bagian 4

2108 Kata
Bagian 4 Mokswa,Rusia Eva membetulkan letak topi koboinya, hawa dingin Rusia terasa menusuk sedangkan ia harus bergegas untuk pergi ke bandara Domodedovo. Ia menggosokkan kedua tangannya dan menempelkannya di pipi. Hawa hangat terasa di pipinya, tetapi hanya sebentar. Ia menatap jam dibandara, terdengar suara panggilan dalam bahasa Rusia dan bahasa internasional, Inggris. "Пассажирам, пожалуйста, будьте готовы, потому что самолет скоро прилетит." suara itu terdengar berulang selama tiga kali dan disusul dengan bahasa inggris. "To the passengers, please be prepared because the plane will soon arrive." kata suara itu. Evalina mendesah, uap putih keluar dari mulutnya. Padahal ada pemanas ruangan di bandara. Ia segera bergegas untuk pergi ke Amerika untuk menemui pamannya. Pesawat terbang meninggalkan bandara Domodedovo. New York Pintu lift terbuka disusul dengan mata terkejut Karin. "WHAT?!!!" ia malah berlari menjauhi Jason dan berputar-putar. "SO COOL!!!" senangnya sambil merentangkan tangannya, hawa dingin AC terasa di kulitnya. Jason menjadi sedikit malu ketika beberapa orang yang yang mengenakan mantel putih menatap heran tingkah Karin. "Hentikan, kau membuat malu!" seru Jason dengan suara tercekat. "Biarkan saja!" terdengar suara yang berwibawa. Ilmuwan yang berada di sana segera terdiam, begitu juga Karin ketika mengetahui semuanya terasa senyap tanpa suara kesibukan lagi. Seorang lelaki tua yang memakai kacamata dan sedikit botak tersenyum. "Selamat datang di secret basecamp, namaku dokter Tom Holland." katanya sambil mengulurkan tangan kepada Karin. Karin menjadi sedikit kikuk tetapi ia menerima uluran tangan dokter Tom Holland. "Dan ini anakku, Jason. Ia adalah anakku satu-satunya." kata dokter Tom sambil menatap Jason. "Aku sudah tahu..." kata Karin lirih. "Oh, kau pasti capai sekali. Menjadi anggota aliansi harus kuat dan bertenaga, kau adalah satu-satunya orang yang baru tiba jadi beristirahatlah menunggu anggota yang lain. Jason kau bawa anak Paul Duncan ini menuju ruangannya yang telah disiapkan." senyumnya kearah Jason. "Mari!" kata Jason sambil melangkah. "Back to work!' kata dokter Tom sambil menjetikkan jarinya. Ilmuwan disana kembali bekerja.A da yang mencampurkan bahan kimia, ada juga yang seperti sedang membuat benda logam dan pemotongannya dilakukan dengan laser. Jason dan Karin melangkah dilorong panjang yang kiri kanannya terdapat ruangan dengan kaca tembus pandang.Ada orang yang sedang berlatih menembak,memanah,dan berkelahi.Mereka juga terlihat sedang mengelus hewan yang membuat Karin tercekat.Seorang lelaki memakai seragam coklat dengan topi berwarna hitam bersama temannya terlihat memberi makan seekor cheetah tanpa takut sedikipun. “Itu peliharaan pribadiku.” Jason berkata dengan nada pamer. Karin cemberut, siapa pula yang bertanya. "Ayo kita ke ruangan yang paling bawah." kata Jason sambil membuka lift lainnya karena lift kali ini terbuat dari kaca. Karin tertegun ketika lift melewati satu persatu lantai. Ada ruangan yang menyimpan berbagai pesawat, ada satu yang Karin kenali, pesawat Sukhoi. Ada juga tempat yang begitu banyak membuat persediaan senjata. Ada pedang,pistol untuk sniper, rantai tajam dan senjata lainnya. Hingga tibalah mereka di ruangan yang putih bernuansa sedikit biru. "Ini ruanganmu." kata Jason sambil menunjuk sebuah kamar dengan pintu berwarna hitam. Ada juga 5 kamar lainnya dengan warna pintu berbeda. Ada pintu berwarna merah dengan logo naga melingkar, pintu oranye dengan logo cheetah berlari, pintu dengan logo elang, pintu putih dengan logo beruang kutub dan pintu abu-abu tanpa logo apapun. Sedangkan logo di pintu Karin adalah logo seekor singa betina dengan wajah hitam."Singa jenis apa ini?" tanya Karin. "Itu bukan singa tetapi panther." jelas Jason."Beristirahatlah dan jangan pikirkan apa-apa." kata Jason menuju ke lift dan pergi dari sana. Karin membuka pintu kamarnya dan terkejut. Tempat tidurnya luas dan muat untuk 2 orang, dengan laptop canggih di sebuah meja kerja dan 1 kursi kantor dengan kamar mandi disampingnya. Karin mencampakkan tas ranselnya ke tempat tidur dan membuka lemari yang ada di kamarnya. Begitu banyak baju disitu dan Karin mengambil salah satunya. Dengan langkah riang dan ceria ia memasuki kamar mandinya. Ia terlihat senang, dibukanya kran shower berkali-kali hingga membasahi wajah dan tangannya. Keran untuk mengalirkan air ke dalam bathup segera di hidupkan dan menampung air. Ia lalu mandi dan berendam di bathup, uap panas terlihat mengepul yang ternyata Karin sengaja menghidupkan air hangat. Dirinya menikmati sesaat kekayaan yang tiba-tiba menghampirinya, beserta dengan rasa penasaran yang begitu tinggi apa yang diperbuat Jason dan dokter Tom Holland kepadanya. "Aku adalah penjahat, tetapi kenapa dokter Tom begitu senang atas kehadiranku. Apakah ayahku pernah berurusan sangat penting kepadanya sehingga melibatkan diriku kedalam aliansinya?" pertanyaan itu berkecamuk di kepala Karin. Dirinya mulai memakai baju dan segera melihat layar TV yang begitu rapat dengan dinding. Tidak ada remote atau tombol untuk menyalakan TV tersebut, Karin mengerti. TV ini menggunakan perintah suara. Karin terdiam dan mulai berbisik "Menyala..." TV tersebut menyala sesuai perintah Karin, membuka layarnya yang penuh dengan infomasi. Karin tidak tahu bagaimana caranya menghidupkan TV tersebut, bahkan tidak ada cara manual disitu. Tetapi otak Karin dengan cepat mengerti dan mengolah informasi. "Cari informasi tentang tempat ini." kata Karin. Layar yang memuat begitu banyak informasi berkedip dan berganti. Mata Karin menyusuri kata-perkata yang di tuliskan. "Aliansi para legal, tidak boleh diketahui negara..." tercekat dirinya ketika membaca kalimat yang dituliskan disana. "Mengumpulkan para penjahat, para penembak ulung dan kekuatan mengandalkan otak. Aliansi ini bisa menjadi aset besar untuk dunia meskipun di sini adalah orang-orang yang hina. Cuih, apa ini yang dikerjakan dokter Tom?" kata Karin sambil meledek. Dirinya berbalik, tangannya mengepal dan matanya menatap tajam. "Aku harus pergi dari sini, secepatnya..." bisiknya dalam hati dan dirinya segera membalikkan badan, teringat sesuatu yang begitu penting. Benar saja ranselnya sudah tidak ada lagi di tempat tidur, seseorang telah mengambilnya. Feri Mawar, menuju Hokkaido "Ingin sake?" tawar partner Tom yang diutus untuk menjemput lelaki dengan pakaian aneh seperti samurai. Lelaki itu menggeleng, dirinya menatap pemandangan laut yang hanya air, air dan air. Hanya feri yang ia tumpangi sepertinya terapung menuju pulau Hokkaido. Dirinya sudah bosan hidup di pulau kecil dengan jumlah penduduk sedikit. Sudah bosan ia melihat tak ada kejahatan di tempatnya, yang ia inginkan pulau besar dengan banyak kejahatan disana. Lelaki itu menggeleng, rambut gondrong terlihat dikibar-kibar oleh angin laut. "Apa yang kau inginkan?" tanya Partner tersebut dengan kesal. Ia sudah menawari yang terbaik untuk lelaki itu sesuai dengan perintah tuannya, dokter Tom Holland. Kamar mewah, tetapi lelaki meminta kabin dengan tempat tidur tatami dengan jendela besar yang menghadap langsung ke lautan. Makanan mewah, tetapi lelaki itu hanya meminta makanan biasa. "Yang aku inginkan..." lelaki itu berbisik, wajah partner terlihat tegang karena lelaki itu menunduk, tidak lagi menatap lautan tetapi tidak juga melihat dirinya. "Yang aku inginkan adalah darah para penjahat." katanya sambil menatap tajam partner dokter Tom Holland yang berada di hadapannya. Partner tersebut langsung menunduk, tidak berani menatap lelaki yang mengerikan karena bekas memar dan darah kering di ujung bibirnya. "Maafkan diriku sensei." sesalnya. "Jangan panggil diriku sensei, aku bukanlah sensei aku hanyalah lelaki yang suka membunuh, panggil Lee Matsuda, atau Matsu." kata lelaki itu memperkenalkan diri. "Watashi Lee Matsuda"senyumnya. "George Eric. Tetapi semuanya memanggilku Eric, dan nama inisialku G. Eric." kata partner dokter Tom sambil memecah suasana tegang yang berada di hadapan mereka. "Laut adalah ketenangan..." Matsu kembali menoleh, menatap laut yang masih gelap gulita, hari semakin dini tetapi jika tuhan berkenan mereka sebentar lagi akan menyaksikan matahari terbit. "Apa?"Eric tidak mengerti. "Laut bagiku adalah simbol dari semuanya.Ia begitu tenang tetapi ada apa saatnya ia akan marah,seperti cinta..."Matsu tersenyum sendiri dan menoleh kepada Eric."Pernahkah kau merasakannya?"tanyanya. Eric yang sedang minum teh hijau tersedak,tidak menyangka akan ditanya begitu."Aku...aku sensei..." lagi-lagi dirinya mulai salah menyebut Matsu. Matsu tersenyum. "Tentu semua manusia pernah merasakannya,cinta adalah kata yang sangat sakral bagi seluruh makhluk. Cinta itu tidak bisa dilihat tetapi kau bisa merasakannya. Kau sedih karena cinta dan bahagia karena cinta. Tanpa cinta, hidup hampa." kata Matsu dan menoleh lautan. "Cinta pertamaku sampai saat ini adalah umi, sang laut" kata Matsu. "Tiada kata yang dapat kusampaikan untuknya,bahkan pujian hati tidak akan cukup untuknya." Umi dalam bahasa Jepang artinya laut.Eric tidak menyangka sama sekali."Pada wanita?" Eric mulai mengajukan pertanyaan,padahal sama sekali tidak sopan bagi orang yang dihadapannya.Matsu bukannya marah tetapi tersipu,dirinya menunduk. "Namanya Eyako,aku memanggilnya Eya.Laut mempertemukan kami berdua.Saat itu diriku sedang berbaring di perahu,menyambut hangatnya matahari yang menyapu badan.Tragedi yang tidak bisa kulupakan saat itu adalah tenggelamnya sebuah kapal,tepat di hadapanku.Tetapi mereka terlalu jauh dari para nelayan.Hingga aku memutuskan untuk menolong."kata Matsu. Eric menunggu cerita yang akan disampaikan orang yang dihadapannya, sepertinya Matsu tidak sedingin seperti yang dikatakan orang-orang, ia adalah lelaki yang paling mengenal arti kata alam dan hidup. "Hanya satu orang yang dapat kutolong karena tangannya masih menggapai, yang lainnya sudah tenggelam atau dijemput malaikat maut. Aku menarik tangannya dan membawanya ke tepian. Segera diriku menolongnya hingga ia tersadar.Ia memelukku,ya tuhan ia memelukku bahkan aku sendiri tidak menyadari bahkan waktu berlalu begitu cepat. Hingga aku sadar aku menemui cinta setelah laut. Namanya adalah Eyako dan kami menjadi sahabat baik, ibuku bahkan mengankatnya menjadi saudara, aku serasa memiliki adik dan teman, juga sekaligus kekasih hati." “Tak hanya itu dirinya juga kehilangan keluarga sejak kecelakaan tersebut,memintaku untuk merawatnya dan menjadi keluarga.” "Hidup memang kejam,saat diriku mulai memasuki tahap dewasa aku diusir oleh sensei dari perguruan samurai,karena suka membunuh padahal aku membunuh orang-orang yang tidak memiliki rasa keadilan,kupikir samurai akan mengajariku tentang kebijaksanaan,ternyata itu salah.Mungkin itulah yang membuat orang-orang jahat membunuh ayah,ibuku dan kekasih hatiku,Eyako."mata Matsu memerah karena menahan tangis dan amarah. "Pedang yang dimiliki para orang jahat itu menembus perutnya,tetapi ia bertahan dengan kuat demi melihat wajahku untuk terakhir kalinya.Ayah dan ibuku pulang ke alam mereka lebih awal.Begitu sedih hatiku saat tangan Eyako menggapai lemah wajahku,mengatakan bahwa ia mencintaiku selama hidupnya.Dan ia mati dengan indah di pelukanku,darahnya sudah keluar banyak.Wajahnya putih tetapi senyumnya terlihat terukir,karena ia sempat menyatakan hal sebenarnya kepadaku.Aku menangis dan meraung pilu,berusaha memanggil Eyako untuk kembali tetapi tetap saja,ia pergi."tangan Matsu terkepal,ia menggigit bibirnya.Giginya bergemerutuk dan dirinya menunduk. "Kau tahu apa yang paling kusesali selama hidupku?"tanya Matsu dengan mata berair tetapi masih bisa menatap tajam Eric. Eric terlihat tidak tega untuk menjawab tetapi tidak tega untuk mengatakan aku tidak tahu atau entahlah.Yang Eric bisa lakukan adalah terdiam,tidak mampu menjawab,tetapi matanya memberikan isyarat agar Matsu yang menjawabnya. "Yang aku sesali adalah tidak bisa menyatakan cinta seperti Eyako yang berani menyatakannya kepadaku,aku merasa menjadi lelaki paling bodoh sedunia.Aku tidak berani begitu takut kalau Eyako menjawabnya dengan lain.Ternyata,aku sudah menyiakan-nyiakan kesempatan terakhir."Matsu kini mengeluarkan air mata tetapi tidak terisak."Tinggalkan aku sendiri disini."lirihnya. Eric terkejut tetapi patah-patah ia keluar dari kabin,membiarkan Matsu tergugu. New York "DIMANA RANSELKU?!"seru Karin sambil menendang pintu di hadapannya.Tangannya terkepal,dokter Tom dan Jason terlihat kaget ketika mereka sedang menyaksikan kertas-kertas milik Karin. "Tunggu!"panik dokter Tom sambil menghalangi Karin yang hendak menyerangnya."Kami memerlukan itu..."kata dokter Tom sambil berusaha menjelaskan,punggungnya menabrak meja hingga berkas-berkas milik Karin tercecer di lantai."Ayahmu berkata kalau berkas-berkas yang kamu bawa berkaitan dengan aliansi yang kami berdua rencanakan."ujarnya. Karin memasang kuda-kuda,kedua tangannya mengepal.Jason mendorong ayahnya dan mulai memasang sikap yang sama."Jangan berani menyerang ayahku,dirinya tak bersalah."katanya tajam. "Oh,sangat bersalah karena aku begitu marah ketika seseorang mengambil bendaku tanpa izin."kata Karin,tanpa membuang waktu lagi tangannya yang berbentuk tinju melesat mengincar wajah Jason. Jason menangkis serangan Karin,dokter Tom menunduk sambil mengambil berkas-berkas penting yang tercecer lalu memasukkannya ke dalam ransel milik Karin yang sudah usang.Karin mulai bertumpu pada salah satu meja dan melompat,dirinya berputar di udara.Kakinya mengincar kepala Jason,Jason menunduk.Kaki kiri Karin kini mendarat di tanah dan mulai menendang d**a Jason. Lelaki itu mulai melindungi badannya dengan membentuk 2 tangan yang menyilang.Karin terkejut ketika kedua tangan Jason dengan cepat menangkap dengan erat kaki kanannya.Karin mulai berputar dan membuat Jason melepaskan cengkramannya dan menghindari serangan Karin. Karin dan Jason terus mengirimi serangan mereka.Hingga tinju Karin dengan telak mengenai dagu Jason,kakinya menendang d**a Jason hingga jatuh tersungkur."HENTIKAN!!!"seru dokter Tom sambil menghentikan pertikaian dan dengan maksud 'melindungi' anaknya. "Permisi,adakah dokter Tom Holland disini?"Karin menghentikan langkahnya ketika 2 sosok manusia berdiri termangu di depan pintu.Yang lelaki terlihat sedang memakai tas,kamera dengan tali melingkari lehernya dan dirinya terlihat menggenggam kartu berwarna putih.Sedangkan seorang wanita terlihat terkejut menyaksikan apa yang terjadi di hadapannya,tangannya juga memegang kartu putih. Karin dan lelaki itu beradu pandang dan sama-sama terkejut."Uhm,kukenalkan 2 anggota lain yang masuk ke aliansi kami,Vierra dan Ahmad Rizwan."kata dokter Tom sambil memecah keheningan."Maafkan kami atas suasana yang tidak enak ini."kata Dokter Tom sambil menjabat tangan Rizwan. "I sorry,my name is Tom Holland." Rizwan mengangguk-anggukkan kepalanya sedangkan Vierra dengan tatapan kagum menatap Karin."Hei,aku Vierra apakah kamu belajar karate?oh ya siapa namamu?"tanya Vierra ceria dan menatap Jason yang berdiri sambil dan memegang dagunya yang begitu sakit akibat tinju yang 'dikirimkan' oleh Karin. "Kau yang membuat dia jadi begitu?"bisik Vierra sambil mendekati wajahnya ke telinga Karin.Karin mengangguk pendek,tidak suka kalau terlalu banyak bicara dengan orang yang cerewet."KEREN!!!"pekik Vierra. Karin terlihat terkejut.Tidak percaya Vierra memasang aksi berlebihan kepadanya.”Euhm,sebenarnya aku juga senang lelaki kalah pada wanita,tetapi ya begitulah kadang-kadang wanita ada saatnya perlu lelaki.”katanya sambil mengankat bahu. Karin mengangguk mengerti,diam-diam menatap Ahmad Rizwan yang tengah berbincang bersama dokter Tom Holland.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN