Bagian 10
Seorang lelaki mengasah pisaunya di sebuah batu, beberapa orang yang berkumpul disana terlihat tegang. Lelaki itu berusia hampir 40 tahun tetapi seperti pemuda yang sehat. “Bawa dia kemari.” perintah lelaki itu dengan dingin.
Dua orang lelaki dengan cepat berdiri dan buru-buru melakukan perintah tuannya. Lelaki yang memegang pisau itu dengan tenang duduk di sofanya. Beberapa orang menunduk ketika lelaki itu menatap mereka, tatapan terlalu dingin dan kejam.
Suara berdebam terdengar, beberapa tentara dengan senjata di pundak mereka terlihat menunduk seorang lelaki kekar, lelaki itu meronta dan memukuli siapapun yang lalai. Tentara-tentara mendorongnya hingga bertekuk lutut di depan lelaki yang memegang pisau tersebut.
“Lihat aku...” desis lelaki yang memegang pisau.
Lelaki yang kekar itu tetap menunduk, menolak diperintah. Lelaki itu menyentuh dagu si lelaki kekar tetapi dia meludah ke arah lelaki pemegang pisau. “Kau orang jahat, black dragon.” desis lelaki itu.
Black dragon menyapu wajahnya yang kini semerah bara api karena terbakar oleh amarah. “Kau diluar dugaanku, Renard. Seharusnya aku dari dulu membunuhmu, tetapi kau justru memilih jalan salah.” black dragon menampar Renard hingga lelaki itu merasa perih luar biasa di bagian pipinya.
“Kau bisa memilih untuk mati atau memberitahukan lokasinya?” Black dragon kini mulai memainkan pisaunya.
“Lokasi apa?” tanya Renard tercekat.
“Lokasi the secret basecamp.” black dragon mendesis.
“Aku tidak tahu apa-apa soal itu.” gertak Renard berbohong.
“Jawaban yang salah, sobat. Kuberi kau 5 detik untuk mengatakan dimana tempat itu, dimulai dari sekarang. Lima...” black dragon mulai menghitung mundur. Renard mengepalkan tangan, tetapi ia tetap saja tidak bisa melepaskan dirinya dari sana.
“Empat, ayo sobat aku tidak ingin membuang waktuku dengan melihat kamu yang bodoh untuk memilih.” seru Black dragon.
“Aku tidak ingin mengatakannya!” seru Renard. “Tempat itu rahasia, bahkan negara satupun tidak ada yang mengetahuinya. Aku tahu kamu memiliki niat jahat, Black!” gertak Renard, giginya bergemerutuk oleh amarah.
“Tiga, aku sedang tidak ingin melihat orang yang berbicara tidak penting. Tidak diketahui oleh negara adalah tindakan ilegal, Renard.”
Renard terdiam ketika mendengar jawaban Black Dragon. Black dragon yang melihat reaksi Renard hanya tersenyum licik. “Dua!” kali ini Black dragon berteriak membuat tentara-tentara bahkan orang yang berada diruangan itu menciut.
Renard menutup matanya, dan mulai mengatakan sesuatu. “Aku tetap tidak mengatakannya, kau tahu kau melakukan hal yang membuat dirimu semakin gelap dari cahaya. Tempat itu tidak akan kuberitahukan.” Renard berbisik pelan.
“Kalau begitu kuberi kamu 2 kesempatan.” Black dragon mendekati Renard dan berlutut di depannya. “Mati dengan pisau di tanganku atau terbakar?”
Renard mencicit, ia tahu black dragon mempunyai kekuatan yang mengerikan, apalagi melihat sinar jahat di mata sahabatnya itu. Sahabat yang ia sayangi tetapi akhirnya ia dibunuh dengan temannya, bagaikan air s**u dibalas air tuba.
“Kalau kau tidak menjawab biar aku saja yang memilih, bagaimana kalau kau terbakar disini saja, aku tidak ingin membuat lantai ruangan ini kotor dengan darahmu, darah seorang pengkhianat.” selesai berkata seperti itu, black dragon segera membuka telapak tangan dan mengarahkannya ke tubuh Renard meskipun tidak menyentuhnya.
Seluruh orang di ruangan itu melihat bagaimana Renard yang sesak seolah-olah tidak bisa bernapas, dari pori-pori tubuhnya keluar asap disertai gelembung-gelembung menjijikkan. Black dragon menatap Renard dengan dingin. Orang-orang disana menatap Renard dengan rasa jeri ketika perlahan-lahan tubuh Renard berwarna kemerahan lalu menghitam hangus.
Black dragon berdiri dan mulai keluar dari ruangan sementara Renard seolah terbakar oleh kekuatan yang tidak terlihat, organ-organnya seolah-olah sedang diberi api. Black dragon membalikkan badannya dan melempar pisau dengan cepat ke arah Renard. Sebelum orang-orang disana berkedip, seluruh tubuh Renard hancur dan tidak tersisa apa-apa kecuali debu dari tubuh Renard sendiri.
“Kalian bersihkan ruangan ini, sedangkan aku pergi. Jangan membuka rahasia apapun tentang ini atau kalian bernasib sama seperti dirinya.” kata black dragon sambil pergi dari ruangan tersebut.
“Lihat saja, Tom. Kupikir kamu akan menghilang dari sejarah ketika dipenjara begitu lama. Ternyata kamu kembali layaknya hantu...”
***
Dokter Tom mengetuk-ngetuk jarinya di meja, ia gelisah seolah-olah ada yang menghantui pikirannya. Jason berkali-kali bertanya ada apa tetapi dokter Tom menggeleng frustasi membuat Jason menopang dagunya dengan tangan karena bosan.
“Dimana Renard?” tanya dokter Tom yang sukses membuat Jason berdiri. “Aku tahu kau terkejut ketika diriku mengatakan ini, tetapi musuhku kembali datang. Dengan kekuatan yang lebih besar, apa yang dilakuan oleh anggota 7 ksatria?” tanya dokter Tom cemas.
“Seperti biasa, mereka berlatih di ruang untuk berlari, lalu tembak-menembak, memanah, adu pedang dan melatih stamina di ruang fitness.” jelas Jason. “Atau aku terlalu banyak memerintah mereka?” tanya Jason khawatir.
Dokter Tom menggeleng, “Kau sudah sempurna mengajari mereka, nak.” jelas dokter Tom dan ia membelakangi Jason, menatap kesibukan diluar kantornya. Dinding kantor dokter Tom Holland tembus pandang, menampakkan beberapa pesawat tempur dan banyak aktifitas. “Hanya saja aku mengalami firasat buruk ketika Renard datang kesini melalui halaman belakang dan menjelaskan perihal Black Dragon.”
Mendengar nama Black Dragon tersebut, telinga Jason terasa panas tanpa sebab. Suasana menjadi tegang untuk seketika. Jason tidak pernah melupakan Black Dragon meski belum pernah melihat wajahnya, ia adalah salah satu sebab kenapa ayahnya dituduh teroris dan di masukkan ke penjara selama 20 tahun.
“Ia kembali, nak. Ayah yakin Black dragon mulai tahu kalau Renard meng-khianatinya karena ayah...” dokter Tom mengelap peluh di lehernya, padahal udara dingin karena AC. “Dan ayah yakin Renard tidak selamat.” suara dokter Tom tercekat.
Jason terdiam ketika ayahnya menunduk, tidak tahu bicara apa lagi. “Bagaimana pun kekuatannya sangat besar meskipun ia sendiri ia bisa mengalahkan 100 pasukan tentara seorang diri.” dokter Tom menyentuh dinding kaca. Melihat Tim yang kini menyelesaikan busana terakhirnya.
“Apakah ibu pernah cerita tentang Black Dragon, Renard dan ayah kalau kami berteman?” tanya dokter Tom.
Jason luar biasa terkejut. Ayahnya berteman dengan Black Dragon, orang yang semasa hidupnya paling dibenci. Bahkan api kebencian itu masih terbakar di hatinya. Membuatnya sengsara tanpa seorang ayah.
“Itu artinya belum.” dokter Tom terkekeh kecil ketika Jason tidak mengeluarkan suaranya.”Baik, duduklah. Biar ayah yang ceritakan.
***
Seorang lelaki muda menenteng kopernya, sementara keluarga, saudaranya serta orang-orang disana menatapnya. “Kau yakin, nak?” tanya seorang bapak beruban kepada lelaki muda itu.
Lelaki itu mengangguk mantap, ibu beruban memeluk anaknya, tidak ada air mata yang menetes, ia memang ibu yang tegar.
“Kau anak yang berbakat, Tomy.” puji ibunya.
Sementara bapak beruban hanya menatap lelaki itu dengan tajam, ia tidak berkata apa-apa sementara lelaki muda itu menatap ayahnya. Mata mereka saling beradu tetapi hanya kedinginan yang mereka rasakan.
Lelaki muda itu menatap kereta api yang meniupkan peluit terakhir, tanda siap berangkat. “Berhati-hatilah, Tom. Kadang orang yang terlihat baik bagimu sering merencanakan hal yang jahat.” kata ayah itu dengan dingin.
Lelaki muda adalah dokter Tom berusia 14 tahun, ia hanya mengangguk pelan. Membetulkan letak kacamata dan segera memasuki kereta api. Ia memandang keluarga, saudara dan teman-teman terdekatnya yang kini melambaikan tangannya. Sementara ayahnya, hanya menatap dingin kereta api yang perlahan-lahan meninggalkan stasiun.
Dokter Tom muda menghempaskan punggungnya di kursi, dirinya sama sekali bahagia untuk pergi ke kota, dokter Tom baru saja menerima beasiswa di New York karena project sains-nya yang luar biasa, kemampuannya melebihi kakak-kakak kelasnya. Pemerintah berbaik hati memberikannya beasiswa tersebut.
Tetapi, tadi malam justru dokter Tom beradu mulut dengan ayahnya. Bukan soal beasiswa tetapi kepergian dokter Tom yang diiringi oleh seorang anak yang juga sama hebatnya dengannya, namanya Liu. Mereka berdua bersahabat secara diam-diam karena ayah dokter Tom selalu mengawasi gerak-gerik mereka.
“Ia berbahaya, nak. Kau tolak saja beasiswa itu, masih ada kesempatan untuk merebut beasiswa lainnya asalkan tidak dengan anak itu.” marah ayah dokter Tom.
“Aku dan Liu bersahabat dengan baik, tidak ada yang di permasalahkan dengannya kenapa ayah selalu ingin menghancurkan pertemanan kami?!” balas dokter Tom tidak kalah sengit, ia bukan anak kecil yang bisa dibuat menangis lagi.
“Kau lupa, nak. Kadang orang yang terlihat baik bagimu kadang merencanakan hal yang jahat!” bentak ayahnya.
Dokter Tom masuk ke kamarnya dan membanting pintu, toh besok ia akan meninggalkan ayahnya yang bawel itu, peduli amat. Liu memang anak yang berbakat, dan ayahnya merupakan orang tua satu-satunya yang sangat sukses, pengusaha dan orang terpandang di tempat tinggal Tom.
“Ia orang sok, peduli amat dengan uangnya, makanya hal ini menular pada anaknya. Orang pelit.” gerutu ayah dokter Tom.
Tom menggeleng tidak setuju, Liu anak yang baik ayahnya juga hanya saja ayahnya tidak peduli dengan kebaikan itu, sifat Tom lebih kepada ibunya, tegar seperti batu karang. Sedangkan ayahnya hanya menurunkan sifat kepintaran saja, Tom tidak memiliki sifat buruk ayahnya yang menurutnya keterlaluan.
Berbeda dengan kehidupan Liu yang kaya, kehidupan keluarga Tom sederhana, ayah dokter Tom hanya seorang petugas di perternakan seorang teman yang berkerja sebagai satpam atau menggembala sapi-sapi ke padang rumput sedangkan ibunya hanyalah seorang guru honorer.
“Lihat!” kata Liu sambil menepuk-nepuk pundak Tom, Tom melirik ke jendela. Ribuan kupu-kupu lewat begitu saja. Andaikan kereta api ini berhenti pasti indah sekali melihat kupu-kupu raja yang sedang berimigrasi.
Pemandangan indah yang hanya berlangsung 5 detik itu sukses membuat penumpang terpana. Liu dan Tom berharap akan datang lagi ribuan kupu-kupu yang berimigrasi. Sayangnya, hal itu tidak akan pernah lagi terjadi selama sisa perjalanan.
“Kak...” terdengar suara pelan, Liu dan Tom menoleh ke asal suara. Astaga, kenapa gelandangan ini bisa masuk ke kereta api tanpa sepengetahuan kondektur, petugas atau orang-orang yang bertugas di kereta api.
“Mau duit, dek?” tanya Liu pelan.
Anak itu mengeryitkan dahinya, ia jelas bukan minta uang walaupun tampangnya seperti gelandangan. Ia penumpang kereta api ini, tetapi kenapa kakak-kakak ini tega sekali menyebutnya sebagai pengemis.
“Enggak, ibu mana ya?” tanya anak itu gelisah.
Liu dan Tom terbelalak, tahu apa masalahnya. Anak ini kehilangan ibunya, dan itu baru pertama kalinya Tom berjumpa dengan Renard.
***
Renard tidak mempunyai ibu kandung, ibu yang dicarinya adalah ibu tiri yang benci sekali dengan Renard. Sengaja meninggalkannya di kereta api waktu dirinya tertidur, buru-buru keluar dari sana saat kereta tiba di stasiun.
Liu dan Tom membawa anak itu ke asrama di mana mereka bersekolah, ternyata Renard adalah anak yang baik juga pintar, umurnya 2 tahun lebih muda dari Liu dan Tom.Mereka bertiga dengan bangga menyebut dirinya 3 sekawan. Biaya sekolah Renard dibayar oleh ayah Liu. Mereka seperti anak-anak lainnya, bermain, belajar dan berbagi suka dan duka.
Saat berumur 17 tahun Liu dan Tom berpisah dengan Renard karena Renard harus menyelesaikan sekolahnya setahun lagi. “Jangan lupakan aku, ya.” kata Renard sambil memeluk Tom, matanya berkaca-kaca.
Tom memutuskan untuk menerima beasiswa di jurusan Geografi di Kanada sedangkan Liu memutuskan untuk masuk jurusan Kimia di Fillandia dengan uangnya sendiri. Mereka berdua meskipun berpisah jauh tetap saling memberikan kabar lewat via telepon, persahabatan mereka tetap terjaga meskipun jauh di seberang samudra.
Tetapi hal aneh terjadi setahun kemudian, Liu tidak menelpon Tom begitu lama. Membuat sahabatnya cemas luar biasa, ketika liburan dirinya menyempatkan diri datang ke Fillandia, tidak ada Liu yang menampakkan dirinya di indekos dan di tempat lainnya, justru dirinya bertemu dengan Renard yang mengikuti jurusan Olahraga, badannya yang kurus kini menjadi kekar dan sehat.
“Aku juga tidak bertemu dengan kak Liu selama ini, ia seolah menghilang begitu saja. Anehnya selalu ada uang kiriman lewat kotak Pos, tidak ada nama tetapi aku yakin itu dari dirinya.” jawab Renard tidak kalah cemas.
Kedua lelaki itu terdiam, mereka tidak menyangka orang yang selama ini begitu baik menghilang begitu saja tanpa kabar. Sempat ada kecurigaan bahwa lelaki itu telah meninggal tetapi melihat kiriman uang di kotak pos Renard menghapus prasangka itu.
Mereka pergi ke desa, tempat tinggalnya dokter Tom. Rumah ayah Liu tinggal tanahnya saja, ayah dan ibu dokter Tom bersuka cita dengan kedatangannya. Ayah dokter Tom tidak mempermasalahkan pertemanan Tom dengan Renard ada yang lebih bahagia di hatinya, tidak ada Liu.
“Apakah ayah melihat Liu dan dimana orang tua Liu selama ini?” pertanyaan dokter Tom yang mampu merusak suasana, wajah ayah dokter Tom merah padam. Tetapi ia tidak bisa untuk memarahi Tom lebih lama karena usia lanjutnya.
“Tomy...” ibu dokter Tom tercekat ketika ayah memarahi dokter Tom sambil diselingi batuk-batuk panjang.
“Sudah ayah katakan untuk tidak mempertanyakan anak itu, kau tahu... uhuk uhuk... ayahnya di tangkap oleh polisi, memasukkan ke dalam penjara karena... uhuuuuk.... dirinya mengedar sabu-sabu serta narkoba... uhuk.... sudah kukatakan orang yang terlihat baik bagimu mempunyai rencana jahat.... uhuk!” marah ayah dokter Tom sambil menunjuk-nunjuk muka anaknya. Renard hanya menunduk sedangkan ibu dan dokter Tom merasa tidak enak hati.
Dibelainya lengan suami dan dibujuknya agar tidak marah lagi. Bujukan sang istri berhasil ayah dokter Tom hanya mampu mengangguk dan meminta maaf karena ketidak enakan yang terjadi di rumah mereka. Renard mengangguk, tidak masalah. Sedangkan dokter Tom, tetap menunduk.
Mereka pergi dari sana tanpa jawaban, ibu dokter Tom berkali-kali mengatakan untuk tidak mengulangi hal seperti itu lagi, sedangkan Renard mengangguk setuju. Dokter Tom hanya menunduk ketika ibunya memanggilnya dengan nama masa kecilnya, Tomy.
“Tomy anak yang baik.” senyum ibu, kalimat itu tetap tidak pernah terhapus dari ingatannya. Tomy anak yang baik, kalimat itulah yang membuat Tom tegar melihat orang yang memarahinya, mengejeknya, memukulinya atau mencaci maki dirinya.
Mereka berangkat ke stasiun, tidak ada tetangga atau teman dekat di sana yang ada hanya ayah dan ibu dokter Tom yang mengantar dan melihat mereka menaiki kereta api. Dokter Tom menatap Renard yang duluan masuk kereta api, ia menatap ayahnya. Tatapannya sama seperti dirinya menaiki kereta api 4 tahun lalu, dingin.
Pelan-pelan, dokter Tom turun dari kereta api dan memeluk ayahnya, bilang minta maaf berkali-kali. Ibunya menatap adegan di depannya dengan mata berkaca-kaca, terharu. Sedangkan ayah Tom memeluk dokter Tom dengan erat.
Kereta api meniupkan peluit terakhirnya, suara peluit itu terdengar nyaring bahkan dari luar stasiun masih keras bunyinya. Itu peluit baru, dengan suara baru. Bukan tut tut tut melainkan wiiiiiiing.
Kali ini kereta api berangkat dengan anggun, pergi layaknya angsa teritip yang terbang berimigrasi. Dokter Tom menatap ayahnya dari kejauhan, kali ini bukan tatapan dingin tetapi tatapan kasih sayang dan... rindu.
Sayangnya, itu terakhir kalinya dokter Tom memeluk serta melihat ayahnya dan ibunya. Teror dimulai 6 bulan kemudian.
***
Liu kembali 6 bulan kemudian, dengan keanehan serta kekejaman. Ia kembali dalam keadaan... gelap. Kedatangannya disertai dengan sebuah berita yang mampu membuat tangan dokter Tom bergetar.
Desanya terbakar, ayah ibunya mati dengan bekas peluru di tubuhnya, mati tanpa alasan jelas, terlihat berhektar-hektar gandum terbakar dan saat itulah Liu datang. Renard dan Tom sungguh terkejut melihat kedatangan Liu yang disertai oleh orang-orang aneh berkacamata hitam. “Liu!” pekik Renard.
Liu menatapnya dingin, seolah tidak mengenalnya sama sekali. Ia menatap dokter Tom layaknya musuh, kini ia kembali dengan nama aneh, Black Dragon. Meminta dokter Tom dan Renard mengikuti rencananya dengan suatu projek yang sudah lama ia rencanakan sejak kecil, projek berbahaya yang Hitler tidak sempat membuatnya, projek Sun Gun.
Rencana itu membuat dokter Tom dan Renard tercekat, orang-orang yang berada disana segera menodongkan senjata ke pelipis mereka. “Aku beri kau kesempatan Tom, mati atau mengikuti rencana?” senyum Black Dragon dengan dingin.
Dokter Tom tercekat, itu bukan Liu yang ia kenal selama ini tetapi jelas-jelas yang berada di hadapannya adalah sahabatnya. Dokter Tom teringat perkataan ayahnya, orang yang terlihat baik bagimu mempunyai rencana jahat....
Renard buru-buru menyetujuinya, pistol di pelipisnya di jauhkan. Wajah dokter Tom mengeras, tangannya mengepal tetapi akhirnya justru mengangguk pasrah. Black Dragon tersenyum, mengankat dagu dokter Tom dan berbisik. “Kau memang teman yang bisa diandalkan...”
Umur 1 tahun 6 bulan ketiga lelaki itu membuat rancangan, tanpa diketahui oleh negara karena kekuasaan Black Dragon yang begitu besar. Umur 20 tahun dokter Tom menikah dengan seorang wanita dan dokter Tom mulai tidak menyetujui rencana Black Dragon, mengambil berkas-berkas tentang rancangan Sun Gun kepada seseorang yang bernama Paul Duncan.
Black Dragon marah besar, mulai menangkap dokter Tom dengan penuduhan teroris dan dipenjara selama 20 tahun sayangnya Paul Duncan tidak selamat tetapi berkas itu yang selamat, dibawa oleh putrinya yang bernama Karin.