PART 15

1074 Kata
"Gue akuin gue salah, tapi kakak juga ngga berhak melarang gue buat deket sama Sam!" Sergah Jo. "Gue berhak melarang lo dekat dengan Sam!" "Apa hak kakak?!" Jo mendorong pundak Sammy. Mereka belum terlihat akan berhenti. Sam bingung, ingin melerai tapi keadaannya juga tidak memungkinkan. Keduanya kembali berdebat, entah apa yang mereka perdebatkan Sam tidak paham. "Kak Sam! Kak Jo!" Panggil Sam namun tidak digubris sama sekali. Satu tinjuan Jo melayang ke pipi Sammy membuat Sammy tersungkur. "Kak Sam!" Sammy mengusap sudut bibirnya yang berdarah dan kembali berdiri. "Jadi lo udah menunjukan sifat asli lo?" Sammy memasang smirknya, "ini kenapa gue larang lo dekat dengan Sam!" "Gue terpaksa melakukan ini karena lo bikin gue emosi!" "Iya lo memang ngga pernah bisa mengendalikan emosi lo, dan gue yakin suatu saat lo akan melampiaskannya pada Sam kalau gue ngga cegah itu!" "b******k! Jangan pernah menilai gue!" Jo akan kembali menyerang namun Sam segera berdiri dari kursi rodanya, mengambil dengan cepat tiang infusnya dan segera memeluk Sammy. "Sam?" Gumam Sammy dan Jo bersamaan. "Jangan bertengkar--" terdengar isakan kecil dari bibir Sam, Sam menenggelamkan wajahnya di d**a Sammy. "Sam lo--" "Akh!" Pekik Sam menahan sakit. Sam akan melorot ke tanah namun Sammy segera menahan pundak Sam. "Sam luka lo!" Sammy panik saat melihat baju pasien Sam muncul bercak darah. Sam terlihat menahan sakit. Sammy langsung menggendong Sam ke ruangannya. "Sorry Zi, gue ngga tau kalau Sam bakal dateng ke gue tadi." Zio merangkul pundak Sammy, "bukan salah lo, gue yang salah ninggalin Sam tadi." Saat ini keduanya sedang menunggu di depan ruang rawat Sam. Saat kembali ke kamar Sam, Sammy bertemu Zio dan langsung membantu Sammy membawa infus Sam lalu memanggil dokter yang menangani Sam. "Bagaimana dok?" Tanya Zio setelah dokter keluar dari ruang rawat Sam. "Jahitannya masih belum terlalu kering, jangan biarkan dia bergerak terlalu banyak, saya sudah menangani jahitannya, Sam juga sudah tidur karena efek penenang dan pereda rasa sakit, jadi tolong sampai jahitannya mengering jangan biarkan dia bergerak terlalu berlebihan." "Baik dok." Zio mengangguk kecil. Sammy dan Zio masuk ke ruangan Sam setelah dokter tersebut pergi. "Lo jangan biarin Sam dekat sama anak bernama Jo, Joanico." Ucap Sammy sambil menatap Sam yang sedang terlelap. "Maksud lo yang lo temui di taman tadi?" "Ya." "Sebenernya apa masalah kalian dengan kakak kelas Sam itu?" "Dia ngga sebaik kelihatannya Zi, dia cowo yang kasar dan emosian, dia mantan Dara, dan sepertinya sekarang dia lagi mendekati Sam." Zio terdiam sejenak, "bagaimana Dara bisa mengenalnya?" "Mereka pernah bersekolah di SMP yang sama, awal pacaran memang baik, manis, namun semakin lama berhubungan mulai akan terlihat sifat aslinya yang ngga akan segan berbuat kasar jika perasaannya tidak senang." "Thanks Sam." Sammy menatap bingung Zio, "kenapa?" Zio tersenyum kecil, "lo tadi ribut sama anak itu buat melindungi adik gue kan? Makanya gue bilang terima kasih." Sammy ikut tersenyum, "bukan apa-apa Zi, gue cuma ngga ingin aja apa yang menimpah Dara terjadi pada Sam." Siangnya Sam baru terbangun. "Sudah bangun?" Sam menoleh ke samping, terlihat Zio menatapnya cemas. "Maafin Sam ya kak, udah buat kakak repot lagi." Zio menggeleng kecil, "ngga apa sayang, kakak ngga merasa repot kok." "Kak Sam mana?" "Keluar sebentar sama Dara tadi, cari makan siang katanya, Dara pulang sekolah langsung ke sini baru masuk udah diajak Sammy pergi lagi buat makan." "Kakak udah makan?" Zio mengangguk, "udah kok tadi sebelum Sam pergi." Sam ikut mengangguk. "Kak Jo mana?" "Kakak ngga ada lihat orang lain selain Sammy waktu dia bawa kamu balik ke sini." Sam menatap langit-langit kamar rawatnya. Pikirannya masih bingung penyebab ributnya Sammy dan Jo. "Jangan dipikirin dulu, mending sekarang kamu makan siang." Zio membukakan makan siang Sam yang dibawakan seorang perawat satu jam lalu. Sam menurut, Zio menegakan lebih dulu kasur Sam lalu membantu Sam makan. Usai makan siang, Zio pamit keluar sebentar bersamaan dengan Dewi datang menjenguk Sam. "Lo baru pulang sekolah?" Tanya Sam melihat Dewi masih mengenakan seragam sekolahnya. "Iye, dipanggil penjaga perpus dulu gue tadi disuruh bantu susunin buku baru sekaligus bersihin perpus, kesempetan bener tuh." Jawab Dewi sebal. Sam terkekeh pelan karena perutnya masih sakit, "lha kok bisa lo yang disuruh?" "Gara-gara tadi kan gue keluar terakhir dari kelas jatah piket, eh sialnya pas keluar malah ketemu penjaga perpus." "Amal Dew amal." Dewi hanya memutar bola matanya jengah. "Lo gimana? Udah baikan belom? Sejak Mela ga ada, Raka jadi berani tuh terang-terangan nanyain keadaan lo." "Lha mereka kan memang udah putus kenapa takut kalau ada Mela?" "Ah lo kayak ngga tau si medusa itu, tatapannya kan kayak medusa asli bisa bikin orang jadi batu, lo aja kali yang berani lawan dia kalo di sekolah." Sam ingin terkekeh namun ditahannya mengingat lukanya baru kembali diobati. "Tapi rasanya lega deh udah ngga ada iblis itu lagi di sekolah." "Dayang-dayangnya apa kabar?" Tanya Sam mengingat Puput dan Ira. "Entahlah, mereka juga ikut di skorsing untuk waktu yang belum ditentukan sama kayak Mela, pokoknya pihak sekolah nunggu lo dulu Sam kan kedua pihak belum ketemu." Sam hanya mengangguk. "Tapi Sam," lanjut Dewi, "saran gue jangan masukin mereka ke penjara." "Lalu?" "Rumah sakit jiwa lebih cocok, serius deh, mereka kan ngga mikir waktu celakain lo." "Bukan ngga mikir, tapi emang ngga punya otak." Sam dan Dewi menatap bersamaan ke arah pintu kamar. Dara datang bersama Sammy. "Gue bener kan?" Tanya Dara setelah berdiri di samping Dewi. "Gue setuju sama Dara! Pasti otaknya udah pada digadaiin tuh buat beli bedak mereka." Sahut Dewi. Dara terkekeh geli, "gue setuju." Sam hanya bisa tersenyum menggeleng sekilas melihat Dewi dan Dara yang sudah terlihat akrab padahal baru dua hari kenal. "Gimana keadaan lo?" Tanya Sammy duduk di seberang Dara dan Dewi. "Udah lebih baik kak." Jawab Sam. "Eh Sam gue cari minum dulu deh ke kantin, seret tenggorokan gue habis nyusun buku perpus tadi." Pamit Dewi. Sam mengangguk. "Gue juga temenin Dewi ya Sam." Sam kembali mengangguk dan tersenyum. Sam menoleh ke arah Sammy, ingin bertanya soal insiden tadi namun sedikit ragu. "Gue tau lo mau nanya soal tadi pagi." Sam hanya menyengir. Akhirnya Sammy menceritakan apa yang ia ceritakan pada Zio tadi. "Jadi--" Sammy mengangguk, "itulah kenapa gue larang dia buat deketin lo, dan Dara pasti berpikiran sama kalau ketemu lo dan Jo." Sam terdiam, tidak menyangka dan sedikit tidak percaya akan apa yang ia dengar mengenai Jo. "Lo bisa tanya Dara nanti kalau kurang percaya, tenang aja Dara udah bisa terima masa lalunya dengan Jo, jadi lo bisa denger ceritanya dari dia." Sam mengangguk sekilas. Tidak tahu harus mengatakan apa. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN