafkan pemuda ini karena dulu pernah membuat temannya sedih.
“Iya ini gue. Gue pikir siapa empat gadis cantik yang datang ke tempat gue. Eh ternyata kalian,” ujar pemuda itu yang memang ahli sekali mencairkan suasana.
“Ini Nana tiba-tiba mau ke sini dan yaudah kita ikut,” ungkap Zahra jujur yang mendapat tendangan kecil dari bawah meja yang berasal dari Nana. Gadis itu sepertinya cukup malu ketika ketahuan sengaja mengajak teman-temannya ke sini.
“Oh begitu. Iya gue waktu itu bilang ke Nana buat ajak teman-teman kampusnya ke sini. Hitung-hitung biar makin banyak yang tahu aja,” jelas Aji. “Oh iya! Gimana makanannya. Itu gue tadi yang masak,” lanjut pemuda itu yang membua keempat gadis di sana merasa takjub.
“Lo yang masak, Ji?” tanya Nana seakan tak percaya. Akan tetapi, pemuda itu mengangguk membenarkan pertanyaan gadis itu barusan.
“Cocok, sih. Yang satu pintar masak, yang satu nggak bisa masak tapi pintar makan doang,” sindir Lara yang dia maksud adalah Nana. Seketika pipi Nana pun memerah ketika mendengar sindiran temannya.
“Sorry? Maksudnya gimana?” tanya Aji lebih lanjut yang tak paham dengan perkataan gadis itu. Lara pun enggan untuk menjelaskan lebih lanjut. Sepertinya benar dugaannya bahwa Aji memang tipe pemuda yang tak peka dengan keadaaan sekitarnya. Bisa-bisanya dia tidak menyadari perasaan Nana kepadanya.
“Pikir aja sendiri. Gue mau ke toilet. Toiletnya di mana?” tanya Lara. Aji pun memberitahu letak toilet di tempatnya itu, kemudian dia kembali mengobrol dengan ketiga gadis ini.
“Jadi, lo masih kuliah apa nggak, Ji?” tanya Zahra.
“Masih. Hari ini gue nggak ada kelas, jadi bisa sempetin ke sini.”
Ketiga gadis itu pun mengangguk mengerti. “Hebat juga lo bisa kuliah sambil jalani bisnis ini,” puji Zahra yang membuat pemuda itu terkekeh.
“Biasa aja menurut gue. Lagi pula semua modal ini dapat dari hutang ke orang tua gue. Nanti kalau keuangan udah stabil, gue cicil tuh hutangnya,” jelas Aji.
“Nggak apa-apa hutang dulu. Yang penting, kan, mau usaha,” balas Zahra yang disetujui oleh kedua temannya yang lain.
“Btw, teman kalian itu si Lara masih aja ngeselin,” celetuk Aji yang mengingat tabiat gadis yang ke toilet itu seperti apa. Mendengar pernyataan Aji membuat ketiga gadis ini tertawa. Pada dasarnya mereka tidak bisa menampik bahwa sifat Lara tidak pernah berubah dari dulu.
Sret.
Ada sebuah tarikan kasar dari arah belakang tubuh Zahra. Lengannya ditarik sedikit, namun terasa nyeri karena terlalu kuat. Lantas gadis itu menoleh dan matanya membola terkejut begitu juga diikuti oleh Nana dan Cindy
“De ... van,” lirih gadis itu yang tak menyadari keberadaan kakaknya itu di sini.
“Pulang,” tekan Devan dengan raut muka datarnya. Dia sejak tadi memang berada di sini untuk meeting. Dan dia juga telah menyadari keberadaan adiknya itu bersama teman-temannya di sini. Sayangnya Zahra dkk tidak menyadari keberadaan Devan.
Dengan sekali tarikan Devan segera membawa Zahra keluar dari tempat ini. Nana dan Cindy pun tampak ikut berdiri ingin mengejar Zahra, namun mereka ingat jika ada Lara yang masih berada di toilet.
“Tunggu!” teriak Aji yang membuat langkah Devan terhenti diikuti oleh Zahra yang nampak meringis karena terlalu kuatnya cengkeraman kakaknya itu di tangannya. Devan menatap Aji datar yang berjalan ke arah mereka. Nana dan Cindy pun sudah was-was dibuatnya karena mereka tahu bagaimana sifat pemuda bernama Devan ini.
“Lo nggak bisa halus dikit sama cewek?” kata Aji. Dia sendiri tahu jika di pemuda di depannya ini lebih tua darinya. Bisa dilihat dari jas yang Devan kenakan yang malah semakin membuatnya terlihat seperti pria dewasa. Aji sendiri belum tahu hubungan Zahra dengan pemuda ini, namun dia sangat menentang kekerasan kepada perempuan.
Mendengar pernyataan Aji membuat Devan tak pernah gentar dengan apa yang dia lakukan bahkan dia malah semakin erat mencengkeram pergelangan tangan Zahra yang malah membuat gadis itu meringis dibuatnya.
“Hei! Lepasin! Lo nyakitin dia,” ungkap Aji yang melihat bagaimana Zahra meringis kesakitan.
Bukannya menjawab, Devan malah menarik tangan Zahra ke arahnya dan seketika tubuh gadis itu pun terbanting di dadanya. “Suruh temen lo ini diam atau gue akan bertindak lebih. Tentunya lo akan tau gimana gue kalau sudah bertindak,” bisik Devan kepada Zahra yang hanya didengar oleh gadis itu.
Seketika Zahra pun menengok ke arah Aji berada. “Sorry, Ji, gue nggak apa-apa, kok. Dia ini kakak gue,” ungkap Zahra. Meskipun pemuda ini adalah kakak dari Zahra, namun tak sepantasnya kakak memperlakukan adiknya seperti ini. Begitulah kira-kira pemikiran Aji pada saat itu. Namun, ketika melihat tampang memelas dari Zahra yang mengisyaratkan untuk tidak memperpanjang hal ini pun membuat Aji menjadi diam. Tanpa menunggu berlama-lama lagi Devan pun kembali membawa Zahra pergi dan tentunya gadis itu tahu bahwa pergelangan tangannya akan meninggalkan bekas memerah.