Bagian 6
"Lady,kita sudah sampai!"Franklin menggoncangkan bahu Sarah,sama sekali tidak peduli bahwa Sarah baru saja menyelesaikan ibadahnya.
"Iya,aku tahu."kesalnya.
Franklin mengankat bahunya,dan sama sekali tidak peduli dengan kekesalan Sarah terhadapnya.Pramugari mulai menyuruh seluruh penumpang memakai sabuk dan tetap tenang.Pesawat mendarat anggun di landasan.Awalnya sedikit berguncang,membuat Sarah sedikit gentar.Tetapi lama-lama pesawat itu berjalan tenang dan berhenti.Pramugari tersenyum,menyilahkan penumpang keluar.
Sarah melihat langit Amerika,untuk pertama kalinya.Ia sudah terbiasa dengan langit Eropa,ternyata sama saja.Orang-orang berlalu lalang terlihat jelas bandara begitu sibuk."Lady,kita harus cepat.Akan ada taksi yang menunggu kita dari tadi."kata Franklin sedikit kesal.
Sarah mengangguk,mereka berdua meninggalkan kesibukan bandara.Hari menunjukkan pukul 2,entah akan kemana mereka.Sarah yakin ketika dokter Tom membuka pintu rumahnya dengan keadaan rambut kusut dan mata merah,sama sekali tidak tahu yang menyambutnya bukan rumah dokter Tom tetapi markas besar bawah tanah.
Taksi yang menunggu mereka teronggok bisu di parkiran bandara.Dirinya tertidur nyenyak di kursi mobil,topinya yang dikenakan sopir terlihat miring dan menutup matanya bahkan hampir ke hidungnya."Hmm,sir!"Franklin mengetuk kaca pintu.
Sopir masih terlelap,tidak terusik dengan ketukan di jendela.Tersadar ketika Franklin mulai mengetuk-ngetuk dengan keras."Ya...masuk,masuk."ia terlihat mengantuk,membuka kunci mobil.Franklin tersenyum puas dan membuka pintu lalu disusul Sarah.
"Bawa kami ke pusat kota."seru Franklin memberi perintah.Sopir menguap dan mulai mengendarakan mobil,matanya terlihat membuka lalu menutup dengan perlahan membuka lagi,sadar kalau ada penumpang di dalamnya.Sejak jendela taksinya diketuk,ia belum sempat mencuci muka.
"Aku ingin bertanya?"kata Sarah pelan,wajahnya menghadap ke arah Franklin yang memakai kacamata hitam,saat pesawat di dalam perjalanan Franklin memutuskan akan terus memakai kacamatanya,jangan sampai ada yang tahu kalau matanya memiliki bekas luka karena terkena pisau lawannya.
"Silahkan."Franklin berkata tenang,menyilahkan Sarah untuk bertanya.
"Aku penasaran,kenapa dokter Tom ingin merekrutku.Bukankah banyak pemanah profesional lainnya selain diriku."kata Sarah.
"Ia tidak mencari yang seperti itu,ia mencari orang yang seolah-olah hina padahal indah.Ia mencari orang yang seolah-olah terbelakang padahal mencari yang berbakat.Ia mencari orang yang seolah-olah biasa padahal luar biasa.Dokter Tom mempunyai kebiasaan melihat dari dalam bukan dari luar,ia adalah orang terhebat dalam hidupku."jelas Franklin sambil memuju bosnya,dokter Tom.
"Maksudnya,aku orang yang luar biasa?aku merasa aku tidak ada apa-apanya,bosmu pasti kecewa merekrut diriku."sahut Sarah lalu menghempaskan punggungnya ke kursi,taksi berjalan dengan amat perlahan,sepertinya supir benar-benar mengantuk.
"Kau luar biasa Sarah,aku yakin dokter Tom tidak akan salah pilih.Bukankah kau wanita yang bertahan di hutan sss sendirian?belajar memanah dengan para suku disana?kau hebat,dokter Tom tidak salah pilih dirinya selalu tepat."geleng Franklin,ia tertawa kecil dan menepuk pundak sopir.
"Kamu kelewatan 100 meter,sobat.Tetapi tidak apa-apa kami bisa berjalan kaki."katanya sambil memberikan sejumlah uang.
"Tidak usah,aku bisa mundur."tolak supir dengan perasaan malu,malu karena dirinya ketahuan mengantuk.
"Hei,jangan takut bung,hanya seratus meter.Ambil upahmu."kata Franklin lalu menepuk-nepuk pundak supir sekali lagi."Kami turun."taksi berhenti sempurna di pinggir jalan.
"Terimakasih bung!"lambai Franklin ketika taksi berjalan tenang meninggalkan mereka.Dirinya lalu meminta agar Sarah mengikutinya ke sebuah toko kebutuhan rumah yang sudah tertutup.
"Euh,kita tidak tersesat kan?"tanya Sarah memastikan.Franklin tertawa dan memencet bel.
"Tenang saja,semuanya akan berjalan baik,Lady."tawanya.
***
Matsu dan Eric menoleh,seseorang menekan bel.Bahkan pemilik toko terkejut,apakah ada yang menguntit mereka.Eric memberi kode kepada pemilik toko sedangkan Matsu memegang gagang katana.Mereka berjalan tenang,bel berbunyi sekali lagi.
Eric mengangguk,pemilik toko mengintip siapa yang ada diluar."Ternyata dia..."kata pemilik toko menghembuskan napas lega.Ia membuka pintu perlahan,Matsu tetap memegang gagang katana dengan erat.
"Bukankah terlalu awal untuk menutup toko."protes Franklin.
"Maaf,kawan kupikir telah lengkap anggota aliansi milik kita."kata pemilik toko sambil mengizinkan Franklin dan seorang wanita berhijab masuk.Matsu memandang wanita itu,tangannya mulai mengendur dan menjabat tangan Franklin.
"Lee Matsuda."
"Franklin."senyum Franklin bersahabat.
Pemilik toko kini mengunci pintunya,ia mengelap peluh di dahi."Mari ikut saya."katanya pelan.Sarah menatap Eric,Matsu,Franklin dan pemilik toko bergantian.Pikiran buruk menghantuinya apalagi hanya diaperempuan sendiri disini dengan pintu tertutup dan terkunci.
Aku seharusnya kabur,tetapi kenapa diriku bodoh sekali untuk mengetahui ,pikir Sarah kalut.Ia lalu memegang gagang pintu,kopernya terjatuh.Membuat seluruhnya menoleh menatap Sarah yang menggedor-gedor pintu."Help!!!"teriak Sarah.
"What your doing?!"panik Eric melihat aksi perempuan dihadapannya.
"Sarah,stop.Kau membuat masalah!"marah Franklin sambil mengcengkram tangan Sarah, begitu kaget melihat wajah Sarah yang pucat dan berkeringat.
"Don't touch my hand!!!"panik Sarah,sebelah tangannya mulai menampar pipi Franklin. Membuat Eric, Matsu dan pemilik toko terngangga. Franklin merasakan pipinya yang begitu perih,cengkramannya mengendur.
Sarah dengan gesit melepas cengkraman Franklin dan mengambil kopernya, menggedor-gedor pintu sekeras mungkin.
"Stop him!"panik pemilik toko.
Eric dan Franklin mulai menangkap Sarah,Sarah melempar kopernya berusaha mengalihkan perhatian Franklin dan Eric.Membuat kedua lelaki itu menabrak koper milik Sarah dan terjungkul.Kepala Eric terkena ujung meja,membuatnya mengaduh.Pemilik toko berteriak panik,ia tidak mempunyai larian cepat apalagi bela diri.Mengejar-ngejar Sarah yang lincah menghindar.
Sarah membalikkan badan,membuat pemilik toko menabrak etalase yang penuh dengan panci,suara klontang-klenteng terdengar keras.Pikiran Sarah panik,ia semakin cemas melihat Franklin yang mulai berdiri.Tetapi mulutnya di bekap dari belaang dan kedua tangannya segera di pelintir.
Sarah mengeluarkan air matanya karena menahan sakit,Matsu membekapnya supaya tidak berbuat kerusuhan oleh teriakan Sarah."Kare o shibari nasai! (Ikat dia!)."seru Matsu sambil terus memelintir tangan Sarah.
Pemilik toko mengusap punggungnya yang nyeri karena terkena etalase,tertatih-tatih mencari tali.Sarah memberontak tetapi semakin tidak berdaya ketika Eric dan Franklin juga menahannya.Sarah semakin putus asa dan menangis,membayangkan dirinya akan diperlakukan tidak-tidak oleh keempat lelaki yang sedang menatapnya dengan marah.
Pemilik toko kembali dengan 2 buah tali panjang dan sebuah plester.Sarah semakin ketakutan ketika Matsu mengikat tangan dan kakinya juga menutup mulutnya dengan plester,membuatnya megap-megap karena tidak bisa bernapas.Franklin dan Eric mengankat Sarah menuju ruang belakang diikuti oleh pemilik toko dan Matsu yang kini menggotong koper milik Sarah.
Betapa terkejut Sarah ketika ada lift dibelakang lemari.Ia memberontak,membuat plester di mulutnya mulai sedikit mengendur.Persis ketika pintu lift ditutup,plester di mulutnya terbuka diiringi oleh suara teriakan amarah dari Sarah. "Lepaskan aku!"
Pemilik toko menutup lift dengan lemari dan mengurut dadanya melihat kejadian barusan. "Wanita edan..." bisiknya dalam hati.
"Kau membuat kerusuhan!"marah Franklin.Sarah menunduk, bibirnya bergetar, hijabnya berantakan dan sedikit kotor sedangkan Matsu menatapnya dengan tatapan tanpa ekspresi. "Kenapa kau melakukan itu?" tanyanya dengan marah.
Sarah menangis dan tepat saat pintu terbuka terdengar seruan yang membuat Franklin menoleh. "APA YANG KAU LAKUKAN?!" marah dokter Tom sambil mendekati mereka, ilmuwan yang sedang bekerja terlihat terkejut ada wanita yang terduduk dengan keadaan berantakan.
"KENAPA KAU LAKUKAN DIA SEPERTI INI?!"seru dokter Tom sambil memperlepas ikatan Sarah.
Franklin ingin menceritakan hal yang terjadi ia mulai kesal karena dirinya dipersalahan."Tapi..."
"Bukankah aku menyuruhmu melakukan baik tamu kita?!"potong dokter Tom sambil membantu Sarah berdiri,Sarah merasakan tangannya sedikit kebas karena ikatan tali yang begitu kencang.Dokter Tom bilang minta maaf berkali-kali.
"Maafkan saya,maafkan rekan saya yang membuat tidak enak."katanya sambil menunduk-nunduk,Sarah menjadi agak heran karena tidak sopan dihadapan orangtua yang menunduk minta maaf kepadanya,seharusnya yang muda melakukan itu.
"Koperku..."suara Sarah bergetar."Koperku..."
Matsu buru-buru memberikan koper miliknya."Aku ingin pulang..."kepala Sarah berdenyut dan berusaha kembali ke lift,tetapi dokter Tom menahannya.
"Kumohon,jadilah anggota aliansi kami. Kami minta maaf atas kesalahan kami, kumohon..."pinta dokter Tom.
"Tetapi rekanmu mengikatku..."kata Sarah sambil menunjuk Franklin.
"Itu karena kamu berteriak tahu?!"kesal Franklin karena dituduh, membuat ilmuwan yang ada disana memberhentikan pekerjaannya,sepertinya malam ini ada tontonan menarik.
"Kalian pasti berbuat jahat padaku..."kata Sarah dengan pandangan lemah,kepalanya semakin pening.Dokter Tom mengeryitkan dahi,menatap tajam keaarah Franklin.Franklin semakin bingung.
"Nanti kita ceritakan saja besok."kata dokter sambil memegang pundak Sarah."Mukamu pucat sekali,nak.Apakah kau sakit?"tanya dokter Tom cemas.
Sarah menggeleng,ia pucat karena teringat ketika ia diikat di lift.Dokter Tom menghela napas."Kau setidaknya perlu beristirahat dengan penuh,akan kupanggil seseorang.Eva,please come her!"panggil dokter Tom.Eva yang dari tadi melihat kejadian di lift bersama dengan para ilmuwan lain terlihat antusias dirinya di panggil.
Sarah melihat Eva yang memakai piyama."Kau bawa dia ke kamarnya,logo beruang kutub."perintah dokter Tom.
"Aye-aye!"kata Eva terlihat senang,Sarah yakin Eva adalah orang Rusia ketika melihat dari raut dan mimik wajahnya.
"Aku tidak bisa tidur,dan terbangun sejam lalu,makanya aku memutuskan untuk lihat-lihat apa yang dilakukan oleh para ilmuwan disini.Tidak kusangka ada 'drama' gratis tadi."canda Eva lalu mereka menaiki lift dan tiba dilorong-lorong,"Ini kamarmu,sudah jam 3 dini hari,kau seharusnya beristirahat."senyum Eva dan melambaikan tangannya.
Sarah menghembuskan napas kecil,jam 3 dini hari,ya.
Seharusnya sekarang ia shalat tahajud dan membaca quran,tetapi baru saja disebut terdengar suara indah yang terdengar di kamar dengan pintu berwarna abu-abu.Sarah tertegun,kepalanya yang pening berusaha mendengarkan lantunan ayat-ayat suci tersebut.
"1.Ya ayyuhal-muddassir 2.Qum fa anzir 3.Wa rabbaka fa Kabbir 4.Wa siyabaka fa tahhir 5.War-rujza fahjur 6.Wa la tamnum tastasir 7.Wa li rabbika fasbir. 1.Wahai orang yang berkemul (berselimut),. 2.Bangunlah lalu berilah peringatan, 3.dan agungkanlah tuhanmu, 4.dan bersihkanlah pakaianmu, 5.dan janganlah engkau (Muhammad) memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak, 7.dan karena tuhanmu,bersabarlah."
Sarah menangis,surat al-muddasir dari ayat 1 sampai 7 tersebut benar-benar menetramkan relung hatinya.Ia menangis tergugu,begitu syahdunya orang membaca ayat suci al-quran.Sarah segera masuk kamar,berwudhu dan malaksanakan shalat tahajud.
Dikamar lain,Karin memejamkan matanya,bukan tidur melainkan mendengar lantunan ayat suci di depan kamarnya.Rizwan-lah membaca ayat-ayat itu.Seluruh langit melihatnya,malaikat mencatatnya,burung-burung malam tergugu dan tuhan mendnegarnya.Sungguh,merugikan sekali yang pada saat itu terlelap atau meremehkan pendengarannya mendengar lantunan ayat suci al-quran.