"Udah lo izin aja, udah selesai kan ujiannya? Lo izin aja ke UKS." Saran Dewi melihat wajah pucat Sam.
"Gue cuma butuh tidur Dew."
"Iya lo tidur aja di UKS, izin aja ngga apa yang penting ujian udah aman, ayo gue anter, nanti gue yang izinin di kelas lo."
Sam menurut saja ditarik oleh Dewi.
"Lho Sam lagi sakit?" Tanya Jo yang juga sedang berada di ruang UKS.
"Cuma kurang tidur kok kak." Sahut Sam tersenyum kecil.
"Yaudah kamu tiduran aja, izin pelajaran selanjutnya jangan dipaksa nanti malah sakit."
Sam mengangguk, "iya kak."
"Kalau gitu aku titip Sam ya kak, aku mau izinin Sam dulu."
Jo tersenyum kecil, "iya tenang aja, Sam aman di sini."
Dewi mengangkat dua jempolnya lalu berlari kecil keluar UKS.
Sam sudah berbaring di salah satu tempat tidur dan memejamkan matanya dengan posisi menghadap ke samping.
Jo datang mendekat dan duduk di samping Sam tidur. Menatap lekat wajah Sam yang terlihat pucat.
"Kakak ngga masuk kelas?" Sam kembali membuka matanya karena merasa diperhatikan.
"Mau nungguin kamu dulu."
Sam terkekeh, "kayak anak kecil aja tidurnya ditungguin, sekalian didongengin kak."
Jo ikut terkekeh, "kamu tidur aja, aku bakal jagain di sini."
Sam menggeleng sekilas, "kakak ke kelas aja, aku ngga bisa kalau tidur diliatin gini." Sam memanyunkan bibirnya. Jo kembali terkekeh.
"Iya deh aku ngalah."
Jo berdiri dari kursinya membenahi selimut Sam hingga menutup sampai leher dan meninggalkan ruang UKS.
Sam kembali menutup matanya.
Dewi sempat mampir sebentar saat Sam sudah terlelap untuk mengantar tas sahabatnya itu lalu kembali ke kelas karena tidak ingin mengganggu tidur Sam.
Tidak lama setelah Dewi pergi, tiga orang siswi masuk ke UKS dan mengunci pintu UKS. Suasana sekolah sedang sepi karena semua sedang berada di kelas mengikuti pelajaran.
"Heh bangun!" Satu tamparan berhasil membangunkan Sam.
Sam terduduk sambil memegangi pipinya yang perih. Kepalanya masih pusing karena kurang tidur.
"Kalian mau apa lagi sih?!" Sam sedikit emosi karena istirahatnya terganggu.
Puput dan Ira menarik paksa Sam hingga turun dari tempat tidur. Dan menahan kedua tangan Sam dibelakang punggungnya.
"Mau kalian itu apa hah?!" Bentak Sam.
Mela mencengkram kedua pipi Sam hingga Sam meringis sakit karena kuku Mela sedikit panjang dan menusuk kulitnya.
"Melanjutkan yang kemarin lho Sam."
Sam meneguk ludahnya saat Mela menunjukan pisau cutter ditangannya yang lain.
Mela mengusap sisi cutter di dagu Sam, "sekarang ngga akan ada pahlawan lo, jadi gue bisa puas kasih pelajaran sama lo biar lo ngga sok cantik lagi di sini!"
"Siapa yang sok cantik hah?! Makanya jadi orang itu jangan sirik mulu! Belajar bersyukur!!"
PLAK!
Satu tamparan kembali mendarat di pipi yang sama. Sam merasakan panas menjalar di pipinya.
"Ngga usah sok ceramah deh lo cewe gatel!" Bisik Ira dengan nada tajam.
"Lo nikmatin aja siksaan bos Mela!" Timpal Puput.
"Anak buah gue pinter." Mela menampilkan seringainya, "gue lanjutin deh yang kemarin tertunda."
Mela mengusap sisi tajam cutter ditangannya ke pipi kiri Sam. Aroma amis masuk ke indra penciuman Sam.
Ia merasa ada yang mengalir di pipinya. Terlihat seragam putihnya mulai ada bercak merah, tetesan darah dari pipinya.
"Wah wajah cantik tuan putri terluka!"
Mela membungkam bibir Sam dengan telapak tangannya saat sebuah pekikan kesakitan keluar dari mulut Sam.
Sam merasa perih yang luar biasa di bagian perutnya. Mela menggoreskan cutternya di sana setelah berhasil merobek seragam Sam di bagian perut.
Bau amis semakin menyengat, kini rok abu-abu Sam bercampur dengan warna darah yang mengalir dari perutnya.
Sam mulai menangis menahan sakit.
"Uuhh tuan putri kita nangis."
Sam memejamkan matanya erat. Berharap ada siapapun menolongnya.
Mela akan kembali memainkan cutternya yang juga sudah bernoda darah, namun dobrakan pintu UKS menahannya.
