Entah kebetulan yang memang kebetulan atau bagaimana, tepat ketika Zahra dan Devan sampai di rumah, beberapa saat kemudian Deka dan Vanya juga baru datang yang entah telah pergi dari mana. Zahra langsung mencecar kedua orang tua itu secara langsung, bahkan dia enggan untuk berdekatan dengan Devan untuk saat ini. “Bisakah Papa dan Mama jelaskan apa maksud ini semua?” tanyanya langsung, raut wajah Zahra juga tak mengenakkan. “Nak, duduk dulu, yuk,” ajak Vanya yang mengantar gadis ini untuk duduk di salah satu sofa yang ada di ruang tamu. “Sekarang cerita ada apa?” kata Vanya dirasa semuanya sudah tenang. “Devan mengatakan bualan—” “Itu bukan bualan, tetapi itu kenyataan,” potong Devan dengan cepat. Dia tak terima ketika Zahra mengatakan jika segala yang dikatakannya adalah bualan semat

