PART 14

1049 Kata
Sam membuka matanya sedikit demi sedikit, menyesuaikan penglihatannya yang masih sedikit buram. Terdengar olehnya suara yang sangat familiar memanggil namanya. "Kak Sam?" Gumam Sam saat pandangannya sudah jelas. Laki-laki yang menolongnya di ruang UKS kini berdiri di sampingnya. Sammy menekan tombol memanggil dokter setelah melihat Sam sadar. Sammy menegakan sedikit tempat tidur Sam bagian atas setelah dokter yang memeriksa Sam pergi. Sam merasakan sedikit nyeri di perutnya. "Lo jangan banyak gerak dulu, jahitan diperut lo belum kering." Sam menyentuh pipinya, ada perban juga menempel di sana. Ingatan Sam langsung terputar saat beberapa jam lalu ketika Mela menyerangnya di ruang UKS. Sentuhan hangat di tangannya menyadarkan Sam dari lamunannya, Sam menatap tangan Sammy yang sedang menggenggam tangannya lalu mengalihkan tatapannya ke si empunya tangan. "Jangan takut, lo udah aman sekarang, gue jamin Mela ngga akan bisa ganggu lo lagi." Ucap Sammy menenangkan perasaan Sam. Sam mengangguk sambil tersenyum getir. "Kak Zio mana?" Tanya Sam setengah berbisik. "Lagi keluar bentar cari makan." Sam melihat kaos yang dipakai Sammy, ada beberapa noda darah, yang Sam yakini adalah darahnya. "Makasih ya kak udah tolongin Sam." Sammy tersenyum hangat, "anytime." "Nanti kalau udah keluar rumah sakit, Sam cuciin baju kakak." Sammy terkekeh, "ngga perlu." Sam memanyunkan bibirnya, "gue cuma mau trima kasih aja kok." "Lo traktir gue aja deh." Sam tersenyum kecil, "boleh." "Tapi lo sembuh dulu dan keluar dari sini." Sam mengangguk masih tersenyum kecil. "Samantha!" Dewi masuk bersama seorang gadis. Dewi langsung memeluk leher Sam erat, "gue takut banget lo kenapa-kenapa Sam! Syukurlah akhirnya lo sadar juga!" Sam tersenyum kecil mengusap punggung Dewi lalu melepas pelukan. "Dewi, Dara, kok kalian bisa bareng?" Tanya Sam, kedua gadis ini berdiri di sisi lain tempat tidur Sam, di seberang Sammy. "Tadi gue ketemu Dara di depan pintu katanya dia adiknya-- eh!" Dewi membulatkan matanya melihat tangan Sammy yang masih menggenggam tangan Sam. "Waaahh kak Sam! Cepet banget geraknya!!" Pekik Dara setelah sadar arah tatapan Dewi. Sammy langsung melepaskan tangannya, "jangan mikir aneh dulu!" Sammy menatap datar adiknya sedangkan wajah Sam udah panas. "Gimana ngga mikir aneh genggamnya erat banget gitu!" Sindir Dara. Dewi terkekeh, "lo udah baikan?" Tanya Dewi mengalihkan topik. Sam mengangguk, "cuma perut gue masih sakit, jahitannya belum kering." "Pipi lo juga dijahit?" "Mungkin," Sam menyentuh kembali perban dipipinya. "Tenang aja Sam! Gue bakal buat bekas luka lo nanti hilang, jadi jangan khawatir!" Dara mengerling ke arah Sam. Sam kembali tersenyum kecil dan mengangguk. "Oh iya tadi gue denger di sekolah, Mela udah dapet ganjarannya, sementara ini dia di skorsing sampe lo keluar dari rumah sakit, nanti kepala sekolah bakal mempertemukan kalian, orang tua Mela dan orang tua lo, jadi keputusan tergantung keluarga lo mau bawa ke jalur hukum atau gimana masalah ini." Cerita Dewi. "Kalau menurut gue bawa ke jalur hukum aja! Ini udah tindakan kriminal!" Ucap Dara gemas. "Iya sih harusnya bawa aja ke jalur hukum, kepala sekolah kita cuma ngga mau nama sekolah kena juga soalnya." "Mau ngga mau pasti kebawa lah! Kan tuh cewe psikopat nyerang Sam dilingkungan sekolah! Apa perlu gue yang ngomong Sam ke kepala sekolah lo?"  Sam yang sejak tadi menyimak saja obrolan Dara dan Dewi tidak tahu harus merespon apa. "Sudahlah, itu nanti bisa diurus, yang penting sekarang Sam sehat dulu." Sela Sammy. "Bener bener." Dara menganggukan kepalanya. Dara dan Dewi keluar ruangan Sam saat makan siang Sam tiba. Mereka juga akan mencari makan siang. Sammy membantu Sam makan. Zio kembali saat Sam sedang menikmati makan siangnya. "Kakak udah makan?" Tanya Sam begitu Zio duduk di samping Sammy yang sedang membantu Sam makan. "Udah, kamu makan yang banyak biar cepet sehat." Sam mengangguk. "Lo balik dulu aja bro, baju lo perlu diganti, lo juga belum makan kan? Biar gue yang jaga Sam." "Oke." Sammy menyerahkan piring makan Sam pada Zio dan berpamitan pulang. "Lho kak Sam mana?" Tanya Dara yang kembali bersama Dewi 15 menit setelah kepergian Sammy. "Pulang dulu dia." Ucap Zio sambil membantu Sam minum. Sam sudah menyelesaikan makan siangnya. "Mau tidur?" Tanya Zio. Sam menggeleng kecil, "belum ngantuk kak, nanti aja." Zio mengangguk mengusap lembut puncak kepala adiknya. "Kak Zio udah makan?" Tanya Dewi. Zio tersenyum kecil, "udah kok." Sorenya, orang tua Sam dan Zio datang menengok putri bungsu mereka. Sam menceritakan semua kejadiannya tanpa ditutupi sama sekali. Bahkan Sam mengatakan apa yang Dewi ceritakan siang tadi. "Sam tenang aja, Ayah akan urus semuanya." Ucap Ayah Sam sedikit kesal karena putrinya mendapat perlakuan seperti ini. "Yang penting sekarang Sam kita baik-baik aja, selamat dan masih bisa bersama dengan kita, itu sudah lebih dari cukup buat Bunda." Sam tersenyum memeluk Bundanya. "Maafin Zio ya Yah, Bun, Zio lalai menjaga Sam." Zio menundukan wajahnya berdiri disamping Ayahnya. Ayahnya menepuk pundak Zio, "kamu sudah jadi kakak yang baik, ini kecelakaan dan ngga ada yang tahu kalau akan seperti ini, Ayah ngga menyalahkan Zio untuk ini." Zio tersenyum lega mendengar ucapan Ayahnya. Esoknya, Zio sengaja absen kuliah untuk menjaga Sam. Sam sempat melarang namun Zio bersikeras tetap menemani Sam akhirnya Sam mengalah saja. "Sam pingin jalan-jalan kak, bosen di kamar terus." "Tapi lukamu belum kering lho Sam buat dibawa jalan-jalan." Sam merengut sebal, "tapi kak--" "Tunggu di sini." Zio keluar dari ruangan Sam lalu kembali membawa kursi roda. "Pakai ini aja ya." Sam mengangguk dan tersenyum senang. Zio menggendong Sam dan mendudukan Sam dikursi roda sedangkan infus Sam ditaruh ditiang yang dipasang di samping sandarannya. Zio mendorong kursi roda Sam keluar ruangan. Sam merasa lega bisa keluar dari kamar rawatnya. Zio membawa Sam ke taman rumah sakit. Namun hampir menuju taman, ponsel Zio berbunyi. "Sam, kakak terima telpon penting dulu, kamu duluan ke taman nanti kakak susul ya." "Oke kak." Zio berjalan menjauh, Sam menjalankan kursi rodanya melewati koridor rumah sakit menuju taman rumah sakit yang tinggal sedikit lagi sampai. Sesampainya ditaman, Sam melihat dua sosok yang dikenalnya seperti sedang saling bersitegang. Sam menjalankan kursi rodanya mendekat untuk melihat apa yang terjadi. "Kak Sam, Jo?" Kedua laki-laki itu menoleh bersamaan ke arah Sam. Jo akan mendekati Sam namun pergelangan tangannya ditahan oleh Sammy. "Jangan pernah dekati Sam!" Jo menepis kasar tangan Sammy, "kakak ngga berhak mengatur gue!" "Jelas sekarang gue berhak menjauhkan Sam dari lo!" Sam bingung dengan apa yang terjadi, apa hubungan kedua pria ini dan bagaimana mereka bisa saling mengenal. Yang lebih Sam bingung adalah, kenapa sepertinya mereka saling membenci satu sama lain? ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN