bagian 7

2425 Kata
Bagian 7 Karin terbangun, sementara diluar sana matahari mulai meninggi. Entah jam berapa ia tidur, ketika melihat cermin Karin jelas-jelas melihat ada garis hitam dibawah matanya. Mungkin Karin baru tidur sekitar jam 4 dini hari. Karin menguap, ia ingin melanjutkan tidurnya. Meringkuk bagaikan udang bungkuk, tetapi akhirnya hanya termenung, tidak tidur juga tidak beranjak. "Permisi, nona Karin!" terdengar seruan, Karin dengan malas mengankat kepala. Bukan suara Jason, bukan juga suara dokter Tom, apalagi suara Vierra. Karin beranjak dengan malas, mulai membuka pintu. "Hmmm...."Karin melihat malas orang dihadapannya, seorang pelayan terlihat gugup langsung salah tingkah melihat Karin yang jelas-jelas mengantuk, capek atau sebagainya-lah. "Tuan Tom ingin semua anggota aliansi sarapan pagi bersama..." kata pelayan itu membungkuk. "Termasuk nona Karin..." hormatnya. "What time is it?" tanya Karin malas, kenapa sih semua orang disini mengganggu ketenangannya saja. "Euh,Nine o'clock..." jawab pelayan terbata-bata. Karin menutup pintunya, membiarkan pelayan bingung sendiri di depan kamar, Karin tidak menjawab apakah ikut atau tidak. Tetapi Karin segera mencuci muka, menggosok gigi dan memakai sweter hitam yang memang sudah di sediakan di lemari. "Ayo..." Karin membuka pintu dan berjalan di depan pelayan yang kini mengeluarkan suara puh sebal melihat Karin. Kenapa sih tuannya ingin mengundang wanita se-menyebalkan ini?, Pikirnya kesal sambil terus membuntuti Karin menuju ruang makan yang luas, lebih baik disebut aula yang dibarisi dengan meja yang panjang daripada ruang makan. Disana sudah ramai sekali, ada banyak yang berbincang sepertinya bukan hanya anggota aliansi tetapi seluruh anggota markas the Secret Basecamp. "Nah, sekarang tamu terakhir kita sudah sampai, here come here. Please sit up in here." seru dokter Tom riang dengan menunjukkan bangku Karin, Karin terduduk malas. Melihat orang-orang yang sarapan pagi yang ternyata membentuk barisan panjang sedangkan dokter Tom berada di ujungnya. Menatap seluruh anggotanya tengah sarapan,para pelayan sigap mengantarkan makanan. Karin melihat seluruh anggota yang makan, Rizwan ternyata sibuk berbincang dengan Matsu, bahasa Jepangnya bagus. Setidaknya Matsu bisa rileks dalam berbahasa karena ada orang yang bisa berbahasa negaranya. Ada juga tentara yang tengah tertawa, para perancang busana dan ilmuwan yang tengah meng-upgrade hasil karya yang nantinya akan di gabungkan di pakaian buatan perancang busana.Vierra dan Eva tersenyum-senyum melihat Jian yang malu-malu makan,ia belum pernah makan mewah seperti ini. ""Vamos, coma muito, jovem mestre Jian. ( Ayo, makan yang banyak, tuan muda Jian )," tawa Rizwan sambil menawarkan paha kalkun ke Jian, bahasa Portugal Rizwan juga bagus.Entah berapa bahasa yang melekat di kepalanya. "Não, eu não gosto de peru.( Tidak,aku tidak suka kalkun )," tolak Jian dengan sopan. Rizwan tertawa ,menawarkan sekali lagi. Jian menggeleng, lebih memilih sayur salad dibandingkan paha kalkun yang bisa dimakan 5 orang sekalipun. Ia tidak serakus itu walaupun sudah lama sekali tidak makan mewah,ia teringat Hill. Entah apa yang dimakan saudaranya,tetapi bukankah dokter Tom berjanji akan memberikan tempat tinggal yang layak sekaligus makanan....Jian menghela napas dan memakan sayur selada yang dicampuri mayonais. "Thank you for this food..." kata Matsu sambil menatap dokter Tom.Agak terbata-bata,lidah Matsu masih kesulitan untuk berbahasa Inggris dengan inotasi orang Asia Timur, tetapi agak lumayan. "Kami memberikan yang baik untuk anggota kami." bijak Dokter Tom, ia adalah orang yang hebat pantas ia disenangi oleh para klien dan anggotanya. "HIDUP DOKTER TOM!" seorang tentara mengankat gelas air putih, tidak ada bir di pagi hari, dokter Tom sepertinya tahu yang terbaik bagi tubuh anggotanya. Setidaknya Rizwan dan Sarah yang termasuk muslim bisa menghembuskan napas lega, tidak ada babi juga di meja makan. Dokter Tom sangat menghormati orang-orang yang beragama Muslim. "HIDUP!!!" orang yang makan di sana berdiri dan berseru-seru, mengelukan nama dokter Tom. Dokter Tom hanya tersenyum bijaksana bukan tersipu, Karin jadi menghilang kantuknya digantikan oleh semangat yang membara. "Sudah, sudah sekarang makan yang tenang, 30 menit lagi kita benar-benar bekerja." dokter Tom berseru menghentikan seru-seruan yang memekakkan telinga. Semua orang duduk,seperti perintah dokter Tom. "Bolehkah aku bertanya?" tanya Karin pelan, berusaha agar orang-orang disana tidak mendengarnya. "Hmmm..." dokter Tom menatap Karin, mulutnya asyik menguyah daging ikan. "Kenapa kursi disana kosong?" tanya Karin sambil menunjuk kursi disamping dokter Tom. Dokter Tom menelan makanannya dan tertawa renyah. "Anak muda itu sedang tidak maka disini jika ada kamu." Karin tidak mengerti siapa anak muda yang dimaksud dokter Tom. Di salah satu kamar,jauh dari ruang makan ditempat dokter Tom memakan sarapan pagi.Jason terlihat memakan serealnya,ia tidak suka ada makanan protein seperti daging atau karbohidrat seperti nasi. Ia malah memakan makanan pagi yang sering dimakan oleh anak sekolah sebelum berangkat ke sekolah. Jason tersenyum sendiri, dihadapannya memang terlihat sebuah handphone yang menunjukkan sebuah video, video yang menunjukkan wanita nomor satunya. Terlihat wanita itu menghapus tangisan Jason, memeluknya dengan penuh kasih sayang dan menyanyikan lagu indah. Membuat Jason kecil yang menangis terhenti. Jason tersenyum lebar sekali lagi. Di video itu, wanita yang memeluknya mencium pipi Jason. "Hingga bulan terbit, matahari terbenam, memunculkan bintang. Jadilah cahaya, walaupun terasa kecil dan tidak di pedulikan." wanita itu terus menyanyikan lagu dalam bahasa Inggris,dengan suara lembut dan pelan. Jason mengusap air matanya.Ia mulai membisikkan pelan siapa wanita itu. "Ibu...." Tetapi begitu melihat jam berapa di ujung layar handphone-nya, Jason tersedak buru-buru menghabiskan sereal-nya. *** "Ayo, lebih cepat lagi." Jason melirik stopwatch ,juga melirik orang-orang yang berlari dengan napas memburu di hadapannya. Tantangan yang diberikan oleh Jason sekaligus dialami anggota aliansi baru adalah, berlari 10 kali keliling lapangan dalam waktu 1 menit. Mustahil, tetapi untuk Jason tidak ada kompromi. Jian-lah yang menyelesaikan tantangan tersebut, disusul Rizwan, Matsu dan Eva. Menatap Karin yang mendapat posisi kelima hampir sama dengan Vierra. Terakhir adalah Sarah, ia tidak suka berlari. Butuh 10 menit untuk berlari 10 kali keliling lapangan, hijab putihnya yang baru basah oleh keringat. Karin sepertinya lumayan, 7 menit.Kebanyakan 5 menit seperti Rizwan, Eva dan Matsu. Sedangkan Vierra, 5 menit 20 detik. Sarah terlihat capek, untungnya dirinya tidak ambruk pingsan di tempat itu. "KALIAN MENGECEWAKAN!!!" bentak Jason dengan muka mengeras, dihentikannya stopwatch dan mulai mendekati anggota aliansi yang direkrut ayahnya. "Mengecewakan, kalian pikir aku akan berlembut hati kepada kalian. Layaknya marmut yang tidak mempunyai kekuatan apapun!" Jason mulai memakai nama marmut. Semuanya menunduk, kecuali Jian yang membungsungkan dadanya. Ia bangga menyelesaikan tantangan tersebut. Sedangkan Jason terus mengelilingi 7 orang anggota dihadapannya. "Aku tidak hanya mengetes bakat yang kalian miliki seperi bela diri, tetapi juga menge-tes sifat ksatria. KALIAN TAHU APA SIFAT KSATRIA ITU?!" tanya Jason sambil berseru galak, kalau yang ini Jian sempurna tertunduk tentu saja dia tidak tahu sifat ksatria, apalagi Jason berseru galak dalam bahasa Inggris yang sebagian kecil Jian tidak mengerti. "Tidak ada yang tahu,hah?!" wajah Jason semakin beringas. "Tahu!" kali ini Rizwan bersuara meskipun pelan. Jason yang berada di depan Vierra mendekati Rizwan dengan mata merah. "Katakan!" katanya tegas. "Setia, berani, jujur, strategi, kecepatan dan kekuatan." jawab Rizwan tetapi ia masih tertunduk. "Kalian dengar hah, kenapa dari kalian tidak ada yang bisa menyelesaikan tantangan tersebut. Karena kalian masih belum sempurna dengan sifat ksatria kalian!" kali ini Jason menghindari Rizwan, menatap ke Karin. "Dan kau adalah wanita yang paling kubenci, kau tahu apa yang tidak kau miliki?" kali ini Jason mendekatkan wajahnya ke Karin. Wajah Karin memerah, tangannya mengepal karena sikap Jason yang meremehkannya. Tetapi itu justru membuat Jason terkekeh kecil. "Kesabaran, sifat ksatria juga harus memiliki rasa sabar, sabar untuk menyusun strategi, bertindak dan menyerang." Jason menjauhi Karin, berdiri ditengah-tengah 7 orang anggota aliansi. Jason yang dulu suka bercanda entah kenapa disaat latihan menjadi layaknya perwira tentara. "Kalian boleh memanggilku teman di saat waktu luang, tetapi jangan harap memanggilku teman disaat yang seperti ini." mata Jason menatap tajam kepada 7 orang yang tertunduk. Matanya berhenti kepada Karin. "Karin,aku benci mengatakan ini,tetapi ketika ayahku memaksa, tidak ada pilihan lain kau harus menerimanya mau tidak mau. Kau terpilih menjadi ketua diantara anggota aliansi..." Jason mengusap wajahnya dengan punggung tangan. Semuanya menatap Karin, yang juga menatap Jason tidak percaya. "Kenapa aku?" tolak Karin dengan wajah terkejut. "Aku juga tidak mengerti, kenapa tanya aku?" kali ini Jason memunculkan wajah menyebalkannya. "Kenapa tidak Rizwan saja, ia sangat lihai dalam menjadi pemimpin atau Matsu ia sangat pandai dalam bertarung dan Eva bukankah ia keponakan dari salah satu anggota the secret basecamp!" seru Karin dengan wajah tidak percaya-nya. "Awalnya aku juga menolak saat dokter Tom mengatakan hal itu kepadaku, tetapi dokter Tom balik memarahiku bilang kalau kau adalah orang yang luar biasa, meskipun harus aku akui kau adalah perempuan yang ...ya gitulah." Jason memunculkan senyum jahilnya, tidak berbekas sedikitpun wajah mengerasnya. "Aku menolak!" Karin mundur 5 langkah. "Tidak apa-apa, tetapi adakah yang ingin menjadi ketua anggota aliansi?" suara Jason menggema. Seluruhnya diam, mereka malah meminta agar Karin tetap menjadi ketua dan pemimpin mereka. "Lihat bukan salahku, tetapi semuanya tidak keberatan kalau kamu menjadi pemimpin aliansi yang bernama... yang itu kau putuskan." Jason melambaikan tangannya dan duduk di kursi yang disediakan. "Aku ingin mendengar nama aliansi baru..." wajah Jason menampilkan rasa antusias yang tinggi. Tangan Karin berkeringat, semuanya terlihat sedang menatapnya. "Ehm, bagaimana kalau namanyanya adalah 7 ksatria?" tanya Karin tetapi ia hanya menunduk, takut ditertawakan oleh yang lainnya. "Itu sudah bagus." senyum Rizwan, Karin menatapnya dengan rasa senang. "Aku setuju saja." Jason dengan wajahnya yang menyebalkan terlihat merusak suasana. "Tetapi jika ada anggota tambahan akan menjadi 8 atau 100 ksatria, iya kan?" memang dasar perusak suasana, Karin menjadi jengkel kepada Jason. Bisakah pemuda ini berhenti mengganggunya, tangan Karin rasanya igin mencakar wajah bodoh Jason. "Kalau begitu, kalian mempunyai hari yang panjang untuk berlatih. Kalian harus latih kecepatan, keakuratan, strategi, kesabaran dan kekuaatan kalian. Hari ini kalian membuat prestasi yang mengecewakan sekali dengan larian kalian yang seperti siput." Jason mulai meninggalkan ruangan menyisakan wajah jengkel Karin dan anggota aliansi lainnya. "Lihat, kau terlihat marah kepada paman Jason. Sungguh semakin kau marah, semakin cantik." Eva mulai bercanda. Karin bersedekap, mood-nya sedang buruk ditambah dengan candaan Eva, semakin masam wajahnya. "Stop kidding." desis Karin dan ia mulai berjalan meninggalkan mereka. "Tunggu, apakah itu sikap seorang pemimpin!" kali ini terdengar seraun dari Matsu. Karin menghentikan langkahnya dan menatap seluruh anggota yang kini sudah menjadi temannya. "Kalian tahu, aku sebenarnya benci menjadi pemimpin karena..." suara Karin tercekat ketika Rizwan menatap tajam dirinya diikuti oleh Matsu. "Karena itu berat." suara Karin tersambung. "Dalam islam menjadi pemimpin adalah tugas yang berat, tetapi tidak ada salahnya untuk mencoba menjadi pemimpin yang baik." Rizwan mulai menasehati Karin. "Kami semua percaya padamu, dan kamu juga harus percaya kepada kami karena menjadi pemimpin yang baik adalah mendengarkan anggotanya." "Aku bukan pemimpin yang baik..." suara Karin melemah. "Tetapi kamu harus berusaha." terdengar suara perempuan yang memakai logat bahasa Inggris, Karin menatap Sarah yang tersenyum. "Jadi apa yang kita lakukan?" Jian mulai berseru semangat. Semuanya menatap Karin yang kini menatap haru teman-temannya. "Bagaimana kalau kita memainkan panah?" usul Sarah. Semuanya berseru kecuali Karin, tentu saja Sarah sendiri yang menang. "Atau bagaimana kalau kita mulai melatih kekuatan dan kecepatan kita serta keakuratan dengan menyerang sesama seperti latihan." Vierra memberikan usul yang lebih baik. "Aku setuju saja, kalau begitu aku dengan Eva dan kalian pilih sendiri teman kalian." Karin mulai mendekati Eva. "Tetapi bagaimana dengan satu orang yang tersisa, nanti ia tidak latihan?" Vierra mulai mengajukan keberatan. "Kalau begitu kita melakukan hompipa saja biar adil." Rizwan mulai bercanda. Kadang-kadang sifat kekanakan Rizwan mulai muncul disaat-saat serius, seperti kejadiaan kereta api yang hampir jatuh ke tebing. "Jian dengan kami saja sedangkan Sarah dengan Vierra dan Eva dengan Karin, apakah kalian setuju dengan hasil pembagianku?" Rizwan mulai menyombongkan diri. "SETUJU!" senang Vierra, hanya ia satu-satunya perempuan yang bersemangat. Eva mulai membuat kuda-kuda, wajahnya yang tadi menyenangkan kini dirinya menjadi berbahaya. Ia mulai gesit melancarkan serangan, Karin dengan lincah pula menghindar. Vierra mulai bersenang-senang dalam menyerang ternyata wajah cantiknya layaknya tipuan padahal ia adalah 'ular yang berbahaya'. Sarah terlihat kaku dalam menyerang, ternyata ia tidak jago dalam menyerang jarak dekat. "Fokus, kak." Vierra mulai berseru memerintah Sarah sambil melancarkan serangan. Sarha menangkis tinju Sarah, tetapi perutnya yang bebas dari apapun kini terpaksa menerima tendangan kuat dari Vierra hingga Sarah terjatuh. Kuda-kudanya roboh. Sedangkan Rizwan tanpa memerlukan kuda-kuda siapa menrima serangan dari Matsu dan Jian. Jian yang larinya cepat memiliki kekurangan dalam bertarung karena ia memang tidak pernah bertarung dengan orang yang hebat betulan. Matsu lah yang paling mengerikan di pertarungan ini, layaknya naga melawan naga. Rizwan melompat, tangannya bertumpu di pundak Jian dan mulai mendarat pukulan yang mungkin pelan tetapi betapa terkejutnya Jian ketika dirinya terpental hingga menabrak dinding. Tentara yang berlalu lalang terkejut dan menatap perkelahian hebat tersebut. Jian mengusap kepalanya yang pening. Matsu mulai melakukan jurus ninjanya, ia mulai melancarkan serangan dengan cara melakukan sebauh gerakan yang terlihat cepat tetapi seolah-olah menghilang . Rizwan menutup matanya dengan tenang dan tahu-tahu Matsu sudah ada di sampingnya, Rizwan menudnuk dengan sempurna dan mulai membalas serangan. Rizwan mulai melenting tingga dan berputar di atas udar, Matsu menahan tendangan yang begitu kuat dari Rizwan. Kuda-kudanya terlihat kokoh, Rizwan melompat dan menatap tenang Matsu yang kini tersenyum. Baru kali ini ia mendapat lawan yang sepadan, senyum Matsu. Eva menghentikan serangannya kepada Karin dan menatap kedua lelaki itu dengan terpesona. "Wait!" Karin menghentikan serangan, awalnya dahinya mengeryit tetapi saat ia mengikuti tatapan Eva kini dirinya takjub. Matsu mulai melayang dan menyerang Rizwan dengan cepat tetapi Rizwan hanya membuka tangan, menyambut serangan dari Matsu. Matsu terkejut, ia merasakan tinjunya tidak berati apa-apa, Rizwan mulai menaruh telapak tangan di d**a Matsu dan BHUM! terdengar tumbukan keras. Matsu terpental tetapi kakinya dengan cepat bertumpu di dindang dan mulai mendorong tubuhnya dengan kekuatan luar biasa, segera ia alurkan kekuatan qi (baca:Chi) di seluruh tubuhnya dan mulai menyerang Rizwan. Rizwan berkelit menghindar, kakinya dengan tenang meliuk-liuk layaknya penari balet yang berada di panggung. Matsu mulai menghilang dan meninju punggung Rizwan, tetapi Rizwan hanya berbalik badan dan melihat Matsu yang memukul lantai hingga retak, ternyata efek qi itu baru sedikit yang ia keluarkan tetapi jika dikeluarkan dengan hebat tentu lantai itu akan hancur. Rizwan tersenyum dan mulai menendang dengan pinggang Matsu, pelan tetapi Matsu kehilangan kuda-kudanya. Matsu kembali roboh, Rizwan dengan tenang mendekatinya. Seluruh ruangan menatap dengan takut apa yang ia lakukan, apakah ia akan menghabisi Matsu atau tidak. Rizwan malah mengulurkan tanganya, dengan senyumannya yang menawan. Rizwan membantu Matsu untuk berdiri. Matanya menyiratkan kekhawatiran yang amat mendalam. "Sudah cukup!" Karin berseru dan menatap Rizwan yang kini menepuk-nepuk pundak Matsu. "Ittai..." Matsu mengelus pinggang, dan menampakkan memar biru. Sarah buru-buru menunduk ketika Matsu membuka bajunya, Karin terlihat menahan keterkejutannya karena di tubuh Matsu begitu banyak bekas luka. "Kau tidak apa-apa?" Rizwan berkata cemas, baru sedikit yang ia keluarkan. Padahal serangannya yang tadi baru hanya main-main ternyata efeknya luar biasa. Matsu mengangguk dan mengusap punggungnya yang membiru. Rizwan berkali-kali minta maaf. "Sumimasen..." sesalnya. Matsu menggeleng, tidak apa-apa justru kini ia baru mengetahui bahhwa ada yang lebih hebat daripada dirinya. Mereka semua saling pandang dan pergi ke kamarnya masing-masing untuk beristirahat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN