PART 12

1138 Kata
Sam menoleh ke arah sumber suara yang sudah menyelamatkannya. Kak Sam. "Maaf ya, jangan ikut campur!" "Saya berhak ikut campur jika itu menyangkut gadis ini!" Sammy melepas paksa cutter dari tangan Mela lalu menyimpannya dan menjauhkan Sam dari Mela. "Kamu gila ya? Mau buat kasus di sekolah sendiri?!" Mela tersenyum miring, "gue ngga peduli, yang gue mau cewe itu," Mela menunjuk Sam yang sedang berlindung di belakang Sammy, "habis ditangan gue!" "Jangan harap bisa menyentuhnya!" Mela kembali memasang smirknya menatap tajam Sam, "hebat banget lo ya Sam, udah berapa banyak cowo yang lo racunin buat jadi pelindung lo?! Raka, Kak Jo dan sekarang sasaran lo mahasiswa?! Pake dukun apa lo?!" Sam mulai kesal namun genggaman Sammy ditangannya menyurutkan emosi Sam. "Siapa yang lo panggil korban? Sam ngga pernah meracuni siapapun buat berada dipihaknya, gue ngga tau soal nama-nama yang lo sebutkan tadi, yang jelas gue secara pribadi dekat dengan Sam atas kemauan gue sendiri." Hati Sam sedikit tenang mendengar pembelaan Sammy untuknya. Mela terkekeh kecil, "ya iyalah ngga mau ngaku, mana ada pangeran mau dorong putrinya ke jurang, jelaslah kalau mau lindungin seberapa busukpun putrinya." "Gue rasa mulut lo yang penuh racun Mel, lo sadar ngga kenapa Raka sampe putusin lo? Karena ulah lo sendiri yang melebihi cewe barbar!" Ucap Sam dengan nada kesal, berhasil memancing emosi Mela. "Lo-- lo beruntung ada pangeran lo yang bela lo sekarang, tapi gue pastiin lain waktu lo bakal habis ditangan gue Samantha!" Mela beranjak pergi diikuti anteknya. Sam bernafas lega. Sammy membalikan badannya menatap Sam. "Lo masih yakin ngga mau lapor ini ke Zio?" Sam menggeleng lemah, "jangan, gue ngga bisa bawa kak Zio masuk ke masalah kayak gini, gue ngga mau kak Zio kenapa-kenapa." "Dan menurut lo, lo hampir mati tadi itu juga ngga apa?" Sam terdiam di tempatnya. "Dan menurut lo juga, kalau lo terluka tadi Zio ngga akan makin khawatir? Atau marah sama dirinya karena ngga bisa buat lo terbuka sama dia sebagai kakak lo?" Sam menghela berat nafasnya, "lalu gue harus gimana kak? Gue ngga bisa buat kak Zio pusing dengan masalah yang gue hadapi!" "Kalau dia beneran sayang sama lo, dia ngga akan pernah merasa terbeban untuk melindungi adik kesayangannya." Sam membenarkan dalam hati ucapan Sammy. "Sekarang kita pulang dulu, mungkin sekarang gue harus jemput lo langsung depan kelas ya, kayaknya temen lo tadi bakal berulah lagi di lain kesempatan." Sam menatap datar Sammy, "tolong hapus rencana buat jemput gue di depan kelas!" Sam beranjak lebih dulu ke depan gerbang. Sammy mengangkat sekilas bahunya lalu menyusul Sam. Sam tidak langsung pulang ke rumah, ia memilih main ke rumah Sammy untuk mengunjungi Dara. "Tapi lo ngga apa kan Sam?" Dara memeriksa wajah Sam setelah Sam menceritakan apa yang dialaminya tadi. "Kayaknya sih lecet dikit deh, nih pipi sedikit perih." "Wah iya bener, tapi ngga terlalu kelihatan kok, kalau merah bekas tamparannya hilang, lecetnya ngga terlalu kelihatan." "Tapi kok kak Sam bisa tau lo lagi dalam masalah gitu? Kalian kayak sehati deh," sindir Dara. Sam menatap datar adik teman kakaknya ini, "tadi kak Sam bilang ada siswi yang lapor ke dia kalau gue lagi kena masalah, siswi itu cerita si Mela nyuruh dia bilang ke gue kalau gue dicari guru, dan satu kelas memang tau kalau gue sama Mela ini ngga akur, jadi mungkin siswi itu curiga Mela bohong dan punya niat buruk ke gue." "Kok dia bisa tau kak Sam lagi nunggu lo?" "Ya beberapa temen sekelas termasuk dia beberapa kali liat kak Sam jemput gue." "Jadi intinya diem-diem dia minta bantuan kak Sam buat nyelamatin lo." Sam mengangguk, "iya gitu!" "Rencana lo selanjutnya apa Sam? Mau pindah ke sekolah gue aja?" Sam terkekeh, "ngga gitu, ya mau ngga mau harus gue hadapi, tapi tolong bilang ke kakak lo deh Ra jangan sampe berlebihan jemput gue ke depan kelas, berasa kayak anak TK yang pertama masuk sekolah ntar gue." Dara tertawa geli, Sam memanyunkan bibirnya, "gue serius Dara!" Dara menyeka air mata di sudut matanya, "iya iya, gue jamin kak Sam ngga akan senekat itu, dia becanda doang itu, tenang aja lah." Sam tersenyum kecil. "Heh para gadis, kalian ngga lapar?" Sammy tiba-tiba membuka pintu kamar Dara. "Bentar lagi kita nyusul kak!" Ucap Dara yang langsung diangguki Sammy dan menutup kembali pintu kamar adiknya ini. "Yaudah ayo makan dulu, tenang aja gue bakal rahasiain ini dari kakak lo Sam, gue maunya lo sendiri yang cerita ke dia." Sam mengangguk sekilas lalu mengikuti Dara ke ruang makan. Sorenya, Zio mampir ke rumah Sammy, main sejenak sekaligus menjemput adik bungsunya. "Urusan lo di kampus memangnya masih belum selesai Zi?" Tanya Sammy ditengah acara kumpul berempat. Sammy, Zio, Dara dan Sam. "Tinggal dikit lagi kok, sorry ya Sam jadi sering repotin lo bolak balik jemput adek gue." Sammy mengangguk sekilas, "ngga apa, gue seneng aja bantu temen." Diperjalanan pulang, Sam memberanikan diri untuk bercerita pada Zio. Ia tidak ingin menyesal karena merahasiakan terlalu banyak pada kakaknya. "Kak." "Ya sayang?" Zio masih fokus menyetir. Sam memejamkan sejenak matanya lalu kembali membukanya. "Tadi Mela hampir celakain Sam." Ckiiiiiitttt... Sam mengelus dadanya karena kaget Zio tiba-tiba mengerem mendadak. Beruntung jalan sedang sepi karena mereka sudah memasuki kawasan perumahan tampat mereka tinggal. Zio melepas sabuk pengamannya dan memegang kedua pipi Sam. "Ada yang luka? Dia apain kamu tadi? Cerita! Cerita sama kakak!" Sam menggenggam kedua tangan Zio yang masih di pipinya, "ngga ada kak, Sam aman kok, tadi kak Sammy yang nyelamatin Sam dari Mela makanya Sam masih bisa di depan kakak sekarang." Sam memberikan senyum manisnya. Zio menghela nafas lega, "kamu pokoknya cerita sama kakak kalau dia sampai berbuat ngga bener ya, kakak yang akan jagain kamu, paham?" Sam menganggu dan tersenyum lega, ngga menyesal menceritakan pada kakaknya. Zio kembali menjalankan mobilnya. "Kamu harus jaga jarak dari cewe bernama Mela itu, kayaknya dia berbahaya." "Iya kakak bener, Sam akan coba jaga jarak dari dia." Selama di kamar, Sam tidak berhenti mondar mandir. Jam sudah menunjukan tengah malam. Namun Sam belum juga dapat tidur, kata-kata Mela terus terngiang. Sam yakin gadis itu akan berbuat hal lebih gila lagi padanya. "Apa gue ngga usah sekolah aja besok? Ah tapi gue ada ujian harian ngga mungkin bolos! Sial!" Sam baru dapat tidur sekitar jam 3 pagi, alhasil dirinya benar-benar kurang tidur. "Kamu yakin mau ke sekolah, wajahmu pucat gitu dek." Sam tersenyum kecil, "nanti Sam numpang tidur deh di UKS, cuma kurang tidur aja nih kak karena persiapan buat ujian nanti." Sam tidak berani cerita kalau dirinya tidak bisa tidur karena ancaman Mela. "Hari ini Sammy katanya kosong ngga ada kuliah, dia bilang hari ini bakal jagain kamu, jadi kakak mohon Sam juga jaga diri baik-baik, hubungi Sammy jika ada masalah, mengerti?" "Iya kak, tenang aja, Sam akan berusaha jaga diri baik-baik." Zio tersenyum kecil, "yaudah masuk gih, tadi kan bilang mau ada ujian." Sam mengangguk lalu beranjak keluar mobil dan berlari kecil ke kelasnya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN