Bagian 8
Matsu menghembuskan napas pelan, Rizwan berkunjung ke kamarnya. Sebenarnya bukan berkunjung, tetapi dirinya meminta sendiri agar Rizwan mendatangi kamarnya. Vierra dan Eva memutuskan untuk keluar dari markas untuk sementara setelah selesai mandi, dokter Tom sempat berpesan kepada mereka untuk berhati-hati dan tetap menjaga rahasia. Kedua wanita itu mengangguk senang.
"Paman ingin dibelikan apa?" tanya Eva riang.
Tim yang sedang membuat rancangan busana di sebuah kertas putih menatap keponakannya, meminta pesanan baterai dan beberapa alat elektronik lainnya. Eva tertawa, memang itulah sifat pamannya. Ditawarin makanan justru barang-barang aneh yang dimintanya, tetapi Eva tidak menolaknya.
Vierra menarik tangan Eva dengan riang menuju lift. Tadi dokter Tom sempat mengatakan juga bahwa mereka tidak keluar dari toko kebutuhan rumah melainkan di sebuah kebun belakang yang mempunyai WC yang sebenarnya lift, WC itu terlihat tua dan bahkan hampir mirip seperti gudang dan tidak ada yang berani pergi ke sana.
Tentu repot sekali bukan, ketika terjebak di lift karena pemilik toko tidak tahu sehingga tidak ada yang menggeser lemari.
Karin seperti biasanya, ia hanya diam sambil berkeliling ruangan. Ia bosan di kamar terus dan memutuskan untuk mencoba satu dan dua hal yang baru disini. Sementara Jian mulai meliuk-liuk dengan sepatu rodanya di sebuah ruangan yang luas yang hanya terisi banyak orang tentara dan banyak pesawat.
"Hati-hati, nak" kata seorang tentara yang usianya seperti dokter Tom. Jian tidak peduli, toh ia bisa menghindari orang yang sedang berlari, memutari pesawat serta menyapa para tentara. Ia sudah terbiasa memainkan sepatu roda.
Karin mulai mencoba berlatih menembak, meskipun kadang ada sedikit meleset. Bukankah untuk menjadi pemimpin ia harus menjadi yang terbaik?. Terbaik dalam segala hal.
Sementara kamar Matsu senyap, kedua lelaki itu bahkan tidak berselera untuk menghabiskan minuman. Mereka hanya berbaring di tempat tidur Matsu, membicarakan tentang hidup mereka yang penuh lika-liku.
"Sungguh tadi aku terkejut sekali ketika kau berhasil mengalahkan diriku, kupikir hanya akulah yang hebat, tidak memiliki tandingan siapapun, ternyata aku salah." Matsu menatap langit-langit kamar. "Bisakah kau menceritakan kenapa memiliki keahlian itu?" tanya Matsu sambil melirik Rizwan dengan sebelah mata.
"Entahlah, seorang guruku yang asli orang Banten mengajariku bermain silat..."
"WOW, APA ITU SILAT?" tanya Matsu berbahasa Jepang, jangan tanya Rizwan mengerti atau tidak bahasanya. Tentu saja Rizwan mengerti dan ia kesal kenapa Matsu memotong penjelasannya.
"Silat itu semacam bela diri Indonesia, ada jurus meringankan tubuh supaya kita bisa bertarung layaknya burung merpati seperti terbang. Ada juga ajian-ajian yang terkenal mengerikan tetapi hampir semua orang tidak bisa melakukannya kecuali orang-orang yang ahli. Dan aku mempelajari beberapa jurus tersebut dan sedikit ajian untuk jaga-jaga saat ada bahaya di tengah perjalanan." Rizwan terdiam.
"Dan aku menggunakan beberapa jurus yaitu telapak angin, seperti kekuatan seseorang yang menyerangmu dan kau menyambutnya dengan tenang, kekuatan itu terhisap dan balik mengenai orang tersebut, jadi dia kadang kalah sebenarnya bukan kekuatan lawan melainkan kekuatannya sendiri." jelas Rizwan dan ia menatap Matsu yang terngangga.
"Jadi, aku terpental karena kekuatanku?" tanya Matsu cepat.
Rizwan mengangguk. "Kadang ada orang yang bertarung sehingga adrenalinnya terbawa dan ia cepat marah, satu-satunya jalan kita bertarung dengan napas tenang dan tidak gentar dan juga tidak marah, sehingga kita menang."
"Pantas saja kamu begitu tenang saat bertarung, aku tidak menyangka silat begitu hebat. Hei bisakah kau menjelaskan tentang ajian-ajian yang diajari gurumu itu?" Matsu membalikkan badan dan sungguh-sungguh menatap Rizwan.
"Baik aku jelaskan, kadang ada beberapa ajian yang menggunakan jurus ilmu hitam seperti bantuan jin atau makhluk halus lainnya. Tetapi guruku hanya mengatakannya dan mengajari beberapa ajian yang sungguh bukan dari ilmu hitam. Pertama Ajian rawa rontek, adalah ajian yang berasal dari ilmu hitam. Katanya, orang yang memiliki ajian rawa rontek kelak akan kebal terhadap senjata tajam dan tidak mati asal kepalanya jatuh ketanah." jelas Rizwan dengan bahasa Jepang.
"Maksudmu?" tanya Matsu tidak mengerti. Rizwan yang sangat pandai berbicara bahasa Jepang melanjutkan.
"Misalnya, jika seseorang mulai menggunakan senjata tajam dan memutus lehermu, kamu akan kembali hidup asalkan kepalamu jatuh ke tanah." Rizwan menjelaskan lebih baik, Matsu mengangguk angguk. "Tetapi guruku tidak mengizinkan diriku untuk mempelajari ajian ini karena merupakan ilmu hitam, sama dengan ajian Pancasona."
"ASTAGA, AJIAN APALAGI ITU?" tanya Matsu, ia mulai pusing mendengar ajian yang dikatakan Rizwan.
"Ajian pancasona adalah ajian yang hampir mirip dengan ajian rawa Rontek, ia tetap hidup dan kebal senjata tajam. Bahkan ketika dirinya diledakkan ia tetap hidup asalkan hidup di alam, makanya ajian pancasona disebut ajian untuk memulihkan tubuh dengan menyatu di alam bebas. Kadang ajian ini harus di dapatkan dengan syarat dan larangan tertentu."
"Syarat dan larangan apakah itu?" tanya Matsu.
"Ajian rawa rontek misalnya memilik syarat untuk dilarang menikah." jelas Rizwan sambil menyebutkan salah satu contoh.
"Pantesan, sepertinya kau menguasai ilmu rawa rontok..." Matsu malah salah sebut.
"Rawa rontek!" kesal Rizwan karena Matsu salah bicara. "Aku tidak menguasai ajian itu karena memiliki ilmu hitam dan bantuan jin." jelas Rizwan
"Eh iya, rawa rontek. Tetapi sepertinya kamu masih menggunakan syarat ilmu rawa Rontek tersebut." Matsu mengeluarkan senyum jahil.
"Maksudmu?" Rizwan tidak mengerti.
"Buktinya, sampai seusia begini kamu belum menikah." Matsu mengganggu Rizwan yang kini tersenyum kecut. Meskipun Rizwan sudah berusia 24 tahun, ia belum memiliki calon istri apalagi menikah. "Sudah, ajian apalagi yang ada di kepalamu." Matsu berhenti bercanda, menatap serius diri Rizwan.
"Ajian saifi angin adalah ajian yang bisa berpindah dengan cepat layaknya hembusan angin. Yang memiliki ajian ini bisa bergerak cepat dalam waktu beberapa detik saja, biasanya ajian ini dimiliki oleh para ulama."
"Apakah ulama itu?" tanya Matsu yang membuat Rizwan mengangga, ia duduk dan teringat bahwa Matsu beragama budha, jadi wajar dirinya tidak mengerti apa itu ulama.
"Ulama merupakan da'i, seorang pendakwah yang mengajar dan mengajak ummat menuju keislaman, ulama juga disebut guru. Ulama mendakwah supaya ada orang yang masuk dan mengerti tentang islam, islam adalah agamaku."
Matsu mengangguk mengerti sementara Rizwan melanjutkan pembahasannya. "Aku hanya mempelajari ajian brajamusti dengan sempurna meskipun kadang aku harus selalu bijak memakainya, konon yang memiliki ajian brajamusti dan ditinju dengan kuat orang itu terluka parah bahkan menuju kematian."
"Oi, kalau begitu aku tidak akan dekat-dekat denganmu, apakah itu yang kau gunakan untuk menyerangku?" tanya Matsu sambil menjauhi Rizwan. Rizwan tertawa dan menggeleng, "Lantas kenapa kau begitu kuat?" tanya Matsu.
"Aku tidak akan memakai ajian itu untuk hal yang sia-sia, kau lupa dengan penjelasanku, aku menggunakan ajian ini dengan bijak. Justru tidak jantan dan disebut pengecut jika memakai ajian ini terlalu sering, aku bahkan hampir tidak memakai ajian ini untuk bertarung, Matsu." tawa Rizwan.
"Apalagi yang kau punya?" Matsu mulai tertarik.
"Aku berusaha mempelajari ajian ini tetapi gagal, bahkan guruku mengatakan untuk tidak terlalu mempelajari kedua ajian itu. Ajian inti lebur sakheti dan ajian ilmu karang. Ajian inti lebur sakheti adalah ajian yang hebat, ajian ini banyak ditakuti makhluk ghaib, siapapun yang memiliki ajian ini mampu membunuh jin dan setan jahat serta menyembuhkan penyakit aneh seperti santet."
"Ajian ilmu karang adalah ajian yang paling hebat, apapun yang disentuhnya akan lebur, meleleh bagaikan lilin terbakar. Siapapun yang menguasai ajian ini dapat menghancurkan dunia, tetapi bagi orang-orang yang jahat. Orang yang bijak memakai ajian ilmu karang akan membuat dunia merasa aman, tidak ada lagi kejahatan."
"Bukankah seharusnya kau mempelajari ilmu karang? Bukankah kamu orang yang pantas untuk menggunakan ajian itu?" Matsu mulai bertanya lagi.
"Aku juga ingin memiliki ajian ilmu karang, tetapi jika aku tidak bijak memakinya maka resikonya sungguh besar. Guruku juga melarangnya, ada satu yang bahkan lebih hebat dari ajian ilmu karang." Rizwan menatap serius Matsu.
"Ajian apakah itu?" tanya Matsu bergetar.
"Itu bukan ajian, hanyalah kalimat. Tetapi jika kalian mengerti apa filosofi di kalimat itu, akan menjadi kekuatan yang begitu hebat."
"Katakan!" semangat Matsu ia semakin mendekati Rizwan, ulahnya layaknya anak-anak Asia timur yang begitu polos, senang melihat permen.
"Hanya penyerahan diri secara total kepada gusti allah, sang maha tunggal." Rizwan bergetar ketika bibirnya mengucapkan kalimat itu. "Aku awalnya tidak mengerti, tetapi lama-lama aku akhirnya paham apa makna tersebut."
Kamar Matsu senyap, tetapi mata Matsu memandang Rizwan dengan serius. "Siapapun yang mencintainya akan dicintai olehnya dan aku hanya mengamalkan kalimat ini, tanpa sadar menjadi kekuatan yang besar. Siapapun yang mencintai Allah akan dicintai oleh Allah juga." Rizwan menatap Matsu.
"Sekarang waktunya makan, apakah kalian terlalu sibuk berbincang?. Aku lapar!" terdengar seruan setelah pintu kamar Matsu dibuka dengan cepat. Kedua pemuda itu terlonjak kaget, Jian dengan wajah lapar-nya terlihat tertawa setelah melihat reaksi Rizwan dan Matsu.
"Bata primeiro e depois entre, jovem mestre! (Ketuk dahulu baru masuk, Tuan muda!)." kesal Rizwan, ia berharap semoga Jian tidak mendengar perbincangan mereka.
"Rizuwan wa tadashī, Jian. Jikai wa, dareka no heya ni hairu toki wa reigi tadashiku shite kudasai. (Rizwan benar, Jian. Lain kali, bersikaplah sopan saat memasuki kamar seseorang)." kata Matsu dengan mata melotot.
Jian meringis, ia sama sekali tidak mengerti omelan Matsu karena memakai bahasa Jepang, justru ia meminta maaf kepada Rizwan.
"Sorry sir, i don't do again." tunduknya.
"Lupakan, aku juga lapar. Ayo, kita kebawah" lerai Rizzwan ketika Matsu hendak turun dari tempat tidur untuk menjewer anak nakal yang dihadapannya. Jian dengan cepat bersalto dan menghindari terkaman Matsu. Rizwan dan Matsu terngangga, bagaimanapun yang dihadapan mereka adalah mantan pencuri.
"Darimana kau belajar salto seperti tu?" tanya Matsu bodoh. Padahal seluruh anak lelaki bisa melakukannya kecuali ia sakit dan lemah untuk melakukan salto.
"Tentu saja aku belajar sendiri, semua anak lelaki paling lihai dalam bersalto. Lihat aku bahkan bisa melakukan handstand" Jian kembali memamerkan keahlianny, dirinya lalu bersalto dan kakinya menghantam dinding kamar Matsu. Kepala dibawah kaki diatas.
"Wow, ada anak yang berdiri dengan tangan." puji Rizwan.
"Hentikan, stop it kau mengotori dinding kamarku!" marah Matsu.
"Baiklah, scary man aku akan mendengarkanmu." Jian kembali dalam posisi semula, Rizwan berusaha menahan tawanya.
"Apa artinya?" tanya Matsu tidak mengerti, ia memang agak kurang paham dalam berbahasa Inggris.
"Artinya kamu pria yang baik." bohong Rizwan padahal artinya pria yang menakutkan.
"Oh..." Matsu mengangguk mengerti.
"Ayo kita ke bawah, aku benar-benar lapar." Jian meninggalkan kamar Matsu dan segera pergi ke lift.
"Matsu, wait!" seru Rizwan.
"Baiklah..." Matsu bersedia menunggu, Rizwan buru-buru ke kamarnya dan membawa sebuah buku.
"Untukmu." senyumnya tulus. "Awalnya guruku memberikannya untukku tetapi aku sudah hafal isinya karena sering dibaca, jadi untukmu saja." Rizwan memberikan buku itu ke tangan Matsu dan segera menyusul Jian yang menunggu di lift.
Matsu dengan gembira mengambil buku dari tangan Rizwan yang berjudul Jawara karya Fatih Zam, berjalan pelan menuju lift sambil membuka halaman demi halaman yang ada di buku. "RIZWAN INI BAHASA APA?!" seru Matsu dalam bahasa Jepang.
Rizwan yang ingin menekan tombol lift terhenti, astaga itu kan buku bahasa Indonesia. Emangnya Matsu mengerti bahasa Indonesia. "Ya sudah, kembalikan untukku saja." senyum Rizwan jahil. Matsu cemberut, memberikan buku itu ke Rizwan.
Rizwan dan Jian hanya memandang Matsu sambil nyengir. Sementara suara lift berdesing pelan dan turun ke lantai bawah.