Zahra sampai di rumah dengan selamat. Namun, dia sedikit takut untuk masuk. Setelah Nana, Cindy, dan Lara mengantarnya pulang, gadis itu segera memasuki area rumahnya dengan langkah kaki yang pelan. Sejauh yang dia lihat belum ada kemunculan Vanya, mungkin mamanya itu sedang memiliki urusan di luar. Akan tetapi, langkahnya terhenti ketika mendapati sorotan tajam dari ujung tangga. Di sana berdiri Devan deng raut muka datarnya. Gadis itu pun menelan ludahnya dengan susah.
Dengan sedikit keberanian, Zahra pun mencoba menetralkan rasa gugupnya. Dia berjalan menuju ke kamar miliknya yang tepat di sebelah kamar kakak tirinya itu. namun, langkahnya terhenti ketika mendengar nada tak mengenakkan yang selalu dikeluarkan oleh Devan.
“Nggak tau diri,” ujarnya tanpa rasa bersalah sedikit pun. “Lo jadi cewek ganjen banget! Nggak punya harga diri, hah?! Malu sama Papa dan Mama. Jadi anak pungut aja nggak tau diri!” bentak Devan yang sama sekali tidak paham jika segala perkataannya mampu melukai hati gadis bernama Zahra ini. Tentu saja Zahra sedih karena mendapat segala perlakuan buruk dari Devan. Dari dulu gadis itu selalu bertanya-tanya kenapa Devan membencinya? Bahkan dia tidak melakukan apa pun. Jika Devan membencinya karena kehadirannya di keluarga ini, Zahra sungguh sangat menyesal. Ini bukanlah kemauannya untuk tinggal bersama Vanya dan Deka, namun tidak ada keluarga yang bisa ia jadikan tempat pulang selain Vanya dan Deka.
Tuhan seakan membolak-bolikkan hati gadis ini. Memberinya segala ujian. Dan dengan sangat terpaksa mau tidak mau Zahra harus menerima ujian itu. Ma, Pa, aku ingin ikut kalian, batin gadis itu sedih meratapi nasibnya.
“Aku tadi diajak temen-temen keluar dan maaf karena lupa ngabarin kamu,” jelas gadis itu dengan kepala tertunduk. Devan pun berdecak kesal dengan kelakuan gadis yang tak bisa diatur ini.
“Inilah akibatnya karena salah bergaul. Pilihlah teman yang bisa memberi dampak baik, bukan malah buruk seperti in.”
“Teman-temanku baik semua,” bantah Zahra tak begitu menyukai ketika Devan menjelek-jelekkan teman-temannya.
“Baik? Seperti jalang iya,” sembur pemuda itu.
Plak.
Satu tamparan mengenai pipi pemuda itu. Zahra menatap Devan dengan bengis. Yang habis ditampar pun memegang pipinya. Entah sudah berapa kali gadis ini berani menampar dirinya. “Jangan pernah jelek-jelekin teman-temanku, Devan,” peringat gadis itu yang mulai berani dengan pemuda ini. “Bahkan mereka lebih baik dari kamu,” lanjutnya lagi. “Oh iya, berhenti sok peduli dengan segala urusanku. Bukankah kamu malas untuk melakukan hal kepedulian seperti ini?”
Devan tersenyum remeh mendengar penuturan gadis ini. “Gue bukan peduli sama lo. Jadi cewek nggak usah kepedean. Gue hanya menjaga martabat keluarga dari seorang gadis yang nggak tau diri seperti lo ini,” jawabnya.
“Kenapa, sih, kata-kata kamu itu selalu buat aku marah? Aku selalu menghormati kau selayaknya kakakku sendiri. Tolong bersikaplah lebih baik. Aku sudah capek kita begini terus,” pinta gadis itu mengeluarkan segala unek-uneknya.
Devan pun enggan menjawab. Dia tidak berminat menjawab segala protesan dari gadis itu. pemuda itu memilih meninggalkan Zahra dengan segala kekesalannya. Zahra pun menjadi bertambah kesal melihat kecuekan yang ditunjukkan pemuda itu. Dengan keadaan hati yang tak baik, gadis itu memilih mengurung dirinya di dalam kamar. Mengumpati segala hal mengenai pemuda itu.
***
“Gue dengar-dengar ada yang lagi coba deketin kakak lo itu, Ra,” ungkap Nana ketika mereka berempat seperti biasa sedang berkumpul di salah satu meja di kantin fakultas mereka. Tapi kali ini tampak berbeda. Mereka memilih kantin umum, itu pun atas keinginan Nana yang katanya ingin melihat stok cogan yang belum pernah dia lihat di kampus ini. Perilaku gadis itu bukan hal yang menjadi aneh bagi ketiga temannya. Entah mengapa Zahra merasa Nana tidak seperti saat mereka duduk di bangku SMA dulu. Gadis ini lebih berani sekarang.
“Terus urusannya sama gue apa?” tanya Zahra sedikit sewot. Dia tidak begitu menyukai topik pembicaraan mengenai kakak tirinya itu. Oh iya, Zahra sendiri sudah terbuka kepada ketiga temannya ini mengenai bagaimana perilaku Devan kepadanya. Untuk itulah dia tidak menyukai pendapat Devan kemarin yang menjelekkan teman-temannya ini.
“Cuma ngasih tau doang, Ra. Lo sewot mulu perasaan,” jawab Nana cekikikan. Dia tahu jika Zahra tidak menyukai topik pembicaraan mengenai kakak temannya itu.
“Bodo amat gue nggak peduli,” balas Zahra yang kembali asyik dengan camilannya saat ini.
“Itu bukannya Devan kakak lo itu, Ra?” celetuk Cindy sambil mengkode ketiga temannya untuk melihat ke arah yang dia maksud.
Di sana Devan tampak bercengkerama dengan teman-temannya, namun ada satu gadis yang ikut juga berada di perkumpulan itu. Zahra pun tidak menyangka jika ada gadis yang berani mendekati kakak tirinya itu. Dilihat dari segi mana pun Devan tampak menyebalkan di mata Zahra. Dan dia cukup kasihan dengan gadis di sana yang sebentar lagi pasti akan mendapat semburan panas dari pemuda itu.
“Gila, tuh, cewek ganjen banget. Udah tau Devan risih masih aja dideketin. Nggak tau malu banget,” komentar Nana. Memang benar apa yang dikatakan temannya ini. Gadis di sana masih mencoba mendekati Devan. Mungkin gadis itulah yang Nana maksud tadi.
“Udahlah guys nggak usah dilihatin terus. Makan aja udah fokus,” komentar Zahra.
“Ini itu tontonan bagus tau, Ra. Gue mau lihat seberapa malunya cewek itu ditolak mentah-mentah sama kakak lo,” ungkap Nana yang mengundang nada persetujuan dari Cindy dan Lara. Zahra pun meringis mengingat kembali kejadain ketika pemuda itu menolak mentah-mentah seorang gadis yang berada di kantin sekolah mereka. Tepat kejadiannya seperti ini. Apa hal itu akan terulang kembali?
Brak
Keempat gadis itu berjengit kaget. Zahra sampai mengelus dadanya karena terkejut. Nana pun sampai melotot dibuatnya.
“Pergi lo! Nggak tau malu!” bentak Devan yang mengabaikan segala tatapan dari penjuru kantin termasuk Zahra dkk. Zahra berdoa semoga tidak akan terjadi hal buruk kepada gadis di sana.
“Devan, aku itu suka sama kamu,” ungkap gadis itu yang masih kekeh untuk mengambil hati pemuda dingin di sana. Zahra pun hanya mampu menjadi penonton sama seperti yang lain.
“Gue nggak suka sama lo. Lo bukan selera gue,” jawab pemuda itu. Gadis itu pun tampak sedih apalagi ketika terdengar suara tawa dari beberapa mahasiswa di kantin. Gadis itu pun berlari meninggalkan area kantin karena malu. Zahra pun memandang prihatin gadis itu. Kemudian tanpa sengaja matanya bertemu dengan mata elang milik Devan. Pemuda itu memandang Zahra dengan tatapan yang tak bisa dijelaskan. Dan dengan susah payah Zahra pun menelan kegugupannya itu yang tak disadari oleh ketiga temannya.