PART 1

1073 Kata
Waktu berjalan begitu sangat cepat. Zahra Adia Putri sekarang menjelma menjadi gadis yang cantik. Entah bisa disebut seorang gadis atau wanita, dia memang tampak cantik dan menawan di usianya yang sudah dewasa. Di mana kebanyakan teman-temannya sudah tak malu memakai make up, gadis itu malah memilih untuk tampil seadanya yang mana terlihat sudah cukup cantik bahkan tak jarang para pemuda melihatnya dengan terang-terangan. Zahra nampak sedikit kesusahan membawa buku-buku miliknya. Bukan! Itu adalah buku milik dosen menyebalkan yang memang selalu menjadi musuhnya itu. Dosen yang selalu membuatnya naik darah, yang menyebalkan menurutnya, yang malah seperti membedakan dirinya dengan mahasiswa lain. “Ra, mau gue bantuin nggak?” Tiba-tiba saja dia dikejutkan dengan kedatangan Nana, temannya. Dengan tampang memelas, gadis itu pun segera memberikan beberapa buku yang menyulitkan jalannya itu. Dan dengan cekatan Nana pun membantu temannya ini. Selain membantu Zahra, dia juga memiliki maksud lain, yakni dosen tampan seantero kampus, Pak Farhan. “Thanks, Na, untung ada lo. Gila, ya, orang di kampus ini tega banget biarin gue bawa buku banyak gini. Nggak ada inisiatif banget bantuin,” omel Zahra yang tak henti-hentinya menggerutu. “Sabar, Ra. Orang-orang juga punya kesibukan kali,” sanggah Nana. “Ya, ya. Dan gue juga kesel sama dosen ngeselin itu. Entah udah berapa kali gue dibuat kesel sama tuh orang. Pengen banget gue tenggelamin dia ke rawa-rawa biar sekali aja musnah dari muka bumi ini,” umpatnya yang malah mengundang tawa dari sebelahnya. “Kalau ngomel mending di depan orangnya langsung, Ra. Jangan ke gue.” “Di depan dia gitu?” tanya gadis itu yang diangguki oleh Nana. Keduanya masih berjalan menuju ke ruangan tempat dosen itu berada yang mana jaraknya memang sedikit jauh. “Gila aja! Lo mau buat nilai gue jeblok lagi? Ogah! Entar gue kena semburan Devan. Perlu lo ingat dan gue harap lo nggak akan lupa gimana pedasnya mulut kakak gue itu. Kalau dia tau nilai gue jelek, pasti dia akan semakin senang dan gue nggak punya balasan untuk segala cibirannya itu.” “Ya ... itu sudah takdir hidup lo, Ra, dikelilingi orang-orang yang menyebalkan. Tapi, lo juga beruntung dikelilingin oleh orang-orang ganteng.” “Ganteng? Gue mending pilih yang ganteng tapi lemah lembut,” timpal Zahra yang mendengar pemikiran tak masuk akal temannya ini. “Susah. Lebih enak itu yang dingin-dingin es batu, lucu, ngeselin tapi ngangenin.” Zahra bergidik ngeri mendengar jawaban dari temannya itu. Ya, memang selera orang beda-beda termasuk gadis ini. Tanpa terasa kedua gadis ini pun telah sampai di ruangan dosen mereka. Dosen yang terkenal karena ketampanan dan kesuksesannya itu mampu memikat seluruh mahasiswi di kampus ini. Dosen yang baru setahun menjadi penghuni tetap jajaran kampus ini pun cepat sekali untuk dikenal oleh banyak orang. Sifatnya yang terkadang murah senyum dan terkadang tegas dalam mengajar menjadi daya pikat tersendiri. Tok tok. Suara pintu membuat pergerakan Farhan yang semula mengetik di laptop miliknya pun sedikit teralihkan ke arah pintu. Dia bisa menebak jika yang berada di luar sana adalah salah satu mahasiswi kesayangannya. Yang selalu mengibarkan bendera perang kepada dirinya. Yang selalu menjadi bahan suruhan Farhan ketika di kampus. Yang selalu saja protes ketika dia suruh. “Masuk.” Suara tegas miliknya membuat kedua gadis yang sejak tadi menunggu di luar pun sedikit menyembulkan kepalanya. Zahra yang diikuti Nana di belakangnya pun berjalan menuju ke meja ruangan pria dewasa itu. Farhan yang pada awalnya mengernyit bingung mendapati sosok lain yang dibawa oleh salah satu mahasiswi kesayangannya itu pun mulai paham jika Zahra dibantu oleh salah satu temannya untuk membawakan buku miliknya itu. Nana nampak memandang dosen tampannya itu dengan minat. Ternyata tidak salah tadi dia membantu temannya membawa buku-buku ini. Sekalian cuci mata menurutnya jika bertemu dengan Farhan. “Ini, Pak, buku-buku yang Bapak minta,” ucap Zahra yang meletakkan buku-buku itu tepat di meja Farhan yang sedikit besar. Nana pun mengikuti gerakan yang Zahra lakukan, namun dengan mata yang terjurus kepada dosennya itu. Setahun berada di kampus ini membuat Farhan kebal dan tak canggung lagi ketika ditatap terang-terangan oleh para mahasiswinya. Namun, hanya satu orang yang tidak memandangnya seperti itu, malah memandangnya bak musuh. Siapa lagi kalau bukan Zahra Adia Putri. Nama itu akan Farhan ingat terus menerus. “Terima kasih Zahra,” balas Farhan. Kemudian dia beralih menatap teman sekaligus gadis yang berdiri tepat di samping Zahra. “Dan kamu?” “Nana, Pak. Saya Nana,” jawab Nana langsung memperkenalkan dirinya dan berharap dosennya ini hapal dengan namanya itu. Farhan pun mengangguk mengerti. “Terima kasih.” “Sama-sama, Pak.” “Sudah, kan, Pak? Kalau tidak ada lagi hal yang penting, saya dan teman saya mau undur diri,” sembur Zahra. Gadis itu memang malas sekali berlama-lama di ruangan dosennya yang sudah dia hapal seluk beluknya itu. Bagaimana dia tidak hapal jika dalam seminggu saja bisa dihitung berapa kali dia ke sini. Ada saja hal yang dosennya minta kepada gadis itu. “Baiklah kamu boleh pergi,” jawab Farhan. Kemudian kedua gadis itu pun melangkah menuju ke pintu dengan perasaan Nana yang senang karena bisa melihat dosen tampannya itu, namun sedih juga mengingat dia hanya sebentar berada di sini. “Oh iya!” Pekikan Farhan menghentikan langkah keduanya. Zahra pun menghembuskan napasnya kesal, jika seperti ini maka akan ada hal lain yang pria itu minta. Jika dipikir-pikir, gadis itu sudah seperti pembantu di kampusnya ini. “Iya, Pak?” Nana menyahut lebih dulu meninggalkan Zahra yang enggan untuk meladeni dosennya itu. Melihat ketidakpedulian gadis itu membuat Farhan menggeram tak suka. “Zahra, besok saya minta kamu belikan bubur ayam yang persis dekat rumahmu itu. Pesankan seperti biasanya,” perintah Farhan kepada Zahra dengan mengabaikan keberadaan Nana. Zahra pun sudah biasa diperintah seperti ini oleh pria itu. Dulu, dia tanpa sengaja bertemu Farhan di dekat rumahnya, lebih tepatnya di warung bubur yang memang terkenal enak itu. Dia kesal karena semenjak itu Farhan selalu menyuruhnya membelikan bubur. Dosen yang aneh menurut Zahra sendiri. Namun, gadis itu tidak bisa membantah perintah Farhan karena pria itu selalu mengancamnya dengan nilai nanti. “Baik, Pak. Apa ada hal lain lagi yang ingin Anda titipkan kepada saya? Jujur, sebenarnya saya dan teman saya ini sedang sibuk unutk mengerjakan matkul lainnya, Pak,” ujar Zahra yang sudah tak ingin lagi berada di tempat ini. “Kamu sepertinya ragu untuk membelikan pesanan saya Zahra? Atau kamu mau–” “Tidak, Pak! Bapak jangan ambil kesimpulan sepihak begitu, dong,” potong Zahra. “Oke, besok saya akan membelikan Bapak bubur sesuai pesanan Anda. Jika tidak ada hal penting lagi, saya pamit undur diri. Selamat siang, Pak!” Gadis itu segera menyeret Nana untuk segera keluar dari sana. Meskipun timbul suara protes dari temannya itu, Zahra tidak peduli. Yang terpenting nilainya tetap aman sentosa. Dan tanpa mereka ketahui bahawa di dalam ruangannya itu Farhan tertawa melihat bagaimana ketidakberdayaan salah satu mahasiswinya itu. Sepertinya menyenangkan sekali membuat gadis itu kesal. --------------------------------------- Hehehe ini baru part 1, ya. Tunggu part-part selanjutnya >
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN