bagian 5

1870 Kata
Bagian 5 Jason mulai menaruh es di dagunya yang sedikit memar. Rizwan memandangnya dengan wajah meringis. "Itu baru sedikit yang dikeluarkannya,aku yakin dia akan kuat untuk menghabiskan dirimu dengan mudah." katanya sambil memotret sosok Karin dan Vierra yang tengah memandang senjata-senjata yang tengah dibuat. "Rantai yang keren." takjub Vierra sambil mengankat rantai yang agak panjang tetapi ringan, disisi rantai tersebut terdapat logam tajam yang jika diputar dan sempat mengenai tubuh seseorang, Vierra yakin orang itu tidak memiliki jasad utuh atau hancur tubuhnya. Mata Rizwan tertuju kepada seseorang lelaki yang sudah dewasa sedang membuat atau merancang baju yang begitu sederhana tetapi Rizwan yakin baju itu memiliki teknologi canggih. Rizwan mendekati lelaki tersebut yang tengah memasang suatu panel atau sirkuit kedalam baju rancangannya. "Apa yang kau buat?" tanya Rizwan tertarik. "Tidak penting hanya sebuah baju, kau anggota aliansi baru?" tanya Tim tertarik. Rizwan mengangguk dan memotret baju tersebut. "Kau tahu baju ini terlihat sederhana tetapi coba lihat, uh sebelumnya kau harus mencoba memakainya." kata Tim lalu mengambil salah satu baju berwarna putih dengan beberapa bagian yang disengaja berwarna silver sedikit abu-abu. "Pakailah." katanya pendek,tetapi ia terlihat antusias. "Bagaimana jika rusak, baju ini terlalu mahal aku tidak sanggup menggantinya?!" kata Rizwan sambil mengankat tangannya. "Cih, tak usah kau pedulikan itu. Dont worry about that, always Tom helping!" katanya sambil memberikan baju itu kepada Rizwan. "Pakailah!" serunya.Rizwan menelan ludah dan segera menitipkan perlengkapannya kepada Tim. Segera dirinya ke ruang ganti dan mencoba pakaian hasil rancangan Tim. Tim menunggu dan begitu terkejut ketika melihat Rizwan keluar dari ruang ganti pakaian. "SO COOL!" pujinya tetapi lebih kearah baju rancangannya, Tim sebenarnya memuji hasil pekerjaannya. Rizwan tersenyum simpul dan melihat dirinya di pantulan cermin. "Agak ketat?" tanya Tim sambil mendekat. "Sedikit..." kata Rizwan pelan. "Baiklah, aku longgarkan.Kemarikan tanganmu!" katanya sambil menarik tangan kanan Rizwan. Terlihat sebuah larik cahaya yang mulai merambat, Rizwan merasakan sedikit kejutan listrik yang mengalir pada tangannya.Terbentuklah sarung tangan hitam di kedua tangannya,sarung tangan itu mulai membungkus tangan Rizwan,di ujung jarinya terdapat bulatan yang terbuat dari lempengan logam."Keren..."lirihnya. "Aku tahu."kata Tim sedikit bernada sombong dan mulai menyentuh lempengan logam yang berada di jari telunjuk Rizwan.Rizwan merasakan kejutan listrik yang kini menjalari seluruh pakaian yang ia pakai,sedikit demi sedikit baju Rizwan mulai menyesuaikan bentuk tubuhnya dan menjadi sedikit longgar."Bagaimana?"tanya Tim. "Sudah." senyum Rizwan. "Keren,keren,keren sekali.I don't believe it,aku berhasil!" senangnya sambil mengelilingi Rizwan. "Oh,indahnya" takjub Tim melihat bajunya yang kini melekat di tubuh Rizwan, Rizwan sedikit tersenyum melihat tingkah orang itu.Mata Tim berbinar-binar sambil menatap bajunya. "MEMANG INDAH,PAMAN!!!" terdengar suara yang menggema. Seluruh orang yang berada di ruangan yang amat luas itu menoleh ke asal suara, termasuk Tim dan Rizwan. "Evalina!"kata Tim sedikit berseru. Wanita yang memakai sepatu bot dengan genangan air di dalamnya mendekat, membuat jejak di lantai ruangan. Salju Rusia sudah mencair ketika dirinya mendarat di bandara Amerika. Ingin membeli sepatu baru,tetapi ditunda karena sudah dekat sekali dengan tempat tujuan. Wanita itu memeluk Tim begitu erat membiarkan semua orang melihat kerinduan dan keharuan yang terpancar di wajah mereka. Karin mendengus pelan dan mulai memalingkan wajahnya, kejadian 5 tahun lalu kembali tergiang, tetapi semakin diingat justru membuat Karin semakin pening. "Lihat dirimu, kau sudah mirip seperti ibumu." kata Tim sambil memegang pundak Eva. Eva menghela napasnya,menunduk lalu tersenyum. "Seluruh wanita sungguh senang jika dikatakan seperti itu."kata Eva sambil menyandarkan kepalanya ke pundak Tim.Mereka berangkulan untuk mencairkan es rindu yang selama ini menumpuk. "Uh,bolehkah aku melepaskan pakaian ini?!!!"kata Rizwan berseru,tetapi Tim dan Eva sudah begitu jauh dari jaraknya. "Lepaskan saja..."kata Karin pelan.Rizwan menatap Karin yang kini sudah takjub kepada sebuah pedang yang terpajang di sana.Ia barusan berbicara dengan bahasa daerahnya,bahasa Melayu.Vierra mengeryitkan dahi tidak mengerti. Karin menatap Rizwan,membentuk senyuman tipis di wajahnya.Mata mereka saling bertemu,Rizwan membeku dan mulai mengukir masa lalu yang begitu buram.Tetapi Jason menyuruhnya untuk segera berganti pakaian agar dirinya segera menunjuk kamar Rizwan dan Vierra. Pelabuhan Hokkaido,Jepang Eric meregangkan badannya yang agak sedikit kaku.Fajar menyingsing sedangkan Matsu menatapnya dalam keadaan hening.Rambutnya berkibar karena dimainkan oleh angin.Matanya menutup,berusaha menghirup sebanyak mungkin udara dari laut.Eric menatap arlojinya."Kita harus segera bergegas,sensei." Matsu bergeming,masih di tempatnya,matanya juga menutup.Hingga matahari sudah meninggi,barulah dia membuka matanya.Menoleh ke arah Eric yang kini terpaku."Kau salah menyebut namaku lagi."katanya pelan. Eric meringis,dirinya selalu lupa untuk memanggil nama Matsu."Kita harus segera bergegas,pesawat pribadi milik dokter Tom Holland sudah terparkir di bandara."katanya pelan.Matsu mengangguk dan mulai mengikuti langkah Eric yang mulai memasuki sebuah mobil yang terparkir di pelabuhan Hokkaido. "Ayo,kita harus pergi.Jangan khawatir dengan senjata ninjamu itu,sebab kamu tidak akan melewati pemindai yang biasa ada di bandara.Everthing is safe."katanya sambil menghidupkan mesin mobil. "Arigatou..."katanya pelan lalu menutup pintu mobil.Mobil yang dikendarai Eric melaju meninggalkan pelabuhan Hoikkado yang mulai ramai oleh hiruk pikuk manusia. New York Jian melihat kegiatan manusia yang masih sibuk,padahal sudah larut malam.Ada yang bermain kartu,belanja di supermarket dan ada yang mulai bermabuk-mabukan.Dua orang berkacamata yang tadi langsung menjemputnya dari Rio De Janeiro terlihat menjaga dari kiri dan kanan.Benar-benar takut kehilang Jian yang terbawa oleh lautan manusia. "Masuk kesini tuan muda,Jian."kata pria berkacamata sambil menarik tangan Jian menuju sebuah toko yang menjual kebutuhan rumah,sama seperti toko yang dimasuki Jason dan Karin.Pemilik toko terlihat sedang melayani pelanggan.Jian dan dua orang berkacamata menunggu. "Maaf,hari ini aku terlalu sibuk.Banyak yang kebutuhan rumahnya sudah tua atau rusak hari ini."kata pemilik toko sambil meminta maaf berkali-kali,2 orang berkacamata mengangguk,tidak masalah. Jian menjadi sedikit bingung."Mari kesini."kata pemilik tersebut sambil berjalan pelan menuju ruang belakang,segera mendorong lemari.Menampakkan lift yang selama ini tersembunyi di belakangnya,menyuruh masuk Jian dan dua orang pria berkacamata tersebut. Pintu lift tertutup dan mulai turun.Sedangkan pemilik toko kembali mendorong lemari dan mulai bekerja melayani para pembeli. Jian menahan napasnya.Lift turun ke ruang bawah tanah.Pintu lift segera terbuka,seorang pria berkacamata yang berada di sebelah kiri Jian tersenyum."Selamat datang di Secret Basecamp,tuan muda Jian."senyumnya."Kau boleh pergi sesuka hatimu,sedangkan kami juga mempunyai urusan lain.Atau kau ingin dijaga?"tanya orang itu. Jian menggeleng sedangkan 2 lelaki yang tadi di dekatnya mulai menjauh,sesaat Jian berbalik dan menahan langkah kedua orang tersebut."TUNGGU!!!"serunya.Mereka berbalik dan menatap Jian yang juga menatap mereka. "Siapa namamu?"tanyanya. "Namaku Victor dan dia adalah Ben."senyum pria yang tadi menyambut Jian di markas rahasia mereka. "Apakah kami boleh pergi?"tanya Ben.Jian mengangguk dan menyilahkan mereka untuk meninggalkannya dan pergi. Jian menatap ruangan yang di penuhi oleh orang-orang yang sedang membuat percobaan dengan alat kimia,membelah logam menggunakan laser khusus,dan ada yang memakai sinar UV untuk percobaan mereka. "SELAMAT DATANG TUAN MUDA JIAN!!!"terdengar suara yang penuh wibawa.Jian terkejut dan segera melihat asal suara.Hampir saja Jian menjatuhkan kopernya dan mulai mengangga. "Perkenalkan namaku dokter Tom Holland."kata orang itu mendekati Jian."Dan maafkan atas kelancanganku karena membawa dirimu dengan paksa untuk datang kesini."kata Dokter Tom. "Tidak,akulah yang berterimakasih karena sudah mengundangku kesini."ucap Jian kepada orang tua di hadapannya."Kau menepati janjimu,kan?"tanya Jian mulai menyelidik.Dirinya mulai teringat kepada Hill dan keluarganya. "Tentu saja,justru kita merasa malu jika tidak menepatinya."senyum Dokter Tom."Ingin berkeliling atau ingin beristirahat menuju kamar barumu?"tanyanya ramah. "Aku ingin beristirahat..."kata Jian pelan. "Tentu,melelahkan sekali sepanjang perjalanan menuju kesini."senyum dokter Tom.Tangannya mulai diletakkan di punggung Jian.Dirinya sedikit lebih tinggi dari pada Jian."Lihatlah anak muda seperti dirimu mulai mencapaiku,memang kesehatan anak jaman sekarang membuat diriku takjub."kata dokter Tom lembut. Mereka lalu memasuki lift dengan kaca tembus pandang menuju ke ruangan yang mana tempat para anggota aliansi beristirahat. "Inilah kamarmu."kata dokter Tom sambil menunjuk kamar Jian yang logonya bergambar cheetah yang berlari."Nikmatilah."kata dokter Tom sambil meninggalkan Jian.Jian tersenyum dan ingin membuka pintunya tetapi terhenti karena terdengar seruan di kamar yang pintunya berlogo elang. "Wah,keren sekali paman,terimakasih."terlihat Eva keluar dari kamarnya dan memeluk Tim."Tentu aku kerasan tinggal disini."senyumnya.Tim tersenyum melihat keponakannya yang begitu girang dan senang. "Paman ingin bekerja,Eva."kata Tim sambil mengacak-ngacak topi koboi milik Eva.Eva mengangguk dan melambaikan tangannya."Bye!"senangnya.Tim memasuki lift dan meninggalkan ruang peristirahatan. "Kau anak baru?"tanya Eva kepada Jian yang kini terpaku."Namaku Evalina."katanya sambil menjabat tangan Jian."Berapa usiamu,menurutku kamu seperti anak muda atau remaja." "Namaku Jian,umurku 18 tahun"senyum Jian. "Wah,hebat sekali tidak kusangka teman pamanku merekrut anak muda sepertimu.Apa bakatmu?"tanya Eva sambil mendekatkan mukanya. "Aku tidak tahu..."canggung Jian.Eva yang mengerti keadaan Jian yang baru pertama kali menempati tempat ini mulai tertawa kecil. "Jangan takut aku tidak menggigitmu,tetapi jika tidak mau menjawab ya sudahlah aku juga ingin mandi.Hei,kau harus lihat kamarmu,keren sekali."kata Eva sambil mengedipkan sebelah matanya dan mulai memasuki kamarnya.Meninggalkan Jian yang termangu. Jian mengankat bahunya dan mulai memasuki kamarnya.Eva tidak berbohong,di kamar Jian yang bernuansa warna jeruk terlihat segar dipandang mata.Disana ada lemari dan sebuah alat Fitness yang biasa digunakan untuk berlari.Di dekat alat fitness tersebut juga ada sebuah sepatu roda. Andaikan Eva tahu,bahwa disambutnya adalah anak muda yang lihai dalam mencopet dan mencuri.Jian mulai menuju kamar mandi dan mengambil pakaian baru yang selama ini belum pernah dipakainya.Jian bersiul dan melangkahkan kakinya ke kamar mandi. *** Karin bersungut kesal,di tangannya menumpuk berlembar-lembar berkas yang diberikan oleh dokter Tom.Ia berkata bahwa berkas itu sangat penting,meminta tolong kepada Karin untuk membawanya ke kamar Ahmad Rizwan. Tadi Karin sempat mengintip kertas tersebut,berpikir itu adalah berkas miliknya yang berada di ransel dan di foto copy seolah-olah baru.Tetapi tidak,itu bukan miliknya.Semuanya jelas-jelas untuk Rizwan. Dasar tua bangka,bahkan 10 lembar kertas tipis pun harus aku yang bawa,pikir Karin kesal,ia mengetuk kamar Rizwan.Hening tiada suara,senyap.Karin mengeryitkan dahi dan mengetuk sekali lagi.Sama seperti sebelumnya. Karin menelan ludah,tangannya terjulur untuk memegang gagang pintu.Aneh,tidak terkunci seperti biasanya.Perlahan-lahan Karin membuka pintu tersebut,tanpa Izin.Bodo amatlah,pikirnya.Karin melongokkan kepala,betapa terkejutnya ia.Pemuda itu ada disana melakukan gerakan-gerakan aneh,menurut Karin.Karin terpaku melihat pemuda yang baru ia kenal itu melakukan gerakan yang sangat ganjil bagi dirinya. Hingga pemuda itu menggelengkan kepalanya ke kanan ke kiri dengan pelan disertai bisikan-bisikan yang tidak jelas,ia sekarang menatap Karin dan tersenyum.Sama sekali tidak terganggu oleh kehadiran Karin yang kurang ajar masuk kedalam kamarnya. "Apa yang kau lakukan?"tanya Karin bergetar.Tangannya yang membawa berkas agak melemah,seolah-olah dirinya membawa gelondongan kayu yang besar. "Itu namanya shalat,semua orang muslim wajib melakukannya."jawab Rizwan dan mengambil berkas-berkas yang ditangan Karin tanpa permisi,mengucapkan terimakasih.Karin terpaku dan bibirnya bergetar,sesuatu hendak ia katakan tetapi ia membisu. “Kembalilah ke kamar,kita perlu istirahat,”kata Rizwan sambil melipat sajadah lusuhnya.Sajadah itu setia menemaninya hingga bertahun-tahun lamanya,tak pernah diganti.Sajadah itu menemanyinya berkeliling dunia.Shalat di gereja Jerman layaknya Habibie,pemukiman muslim di Maroko,masjid Turki di Istambul dan beberapa tempat di Rusia. Rizwan mengantarkan Karin sampai pintu kamar,mengucapkan terimakasih berkali-kali.Karin mengangguk lemah,melangkahkan kakinya ke kamar.Tadinya ia hendak melanjutkan mengetik,karena aktivitasnya terganggu karena partner dokter Tom memanggilnya untuk ke ruangan dokter Tom.Tetapi laptop itu berdenging pelan,Karin tidak selera mengetik lagi.Tidak meng-hacker seperti kebiasaannya selama ini. Shalat, ia mulai teringat gerakan yang dilakukan Rizwan. Betapa rindu ia mendengar kata-kata yang dikeluarkan Rizwan, shalat. Mata Karin berair, bahkan dirinya sendiri tidak menyadari. Rizwan berbahasa sama seperti dirinya, apa yang kurang. Seharusnya ia mengatakan hal itu sebelum Rizwan mengantarnya keluar. Pikiran Karin berkecamuk, ia menutup wajah dengan bantal. Terisak tanpa suara, kata-kata itu terus menggema di kepala. Menjalar di seluruh tubuh dengan lembut, kata-kata yang mengukir rindu, shalat. *** Dikejauhan lebih tepatnya diatas langit. Sarah melakukan shalat Isya di pesawat. Franklin yang tadinya berseru-seru kesal, mengatakan bahwa mereka sudah sampai di tempat tujuan. Sarah membalas seruannya,bahwa hari sudah semakin larut dan memasuki dini hari. Salah Franklin sendiri tadinya ribut menariknya ke bandara,m engurusi visa dan antah berantah lainnya sehingga Sarah tidak bisa melakukan shalat jamak. Untungnya ia sudah shalat zuhur dan Ashar. Franklin menyerah, memilih menatap kota New York yang semakin lama semakin dekat. Tepat saat Sarah menyelesaikan shalatnya, pesawat mulai mendarat di landasan bandara.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN