“Zahra, kamu jadi masuk ke kampus tempat Devan, kan?” tanya Deka tepat ketika keluarga kecil mereka sedang berkumpul di ruang keluarga.
Gadis yang namanya disebutkan pun tampak menoleh kepada orang tua angkatnya itu. Begitu juga dengan seorang pemuda yang namanya turu disertakan dalam pembicaraan ini. “Jadi, Pa.”
“Bagus. Papa akan segera urus berkasnya,” jelas Deka yang mulai kembali sibuk dengan ponsel miliknya. Mungkin pria itu sedang menghubungi Septian sang sekretaris untuk mengurus berkas keperluan sang putri.
“Tunggu, Pa. Dia akan kuliah di tempatku?” tanya Devan langsung yang tumben sekali mengeluarkan suaranya ketika mereka sedang berkumpul seperti ini.
“Ya. Kenapa, Devan? Apa kamu keberatan?” tanya Deka juga.
“Tentu,” jawab pemuda itu yang mengundang pelototan dari tempat Zahra duduk. Kakanya ini benar-benar mengibarkan bendera perang di depannya secara terang-terangan. “Biar masa SMA-ku saja yang terganggu dengan keberadaan dia. Tolong masa kuliahku jangan, Pa,” lanjutnya yang membuat sang adik terduduk lemas. Vanya yang melihat perilaku putranya yang terang-terangan membenci putrinya ini pun mencoba menguatkan sang anak.
“Devan! Jaga bicara kamu,” kata Deka tegas menegur sang putra. Semakin bertambahnya tahun, putranya ini semakin gencar menyuarakan protesnya mengenai keberadaan Zahra di dalam keluarga ini.
“Kenapa, Pa? Papa dan Mama mau bela dia lagi. Kalian mau dipihak dia lagi?” desak pemuda itu yang suaranya tiba-tiba menjadi tinggi.
“Devan! Dia adik kamu. Tidak seharusnya kamu mengatakan hal jahat seperti ini.”
“Bukan. Dia itu orang lain. Orang yang berani-beraninya hadir di hidupku dan mengambil semua milikku, termasuk Mama dan Papa,” jawab Devan yang tak pernah gentar dengan geraman dari sang papa.
“Keterlaluan! Kamu –”
“Deka!” potong Vanya menghentikan perdebatan antara orang tua dan anak ini. Vanya tahu jika Devan masih belum menerima keberadaan gadis ini, namun dia tidak ingin keluarga kecil ini menjadi berantakan karena timbulnya perdebatan antar dua orang di depannya ini. “Cukup, sudah cukup,” kata Vanya. Deka yang terbawa emosi pun perlahan menstabilkan emosinya. Dia hampir saja kelepasan di depan sang istri dan putrinya ini.
“Aku harap ini terakhir kali ini Mama dengar perdebatan seperti ini,” kata Vanya menatap dua orang pria yang berbeda usia ini yang enggan menatapnya balik. “Dan kamu Devan, adik kamu Zahra akan tetap kuliah di sana. Ini sudah keputusan Mama dan Papa.”
“Tapi, Ma –”
“Tidak ada tapi-tapian,” potong wanita yang tak pernah terlihat menua ini. Di usianya yang sudah memiliki seorang putra yang telah dewasa, Vanya masih terlilah cantik begitu juga dengan Deka yang tampan. Dan tentunya ketampanan itu menurun kepada putra mereka.
Karena tidak ada yang berpihak kepada dirinya sedikit pun di rumah ini, Devan meninggalkan mereka dan memilih kamar sebagai tempat pelampiasannya.
Sial, gadis itu benar-benar membuat semua orang berpihak kepadanya. Dasar licik, batin pemuda itu mengumpat keberadaan Zahra yang mengambil semua hal miliknya.
“Ma ... Pa, kalau Devan tidak setuju aku kuliah di sana, Zahra bisa cari kampus lain,” ujar gadis yang sejak tadi menjadi perdebatan mereka.
“Tidak, Sayang, kamu akan tetap kuliah di sana. Katamu Nana juga masuk ke sana, bukan?” jawab Vanya yang tepat duduk di samping putrinya.
“Ya, Ma. Tapi, Devan –”
“Kamu akan tetap kuliah di sana, Zahra. Ini sudah keputusan Papa,” potong Deka yang kemudian beranjak meninggalkan istri dan putrinya masuk ke dalam kamar. Melihat kepergian sang papa membuat Zahra menjadi sedih.
“Hei, Papa nggak marah, kok, Sayang,” ucap Vanya yang sangat tahu jika gadis ini pasti akan menyalahkan dirinya sendiri.
“Papa marah, Ma. Devan juga marah. Ini semua salah Zahra,” ungkap gadis itu dengan raut wajahnya yang sedih. Melihat sang putri sedih pun membuat Vanya menjadi tak tega.
“Bukan, Sayang. Devan, dia masih butuh waktu,” jawab Vanya. Gadis itu tahu jika kakak tirinya itu sangat sangat tidak menyukai keberadaan dirinya di sini. Dia tahu sejak dulu, ketika dirinya baru memasuki keluarga Grillmo, dengan terang-terangan Devan menatapnya dengan sinis.
“Pa, bagaimana ini? Sudah bertahun lamanya, tapi Devan tetap bersikap seperti itu kepada Zahra. Kasihan putri kita, Pa,” ucap Vanya ketika dia dan Deka sedang bersiap untuk tidur. Setelah acara temu keluarga kecil mereka bubar, Vanya menyusul sang suami. Tampak Deka yang sibuk dengan ponsel miliknya. Mungkin pria itu masih menghubungi Septian.
“Biarkan saja seperti ini. Kita tidak bisa memaksa ini. Kalau kita nekat, dia bisa-bisa bertindak lebih, Sayang. Kita cukup awasi segala tindakan dia dari jauh dan dekat,” jawab Deka. Vanya pun mengambil tempat tepat di samping suaminya itu.
“Biarkan? Zahra itu perempuan, Pa. Hatinya pasti rapuh apalagi ketika mendengar segala nada sinis dari anak kita,” balas Vanya sedikit sengit. “Dia benar-benar keturunanmu. Lihat saja betapa angkuhnya dia kepada perempuan,” lanjutnya lagi yang membuat Deka menoleh penuh kepada istrinya ini.
“Dia anakmu juga, Sayang. Kita buatnya bersama nggak hanya aku saja,” sanggahnya.
“Ya, tapi sifat dia banyak yang ambil dari kamu. Kenapa dia nggak ngambil sifatku aja, sih,” kesal wanita itu.
“Sifatmu? Cerewet dan susah diatur? Sifatmu yang itu?”
“Kamu?!” Wanita itu melotot seakan tak percaya dengan perkataan suaminya ini. “Selamat! Seminggu ini kamu puasa! Nggak ada jatah! Bye!” lanjutnya yang kemudian masuk ke dalam selimut dan membungkus dirinya dengan benda itu. Deka yang mendapat respons seperti ini dari sang istri pun tampak kebingungan.
“Sayang, jangan begitu, dong. Kamu tega banget sama aku,” ujar pria itu mencoba merayu sang istri. Vanya sendiri enggan untuk menjawab dan dia memilih berpura-pura tidur. Deka pun mengumpat di dalam hatinya karena seminggu ke depan dia harus puasa. Sial! Ini semua gara-gara Devan.
***
“Zahra, nanti ikut kita jalan, yuk. Sepulang ngampus. Ada tempat tongkrongan anak muda yang katanya banyak cowok-cowok ganteng, loh,” ajak Nana. Dibanding saat SMA, teman Vanya lebih banyak di kampus. Saat ini selain ada Nana, Cindy dan Lara adalah temannya juga. Jadi empat perempuan ini sering sekali terlihat bersama entah di area kampus atau luar.
“Emmm, aku belum ijin Mama dan Papa,” jawab gadis ini yang sangat dihapal oleh ketiga temannya.
“Udahlah, Ra, nggak perlu ijin. Lagian kita nggak seharian di sana, kok. Cuma bentar doang. Ngobrol-ngobrol terus kita cabut. Gimana?” ujar Cindy.
“Iya, Ra. Lagian lo itu udah dewasa, menurut gue nggak perlu ijin-ijin kayak begini. Dan juga kita perginya siang bukan malam dan itu pas banget saat pulang kampus. Menurut gue orang tua lo nggak bakalan keberatan. Kayak nggak pernah muda aja,” sambung Lara yang memang di antara ketiganya terdengar frontal sekali.
Gadis itu pun tampak berpikir, sedetik kemudian dia pun mengangguk setuju yang meninmbulkan pekikan senang dari ketiga temannya. Oh iya, sejak memasuki dunia kampus, Zahra selalu pulang dan pergi dengan Devan. Itu semua atas perintah Deka dan Vanya. Tentunya pada awalnya pemuda itu menolak karena enggan untuk berdekatan dengan gadis itu. namun, bukan Vanya namanya jika tidak bisa menjinakkan sang putra. Karena itulah Zahra akan mengirimi Devan pesan singkat nanti jika dia akan keluar bersama teman-temannya sebentar.
“Woah! Arah jam dua belas perkumpulan cogan, guys,” heboh Nana ketika keempatnya telah sampai di tempat tongkrongan yang tadi di kampus mereka bicarakan. Ketiga gadis itu pun menoleh ke arah Nana yang gadis itu maksud. Sekumpulan para pemuda yang memakai baju santai, namun masih membawa tas sedang asyik mengobrol. Mungkin mereka sama dengan keempat gadis ini yang mana seorang mahasiswa.
Memang tidak salah Nana memilih tempat ini. Mungkin karena terlalu kentar sekali jika mereka menatap ke arah perkumpulan pemuda tersebut, salah satu pemuda di sana pun menyadarinya hingga mereka pun sama-sama menoleh ke tempat Zahra dkk. Sontak saja pada gadis ini mengalihkan pandangan mereka ke semula.
“Sial! Mereka malah balik badan. Ini gara-gara kalian yang terang-terang natap mereka,” ucap Lara.
“Namanya juga surga dunia, Lara. Sayang banget kalau kita lewatin. Kapan lagi coba bisa ketemu cogan. Secara anak kampus pada b***k semua,” sanggah Nana. Zahra yang mendengar celetukan temannya ini pun hanya mampu tertawa.
“Hallo, Girls.” Tiba-tiba saja sebuah suara mengagetkan keempat gadis ini. Berdiri kedua pemuda tampan yang nampak tertarik dengan Zahra dkk. Nana yang mengetahui jika kedua pemuda ini adalah pemuda di perkumpulan yang tadi mereka lihat pun seketika menganga dan tampak bersemangat.
“Hello, Boy. What happen?” tanya Nana yang dengan terang-terangan menunjukkan rasa minatnya kepada kedua pemuda ini.
“Gue dan temen gue boleh gabung di sini, nggak? Oh iya pertama-tama kenalin gue Aji dan temen gue ini namanya Elang,” ucap pemuda bernama Aji itu sambil mengulurkan tangannya pertama kali kepada Nana, kemudian diikuti Cindy, Lara, dan Zahra.
“Gue Nana.”
“Cindy.”
“Lara.”
“Zahra.”
“Bagaimana? Kita boleh gabung, kan?” tanya pemuda itu lagi.
“Boleh!” jawab Nana langsung yang mengundang pelototan dari ketiga temannya. Bahkan mereka saja belum berunding dan gadis ini malah menentukan pilihannya sendiri.
“Oke, sip.” Kedua pemuda itu pun mengambil duduk di dekat gadis-gadis ini. Nana memang sangat mudah sekali membangun suasana denga orang baru, jadi bukan hal tak mungkin jika gadis itu akan cepat mendapat teman.
“Jadi kalian ini satu jurusan?” tanya Aji.
“Ya, kita satu jurusan lebih tepatnya.”
“Oh pantes. Ngomong-ngomong gue boleh minta nomor kalian, nggak?” tanya Aji. Sepertinya pemuda ini sebelas dua belas dengan Nana.
“Boleh,” jawab Nana yang langsung memberikan nomor ponselnya itu. Cindy, Lara, Zahra yang melihat kelakuan teman mereka hanya bisa menggelengkan kepala.
“Oke, nanti gue chat lo, Na,” kata Aji dengan senang.
“Oh iya, gue mau kenalin kalian sama teman-teman gue di sana,” tunjuk Aji kepada sekumpulan pemuda tampan tadi yang merupakan teman-temannya.
“Mereka teman-teman lo semua, Ji?” tanya Nana dengan minat. Zahra sendiri sudah was-was dengan kelakuan temannya yang tak terkontrol ini.
“Ya. Mereka temen segrup gue. Kita sekampus, tapi ada yang beda jurusan.”
“Di kampus lo memang cowoknya pada ganteng-ganteng gitu, ya?” celetuk Nana yang mengundang sikutan ringan dari Zahra. Aji yang mendengar penuturan gadis itu pun tampak tertawa.
“Seperti yang lo lihat aja.” Nana pun mengangguk dan mengabaikan kode dari Zahra.
“So, kalian pada mau gue kenalin, nggak? Mumpung gue dan teman-teman gue belum balik. Soalnya kita udah lama di sini dari tadi, rencana pada mau balik,” jelas pemuda itu.
“O –”
“Jangan!” potong Zahra. “Jangan sekarang, Ji. Jujur, gue sebenarnya kurang nyaman kalau kumpul sam cowok terlalu banyak kayak gitu,” ungkap Zahra sesungguhnya.
“Ish, Zahra, kita kan hanya mau kenalan doang,” timpal Nana yang perkataannya tadi dipotong oleh temannya ini.
“Jangan, Na. Mending kita balik aja, deh. Lo bilang tadi cuma sebentar, kan? Yaudah ayo kita pulang. Gue takut Mama gue nyariin,” ujar Zahra.
“Anak mama, nih?” celetuk Aji.
“Maksudnya apa?” tanya Zahra tak suka dengan celetukan pemuda yang baru dikenalnya ini.
“Ayolah, Ra. Sebentar doang, oke. Gue janji setelah kita kenalan sama temen-temennya Aji, kita pulang, oke?” desak Nana sekali lagi untuk membawa temannaya itu kepada sekumpulan pemuda di sana.
“Tenang aja. Temen-temen gue pada baik dan nggak ganas, kok,” sanggah Aj.
Zahra pun menghembuskan napasnya lelah. Kemudian dia menatap Cindy dan Lara bergantian bermaksud meminta persetujuan mereka.
“Gue, sih, ngikut aja, Ra soalnya gue juga nggak ada kerjaan di rumah,” jelas Lara yang peka dengan temannya itu.
“Gue pun juga,” sambung Cindy dan pada akhirnya Zahra pun kalah.
Mereka pun beranjak ke meja tempat teman-teman Aji berkumpul. Tidak banyak memang, hanya sekitar enam atau tujuh pemuda saja. Dengan sigap Aji dan Elang menyiapkan empat kursi untuk para gadis ini.
“Oke, guys, tolong jangan pada rusuh ya,” ucap Aji kepada teman-temannya ini.
“Kenalin para gadis cantik ini namanya Nana, Cindy, Lara, dan Zahra. Please muka lo pada kondisiin ya jangan buat mereka pada risih,” lanjut pemuda itu.
“Hallo, senang bertemu kalian,” kata Nana mewakili teman-temannya.
“Hallo cantik. Bagi nomor WA boleh?” tanya salah satu teman dari Aji.
“Udah gue bilang jangan pada rusuh lo pada,” peringat Aji. Sepertinya pemuda ini paling galak di dalam perkumpulan ini.
“Yaelah, Ji, bilang aja mau lo embat sendiri, kan? Dasar buaya cap predator,” celetuk temannya yang mengundang tawa dari mereka.
“Diem lo kutil kuda,” lawan Aji.
“Kalian ini pada seru banget kayaknya. Tapi, maaf nih gue dan temen-temen gue nggak bisa lama-lama di sini,” ungkap Nana yang sejak tadi dikode terus oleh Zahra. “Soalnya ada anak ilang yang dari tadi ngode gue buat pulang,” sindirnya yang membuat Zahra cemberut dibuatnya.
“Oke, nggak apa-apa. Next time kita bisa kumpul-kumpul lagi, Na,” balas Aji.
Setelah pamit, keempatnya pun segera beranjak meninggalkan tempat tersebut. Kebetulan Nana membawa mobil dan dia yang akan mengantarkan teman-temannya ini termasuk Zahra.
“Gila beruntung banget kita bisa kenalan sama mereka. Mana gue dapat nomornya Aji pula,” pekik Nana bahagia.
“Sepertinya lo doang, deh, Na yang senang. Gue mah ogah,” sambung Lara yang diangguki oleh Zahra.
“Lo aja yang nggak paham keadaan. Selama gue bicara sama Aji, gue juga perhatiin temen dia yang namanya Elang itu. Mata dia ke elo mulu perasaan dari tadi, kadang dia juga ngelirik lo. Gue rasa, nih dia tertarik sama lo tapi Cuma gengsi aja.”
“Ngawur!”
“Hahaha.”
Mereka pun menertawakan Lara yang dipojokkan oleh Nana. Akan tetapi mereka tidak menampik bahwa yang gadis itu katakan salah karena memang pada dasarnya Nana benar.
Ting.
Devan: Pulang.
Pesan singkat itu baru saja Zahra dapatkan. Sial! Dia lupa untuk mengabari pemuda itu. lihat saja dari gaya bahasanya saja sudah menunjukkan jika Devan pasti akan marah besar kepadanya. Siapkan hatimu Zahra untuk menerima segala makian dari pemuda itu.