bagian 3

2067 Kata
Bagian 3 Rio de janeiro, Brasil "Quikly!" seru seorang lelaki sambil membawa sebuah tas kecil __ tetapi mewah dengan nuansa berwarna nila__ditangannya, ia terus melihat temannya yang mengejarnya. Larinya ternyata sangat kencang, bahkan lebih kencang dari kucing paling sehat sekalipun. Temannya yang benar-benar asli warga Brasil itu buru-buru menyusulnya, sedangkan seorang wanita yang berlari dari kejauhan, berseru-seru memanggil mereka dengan panik. Temannya tersandung oleh batu,memanggil temannya yang begitu cepat berlari. "Jian!" panggilnya takut. Jian berhenti dan buru-buru memapah temannya. "Pegang ini!" serunya panik sambil memberi tas kepada kawannya, dengan tubuhnya kurus dan gesit ia menggendong temannya yang sama-sama kurus dengannya. Larinya masih cepat hanya saja sedikit berkurang karena beban yang diangkatnya. Wanita itu berseru-seru pasrah dan menangis di jalanan.Sementara 2 lelaki yang mencuri tasnya mulai memasang sikap bodo amat, mana peduli. Mereka tertawa dan berputar-putar, tak sengaja menyenggol seorang pria besar tetapi pria itu tersenyum, menganggap mereka hanyalah anak-anak remaja yang senang bermain. Mereka memasuki perkampungan kumuh. Jian menghamparkan isi tas tersebut, 1 buah gelang emas dan dompet segera diraupnya dan benda yang tidak diperlukan dibuang ke tong sampah. "Kita mendapat uang Amerika 200 US dolar." kata temannya. "Lumayan, lah." senyum Jian puas. "Sekarang kita sudah bisa mendaftarkan diri untuk megikuti perlombaan tersebut!" kata temannya senang. "Semua orang berharap kamu menang, Jian." katanya sambil menggoncangkan bahu Jian."Biar semua orang tahu, anak kampung bukanlah kampungan." senyumnya. Jian menangis haru, baru kali ini dia menangis. "Terimakasih, Hill.” harunya. "Ayo, segera sebelum pendaftaran ditutup 2 jam lagi!" seru Hill sambil meraih sepeda, tangannya menggenggam segepok uang. Jian buru-buru menyusul langkah temannya dan menaiki sepeda. Hill mengayuh sepedanya dengan kencang, menuruni turunan dengan kecepatan spektakuler. "Hey, jangan terlalu kencang!" kata Jian sambil memegang bahu temannya dengan erat, rasanya seperti berada di awan, TERBANG!. Rambut keriting Hill bergoyang-goyang karena dikibar angin. Beberapa orang begitu terkejut melihat 2 anak yang gila ini dan segera menepi. "Be careful!" teriak seorang bapak-bapak. Mereka memasuki kota, Jian menatap langit kota Rio de janeiro yang biru dan indah. Teringat masa kecilnya yang bertemu dengan Hill. Hidup Jian dahulu memang miris, ia tidak mengetahui ayah dan ibunya lantaran karena dibunuh oleh OTK (orang tak dikenal). Tetapi Jian kecil berhasil melarikan diri dengan memasuki kapal, terombang-ambing dihantam badai hingga terduduk lemas. Untungnya kelasi kapal menemukannya. Ia dirawat hingga ahli dalam menaikkan bendera, dahulu ia menjadi pelaut, berkelana tetapi kapal itu akhirnya berhasil ditaklukkan oleh ganasnya laut. Kelasi yang dahulu menemukan sekaligus merawat Jian segera memberikan pelampung, tetapi nyawanya tidak selamat hingga Jian berhasil terdampar di pantai Rio. Dengan tubuh yang lemah ia mengambil buah kelapa yang jatuh dari pohonnya. Segera ia minum airnya, 2 hari kemudian ia bertemu Hill. Saat itu Hill bermain bola, menemukan Jian yang sudah tak sadarkan diri di bawah pohon kelapa. Hal itu sangat membahayakan diri Jian karena jika buah kelapa jatuh dan menimpanya pasti ia tewas, tetapi memang pada saat itu Jian menyerah untuk hidup.Tetapi tuhan berbaik hati kepadanya untuk memberikan hidup lebih lama. Untungnya, buah kelapa tidak ada yang jatuh. Hill segera menyeret Jian, menyiramkan air dan membantu memulihkan tenaga Jian dengan memberinya makanan.Teman-teman Hill membantu Jian dengan membopongnya di perkampungan kumuh, selama seminggu ibu Hill merawat Jian hingga sembuh seperti sedia kala. Hill menjadi teman sekaligus saudara angkat Jian. Mereka akrab sekali, sayangnya mereka tidak bersekolah karena alasan biaya. Di perkampungan banyak sekali remaja yang ahli mencopet dan mencuri kebiasaan itu sudah dilihat dan dibiasakan oleh Jian. Pencurian sekaligus pencopetan banyak sekali terjadi di kota-kota besar Brasil Jian terkenal dengan kecepatannya. Larinya yang lebih cepat dari kucing sehat membuat Jian jarang sekali tertangkap. Jian suka bermain sepatu roda yang ia temukan di tempat sampah, sudah usang padahal masih bisa dipakai. Jian tersenyum mengingat masa kecilnya yang kacau. Ia teringat ayah dan ibunya, kelasi kapal yang merawatnya dan sepatu roda."Hei jangan melamun kita sudah sampai!" seru Hill sontak membuat Jian tersadar. Mereka turun dari sepeda dan melihat 2 orang wanita yang memberikan secarik kertas kepada seorang pria bertopi. Mereka duduk di kursi dengan meja dihadapan mereka yang penuh dengan kertas,pulpen dan minuman. Hari semakin panas. "Kami ingin mengikuti lomba lari!" seru Hill. "Baik siapa yang ingin mendaftar?" senyum wanita berambut pirang. "Dia..." tunjuk Hill kepada Jian. "Siapa namamu?" tanya wanita itu, bersiap menuliskan nama Jian. Jian menyebutkan nama lengkapnya dan umur. "Kamu masih muda tetapi mempunyai semangat yang luar biasa, mungkin disemua peserta yang mengikuti lomba marathon hanya kamu yang paling muda." senyum wanita sambil memberikan secarik kertas berwarna biru kepada Jian. Disana tertulis nomor 206. Hill segera memberikan uang pendaftaran dan diterima oleh teman berambut pirang. "Berapa umurmu?" tanya teman wanita berambut pirang itu mulai tertarik. Ia berkulit cokelat dengan rambut hitam legam sempurna. "18 tahun." "Oh, kupikir 20 lebih sebab semua peserta rata-rata umur 20 tahun yang mengikuti lomba marathon." senyum wanita berambut pirang "Semoga beruntung!" lambai teman berambut pirang. Hill melambaikan tangannya dan segera mengayuh sepeda, meninggalkan tempat pendaftaran. "Kau harus berlatih." kata Hill sambil menasehati Jian dengan gaya sok bijaknya. Jian mengangguk. Ia tahu, Hill selalu melatihnya dengan keras. Kakinya berdarah karena dipaksakan Hill berlari di atas kerikil tajam, berlari disaat hujan, berlari disaat pinggangnya diikat tali tambang dengan beban 2 roda truk di belakangnya. Bermain bola dengan lincah itulah keahlian Jian, jika sampai dikakinya jangan harap bisa dikejar karena larinya memang begitu kencang. Keringat Jian bercucuran tetapi Jian tahu ini semua untuknya. Hill melatihnya. Dengan menaiki sepedanya, Hill melihat Jian yang berlari mengelilingi lapangan selama 10 kali. Kadang-kadang Hill harus mengayuh sepedanya lebih kencang karena lari Jian yang begitu cepat. "Minumlah." senyum Hill sambil memberikan sebotol air untuk Jian. Setelah sekian lama meneriakinya untuk berlari, lari dan lari. Jian tersenyum dan menyambutnya. "Aku ingin berlomba lari denganmu." katanya sambil meneguk air di botol yang diberikan oleh Hill. "Aku pasti kalah." senyum Hill dengan kecut. "Tidak, aku berlari kamu bersepeda, kayuh seperti kamu pergi ke tempat pendaftaran." Jian menunjuk sepeda Hill. Hill tertawa dan segera menunjuk garis Finish."Siapa yang sampai dibawah pohon kelapa di pinggir jalan itu, dialah yang menang." Jian mengangguk dan menerima tantangan Hill. Hill menaiki sepedanya, sedangkan Jian melemaskan kakinya."Siap!" seru mereka. "1, 2....3!!!" Hill mulai mengayuh sepedanya sekuat mungkin. Jian mulai berlari kencang. Betapa terkejutnya Hill ketika terdengar langkah kaki Jian yang semakin mendekatinya. Hill mengayuh sepedanya, tetapi Jian sudah berada di sampingnya. Hill mengayuh sepedanya lebih cepat, membuat Jian tertinggal 4 langkah darinya. Batang pohon kelapa sudah terlihat di depan mata,Hill terkejut ketika Jian melompat tinggi. Inikah teknik lain dari lari Jian, melompat sambil berlari kencang layaknya kangguru, hampir saja Hill terjatuh dari sepedanya tetapi Hill lebih kencang mengayuh sepedanya membuat lompatan Jian tidak ada artinya. Hill menang 2 langkah dari Jian, ia terlalu senang hingga tanpa sadar sepedanya menabrak tiang membuat Hill terpental. "HILLLLL!!!!" seru Jian. Sebuah pulau kecil yang berada di dekat pulau Hokkaido, Jepang Lelaki yang memakai baju merah menghela napasnya ,ia duduk bersila tangannya ia lipatkan dan dia taruh di depan perutnya, napasnya teratur dengan mata tertutup.D ingin malam tidak ia rasakan, pemandangan indah di depan tidak bisa membuatnya membuka mata. Rambutnya sedikit berantakan dan agak panjang itu berkibar oleh angin laut. Ada pikiran yang membuatnya kalut dan sedikit membingungkan. Lelaki baju merah itu adalah lelaki yang berbahaya, ia bisa menguasai teknik bertarung samurai dan ninja. Dirumahnya begitu banyak senjata-senjata Jepang, seperti kunai, shuriken, pedang dan alat panah. Sementara benda yang tertidur di depannya adalah tongkat Toya. Tongkat panjang yang keras itu berubah menjadi lentur jika lelaki itu menggunakannya untuk bertempur. Lelaki itu baru saja membunuh orang-orang yang menyusup kerumahnya, ia tidak perlu menggunakan pedangnya, cukup dengan tongkat toya yang dihadapannya. Dimanakah mayat-mayat penyusup tersebut? Lelaki itu membiarkan saja mayat-mayat itu tergeletak di halamannya, dibelakangnya, diruang tamu dan tamannya. Ia sama sekali tidak takut jika polisi menggeledah tempatnya. Rumahnya menjadi berbau darah dan rusak. Jendelanya menjadi berlubang besar, mejanya patah dua dan sebuah guci keramik peninggalan keluarganya ribuan tahun sudah hancur menjadi tak berguna. Ia tidak peduli, terus melakukan meditasi dengan tenang. Tiba-tiba terdengar suara kapal. Ia membuka matanya, kini menatap pelabuhan kecil di depannya, rumahnya memang dekat dengan pelabuhan. Kapal feri berlabuh disana. Ia diam dan menatap mayat di sampingnya, penyusup terakhir yang ia bunuh. Mukanya memar dengan rambut kusut dan diujung bibirnya mengeluarkan darah, ia diam. Sudah berapa banyak orang yang ia bunuh?. Mungkin itulah yang membuat sensei-nya mengeluarkannya dari perguruan Samurai terkenal. Sensei-nya bilang bahwa ia mempunyai darah kebencian,ambisius dan suka membunuh. Sensei-nya bilang ia adalah samurai yang ternoda oleh amarah. Lelaki itu menatap baju samurainya dengan tenang ia memakainya, mengambil tongkat toyanya dan di ikat dibelakang bajunya, pedangnya ia sarungkan, shurikennya ia taruh di lipatan baju dan kunai miliknya ia genggam. Lelaki itu meninggalkan rumahnya. Ada satu misi yang membuat ia harus berkelana. Ia harus pergi ke Amerika dengan dijemput seseorang. Ia diterima oleh aliansi dokter Tom Holland. Tetapi yang membuat ia penasaran, adalah kenapa dokter Tom merekrutnya. Padahal semua orang tahu ia berbahaya sehingga dirinya sendiri memutuskan untuk mengasingkan diri di sebuah pulau kecil. Matsu pergi dari rumahnya, mungkin sementara atau selama-lamanya. Mayat-mayat dibiarkan begitu saja dengan rumahnya yang sama kondisinya rusak parah. "Sayonara....” bibirnya berbisik,sementara partner dokter Tom Holland menunggu di pelabuhan di depan rumah lelaki samurai tersebut. Menunggunya dan menaiki feri bersamanya. Rio de Janeiro, Selasa Jian menjadi gugup sendiri, ia menatap atlet atau peserta yang memenuhi lomba marathon,tadi panitia telah mengalungkan nomornya di leher, 206. Ia berpakaian sederhana sedangkan peserta memakai baju ketat seperti atlet-atlet lari di TV-TV. Ia berdiri, sementara panitia mulai mengankat pistol di atas sambil berseru."Ready!" semuanya membungkuk. "Go!" terdengar tembakan yang di lepaskan diangkasa. Jian berlari kencang. Lautan manusia itu berlari seperti Jian, berusaha menjadi pemenang. Sementara Hill dengan capek berlari menuju tempat perlombaan, sepedanya rusak parah setelah menabrak tiang. Ia berlari,padahal tempat perlombaan begitu jauh. "Untuk Jian..." lirihnya. Jian berlari,pikirannya terus tertuju kepada Hill dan garis Finish, sudah 1 jam ia berlari, sekitar 15 km sudah ia lewati yang tertinggal ada orang yang berusaha seperti dirinya yang lainnya sudah jauh tertinggal. Kakinya perih sekali dan terasa ingin terkelupas, sandalnya putus sehingga ia tinggalkan di tengah jalan. Sekitar 5 km ia akan menang dan mencapai garis Finish,kulit kakinya terkelupas dan mengeluarkan darah. Jian merasakan perih di kakinya dan teringat kerja keras yang selama ini ia latih. Ia teringat Hill, semua peserta ketinggalan kecuali dirinya. Begitu terkejutnya ketika teman-teman Hill menyerukan nama Jian, Jian tersenyum,Hill pasti meminta bantuan teman-temannya untuk menyemangati dirinya. Garis Finish kini telah dilewatinya dan Jian tidak menyangka garis itu kini mengenai tubuhnya, trofi emas sudah berada ditangannya. Teman Hill berseru-seru senang, Hill yang baru sampai dengan keringat bercucuran melihat Jian di panggung menangis haru, anak kampung itu baru saja menang. Tetapi begitu cepat semua kesenangan terlewati. Dari arah lain beberapa orang menarik tangan Jian, Jian terkejut ketika mereka memakai kacamata hitam. "Tuan muda Jian tolong terima tawaran kami dalam mengikuti aliansi yang dibuat oleh dokter Tom Holland." kata salah satu orang ber-kacamata hitam itu. Hill dan Jian sedikit terkejut."Maksudnya?" "Anda diterima menjadi anggota aliansi kami.” kata orang satu lagi. Para wartawan yang hendak mewawancarai mereka hanya diam.Tetapi ada yang merekam kegiatan mereka. Orang berkacamata hitam itu segera menyeret Hill dan Jian untuk menjauh. "Lebih baik kamu segera berkemas." katanya kepada Jian. "Tidak aku ingin disini." kata Jian menolak. "Kalau begitu kami berikan saudaramu tempat yang layak begitu juga dengan uang banyak, begitu terhormat dokter memberikan ini kepada saudara dan dirimu sendiri." katanya sambil menunjuk Hill, Jian menelan ludah dan menatap Hill. "Pergilah untuk kebaikanmu." kata Hill sambil mengambil trofi dari tangan Jian."Biar ibuku yang menyiapkan perlengkapanmu." Jian jadi terharu, tidak menyangka Hill sanggup berbuat apapun untuk dirinya. Dengan mobil hitam milik orang berkacamata tersebut mereka dibawa ke perkampungan mereka. Membuat orang yang disana mengira ada pemerintah yang memberikan bantuan. Tetapi mereka hanya diam ketika beberapa menit kemudian Jian menyandang buntelan tua dengan bajunya dan memasuki mobil itu. Hill melambaikan tangan kepada Jian.Jian tersenyum, tidak menyadari setetes air mata mengalir dari pipinya. "Selamat tinggal Brasil..." lirihnya. New York Karin dan Jason memasuki sebuah gedung yang menjual berbagai kebutuhan rumah. Jason tersenyum kepada pemilik toko, seolah tak perlu diberi isyarat. Pemilik toko menghantarkan Jason dan Karin menuju ruang belakang yang begitu sepi. Karin membelalakkan mata ketika sebuah lift tersembunyi dibalik lemari terlihat. Jason mengangguk mengucapkan terimakasih dan menarik tangan Karin untuk memasuki lift, setelah pintu lift tertutup. Pemilik toko segera mendorong lemari agar tidak diketahui satu orang pun. Lift berdesing pelan."Selamat datang di markas rahasia kami,the secret basecamp..." senyum Jason menghapus penasaran Karin. Karin begitu terkejut dan matanya mulai menangkap keanehan kepada diri Jason.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN