Bagian 9
"Astaga, bisakah kalian jangan berhenti untuk tidak mengeluarkan terlalu banyak uang?!" seru Tim ketika melihat Eva dan Vierra yang baru pulang setelah berbelanja. "Aku hanya meminta panel komputer dan perkakas lainnya, tetapi ya ampun..." Tim mengankat salah satu kardus tipis yang bertumpuk.
Eva dan Vierra hanya nyengir melihat Tim yang menyusun kardus-kardus tipis diatas meja. Mereka memang membeli barang-barang yang dipesan Tim tetapi gawatnya mereka memesan beratus-ratus pizza, meminta beberapa partner dokter Tom untuk membantu mereka membawanya di sebuah truk karena beresiko membuka penyamaran markas dan terlalu mencolok ketika mereka membawa banyak sekali pizza.
Truk dengan berisi 5 partner sukses dibuat terkejut luar biasa. Mereka menaiki lift bersempit-sempitan karena kanan kiri serta belakang mereka bertumpuk-tumpuk kardus Pizza.
Jian berseru senang, ia sudah lama tidak memakan pizza, oh andaikan Hill disini. Rizwan terpaku, tentara-tentara membeku dan Matsu terngangga. Bahkan dokter Tom mengusap dahinya karena terkejut, bahkan pelayan dapur hampir pingsan melihat hamparan pizza di atas meja.
Karin memelototi pizza itu seolah-olah musuh yang tidak lama berjumpa, Jason geleng-geleng kepala melihat hal seperti ini, sedangkan Tim menunduk kecuali Vierra dan Eva yang sekarang nyengir.
"Astaga, berapa banyak uang kalian, nak. Biar aku ganti." kata dokter Tom pelan. Jason terkejut, hei seharusnya 2 orang itu yang seharusnya bersalah kenapa ayahnya meminta ganti rugi.
"Tidak usah, dokter. Aku memang membeli ini tanpa dipungut biaya sepeser pun. Lagipula ada promo beli pizza 1 gratis 1 jadi kami beli 50 maka gratis 50, iyakan Vierra?" sikut Eva. Vierra mengangguk ceria.
"Tidak mengandung babi, kan?" tanya Sarah cemas, Rizwan mengikuti tatapan Sarah.
"No pork, halal." senyum Eva. Rizwan dan Sarah sama-sama menghembuskan napas lega. Tentara-tentara disana mengusap wajah, selama ini mereka makan-makanan bergizi tetapi baru kali ini ada tentara yang memakan pizza.
"Makanlah, nanti sia-sia karena tidak hangat lagi." perintah Jason pelan. Seluruh anggota the secret basecamp mengangguk, membuka kardus pizza dan kembali memelototinya, astaga 1 pizza cukup untuk makanan 3 orang bagaimana jika mereka tidak habis. Matsu menggeser pizzanya dengan tidak selera.
Rizwan dan Jian memutuskan untuk menawarkan pizza mereka yang dimakan secara bersama-sama. Karin hanya memakan sepotong, sedangkan Vierra dan Eva memakan 1 pizza bersama-sama. Satu pizza berdua, benar-benar licik padahal mereka yang membeli pizza sebanyak ini dan kenapa toko pizza yang menjual pizza menuliskan promo beli 1 gratis 1 hari ini juga.
Tentara-tentara kebanyakan mengambil jatah temannya, memutuskan 1 pizza makan berempet sedangkan sisanya dibawa pulang atau diberikan ke gelandangan yang berada di pinggir jalan.
Jason bahkan sama sekali tidak menyentuhnya, mencium baunya saja ia sudah mual. "Untuk ayah saja." Jason menggeser pizza-nya ke dokter Tom.
"Tidak ayah sudah kenyang, untukmu saja. Ini pertanda ayah menyayangimu." senyum dokter Tom sambil balik menggeser pizza.
"Aku anak yang patuh jadi untuk ayah saja lagipula aku juga sudah kenyang." geser Jason.
"Ayah sudah tua untuk makan makanan seperti ini, untukmu saja." dokter Tom mendorong pelan kardus pizza.
Ayah dan anak itu saling geser kardus pizza, tidak ada yang mau mengalah. Hingga akhirnya memberi pizza tersebut kepada salah satu pelayan yang sedari tadi menatap mereka bertengkar. Salah tingkah juga ketika diberi pizza tetapi selanjutnya ia bilang thank you berkali-kali.
***
"Aku mual dan serasa ingin muntah." Matsu memegang perutnya, saat memakan pizza dirinya justru kurang suka dengan makanan satu itu. Rizwan dan Jian saling tersenyum sambil memandang Matsu yang kini berlari menuju kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya.
Rizwan dan Jian terhapus senyumnya digantikan oleh wajah kasihan. "Mau kuambil nasi kawan, sepertinya satu dua suap untuk mengganjal isi perutmu." Rizwan menepuk-nepuk punggung Matsu yang kini kembali muntah.
"Atau teh manis." usul Jian dari luar kamar mandi. Rizwan menatap Matsu yang menyiram WC dan membalikkan badannya dan langsung tumbang di tempat tidur. Rizwan dan Jian buru-buru ke bawah dan meminta pelayan untuk memberikan nasi dan teh manis. Pelayan mengaduk sup iga dan menyiramnya di nasi, membuat teh manis yang kurang gula kepada Rizwan dan Jian.
"Minumlah kawan, mumpung masih hangat." tawar Rizwan. Matsu gemetar meminum teh manis yang agak kelat. Rizwan menyuapi Matsu layaknya orangtua yang menyuapi anak sendiri.
"Terimakasih, Ahmad. Aku ingin makan sendiri dan kalian boleh keluar dari kamarku." senyum Matsu. Rizwan menyeret Jian untuk keluar dari kamar Matsu, dan mengucapkan selamat tidur. Rizwan menguap dan pergi ke kamarnya.
"Hei!" seru Rizwan ketika seorang wanita membongkar isi tasnya. "Apa yang kau lakukan?" tanya Rizwan yang disertai uluran tangannya.
"Karin, hentikan. Bukan begitu sikap pemimpin?" Rizwan mencengkram bahu Karin. Karin membalikkan badannya dan menepis tangan Rizwan.
"Dimana kitab itu?" tanya Karin.
"Kitab apa?"
"Al-quran," jawab Karin pelan. "Aku selama ini berada di kegelapan, dan aku ingin menyatakan bahwa aku ingin masuk islam. Ajari aku mengucapkan 2 kalimat syahadat, shalat dan membaca kitabmu." mohon Karin.
Rizwan terpaku menatap heran sekaligus takjub, ia menunduk dan menghela napas. "Baiklah, aku mengajarimu." katanya pelan.
Baru saja dibilang begitu, Karin menghambur ke pelukan Rizwan hingga membuat pemuda ini terkejut luar biasa. Bibir Karin tanpa henti mengucapkan terimakasih tidak terhingga. Ia memeluk Rizwan dengan erat seolah-olah mereka sudah lama saling kenal, seolah mereka kakak adik yang tidak pernah berjumpa.
Rizwan menatap Karin yang kini melepas pelukannya, dirinya tersenyum melihat semangat wanita itu perlahan-lahan ia bergerak menuju meja dan membuka laci. Disana ada sebuah buku yang tertutup kain lusuh, diciumnya dengan lembut dan diusapnya. Perlahan-lahan dibukunya kain itu dan terlihat sebuah kitab yang di minta Karin, al-quran.
"Baiklah, sekarang aku tuntun dirimu mengucapkan 2 kalimat syahadat." senyum Rizwan.
***
Kabar Karin yang masuk islam dengan cepat menyebar di markas. Sarah dengan senang hati memberikan hijabnya kepada Karin, mengajarinya cara memakai yang benar. "Sekarang kita saudara." senyum Sarah yang kalimatnya selalu diingat oleh Karin. Kita adalah saudara, memikirkan kalimat Sarah sukses membuat Karim tersenyum.
Rizwan menjadi guru dan kakak bagi Karin, Rizwan mengajari Karin mengaji dan melakukan Shalat. Meskipun kadang Rizwan sering heran kenapa Karin menolak membaca iqra dan cepat sekali menghafal serta membaca ayat-ayat al-quran.
Usut punya usut, dulu Karin beragama ISLAM. Usia 15 tahun ia berkelana, menjadi caci maki karena agamanya apalagi di daerah seperti Amerika susah mencari hijab, meski shalatnya bolong-bolong Karin menganggap dirinya tidak beragama, bertaubat dan meminta Rizwan untuk mengajarinya kembali. Banyak hal yang ia lupa.
Tetapi rahasia ini hanya Rizwan yang tahu, setiap hari Sarah juga menjadi teman mengajinya. Karin yang selama ini mempunyai sifat egois menjadi tenang. Jason berucap syukur karena Karin tidak mematahkan lengannya ketika dirinya tidak sengaja menyenggol minuman Karin hingga tumpah, bahkan airnya sempat mengenai celana Karin dan membasahinya.
"Sabar..." bisik Sarah ketika melihat Karin yang merah padam mukanya. "Kau adalah pemimpin kami, sabar adalah sifat pemimpin." Sarah tersenyum ketika Karin menghembuskan napasnya dan memaafkan Jason. Jason menghela napas lega, setidaknya tidak ada yang mematahkan lengannya.
Bulan ramadhan tiba dan disambut suka cita oleh orang-orang yang beragama islam termasuk Sarah dan Rizwan. Karin yang tidak mengerti berusaha untuk belajar. Beberapa tentara yang beragama islam juga berbuat seperti Sarah dan Rizwan.
"Kami sepakat agar kamu menjadi iman tarawih malam ini" usul seorang tentara yang berasal dari Rusia.
"Ya, bukankah di hadits nabi mengatakan bahwa yang menjadi iman shalat adalah yang paling banyak hafalannya, dan itu kamu, nak." sepakat seorang tentara Turki.
"Bagaimana dengan usul kalian?"tentara Rusia menoleh ke teman-temannya yang beragama islam walaupun berasal dari negara berbeda.
"Ya, kami sepakat!" seru tentara-tentara.
"Dan bagaimana denganmu, nak?" kali ini tentara Rusia menoleh ke arah Karin dan Sarah yang sedari tadi mendengarkan pembicaraan.
"Kaami tidak mempunyai alasan untuk menolak, kami setuju." senyum Sarah.
Rizwan menunduk, ia menjadi iman malam ini. Dokter Tom berbaik hati mengosongkan sebuah ruangan, menjadikannya musolla kecil bagi yang beragama islam. Seluruhnya bersepakat kalau Rizwan menjadi iman mereka, dia merupaka ornag termuda yang menghafal 30 juz quran, jadi apa yang kurang.
Karin menunduk ketika Rizwan menatapnya. "Kamu sepertinya kuat untuk menghadapi buan puasa ini tanpa makan dan minum." senyumnya. "Aku bangga padamu."
Pujian itu membuat Karin merasa tersipu karena dipuji oleh lelaki yang menjadi guru-nya. Dokter Tom sangat menghargai yang berbeda agama, ia sengaja menyuruh Rizwan dan seluruh anggota the secret basecamp yang beragama islam untuk melakukan sahur di kamar mereka masing-masing supaya orang yang berbeda agama tidak terganggu dengan tidurnya.
"Kamu adalah pemuda yang tangguh , bahkan 1000 pasukan yang hebat akan kalah tangguh dengamu, aku percaya tidak ada lelaki yang sempurna sepertimu. Baik, kuat dan berani. Oi, kalau aku hebat tentu aku kalah jika tidak makan minum selama 30 hari berturut-turut." Matsu menepuk dahinya.
"Tidak 30 hari berturut-turut, tetapi kita tidak makan saat shubuh sampai matahari terbenam setelah itu kami makan lagi, begitu saja seterusnya hingga bulan ramadhan berakhir." senyum Rizwan.
"Kau memang pemuda yang tangguh, sahabatku." rangkul Matsu dan mengacak-ngacak rambut Rizwan, bagaikan kakak beradik yang sedang bermain.
Karin menjadi tentram, ia memutuskan untuk keluar dari secret basemp untuk sementara dan mengajak Sarah. Mereka berdua berada di sebuah gedung tinggi dan menatap hiruk pikuk kota Amerika.
Hati Karin merasa tentram, sedangkan Sarah yang meminjam kamera Rizwan mulai memotret pemandangan. Nanti ia ambil datanya untuk dimasukkan ke dalam laptop. "Anda mau kue kering, bu?" tanya seorang karyawan kantor.
Karin dan Sarah saling pandang dan dengan bangga mereka menjawab. "Kami puasa."