"HEI!"
Puput dan Ira melepas tangan Sam.
"SAM!"
Sam mencoba memfokuskan pandangannya. Kesadarannya mulai hilang.
"Kak Sam." Gumam Sam.
Mela dan dua anteknya akan kabur namun ada siswi lain yang menangkapnya.
Sammy segera menghampiri Sam dan menangkap Sam lalu menggendongnya sebelum Sam jatuh ke lantai.
Jo dan Dewi baru saja tiba di UKS dan terkejut dengan kondisi Sam.
Jo juga terkejut saat melihat siapa yang menggendong Sam. Ia hanya diam saat Sam dibawa pergi melewatinya.
Dewi menyusul Sammy sambil membawa tas Sam yang ia ambil sebelum mengikuti Sammy.
"Kamu jaga Sam dibelakang!" Perintah Sammy pada Dewi setelah membaringkan Sam di bangku belakang mobilnya.
"I-Iya Kak!" Dewi mengangkat sedikit kepala Sam dan meletakan dipangkuannya.
Sammy menutup pintu disamping Dewi setelah Dewi duduk dan dengan cepat masuk ke bagian kemudi lalu menjalankan mobilnya meninggalkan pelataran sekolah Sam.
Dengan kecepatan tinggi, Sammy mengendarai mobilnya menuju rumah sakit.
Dewi sangat panik saat merasakan denyut nadi Sam melemah.
"Sam lo harus bertahan ya Sam! Inget lo harus traktir gue kalau lo dapet peringkat satu di sekolah! Samantha! Bertahan Sam! Lo pasti kuat!" Air mata Dewi mengalir deras. Ia sangat takut melihat kondisi sahabatnya. Wajah Sam semakin pucat.
Sammy semakin mempercepat lajunya saat mendengar pekikan panik Dewi.
Sam segera ditangani saat mereka tiba di rumah sakit.
Dewi dan Sammy mengantarkan sampai depan ruang operasi. Setelah itu Dewi hanya bisa berdoa dan Sammy mencoba menghubungi Zio.
Satu jam setelah Sam masuk ke ruang operasi, Zio tiba di rumah sakit dengan wajah panik.
"Bagaimana bisa?!" Tanyanya pada Sammy.
"Kejadiannya mendadak Zi, Sam diserang di ruang UKS! Maaf gue terlambat jagain adek lo Zi." Sesal Sammy.
"Dewi juga minta maaf kak karena ninggalin Sam sendirian di UKS, Dewi ngga tau kalau Mela sampai nekat nyerang Sam ditengah jam pelajaran." Dewi masih sesenggukan di tempatnya.
Zio mengusap kasar wajahnya, "ngga apa, yang penting sekarang kita berdoa Sam ngga apa apa."
Dewi mengangguk dan kembali menunduk.
.
.
Pintu ruang operasi terbuka, Zio melangkah cepat saat seorang dokter muncul.
"Bagaimana adik saya dok?" Tanya Zio dengan nada cemas. Disampingnya juga ada Dewi dan Sammy.
"Adik anda sempat kritis karena luka diperutnya cukup dalam dan banyak kehilangan darah namun sekarang keadaannya sudah membaik, kami sudah melakukan semampu kami untuk menyelamatkannya, kita tinggal menunggu sampai dia sadar, anda bisa melihatnya jika sudah dipindahkan ke ruang perawatan."
"Terima kasih dok."
Zio bernafas lega, begitupula Sammy dan Dewi.
.
.
Zio memandangi adiknya yang masih terlelap di ruang rawatnya. Wajah Sam masih terlihat pucat. Zio menggenggam erat tangan Sam.
"Kenapa kamu harus mengalami ini dek? Kamu ngga pantes mendapatkan hal seperti ini, seharusnya kakak mencegahmu untuk kembali ke Indonesia kalau tahu akan begini jadinya." Zio menenggelamkan wajahnya diantara kedua lengannya masih menggenggam erat tangan Sam.
Sammy menyentuh pundak Zio, "jangan menyesali apapun Zi, gue yakin Sam ngga akan mau mendengar kata-kata itu kalau dia sadar."
"Tapi gue ngga bisa liat adek gue seperti ini Sam!"
"Gue tau, kalau Dara berada di posisi Sam sekarang gue juga akan marah, tapi yang sekarang harus lo lakuin adalah tetap berada disamping Sam. Mendukung apapun yang ingin dia lakukan, karena gue percaya adek lo tahu apa yang harus dia lakukan termasuk alasannya kembali ke negara ini."
Zio terdiam memandangi Sam.
"Lebih baik sekarang lo makan dulu, gue akan jagain Sam di sini sampe lo balik, lo harus jaga kesehatan lo juga, untuk Sam dan untuk diri lo sendiri."
Zio menurut dan berdiri dari kursinya. "Gue titip Sam."
Sammy mengangguk sambil menatap Zio berjalan keluar dari kamar rawat Sam.
***